Ilustrasi Resensi Buku. (FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA – Jika Anda mau (belajar) menulis resensi buku. Sekarang ini ada banyak buku atau artikel tentang “teknik menulis resensi buku”. Jauh sebelum itu, tahun 1980-an sebelum internet melanda dunia, untuk menulis resensi buku, siapa pun dia harus belajar menulis resensi buku dengan membaca buku referensi yang ada, yang jumlahnya terbatas, salah satunya buku berjudul “Komposisi”. Buku ini terbit tahun 1980 karya dari Gorys Keraf seorang dosen di Universitas Atmajaya, Jakarta.
Menurut Gorys Keraf, resensi adalah suatu jenis tulisan lain yang mempunyai titik singgung dengan ringkasan atau ikhtisar. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Selain dari Gorys Keraf ada banyak definisi lain tentang resensi buku. Ada yang menyebutkan, resensi merupakan salah satu cara untuk melakukan kritik atas sebuah buku. Kritik yang dimaksud di sini tentu bukan dalam artian mencemooh atau memberi komentar negatif belaka. Kritik yang dimaksud dalam meresensi adalah memberikan ulasan tentang kesan seseorang setelah membaca. Oleh karenanya, kritik dalam resensi tidak hanya berkutat pada hal-hal buruk saja, namun lebih ke bagaimana kesan seseorang ketika membaca buku.
Menulis resensi (buku) juga membuat ulasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang penulis resensi atau peresensi tidak hanya mengatakan sebuah buku baik atau buruk mutunya, namun juga memberikan argumen mengapa sebuah buku disebut bermutu baik atau buruk. Dan menulis resensi tidak hanya diperuntukkan untuk buku ada juga resensi film dan musik, resensi pementasan teater atau pameran lukisan dan patung. Untuk resensi buku, bukan hanya pada buku fiksi tetapi juga buku non-fiksi.
Bagi siapa pun yang menulis resensi buku, maka ada satu kata kunci yang harus dimilikinya, yaitu “membaca”. Kalau Anda tidak membaca bukunya, bagaimana tahu isi dari buku tersebut. Bagi banyak orang, membaca buku dan menuliskan pendapat tentang buku tersebut terlihat seperti dua hal yang sederhana. Padahal, ada jarak yang cukup jauh antara “sekadar cerita tentang buku yang baru dibaca” dengan “resensi buku yang layak dimuat di media massa, dipercaya pembaca, dan dihargai oleh penerbit maupun redaksi”. Resensi bukan sekadar ringkasan isi buku, juga bukan sekadar pujian atau kritik yang ditulis asal jadi. Resensi adalah karya tulis tersendiri, punya struktur, punya etika, punya standar penilaian, dan punya sejarah panjang yang membentuknya menjadi salah satu genre sastra dan jurnalistik yang dihormati.
Mereka yang menulis resensi buku adalah adalah individu atau orang yang memiliki perpaduan antara seni membaca, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan merangkai kata. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi peresensi yang baik selain dengan rajin membaca, berlatih menulis, dan selalu terbuka terhadap berbagai pandangan.
Sejarah Resensi
Apakah resensi buku ada sejarahnya? Jika ditelusuri ke akarnya, tradisi menuliskan tanggapan kritis atas sebuah buku sudah ada sejak manusia mulai menghasilkan naskah dan buku cetak dalam jumlah besar. Namun, resensi buku sebagai genre tulisan yang terlembagakan—diterbitkan secara berkala, memiliki format tetap, dan ditujukan untuk khalayak luas—baru benar-benar lahir pada abad ke-17 di Eropa, bersamaan dengan munculnya jurnal ilmiah pertama di dunia.
Jurnal tersebut bernama Journal des Sçavans (kemudian dikenal sebagai Journal des Savants, artinya kurang lebih “Jurnal Para Cendekiawan”). Pertama kali terbit di Paris, Prancis, pada 5 Januari 1665, digagas oleh seorang pengacara dan penulis bernama Denis de Sallo, dengan dukungan dari Jean-Baptiste Colbert, menteri ekonomi pada masa pemerintahan Raja Louis XIV.
Yang menarik, sebagian besar isi Journal des Sçavans sejak edisi pertamanya bukanlah artikel penelitian orisinal, melainkan ringkasan dan ulasan atas buku-buku yang baru terbit. Dari sembilan belas nomor yang diterbitkan sepanjang 1665, dua puluh sembilan tulisan dimuat, dan dua puluh lima di antaranya berupa resensi buku.
