Home / Budaya / Jacobson Van den Berg Monumen Arsitektur Perdagangan di Tepian Musi

Jacobson Van den Berg Monumen Arsitektur Perdagangan di Tepian Musi

lustrasi Gedung Jacobson Van den Berg masa Hindia Belanda. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA –  Jika Anda ke Palembang, menyusuri jalan-jalan di belakang kantor Wali Kota Palembang menuju tepi sungai Musi, di salah satu sudut jalan, Anda akan menemukan sebuah bangunan tua dengan arsitektur kolonial Belanda berdiri kokoh yang sampai sekarang masih berdiri kokoh. Masyarakatnya menyebutnya “Gedung Jacobson”.

Gedung letaknya berada di Jalan Sekanak atau di sudut pertemuan dengan Jalan Depaten yang berada di Kelurahan 28 Ilir, Palembang. Dinding-dindingnya yang sudah berusia lebih dari satu abad. Gedung ini menyimpan cerita tentang ambisi perdagangan global, monopoli ekonomi, dan transformasi sebuah kota yang pernah menjadi pusat perdagangan komoditas paling berharga di Nusantara.

Gedung ini dibangun pada masa kolonial bercokol di Nusantara. Bangunan ini adalah kantor cabang dari Jacobson Van den Berg & Co, sebuah raksasa perusahaan dagang Belanda yang pada masanya menguasai perdagangan internasional di seluruh Asia Pasifik. Namanya mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia modern, tetapi ini adalah warisan ekonomi dan arsitektur masa Hindia Belanda berdiri kokoh hingga hari ini. Gedung ini saksi bisu dari era ketika Palembang adalah salah satu kota paling penting dalam jaringan perdagangan global Hindia Belanda.

Bagi sebagian orang yang lewat di jalan itu, gedung ini hanyalah bangunan tua yang megah namun terabaikan, dengan tulisan samar di bagian depannya yang sulit dibaca tanpa memperhatikan dengan saksama. Namun bagi mereka yang mengenal sejarah, nama yang tertulis itu adalah “Jacobson Van den Berg”. Ingat ini bukan nama dua orang sahabat yang pernah tinggal di sini, melainkan nama sebuah raksasa perdagangan yang pernah menggerakkan ekonomi di sepanjang tepi Sungai Musi, bahkan melintasi samudra hingga ke benua lain.

Di masa lalu, gedung ini pernah dipenuhi suara tawa pedagang, deru gerobak yang membawa karung-karung berisi hasil bumi, serta aroma harum kopi yang baru dipanen dari lereng gunung di selatan Sumatera.  

Gedung ini adalah saksi bisu dari sebuah era yang penuh perubahan, era di mana dua dunia—kolonialisme dan kekayaan alam Nusantara—bertemu, beradu, dan berkolaborasi membentuk satu kesatuan. Dan di pusat semua itu, berdiri Jacobson Van den Berg & Co, salah satu dari lima perusahaan dagang terbesar Belanda yang pernah menanamkan akar di bumi Nusantara

Untuk menelisik sejarah atau cerita tentang gedung Jacobson bisa dimulai dengan menelusurinya dari negeri Belanda. Jika gedung tua di tepian Sungai Musi tersebut adalah panggung kecil dari sebuah kisah besar, maka awal cerita sesungguhnya dimulai ribuan kilometer jauhnya, di Eropa Barat. Di negeri kincir angin, tepatnya di Den Haag, pada 1 Juni 1860 berdiri sebuah perusahaan dagang yang namanya sangat sederhana, namanya Jacobson van den Berg & Co.

Kisah dimulai pada 1 Juni 1860, adalah Edward Jacobson (lahir 1841 di Rotterdam, meninggal 1881 di Kreuzlingen, Swiss) dan Henri van den Berg (lahir 1843 di Rotterdam, meninggal1899 di Nice, Prancis) mendirikan firma perdagangan. Kedua pria ini bukan bangsawan, melainkan anak-anak keluarga pedagang kelas menengah yang melihat peluang di era kolonial. Belanda saat itu sedang pulih dari kebangkrutan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan beralih ke sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang kemudian digantikan pendekatan liberal. Firma ini, yang kemudian menjadi NV (Naamloze Vennootschap) Jacobson van den Berg & Co, berkembang pesat. Kantor pusat di Rotterdam mengkoordinasikan jaringan global.

