KINGDOMSRIWIJAYA – Penggalan judul artikel ini mengadopsi dari sebuah kanal podcast RRI Palembang dengan nara sumber M Husni Thamrin Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Firdaus Komar Ketua JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) Sumatera Selatan (Sumsel). Tapi isinya tidak mengadopsi isi podcast, hanya pinjam judul saja. Tidak ada satu pun kutipan kalimat atau informasi dari podcast yang berdurasi hampir satu jam tersebut.
Jauh sebelum ada podcast atau siniar ini disiarkan saya sudah membaca sebuah buku yang membahas tentang Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang ditulis wartawan senior Apni Jaya Putra yang kini menjadi Staf Khusus Menteri Pariwisata. Judul bukunya, “Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma” yang terbit Mei 2025. Ini menjadi buku pertama yang ditulis orang Indonesia dan dalam bahasa Indonesia yang membahas AI dan jurnalisme.
Buku yang ditulis wartawan senior yang pernah bergabung di sejumlah televisi swasta nasional dan sempat menjabat salah satu direktur di TVRI ini membahas bagaimana AI dapat mengubah cara kerja jurnalis dan lanskap industri media. Apni yang mulai menekuni jurnalisme saat menjadi aktivis pers mahasiswa di kampus Fisip Universitas Bengkulu (Unib) dalam buku ini membedah pergeseran paradigma jurnalisme di tengah gelombang revolusi kecerdasarn buatan (AI).
Dari buku ini ada pemahaman yang disajikan tentang AI, salah satunya, bahwa AI bukan sekedar alat bantu teknis melainkan katalis yang dapat mendisrupsi cara berpikir, berproduksi dan berinteraksi dalam dunia media. Banyak mereka mengatakan, “AI adalah alat bantu, titik”. Mungkin mereka ini kurang baca atau bermain dengan mesin pencari kurang jauh.
Jadi teknologi kecerdasan buatan tidak hanya mempercepat pekerjaan yang sudah ada (alias bukan ‘Asisten Rumah Tangga’), melainkan mengubah logika dasar, nilai, struktur, dan hubungan di seluruh ekosistem media. Sebagai katalis, AI mempercepat reaksi perubahan yang sebelumnya berjalan lambat, menciptakan pola baru yang tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula—baik dalam cara kita memahami informasi, memproduksi berita, maupun berhubungan antar pembuat konten dan publik.
Mengutip J.V. Pavlik (2023) dalam Journalism in the Age of Artificial Intelligence, jika AI hanya alat maka hanya sekadar mempermudah tugas, AI adalah katalis justru memicu pertanyaan ulang, apa itu berita? siapa pembuatnya? untuk siapa konten dibuat? dan siapa yang memegang kendali atas narasi? Inilah yang membedakan AI dengan teknologi sebelumnya seperti komputer pribadi atau internet, teknologi itu mengubah cara kerja, sedangkan AI mengubah cara berpikir tentang media itu sendiri.
Menyebut AI sekadar “alat bantu” adalah memandang permukaan saja. Sebagai katalis, AI memicu perubahan menyeluruh, mengubah cara kita berpikir tentang apa itu berita dan peran jurnalis, mengubah cara kerja dan nilai ekonomi produksi konten, serta menata ulang hubungan antara media dengan masyarakat dan kekuatan teknologi.
Perubahan ini tidak bisa dihindari, namun arahnya tidak ditentukan oleh teknologi semata. Ia bergantung pada pilihan manusia, apakah kita membiarkan AI membentuk standar kita, atau kita yang menetapkan aturan agar AI melayani kepentingan kebenaran, keberagaman, dan demokrasi.
Jurnalisme Terpapar AI
Sebelum membahas bagaimana jurnalisme atau media siber beradaptasi dengan AI atau kecerdasan buatan, maka sebelumnya jurnalisme atau media massa (media siber, media cetak dan media elektronik) harus terpapar dulu. Dalam buku ini Apni Jaya Putra membahas jurnalisme yang terpapar AI.
Jurnalisme terpapar AI merujuk pada seluruh bentuk praktik, proses, dan produk jurnalistik yang terbentuk, didukung, atau dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh teknologi kecerdasan buatan, mulai dari tahap pengumpulan data, verifikasi, penulisan, penyuntingan, hingga penyebaran konten. Istilah ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari penggunaan AI sebagai alat bantu bagi jurnalis manusia, sistem yang menghasilkan konten berita secara otomatis, hingga perubahan struktur kerja, standar etika, dan harapan publik terhadap berita akibat keterlibatan teknologi tersebut.
Jurnalisme terpapar AI berbeda dengan pandangan yang menyederhanakannya sebagai “jurnalisme robot”, konsep ini menekankan bahwa pengaruh AI tidak hanya pada pembuatan konten semata, melainkan meresap ke dalam keseluruhan ekosistem berita. Jurnalisme terpapar AI meliputi jurnalisme berbantuan AI, jurnalisme otomatis, jurnalisme generatif, serta transformasi budaya dan keterampilan di ruang redaksi akibat teknologi ini.

Menurut Pavlik, fenomena ini menandai pergeseran mendasar, jurnalis tidak lagi menjadi satu-satunya pencipta konten, melainkan menjadi kurator dan pengawas yang berkolaborasi dengan sistem algoritmik.
Mari identifikasikan bentuk-bentuk jurnalisme terpapar AI. Penerapan AI dalam jurnalisme bervariasi berdasarkan tingkat keterlibatan teknologi dan tahapan proses produksi berita. Pertama, Jurnalisme Berbantuan AI. AI berperan sebagai asisten untuk mempercepat dan memperdalam pekerjaan jurnalis manusia, tanpa mengambil alih keputusan editorial utama. Contohnya, transkrip otomatis wawancara, analisis kumpulan data besar, pencarian sumber informasi, penyusunan kerangka tulisan, saran judul, serta penerjemahan naskah. Sebuah survei menunjukkan sekitar 73% organisasi berita global menggunakan AI untuk analisis data, dan 68% untuk penyuntingan awal.
Kedua, Jurnalisme Otomatis (algoritmik/robot). Sistem AI menghasilkan berita secara utuh dari data terstruktur dengan pola yang sudah ditetapkan. Biasanya digunakan untuk berita rutin seperti laporan keuangan, hasil olahraga, pembaruan cuaca, dan data pemilu. Contoh terkenal, Associated Press (AP) menggunakan alat Wordsmith untuk memproduksi lebih dari 4.000 laporan laba rugi perusahaan setiap kuartal—naik dari hanya 300 tulisan manual sebelumnya. The Washington Post dengan Heliograf untuk liputan olahraga dan pemilu; serta Los Angeles Times dengan Quakebot yang menerbitkan laporan gempa kurang dari tiga menit setelah kejadian.
Ketiga, Jurnalisme Generatif. Ini muncul pesat setelah peluncuran model bahasa besar seperti GPT, Claude, dan Gemini pada awal 2020-an. Teknologi ini dapat menghasilkan konten dengan gaya lebih beragam, narasi mendalam, serta bentuk visual dan audio baru—seperti berita berbasis suara, avatar pembawa berita virtual, atau infografis otomatis. Meskipun efisien, bentuk ini memiliki risiko lebih tinggi seperti halusinasi fakta dan bias algoritmik.
Keempat, Transformasi Ekosistem Berita. Pengaruh AI juga terlihat di luar pembuatan konten, sistem rekomendasi berita yang mempersonalisasi tampilan bagi pembaca, alat deteksi berita palsu dan komentar beracun, hingga analisis sentimen publik untuk menemukan ide berita baru.
Perkembangan jurnalisme terpapar AI berlangsung secara bertahap melalui beberapa fase. Fase awal (akhir 1900-an–awal 2000-an), cikal bakunya muncul pada tahun 1980–1990-an dengan pelaporan berbantuan komputer sederhana, berupa pengolahan data dan pencarian arsip. Pada awal 2000-an mulai dikembangkan sistem penulisan otomatis dasar untuk laporan keuangan dan statistik olahraga, namun penerapannya masih sangat terbatas dan belum dikenal luas.