Dengan kata lain, resensi buku—bukan artikel penelitian—adalah konten utama yang membentuk wajah jurnal ilmiah pertama di dunia ini. Journal des Sçavans mengulas buku-buku dari berbagai bidang keilmuan yang berkembang saat itu. Dari buku filsafat, hukum, teologi, hingga sains alam, karena tujuannya memang untuk memberitahukan kepada “Republik Ilmu Pengetahuan” (République des Lettres) tentang perkembangan buku dan gagasan baru di Eropa.

Di Indonesia bagaimana sejarahnya? Di Indonesia, tradisi resensi buku tumbuh seiring berkembangnya pers dan dunia penerbitan pada masa pergerakan dan pasca-kemerdekaan. Rubrik resensi buku (sering disebut juga “bedah buku” atau “timbangan buku”) menjadi bagian tetap dari halaman budaya di berbagai surat kabar besar seperti Kompas, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, dan Suara Merdeka, serta majalah seperti Tempo, Basis, dan Horison. Rubrik-rubrik ini menjadi ruang penting bagi akademisi, sastrawan, mahasiswa, dan penulis lepas untuk mengasah kemampuan kritik sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan dari honor tulisan.
Perkembangan teknologi lahirnya teknologi digital dan internet, melahirkan generasi baru resensi buku, salah satunya blog pribadi pada era 2000-an, lalu platform seperti Goodreads, yang semua tampil dalam format cetak dan online, kemudian berkembang dengan adanya resensi dalam format audio visual atau video resensi yang bisa dilihat dan di dengar di YouTube atau TikTok (dikenal dengan istilah BookTok), Instagram Reels, dan podcast. Format berubah, tetapi inti resensi tetap sama, membantu pembaca memutuskan apakah sebuah buku layak dibaca, sekaligus menempatkan buku tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Teknik Resensi Buku
Menulis resensi yang baik bukan soal menuliskan opini atau pendapat secara bebas, melainkan menyusun argumen yang runtut tentang sebuah karya. Untuk itu ada teknik-teknik penting yang perlu dikuasai. Pertama, Memahami perbedaan resensi, sinopsis, dan endorsement. Kesalahan paling umum pemula adalah mencampuradukkan resensi dengan sinopsis atau dengan blurb pujian di sampul belakang buku (endorsement). Padahal ketiganya berbeda secara fungsi. Blurb pada sebuah buku adalah teks singkat yang biasanya terdapat di sampul belakang atau flap buku. Fungsinya mirip dengan iklan kecil, memberikan gambaran ringkas, menarik, dan menggugah rasa ingin tahu pembaca tentang isi buku tersebut.
Sinopsis hanya merangkum isi buku tanpa penilaian. Endorsement adalah pujian singkat, biasanya ditulis oleh tokoh terkenal, untuk keperluan promosi, dan cenderung bersifat sepihak. Resensi memuat ringkasan singkat sekaligus analisis dan penilaian yang berimbang, disertai argumen yang mendukung penilaian tersebut.
Menyadari perbedaan ini adalah langkah pertama sebelum menulis, karena akan menentukan porsi ringkasan yang tepat—biasanya tidak lebih dari 30–40 persen dari keseluruhan tulisan, sisanya adalah analisis dan penilaian.
Langkah selanjutnya adalah memahami struktur klasik resensi buku yang terdiri atas lima bagian. Pertama, judul resensi yang menggugah rasa penasaran. Judul resensi sebaiknya tidak sekadar menyalin judul buku, melainkan mengangkat sudut pandang atau tesis utama dari resensi tersebut. Judul yang baik memancing rasa ingin tahu tanpa terkesan berlebihan (clickbait). Kedua, data buku (identitas buku) Bagian ini memuat informasi teknis, judul, penulis, penerjemah (jika ada), penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, ISBN (jika diperlukan), dan harga (opsional). Data ini penting sebagai rujukan bagi pembaca yang ingin mencari atau membeli buku tersebut.