Tidak ada yang menyangka bahwa perusahaan yang lahir pada pertengahan abad ke-19 itu kelak akan membangun jaringan perdagangan yang membentang dari Amsterdam hingga Batavia, dari Surabaya hingga Paramaribo, dari pelabuhan-pelabuhan di Sumatera hingga Australia dan Afrika Selatan. Selama hampir satu abad, Jacobson van den Berg menjadi salah satu perusahaan dagang paling berpengaruh dalam dunia kolonial Belanda.

Jacobson Van den Berg & Co yang kerap disebut “Jacoberg”  berdiri pada masa Belanda sedang dalam puncak ekspanionisme kolonialnya di Asia Tenggara, khususnya setelah sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) mulai menunjukkan hasil yang menguntungkan. Permintaan akan komoditas tropis dari Nusantara terus meningkat di pasar Eropa dan Amerika, dan perusahaan-perusahaan dagang Belanda berlomba untuk menguasai perdagangan ini.

Ketika terjadi Revolusi Industri di Eropa pada pertengahan abad ke-19, terjadi perubahan besar. Revolusi Industri telah mengubah wajah Eropa. Pabrik-pabrik bermunculan, jalur kereta api berkembang pesat, mesin uap mempercepat pelayaran, dan permintaan terhadap bahan baku meningkat tajam.

Belanda membutuhkan pasokan kopi, gula, teh, karet, tembakau, lada, timah, damar, dan berbagai hasil bumi dari wilayah koloninya. Sebaliknya, barang-barang industri seperti mesin, tekstil, semen, baja, obat-obatan, hingga peralatan rumah tangga dipasarkan kembali ke wilayah jajahan.


Gedung Jacobson Van den Berg sekarang di Jalan Sekanak. (FOTO: Aspani Yasland)

Dalam situasi inilah perusahaan-perusahaan dagang modern berkembang. Mereka bukan hanya membeli dan menjual barang, melainkan membangun jaringan logistik, menyediakan pembiayaan, mengatur pengapalan, memberi kredit kepada perkebunan, mengasuransikan muatan, bahkan bertindak sebagai agen pemasaran di pasar internasional. Jacobson van den Berg sejak awal tidak membatasi diri sebagai pedagang komoditas, melainkan sebagai perusahaan perdagangan internasional yang menghubungkan produsen dan konsumen di berbagai belahan dunia.

Model bisnis seperti ini menjadikan perusahaan tumbuh sangat pesat. Hadir menjadi salah satu perusahaan “the big five” di Belanda. Masa itu, dalam sejarah ekonomi Hindia Belanda, dikenal istilah The Big Five Dutch Trading Houses. Sebutan ini diberikan kepada lima perusahaan perdagangan terbesar yang menguasai sebagian besar ekspor dan impor di wilayah kolonial Belanda sepanjang akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Kelima perusahaan tersebut adalah Jacobson van den Berg & Co, Internatio, Lindeteves, Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij), dan Geo. Wehry & Co.

Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi semuanya memainkan peran yang sama, menjadi penghubung antara sumber daya alam di Nusantara (koloni) dan pasar dunia. Perusahaan dagang ini memiliki kapal, gudang, kantor cabang, jaringan perbankan, perusahaan asuransi, agen pelayaran, serta hubungan langsung dengan perusahaan-perusahaan manufaktur di Eropa. Perusahaan-perusahaan ini sering kali lebih berpengaruh dibandingkan pemerintah daerah kolonial karena mengendalikan jalur distribusi komoditas utama. Tidak berlebihan jika sejarawan ekonomi menyebut mereka sebagai “urat nadi perdagangan Hindia Belanda”.

Jaringan di Hindia Belanda

Ekspansi Jacobson van den Berg ke Hindia Belanda berlangsung secara bertahap. Kantor pusat operasional untuk kawasan Asia ditempatkan di Batavia, yang saat itu menjadi ibu kota pemerintahan kolonial. Dari sana perusahaan membangun jaringan cabang ke berbagai kota pelabuhan penting di Nusantara.

