Pelatihan pengolahan mocaf bagi KWT Embun Pagi bagian komitmen Pertamina Hulu Energi Jambi Merang mendukung pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. (FOTO: Humas PHE Jambi Merang)
KINGDOMSRIWIJAYA, Bayung Lencir – Namanya Desa Simpang Bayat, jika ditempuh dari Palembang jaraknya lebih dari 200 km. Sebaliknya jika ditempuh dari Jambi jarakanya hanya kurang dari 70 km jika melewati jalan tol Tempino – Bayung Lencir.
Desa Simpang Bayat berdasarkan administrasi pemerintahan daerah, desa ini berada dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Pada sebuah dusun bernama Dusun Selaro dalam wilayah Desa Simpang Bayat, dari sebuah aroma tercium aroma gurih kue kering dan renyahnya stik keju. Di dalam rumah rumah seorang warga dusun, di balik meja produksi, ada tangan-tangan perempuan bekerja cekatan mengaduk adonan, mencetak, hingga memanggang berbagai olahan berbahan dasar tepung singkong atau Modified Cassava Flour (mocaf).
Hari itu, mocaf bukan sekadar tepung hasil olahan singkong. Di tangan perempuan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, mocaf perlahan berubah menjadi simbol harapan baru. Harapan akan bertambahnya pendapatan keluarga, terbukanya peluang usaha, sekaligus lahirnya produk pangan lokal yang mampu bersaing di pasar.
KWT Embun Pagi bukan sekadar kumpulan petani perempuan biasa. Ini adalah organisasi sosial-ekonomi yang merefleksikan kearifan lokal, di mana perempuan secara tradisional memegang peran kunci dalam mengelola pangan keluarga dan komunitas. KWT Embun Pagi menjadi wadah di mana pengalaman bertani turun-temurun bertemu dengan manajemen modern.
Pemberdayaan perempuan melalui kelompok tani bukan konsep baru, namun implementasinya seringkali mandek karena akses terbatas ke teknologi dan pasar. Keterbatasan pemasaran tepung mocaf yang selama ini dihadapi oleh KWT Embun Pagi sempat menjadi batu sandungan.
Selama ini, kelompok perempuan di Desa Simpang Bayat telah memproduksi tepung mocaf sebagai salah satu produk unggulan desa. Namun, perjalanan usaha mereka tidak selalu mulus. Tepung mocaf yang diproduksi masih menghadapi tantangan dalam pemasaran. Produk yang dijual dalam bentuk bahan baku memiliki nilai ekonomi yang relatif terbatas sehingga keuntungan yang diperoleh belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan anggota kelompok.
Kondisi tersebut mendorong Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang yang wilayah operasinya berada di Kecamatan Bayung Lencir, menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas perempuan desa melalui pelatihan diversifikasi produk berbahan dasar mocaf.
Inisiatif yang dilakukan PHE Jambi Merang adalah dengan mengadakan pelatihan menghadirkan praktisi kuliner dari Jambi, Velentine Kusuma pemilik owner Valentine Baking Center yang beralamat di Jalan Mangkubumi, Jambi. Pelatihan berlangsung pekan lalu di Bayung Lencir.

Valentine Kesuma, yang membagikan pengetahuan sekaligus keterampilan mengolah mocaf menjadi berbagai produk bernilai tambah. Tak hanya mendengarkan materi, para peserta juga langsung mempraktikkan setiap tahapan pengolahan. Tepung mocaf diolah menjadi tepung bumbu serbaguna, stik keju, stik bawang, hingga kue kering kelapa yang memiliki peluang pasar lebih luas dibandingkan menjual tepung dalam bentuk mentah.
Suasana pelatihan berlangsung ceria. Para perempuan dari Simpang Bayat saling berdiskusi, mencoba resep baru, hingga berbagi pengalaman mengenai kendala yang selama ini mereka hadapi dalam mengembangkan usaha. Sesekali terdengar tawa ketika hasil adonan belum sesuai harapan, namun semangat belajar tak pernah surut.
“Pelatihan ini menjadi pengalaman baru”, kata Riyanti, Ketua KWT Embun Pagi. Para peserta mengaku, pelatihan membuka cara pandang mereka terhadap potensi singkong sebagai komoditas lokal. Bagi sebagian besar anggota KWT Embun Pagi, singkong yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan sederhana ternyata memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan setelah diolah menjadi mocaf. Selain memiliki karakteristik bebas gluten (gluten free), mocaf juga lebih mudah dicerna, menjadi sumber energi, serta dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan modern.