Ketiga, pembuka (lead) yang memikat. Ada juga yang menyebut hook yang artinya sering disebut pengait atau pemikat pembaca. Letaknya, sebagai kalimat pada paragraf pertama yang disusun secara khusus untuk menarik perhatian pembaca sejak detik pertama mereka membaca tulisan resensi. Gunanya, menahan perhatian pembaca, membuat mereka tidak langsung berhenti membaca atau berpindah ke tulisan lain. Membangun rasa penasaran, mengundang pembaca untuk ingin tahu kelanjutan isi tulisan. Jika hook menarik, kemungkinan besar pembaca akan membaca seluruh isi artikel.
Harus diingat bahwa paragraf pembuka adalah bagian paling menentukan apakah pembaca akan terus membaca atau berhenti di kalimat pertama. Beberapa pendekatan pembuka yang efektif, yaitu membuka dengan pertanyaan reflektif yang relevan dengan tema buku. Atau membukanya dengan menuliskan anekdot singkat tentang pengalaman membaca buku tersebut. Bisa juga membuka dengan kutipan singkat dari buku yang mewakili gagasan utamanya (gunakan kutipan sewajarnya dan tetap cantumkan sumbernya).
Baca juga: Resensi Buku, Mengubah Bacaan Menjadi Ulasan yang Bermakna dan Bernilai
Keempat, isi (ringkasan dan analisis) yang merupakan bagian inti resensi. Penulis menjelaskan garis besar isi buku secara ringkas, lalu masuk ke analisis, bagaimana penulis buku menyampaikan gagasannya, apa kekuatan argumentasinya, di mana letak orisinalitasnya, serta bagaimana buku ini dibandingkan dengan karya sejenis. Analisis inilah yang membedakan resensi dari sekadar ringkasan. Kelima, penilaian dan penutup. Bagian penutup berisi simpulan resensi, untuk siapa buku ini cocok dibaca, apa kelebihan dan kekurangannya secara ringkas, dan rekomendasi akhir penulis. Hindari penutup yang datar seperti “buku ini bagus, silakan dibaca”—buatlah penutup yang mengembalikan pembaca pada gagasan utama yang dibangun sejak paragraf pembuka.

Pesan kepada penulis resensi. “Tulisan resensi itu ‘bernyawa’ dan tidak kaku”. Banyak resensi terasa membosankan karena hanya berisi rangkaian fakta tanpa suara personal penulis. Ada beberapa teknik untuk menghidupkan tulisan, seperti gunakan sudut pandang personal secukupnya. Resensi yang baik tetap memuat kesan pribadi penulis terhadap buku, tetapi tidak berubah menjadi curahan hati semata. Kesan personal harus selalu ditopang oleh alasan yang objektif dan bisa dijelaskan.
Kemudian libatkan pembaca dengan pertanyaan reflektif. Ajukan pertanyaan yang membuat pembaca ikut merenung, bukan sekadar menerima informasi pasif. Jangan lupa gunakan perbandingan yang relevan. Membandingkan buku yang diresensi dengan karya lain yang setema akan membantu pembaca menempatkan buku tersebut dalam peta bacaan yang lebih luas, sekaligus menunjukkan wawasan penulis resensi. Boleh juga ditambahkan dengan memberikan penilaian pada desain sampul buku atau cover buku.
Dalam menulis artikel resensi buku, perhatikan ritme kalimat. Selingi kalimat panjang dengan kalimat pendek agar tulisan tidak monoton. Hindari paragraf yang terlalu panjang tanpa jeda. Lalu hindari kalimat klise. Ungkapan seperti “buku yang wajib dibaca semua orang” atau “sangat menginspirasi” sudah terlalu sering dipakai sehingga kehilangan daya tariknya. Gantilah dengan deskripsi konkret tentang alasan mengapa buku itu penting.
Jangan lupa menjaga objektivitas tanpa kehilangan ketajaman. Resensi yang baik tidak berarti selalu memuji. Sebaliknya, resensi yang kredibel justru berani menunjukkan kelemahan buku secara jujur, dengan catatan kritik tersebut disampaikan secara konstruktif dan berbasis argumen, bukan serangan pribadi terhadap penulis buku. Prinsip dasarnya, kritik ditujukan pada karya, bukan pada orangnya (penulisnya).