Di Pulau Jawa, Jacobson van den Berg hadir di Batavia, Semarang, Surabaya, dan Bandung. Di Sumatra, perusahaan membuka kantor di Medan, Padang, Palembang, Telukbetung (Bandar Lampung), dan sejumlah kota perdagangan lainnya.

Jaringannya juga menjangkau Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Makassar, Manado, Ambon, hingga kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan rempah, hasil hutan, dan pertambangan. Hampir semua cabang ditempatkan di kota pelabuhan. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Pada masa itu, lebih dari 90 persen perdagangan internasional masih bergantung pada transportasi laut.

Setiap kantor cabang memiliki fungsi yang hampir sama, menerima hasil bumi dari pedalaman, melakukan pemeriksaan mutu, menyimpan barang di gudang, mengurus administrasi ekspor, mengatur pengapalan, dan melakukan transaksi keuangan. Dengan jaringan seperti itu, Jacobson van den Berg menjadi bagian dari sistem perdagangan global yang bekerja hampir tanpa henti.

Jacobson van den Berg menjalankan fungsi yang sangat kompleks. Perusahaan ini menjadi eksportir komoditas perkebunan; importir barang industri; agen perusahaan pelayaran; penyedia kredit perdagangan; perantara asuransi laut; distributor mesin-mesin industri sampai pemasok kebutuhan perkebunan dan menjadi penghubung antara bank-bank Eropa dan perusahaan perkebunan di Hindia Belanda.

Ketika sebuah perkebunan membutuhkan mesin pengolahan karet dari Jerman, misalnya, Jacobson van den Berg dapat mengurus pembelian, pengiriman, pembiayaan, hingga asuransinya. Dalam ekonomi modern sekarang, perusahaan ini dapat disebut sebagai penyedia layanan perdagangan terpadu (integrated trading services).

Jacobson di Palembang

Dari berbagai kantor cabang Jacobson Van den Berg & Co yang ada di Indonesia, Palembang adalah salah satu cabang penting. Alasannya, karena letak geografis Palembang di tepi sungai Musi serta kekayaan alam Sumatera Selatan. Sejak awal abad ke-20, wilayah ini di Nusantara berkembang sebagai salah satu produsen utama kopi robusta, karet, damar, rotan, serta minyak bumi. Jalur kereta api yang dibangun pemerintah kolonial menghubungkan daerah produksi dengan pelabuhan di Palembang. Komoditas dari Lahat, Muara Enim, Lubuklinggau, Pagaralam, dan wilayah pedalaman lainnya dikirim ke gudang-gudang perusahaan sebelum diekspor ke Eropa.


Kapal dagang Jacobson Van den Berg sedang sandar di pelabuhan Palembang untuk membawa barang hasil bumi ke Eropa. (FOTO: AI)

Peran Jacobson van den Berg sangat strategis. Perusahaan ini membeli hasil bumi dari pedagang lokal maupun perusahaan perkebunan besar, kemudian mengatur seluruh proses pengiriman ke luar negeri. Bagi pemerintah kolonial, keberadaan perusahaan seperti  Jacobson van den Berg membantu memastikan bahwa arus ekspor tetap berjalan lancar dan penerimaan devisa terus meningkat.Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Palembang adalah pusat perdagangan terpenting di wilayah Sumatera bagian selatan. Sungai Musi yang lebar dan dalam berfungsi sebagai jalan raya alami yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan laut lepas. Kapal-kapal besar milik Jacobson Van den Berg dapat berlayar naik hingga ke pusat kota Palembang, sementara perahu-perahu kecil dan rakit dari daerah pedalaman membawa hasil bumi turun ke pelabuhan.

Namun daya tarik utama Palembang bagi Jacobson Van den Berg bukanlah sungainya saja, melainkan apa yang tumbuh di lereng-lereng gunung di wilayah sekitarnya. Khususnya kopi robusta yang tumbuh subur di dataran tinggi Pagaralam, Lahat, OKU Selatan, dan Semende. Kopi ini dikenal dengan kualitasnya yang sangat tinggi, rasa yang khas, dan aroma yang memikat—sehingga di pasar Eropa, kopi Sumatera dijual dengan harga yang sangat tinggi dan menjadi favorit di kalangan kaum bangsawan dan borjuis. Kemudian seiring berjalannya waktu, karet mulai menjadi komoditas utama kedua yang tak kalah berharga, seiring dengan berkembangnya industri otomotif dan kebutuhan akan bahan baku ban di seluruh dunia.