Potensi tersebut adalah jawaban terhadap meningkatnya tren masyarakat pada konsumsi pangan lokal yang lebih sehat sekaligus mendukung upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Menurut Riyanti, pelatihan dengan ahli kuliner alentine Kesuma memberikan wawasan baru bagi anggota KWT Embun Pagi.
Selama ini kami memproduksi tepung mocaf tanpa mengetahui berbagai kemungkinan pengembangan produk turunannya. Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang berbagai peluang pengembangan produk berbahan dasar mocaf. Dengan tambahan keterampilan dan bantuan peralatan yang diberikan, kami optimistis dapat meningkatkan kualitas serta variasi produk sehingga memiliki peluang pasar yang lebih luas”, ujar Riyanti.
Bagi Riyanti, kemampuan mengolah mocaf menjadi produk siap konsumsi bukan hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga memperluas peluang usaha bagi perempuan desa yang selama ini ingin memiliki penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggal mereka.
Komitmen PHE Jambi Merang tidak berhenti pada pelatihan keterampilan. Untuk memperkuat keberlanjutan usaha kelompok, perusahaan turut menyerahkan berbagai sarana produksi yang dibutuhkan. Bantuan tersebut meliputi mesin penggiling singkong yang akan mempercepat proses produksi tepung mocaf, oven untuk memanggang aneka produk olahan, peralatan pembuatan kue, hingga perlengkapan pendukung lainnya. Kehadiran fasilitas produksi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha kelompok sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan agar lebih konsisten.
Manager Community Involvement & Development Regional 1 PHE Jambi Merang, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan, “Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan manfaat yang berkelanjutan di sekitar wilayah operasi. Masyarakat perlu didorong agar tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga mampu menciptakan produk bernilai tambah yang memiliki daya saing di pasar”.

Menurut Iwan, “Melalui peningkatan kapasitas dan dukungan sarana produksi ini, kami berharap KWT Embun Pagi dapat tumbuh menjadi kelompok usaha yang lebih mandiri, produktif, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi anggotanya maupun masyarakat sekitar”.
Bagi PHE Jambi Merang, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada bantuan sesaat, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Program tidak berhenti pada peningkatan keterampilan produksi. Sebagai tindak lanjut, PHE Jambi Merang juga akan mendampingi kelompok dalam memperbaiki desain kemasan agar lebih menarik dan informatif.
Kemasan menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan daya saing produk, terutama ketika memasuki pasar yang lebih luas. Produk yang berkualitas perlu didukung tampilan yang profesional agar mampu menarik perhatian konsumen.
Selain pengemasan, perusahaan juga akan memfasilitasi pengurusan legalitas produk sehingga hasil olahan mocaf memiliki izin yang diperlukan untuk dipasarkan secara lebih luas. Legalitas menjadi salah satu syarat penting dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus membuka akses ke pasar modern maupun berbagai pameran produk unggulan daerah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai produksi, tetapi juga mencakup seluruh rantai nilai usaha, mulai dari pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga penguatan kelembagaan kelompok.
Dari perempuan-perempuan di Desa Simpang Bayat, harapan kini tumbuh bersama semangat para perempuan yang terus belajar dan berinovasi sebagai jawaban dari berbagai tantangan ekonomi pedesaan, mereka membuktikan bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan pengetahuan, keterampilan, dan pendampingan yang tepat.
Singkong yang dahulu hanya dipandang sebagai komoditas biasa kini memiliki cerita berbeda. Melalui tangan-tangan perempuan Desa Simpang Bayat, tanaman sederhana itu berubah menjadi aneka produk bernilai ekonomi, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat kemandirian keluarga.
Pelatihan di Dusun Selaro menjadi lebih dari sekadar kegiatan peningkatan keterampilan. Ia menjadi ruang tumbuh bagi kepercayaan diri perempuan desa untuk melangkah lebih jauh sebagai pelaku usaha.
Dengan penguatan kapasitas, dukungan sarana produksi, pendampingan pemasaran, serta pengurusan legalitas produk dari PHE Jambi Merang, KWT Embun Pagi diharapkan mampu berkembang menjadi kelompok usaha yang mandiri dan berdaya saing.
Di balik setiap bungkus stik keju, kue kering, maupun tepung bumbu berbahan dasar mocaf yang kelak dipasarkan, tersimpan kisah tentang perempuan-perempuan desa yang memilih terus belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dari potensi yang tumbuh di sekitar mereka.
Dari Desa Simpang Bayat, mocaf kini tidak lagi sekadar tepung singkong. Ia telah menjelma menjadi simbol pemberdayaan, kemandirian, dan harapan baru bagi tumbuhnya ekonomi lokal yang berkelanjutan. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