Fase adopsi nyata (2010–2018). Ini menjadi tonggak penting terjadi pada tahun 2014 ketika Associated Press dan Los Angeles Times secara resmi meluncurkan sistem otomatisasi berita dalam operasi rutin. Diikuti oleh Bloomberg dengan alat Cyborg untuk liputan pasar keuangan, serta Reuters yang mengembangkan Lynx Insight untuk membantu analisis data. Pada periode ini, penggunaan AI mulai diakui secara profesional sebagai solusi efisiensi biaya dan kecepatan liputan berita rutin.
Disusul Fase Ledakan Generatif (2020–sekarang). Setelah model bahasa besar seperti GPT-3 diluncurkan pada tahun 2020, penggunaan AI meluas dari sekadar otomatisasi data ke penulisan narasi, ide konten, hingga pembuatan media visual dan audio. Pada tahun 2023–2025, lebih dari 75% ruang redaksi dunia telah menggunakan setidaknya satu bentuk AI dalam proses produksi, dan sekitar 90% di antaranya berencana meningkatkan investasi di bidang ini. Di Indonesia, penerapan mulai terlihat secara nyata pada tahun 2024–2025, meski masih didominasi fungsi pendukung seperti transkrip dan penyusunan draf.
Disrupsi dan Adaptasi Media
Kehadiran AI membuat perubahan paling mendasar terjadi pada pola pikir di ruang redaksi dan masyarakat luas. Selama berabad-abad, media massa bekerja dengan asumsi bahwa berita dibuat untuk khalayak umum yang seragam. AI menghancurkan pandangan ini, dengan menganalisis perilaku, minat, dan konteks setiap pembaca, berita kini disusun secara personal—bahkan narasi dan kedalaman penjelasannya bisa disesuaikan. Hal ini memaksa jurnalis berhenti berpikir “apa yang penting untuk semua orang?” dan mulai bertanya “apa yang relevan dan benar untuk orang ini?”
Identitas jurnalis/ wartawan pun berubah total. Dulu keahlian utama wartawan adalah menulis dengan cepat dan baik. Kini kemampuan utama adalah merumuskan pertanyaan yang tepat, memverifikasi kebenaran output algoritmik, memahami batas bias data, dan memutuskan mana yang layak disampaikan.

Survei MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute) – sebuah penerbit jurnal ilmiah internasional akses terbuka – (2025) menunjukkan 52% ruang redaksi kini mencari jurnalis yang juga memahami data dan logika sistem—menciptakan peran baru “jurnalis-analis” atau “jurnalis-kurator”. Dari “kebenaran sebagai fakta tertulis” menjadi “kebenaran sebagai proses verifikasi”. Karena AI bisa menghasilkan narasi yang tampak meyakinkan namun keliru (halusinasi), kepercayaan pada “naskah jadi” runtuh. Cara berpikir berubah menjadi, setiap informasi—baik buatan manusia maupun mesin—harus melalui proses penelusuran sumber, uji konsistensi, dan konteks. Ini menaikkan standar tanggung jawab intelektual, bukan sekadar teknis penulisan.
AI memaksa media massa/ jurnalis yang dulu memutuskan informasi mana yang boleh dilihat publik. Kini algoritma platform menentukan apa yang muncul di layar. AI mempercepat transisi ini, jurnalis tidak lagi berperan menyaring informasi masuk, melainkan memverifikasi, memberi konteks, dan melawan bias yang disebarkan sistem rekomendasi.
AI mengubah total bagaimana konten dibuat, dari tahap perencanaan hingga penyelesaian. Otomatisasi yang membebaskan sekaligus mengubah prioritas
Sebelumnya, jurnalis menghabiskan hingga 60% waktu untuk tugas berulang, transkrip wawancara, menyusun laporan data, menerjemahkan, atau menyunting bahasa. AI memangkas waktu ini menjadi hitungan menit—seperti Associated Press yang meningkatkan liputan laporan laba perusahaan dari 300 menjadi lebih dari 4.000 berita per kuartal. Dampaknya, nilai keahlian bergeser dari “cepat menulis” menjadi “mendalam meneliti dan berani menyuarakan kritik”.
Transformasi digital yang berlangsung lebih dari dua dekade terakhir telah mengubah lanskap media secara fundamental. Dari media cetak yang sebelumnya menjadi sumber informasi utama, masyarakat kini beralih ke media siber sebagai akses berita, hiburan, dan interaksi sosial sehari-hari. Namun, pergeseran ini tidak berhenti pada transisi format dari kertas ke layar. Sejak tahun 2020-an, perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dengan kemampuan pemrosesan bahasa alami, analisis data besar, dan pembuatan konten otomatis telah mendorong media siber memasuki fase adaptasi baru yang jauh lebih radikal.
Adaptasi media siber di era AI bukan hanya tentang menambahkan fitur baru di situs web atau aplikasi berita. Ini adalah proses menyeluruh yang menyentuh seluruh rantai produksi, distribusi, hingga konsumsi informasi. Banyak media di Indonesia yang mulai merasakan tekanan sekaligus peluang dari teknologi ini, di satu sisi, biaya operasional yang tinggi dan persaingan ketat dengan platform media sosial membuat mereka harus mencari cara untuk menjadi lebih efisien. Di sisi lain, AI menawarkan kemampuan untuk memahami audiens secara lebih mendalam, menghasilkan konten yang lebih personal, dan merespons peristiwa berita dengan kecepatan yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Adaptasi media terhadap IA tidak hanya terjadi di ruang redaksi atau newsroom, kini juga melanda ruang bisnis perusahaan media, terjadi perubahan pada model bisnis dan skala produksi baru. Media tak lagi harus menambah jumlah staf untuk melipatgandakan jumlah konten. Selian itu terjadi juga ketimpangan antara perusahaan media besar dan perusahaan media kecil. Media besar yang punya data dan dana bisa berkembang pesat, sementara media kecil kesulitan bersaing secara kuantitas.
Adaptasi media siber dapat didefinisikan sebagai serangkaian penyesuaian strategis, operasional, dan teknis yang dilakukan oleh organisasi media daring atau siber untuk mengintegrasikan teknologi AI ke dalam seluruh proses kerja mereka, sambil tetap menjaga nilai-nilai inti jurnalisme seperti akurasi, independensi, dan kepercayaan publik. Adaptasi ini tidak bisa disamakan dengan sekadar mengadopsi alat AI secara parsial.
Menurut laporan Reuters Institute for the Study of Journalism tahun 2024, adaptasi yang sehat adalah ketika media tidak hanya menggunakan AI untuk memotong biaya, tetapi juga merancang ulang alur kerja, melatih sumber daya manusia, dan menciptakan model bisnis baru yang berkelanjutan.
Secara bentuk, adaptasi media siber di era AI dapat dibagi menjadi tiga tingkatan utama. Tingkat pertama adalah adaptasi otomatisasi parsial, di mana AI digunakan untuk menangani tugas-tugas rutin yang memakan waktu, seperti pengolahan data mentah, pembuatan ringkasan berita, atau penjadwalan unggahan konten ke media sosial. Pada tahap ini, peran jurnalis masih sangat dominan, dan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu yang mengurangi beban kerja administratif.
Tingkat kedua adalah adaptasi integrasi alur kerja, di mana AI menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh siklus produksi berita. Misalnya, sistem AI dapat secara otomatis memantau ribuan sumber data publik, mendeteksi anomali yang berpotensi menjadi berita penting, menyarankan sudut pandang penulisan kepada jurnalis, hingga membantu memverifikasi kebenaran foto dan video yang masuk dari masyarakat. Pada tahap ini, redaksi media harus merancang protokol kerja baru yang mengatur interaksi antara manusia dan sistem AI, sehingga tidak terjadi kesalahan faktual yang merusak kredibilitas media.

Tingkat ketiga, adalah adaptasi transformasi budaya dan bisnis, di mana seluruh organisasi media beralih ke model operasi yang berpusat pada data dan kecerdasan buatan. Di sini, media tidak hanya menghasilkan konten berbasis teks, tetapi juga menciptakan pengalaman berita yang personal, interaktif, dan disesuaikan dengan preferensi masing-masing pembaca. Model pendapatan pun tidak lagi hanya bergantung pada iklan banner, tetapi berkembang menjadi layanan berlangganan berita personal, produk data jurnalistik, hingga alat interaktif yang membantu masyarakat memahami isu-isu kompleks.
Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, banyak media siber saat ini sedang berada di peralihan antara tingkat pertama dan tingkat kedua. Mereka sudah mulai mencoba berbagai alat AI, tetapi masih dalam proses membangun kapasitas sumber daya manusia dan kerangka kebijakan internal untuk memastikan penggunaan AI tetap sesuai dengan etika jurnalisme.
Adopsi teknologi AI di lingkungan jurnalisme Indonesia tidak terjadi secara serentak. Prosesnya berlangsung secara bertahap, dimulai dari eksperimen kecil pada tahun 2010-an, hingga menjadi bagian dari strategi utama banyak media besar pada tahun 2023-2025. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerja sama dengan Google News Initiative pada tahun 2024, sebanyak 68% dari 212 media siber yang disurvei telah menggunakan setidaknya satu alat AI dalam proses kerja redaksi.
Sebagian besar penggunaan tersebut masih berada di tingkat otomatisasi tugas rutin. Sebanyak 79% responden menggunakan AI untuk membantu menulis judul berita yang lebih menarik, 72% menggunakannya untuk menerjemahkan konten ke bahasa asing atau bahasa daerah, dan 61% memanfaatkan AI untuk membuat ringkasan berita yang akan dibagikan ke media sosial.
Namun, adopsi dan adaptasi yang lebih mendalam masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar. Media besar dengan sumber daya yang memadai sudah mulai masuk ke tahap integrasi alur kerja, sementara media siber skala menengah dan kecil masih banyak yang hanya menggunakan AI sebagai alat bantu sederhana. Survei yang sama menunjukkan bahwa hanya 22% media di Indonesia yang memiliki tim khusus yang mengelola implementasi AI di redaksi, dan hanya 17% yang telah memiliki panduan etika penggunaan AI yang tertulis secara resmi.
Salah satu faktor pendorong utama adopsi AI di Indonesia adalah dukungan dari berbagai program pelatihan yang diinisiasi oleh organisasi internasional dan industri teknologi. Misalnya, Google News Initiative telah menyelenggarakan puluhan lokakarya AI untuk jurnalis di berbagai kota di Indonesia sejak tahun 2022, yang diikuti oleh lebih dari 1.200 jurnalis dari berbagai media. Program ini tidak hanya mengajarkan cara menggunakan alat AI, tetapi juga bagaimana menjaga akurasi, menghindari bias, dan memastikan bahwa penggunaan AI tidak merusak kualitas jurnalisme.
Faktor lain yang mempercepat adaptasi AI adalah tekanan pasar. Persaingan dengan platform media sosial yang menggunakan algoritma AI untuk mendistribusikan konten membuat media siber Indonesia harus meningkatkan kemampuan analisis audiens mereka. Tanpa bantuan AI, media tidak mungkin bisa memproses jutaan data perilaku pembaca setiap hari untuk memahami jenis konten apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.
Meskipun adopsi berkembang cukup cepat, masih ada sejumlah hambatan besar yang dihadapi. Banyak jurnalis masih merasa khawatir bahwa AI akan menggantikan pekerjaan mereka, sehingga ada resistensi internal di beberapa redaksi. Selain itu, keterbatasan kemampuan bahasa pada banyak model AI awal membuat hasilnya sering kali tidak sesuai dengan konteks budaya dan situasi lokal di Indonesia, sehingga membutuhkan banyak penyesuaian manual.
Sebagai penutup dari artikel ini, jika Anda masih menyebut AI sekadar “alat bantu teknis” berarti pola pikir dan referensi Anda masih memandang di permukaan saja. Sebagai katalis, AI memicu perubahan menyeluruh, mengubah cara kita berpikir tentang apa itu berita dan peran jurnalis, mengubah cara kerja dan nilai ekonomi produksi konten, serta menata ulang hubungan antara media dengan masyarakat dan kekuatan teknologi.
Perubahan ini tidak bisa dihindari, namun arahnya tidak ditentukan oleh teknologi semata. Ia bergantung pada pilihan manusia, apakah kita membiarkan AI membentuk standar kita, atau kita yang menetapkan aturan agar AI melayani kepentingan kebenaran, keberagaman, dan demokrasi. Di sinilah letak tantangan terbesar, mengendalikan katalis agar perubahan yang terjadi membawa kemajuan, bukan kerusakan bagi dunia informasi. (maspril aries)