Bagi Belanda dan perusahaan-perusahaan dagangnya, mengendalikan jalur perdagangan komoditas ini berarti mengendalikan sumber kekayaan yang besar. Semua itu menjadi alasan Jacobson Van den Berg membuka kantor cabang di Palembang sekitar akhir abad ke-19, dan pada awal tahun 1900-an mulai membangun gedung megah di lokasi strategis di tepi Sungai Musi—tempat yang dikenal sekarang sebagai Gedung Jacobson Van den Berg di Jalan Sekanak.

Gedung ini dirancang dengan fungsi ganda, lantai atas berfungsi sebagai kantor administrasi tempat para pengawas dan akuntan bekerja, sementara lantai bawah dan ruangan di bagian belakang digunakan sebagai gudang penyimpanan karung-karung kopi dan karet sebelum dikapalkan.

Arsitektur gedung mencerminkan kebutuhan iklim tropis, dinding yang tebal untuk menahan panas, jendela-jendela besar dan tinggi untuk membiarkan udara segar masuk, serta atap yang miring dan tinggi agar air hujan cepat mengalir turun. Bangunan ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan simbol kekuasaan dan kehadiran Jacobson Van den Berg di wilayah ini.

Tidak ada catatan pasti mengenai kapan gedung Jacobson van den Berg di Palembang mulai dibangun. Sejumlah penelitian memperkirakan pembangunannya berlangsung antara pertengahan 1930-an hingga awal 1940-an, ketika aktivitas perdagangan karet dan kopi Sumatra mencapai masa kejayaannya. Dokumen Bank Indonesia juga mencatat bahwa pada tahun 1934 perusahaan memperoleh izin membeli lahan di kawasan Sekanak untuk memperluas fasilitas kantornya.

Kehadiran kantor di Palembang adalah bagian dari ekspansi bisnis Jacobson van den Berg di Hindia Belanda laksana gurita yang melayangkan tentakelnya ke setiap sudut strategis. Di Batavia (Jakarta), perrusahaan ini berada di salah satu bangunan paling ikonik di kawasan Kota Tua, yaitu Gedung Toko Merah yang berdiri anggun di Jl. Kalibesar Barat. Dari kantor pusat di Batavia inilah, keputusan-keputusan bisnis makro yang memengaruhi jutaan petani di pedalaman Jawa dan Sumatera diambil.

Batavia hanyalah pusat saraf, Jacobson van den Berg tahu bahwa kekayaan sejati berada di daerah-daerah. Oleh karena itu, mereka membuka cabang di hampir seluruh kota penting di Nusantara. Di luar Nusantara, perusahaan ini pernah beroperasi di Suriname yang juga koloni Belanda, yang saat itu bernama Guyana Belanda

Dengan jaringan yang begitu luas, Jacobson Van den Berg menjadi seperti nadi yang mengalirkan kekayaan dari pelosok dunia ke pusat perdagangan di Eropa. Setiap karung kopi yang dimuat di Palembang, setiap bal karet yang dikirim dari Medan, dan setiap peti kayu yang diangkut dari Suriname, semuanya melewati tangan dan pengaturan perusahaan ini sebelum sampai ke tangan pembeli di Singapura, New York, atau Den Haag.


Kapal dagang Jacobson Van den Berg sedang sandar di pelabuhan Palembang untuk membawa barang hasil bumi ke Eropa. (FOTO: AI)

Perubahan Zaman

Abad ke-20 membawa angin perubahan yang tak terelakkan bagi Hindia Belanda dan bagi Jacobson Van den Berg sendiri. Perang Dunia I dan Perang Dunia II mengguncang fondasi kekuasaan kolonial Belanda, dan semangat kemerdekaan semakin membara di kalangan rakyat Indonesia.