Untuk berapa panjang naskah artikel sebuah resensi buku, sangat bergantung pada media yang dituju. Resensi untuk surat kabar biasanya berkisar 600–900 kata, sedangkan untuk majalah sastra atau jurnal akademik bisa mencapai 1.500–2.500 kata. Untuk media daring dan blog, panjang bisa lebih fleksibel, namun tetap disarankan tidak lebih dari 1.200 kata agar nyaman dibaca di layar. Gaya bahasa juga perlu disesuaikan, resensi untuk media umum sebaiknya menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami pembaca awam, sedangkan resensi untuk jurnal akademik boleh menggunakan istilah teknis sesuai bidang keilmuan buku tersebut.
Kriteria, Standar Penilaian & Etika
Bagian ini menjadi inti dari kredibilitas sebuah resensi. Penilaian yang asal-asalan—hanya berdasarkan suka atau tidak suka secara personal—akan membuat resensi kehilangan bobot argumentatifnya. Berikut beberapa kriteria atau rambu-rambu yang harus diperhatikan penulis resensi untuk menilai sebuah buku secara sistematis. Kriteria ini dapat dibagi berdasarkan jenis buku. Pertama, Kriteria Umum (Berlaku untuk Fiksi maupun Nonfiksi) mencakup kejelasan tujuan dan sasaran pembaca. Apakah buku tersebut jelas menyasar pembaca tertentu (pemula, pembaca umum, akademisi, anak-anak), dan apakah isi buku konsisten melayani sasaran tersebut?
Kedua, Kualitas penulisan (gaya bahasa). Bagaimana pilihan kata, struktur kalimat, dan ritme narasi penulis? Apakah gaya penulisannya konsisten dari awal hingga akhir buku? Ketiga, Struktur dan organisasi. Apakah buku disusun dengan alur yang logis dan mudah diikuti? Untuk nonfiksi, apakah bab-babnya tersusun secara sistematis? Untuk fiksi, apakah alur ceritanya terjalin rapi tanpa lubang logika yang mengganggu?
Keempat, Orisinalitas dan kontribusi. Apa yang ditawarkan buku ini yang belum ada (atau belum dibahas secara mendalam) dalam karya-karya sejenis sebelumnya? Kelima, Kualitas fisik dan penyuntingan. Meski sering dianggap hal kecil, kualitas penyuntingan (minim salah ketik, konsistensi ejaan, tata letak yang rapi) turut memengaruhi pengalaman membaca dan layak disebutkan dalam resensi, terutama jika kesalahan tersebut cukup mengganggu.
Selain kriteria di atas, dalam menulis resensi sebuah buku diperbolehkan memberikan skala penilaian. Pada sejumlah media massa dan platform resensi menggunakan sistem penilaian berskala (misalnya bintang 1–5 atau skor 1–10) sebagai pelengkap narasi kritik. Jika menggunakan sistem ini, penting untuk menetapkan indikator yang jelas agar penilaian tidak bersifat subjektif semata.
Contoh kerangka sederhana, untuk skor 5 (istimewa) adalah buku dengan orisinalitas tinggi, penulisan yang matang, dan kontribusi nyata bagi bidangnya atau bagi khazanah sastra. Skor 4 (baik) adalah buku yang solid dengan sedikit catatan kekurangan yang tidak mengganggu keseluruhan kualitas. Skor 3 (cukup) adalah buku yang layak dibaca namun memiliki kelemahan yang cukup signifikan di satu atau dua aspek.

Skor 2 (kurang) adalah buku dengan banyak kelemahan mendasar, meski mungkin masih memiliki sedikit nilai lebih. Skor 1 (lemah) adalah buku yang gagal memenuhi tujuannya sendiri, baik dari sisi argumen, struktur, maupun penulisan. Skala semacam ini sebaiknya selalu disertai penjelasan naratif, bukan berdiri sendiri sebagai angka, karena pembaca tetap memerlukan alasan di balik penilaian tersebut.
Dalam menulis resensi, seorang penulis resensi juga mememperhatikan etika dalam menulis resensi. Standar penilaian resensi tidak hanya soal teknik, tetapi juga etika. Seperti, hindari konflik kepentingan. Jika penulis resensi memiliki hubungan pribadi atau profesional dengan penulis buku atau penerbitnya, hal ini sebaiknya diungkapkan secara transparan, atau penulis resensi menghindar dari menulis resensi buku tersebut. Kemudian, bedakan kritik terhadap karya dan serangan terhadap pribadi. Kritik yang membangun berfokus pada argumen, gaya penulisan, dan kualitas karya, bukan pada latar belakang pribadi penulis buku.
Ingat jangan menulis resensi atas buku yang belum benar-benar dibaca tuntas. Ini adalah pelanggaran etika mendasar yang, jika terungkap, akan merusak kredibilitas penulis resensi secara permanen. Jangan lupa, cantumkan sumber kutipan secara jujur jika mengutip bagian tertentu dari buku, dan jangan mengutip berlebihan hingga menyerupai pembajakan isi buku.
Resensi Media & Lomba
Sesorang menulis resensi buku biasanya untuk disiarkan melalui media massa atau media sosial dan untuk mengikuti sebuah lomba karya tulis resensi buku. Resensi yang ditulis untuk media atau lomba ada kriteria atau standar yang digunakan redaktur media atau juri lomba resensi. Baik dalam lomba resensi maupun dalam penilaian profesional, ada beberapa kriteria yang biasanya digunakan untuk menilai kualitas sebuah resensi.
Pertama, Kualitas Analisis. Penilaian dilihat dari kemampuan peresensi untuk memahami isi buku secara mendalam, mengidentifikasi tema, karakter, dan pesan utama. Resensi yang baik tidak berhenti pada ringkasan, tetapi masuk ke dalam analisis. Kedua, Kritik dan Evaluasi. Sebuah karya resensi dinilai dari kemampuan memberikan opini, kritik, dan evaluasi terhadap buku—baik kelebihan maupun kekurangannya—secara objektif dan beralasan. Kritik harus disertai argumentasi yang kuat, bukan sekadar perasaan subjektif.
Ketiga, Orisinalitas. Karya resensi harus orisinal, bukan plagiat atau sekadar meniru resensi orang lain. Setiap peresensi memiliki sudut pandang uniknya sendiri. Keempat, Kelengkapan Unsur Resensi. Tulisan atau naskah resensi harus memuat semua unsur penting; identitas buku, sinopsis, interpretasi, analisis kelebihan dan kekurangan, sampai rekomendasi. Kelima, Penggunaan Bahasa. Naskah atau karya tulis resensi harus ditulis dengan bahasa yang jelas, lugas, dan menarik. Hindari bahasa yang berbelit-belit atau jargon yang sulit dipahami.
Keenam, Keterpaduan Isi. Menulis resensi harus ada kesesuaian antara judul resensi, tema, dan pembahasan dalam resensi. Semua bagian harus saling berkaitan dan membentuk kesatuan yang utuh. Ketujuh, Pemahaman Karakteristik Media. Jika resensi dimaksudkan untuk media cetak, peresensi harus memahami karakteristik media tersebut—misalnya, ruang yang terbatas di koran mengharuskan resensi yang ringkas dan padat. Untuk media online atau daring panjang resensi bisa menyesuaikan.
Sementara itu pada lomba karya tulis resensi, secara khusus kriteria penilaian mencakup pemahaman isi buku, yaitu kesesuaian ringkasan dengan isi buku, ketepatan menangkap tema utama, dan pemahaman terhadap pesan yang disampaikan penulis dengan bobot penilaian tertentu. Kemudian pada kriteria
kedalaman analisis & penilaian yang melihat pada kemampuan menguraikan kelebihan dan kekurangan secara seimbang, memberikan alasan yang kuat, serta memberikan pandangan yang kritis namun membangun. Ini adalah komponen penentu nilai tertinggi.
Selanjutkan kriteria penilaian pada struktur & sistematika penulisan yang menilai pada kelengkapan unsur resensi (identitas, pendahuluan, isi, penutup), alur tulisan yang runtut, dan kesatuan gagasan. Kriteria penilaian berikutnya adalah penggunaan bahasa. Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia dengan melihat diksi yang tepat, kalimat efektif, dan gaya bahasa yang menarik namun tetap sopan? Yang terakhir, kriteria penilaian orisinalitas dan kreativitas. Bagaimana dengan sudut pandang yang unik dari penulis resensi, tidak meniru ulasan orang lain, judul resensi yang menarik, dan kesimpulan yang memberikan nilai tambah.
Berikut pesan yang harus menjadi perhatian penulis resensi. Menulis resensi buku adalah perpaduan antara seni membaca, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan merangkai kata. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi peresensi yang baik selain dengan rajin membaca, berlatih menulis, dan selalu terbuka terhadap berbagai pandangan. (maspril aries)