Selama pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, operasi Jacobson Van den Berg di Hindia Belanda dihentikan paksa. Kantor-kantornya diambil alih oleh pihak militer Jepang, sebagian staf asal Belanda ditahan atau dipulangkan, dan bisnis perdagangan diatur sepenuhnya untuk kepentingan Jepang. Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, muncul masa-masa sulit di mana Belanda berusaha kembali menguasai wilayah ini, namun perlawanan rakyat Indonesia semakin kuat.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, Jacobson Van den Berg mencoba kembali beroperasi di bawah aturan baru negara Republik Indonesia. Namun kebijakan ekonomi nasional yang semakin mengutamakan kepentingan bangsa Indonesia serta proses nasionalisasi perusahaan asing membuat posisi perusahaan ini semakin sulit. Pada sekitar tahun 1960, pemerintah Indonesia secara resmi mengambil alih aset-aset Jacobson Van den Berg di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan Miliki Belanda, seluruh aset NV Jacobson van den Berg di Indonesia secara resmi disita oleh negara. Di Jakarta, Semarang, dan Palembang, bendera perusahaan diturunkan untuk terakhir kalinya.

Di Palembang, gedung di Jalan Sekanak yang selama puluhan tahun menjadi pusat kegiatan dagang akhirnya ditinggalkan oleh staf asal Belanda. Gedung beserta seluruh hak pengelolaannya diserahkan kepada negara, dan kemudian dikelola oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI)—sebuah badan usaha milik negara yang dibentuk untuk meneruskan sebagian fungsi perusahaan dagang kolonial yang telah dinasionalisasi.

Selama bertahun-tahun setelahnya, gedung Jacobson Van den Berg sempat digunakan untuk berbagai keperluan kantor dan penyimpanan, namun perlahan mulai ditinggalkan. Tanpa perawatan yang memadai, cat mulai mengelupas, kayu-kayu jendela mulai lapuk. Bagi warga Palembang di masa itu, gedung ini perlahan menjadi bagian dari masa lalu yang terlupakan—sebuah saksi bisu dari zaman penjajahan yang ingin segera dilupakan.

Gedung yang berdiri di Jalan Sekanak bagi Palembang sebagai kota pusaka, adalah salah satu cagar budaya yang bernilai tinggi. Bangunan ini bukan hanya sekedar struktur fisik, tetapi merupakan monumen hidup dari sejarah perdagangan Palembang dan Sumatera Selatan pada era kolonial. Setelah PPI tidak lagi beroperasi, gedung Jacobson Van den Berg direncanakan menjadi Museum Kopi dan pusat promosi kopi Sumatera Selatan. Rencana tersebut tidak  terealisasi sampai kini.

Bagaimana nasib NV Jacobson van den Berg di negara asalnya? Di Belanda “operasi” Jacobson van den Berg hanya bertahan dalam bentuk arsip. Dokumen-dokumen perusahaan, buku besar, laporan tahunan, dan surat-menyurat dari para direktur yang disimpan di lembaga-lembaga arsip seperti Nationaal Archief (Arsip Nasional) di Den Haag atau Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis (IISG) di Amsterdam. Di sinilah Jacobson van den Berg “hidup” saat ini—bukan sebagai entitas yang menghasilkan laba, tetapi sebagai subjek penelitian bagi para sejarawan yang ingin memahami mekanisme eksploitasi dan perdagangan kolonial.

Jacobson Van den Berg adalah lebih dari sekadar nama perusahaan dagang yang sudah lama hilang. Perusahaan ini adalah simbol dari era perdagangan global yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan Belanda, dan dari dampak yang ditinggalkan oleh sistem perdagangan kolonial terhadap masyarakat lokal dan ekonomi Indonesia. Meskipun perusahaan ini tidak lagi beroperasi, warisan fisik dan historisnya masih ada, terutama dalam bentuk gedung bersejarah di Jalan Sekanak, Palembang.

Jacobson Van den Berg adalah bagian penting dari sejarah perdagangan kolonial di Nusantara (Indonesia). Dari Den Haag hingga Batavia, Palembang, Padang, Surabaya dan Makassar sampai ke Suriname, perusahaan ini membangun jaringan global yang menguasai komoditas tropis. Gedung Jacobson di Palembang menjadi saksi bisu perdagangan kopi sejak 1900-an. Saat ini Sumatera Selatan telah menjelma menjadi produsen atau penghasil kopi nomor satu di Indonesia. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *