Ilustrasi BUMDes Bintialo Sejahtera dan Hasan Direktur BUMDes. (FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA – Dalam buku berjudul “Langkah Bersama Menuju Kemandirian – 45 Cerita Baik Pengembangan Masyarakat MedcoEnergi” tertulis kalimat, “Bagi MedcoEnergi program community development … bukan sekadar tuntutan regulasi. Ia telah menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan bahwa operasi perusahaan memberi manfaat bagi manusia dan lingkungan di sekitarnya. Keberlanjutan operasi perusahaan dan sharing prosperity menjadi tujuan besar program-program pengembangan masyarakat yang dijalankan”.
Kalimat tersebut dibuktikan perusahaan minyak dan gas (migas) tersebut pada salah satu wilayah operasi kerjanya di Sumatera Selatan (Sumsel). Tepatnya di Desa Lubuk Bintialo, Kecamatan Batanghari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini memiliki mitra binaan BUMDes Bintialo Sejahtera. BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) kini telah bertransformasi menjadi mitra dan penerima manfaat program ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat di desa tersebut.
Transformasi yang terjadi pada BUMDes Bintialo Sejahtera, entitas yang berdiri sejak 2016 menjadi bukti keberadaan KKKS di sebuah wilayah telah memicu terjadinya efek berganda di wilayah tersebut, seperti di Desa Lubuk Bintialo yang berjarak sekitar 230 km dari Palembang, ibu kota Provinsi Sumsel.
Efek berganda dari keberadaan Medco E&P Grissik Ltd telah mampu mengubah wajah BUMDes Bintialo Sejahtera yang awal berdirinya hanya memiliki satu unit usaha konvensional yang berjalan terseok-seok dan musiman, kini sukses melakukan diversifikasi lini bisnisnya menjadi tiga unit usaha aktif yang produktif, berkelanjutan, dan menjawab langsung kebutuhan riil masyarakat desa.
Hasan, 34 tahun yang kini menyandang amanah sebagai Direktur BUMDes Bintialo Sejahtera bercerita perjalanan sejak awal BUMDes tersebut berdiri sekitar 10 tahun lalu. Di tangan Hasan, BUMDes dengan sentuhan dari program pengembangan masyarakat (PPM) Medco E&P Grissik Ltd. yang mengelola blok migas Corridor bertransformasi. Dengan tiga unit usaha, kini pendapatan BUMDes tersebut melonjak menjadi Rp30 juta per bulan—atau naik 300 persen dari sebelumnya. Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi juga berarti terbukanya lapangan kerja, peluang ekonomi baru, dan kebanggaan bagi warga desa.
Sosok Hasan
Azan Subuh dari masjid desa baru saja membelah kesunyian pagi di Desa Lubuk Bintialo, Kecamatan Batanghari Leko. Udara dingin khas pedesaan di wilayah khatulistiwa berpadu dengan kabut tipis yang menyelimuti perkebunan kelapa sawit dan karet milik warga. Pagi itu sesosok pria berusia 43 tahun melangkah pasti menuju masjid. Ia mengenakan sarung, berkemeja putih dan sebuah peci hitam yang bertengger kokoh di kepalanya.
Pria itu adalah Hasan akrab dipanggil “Ustaz Hasan” oleh sebagian besar masyarakat Lubuk Bintialo yang jumlahnya penduduk sekitar 3.900 jiwa. Hasan hadir sebagai sosok pelita spiritual, ia sehari-hari bertindak sebagai imam salat fardhu dan memimpin majelis taklim desa.
Beberapa tahun belakangan ini, rutinitas sang ustaz tidak lagi berhenti setelah ia mengucapkan salam penutup salat atau ketika ia melipat sajadahnya. Begitu matahari mulai meninggi, ia melipat kain sarungnya, berganti pakaian formal, dan duduk di balik meja kerja dengan tanggung jawab yang tidak kalah besar, sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bintialo Sejahtera.

Terjadi transformasi dalam diri Hasan dari seorang ulama lokal menjadi seorang nakhoda bisnis desa. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan potret nyata dari sebuah gerakan literasi ekonomi dan kemandirian yang sedang bergolak di akar rumput di Sumatera Selatan. Di bawah kepemimpinannya, BUMDes Bintialo Sejahtera bertransformasi dari sebuah lembaga yang awalnya mati suri menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan pendapatan yang melonjak drastis dengan kenaikan fantastis dari omzet sebelumnya.
Angka Rp30 juta per bulan—atau naik 300 persen, bukan sekadar statistik kaku di atas kertas laporan keuangan, melainkan manifestasi dari terbukanya lapangan kerja baru, lahirnya peluang usaha bagi warga desa, dan sebuah kebanggaan kolektif yang berhasil membakar semangat kemandirian masyarakat desa.
Sosok Hasan lahir dan tumbuh besar di lingkungan pedesaan yang kental dengan nilai-nilai agamis dan gotong royong. Saat awal mendapat amanah mengelola BUMDes Bintialo Sejahtera ia merasakan ada beban sangat berat di pundaknya. Kondisi BUMDes saat itu seadanya, seperti kerakap tumbuh di batu, lembaga tersebut tidak memiliki arsip administrasi, dokumen formal yang memadai, dan kelembagaan BUMDes yang berdiri sejak 2016 itu pun belum tertata rapi.
BUMDes Bintialo Sejahtera sebenarnya bukan lembaga baru yang berdiri berdasarkan musyawarah desa. Namun, selama bertahun-tahun sejak pendiriannya, eksistensi BUMDes ini tak lebih dari sekadar papan nama kayu yang memudar tertimpa hujan dan terik matahari di sudut kantor balai desa. Lembaga ini berjalan seadanya, tanpa struktur organisasi yang jelas, tanpa perencanaan bisnis, dan tanpa pemahaman mendasar mengenai tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
Hasan setelah menerima mandat sebagai Direktur, ia dihadapkan pada gunung es persoalan yang rumit. Hasan mengenangnya sebagai perjuangan yang berat. Baginya lebih paham bagaimana cara memimpin jemaah di masjid, tapi buta sama sekali mengenai cara memimpin sebuah entitas bisnis. Informasi tentang peluang kerja sama eksternal sangat sulit dijangkau, kemampuan pengelola BUMDes dalam menyusun dokumen formal seperti proposal bisnis atau laporan keuangan belum memadai, dan kelembagaan organisasi pun berantakan.
Ya tantangan terbesar yang dirasakan Hasan justru datang dari urusan administratif—sesuatu yang selama ini dianggap remeh oleh sebagian orang, namun menjadi pembunuh berdarah dingin bagi keberlanjutan usaha di tingkat desa. Di tengah kerumitan administrasi itu, masih ada semangat yang meluap-luap dari pengurus dan warga untuk maju.
LBD Medco Energi
Di tengah usahanya membawa BUMDes Bintialo Sejahtera menjadi semakin baik, pada tahun 2023 Hasan mendengar informasi mengenai adanya program Local Business Development (LBD) atau Pengembangan Bisnis Lokal yang diinisiasi oleh Medco E&P Grissik Ltd., perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengelola blok migas Corridor di wilayah Musi Banyuasin.
MedcoEnergi dikenal memiliki komitmen kuat dalam hal Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar area operasional mereka. Hasan menyadari bahwa ini adalah peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. Ia tidak ingin BUMDes Bintialo Sejahtera terus-menerus menjadi lembaga sekadar formalitas. Ia menginginkan perubahan radikal. “BUMDes harus hidup, bergerak, menghasilkan pendapatan, dan memberikan manfaat nyata bagi hajat hidup orang banyak”, tekadnya. Dengan tekad yang bulat, Hasan mendaftarkan BUMDes yang dipimpinnya untuk menjadi peserta binaan dalam program LBD Medco E&P Grissik Ltd.

Tahun 2023 menjadi tonggak sejarah dimulainya proses pembinaan intensif. Selama fase ini, MedcoEnergi tidak sekadar memberikan bantuan modal cuma-cuma yang biasanya cepat habis tanpa bekas. Sebaliknya, mereka memberikan intervensi yang jauh lebih berharga, investasi leher ke atas berupa ilmu pengetahuan, pendampingan teknis, dan penguatan kelembagaan. Hasan bersama jajaran pengurus BUMDes mulai mengikuti berbagai pelatihan yang menguras energi dan pikiran, mulai dari pelatihan penyusunan proposal kerja sama bisnis yang akuntabel, teknik negosiasi, manajemen risiko, tata buku akuntansi sederhana, hingga pembuatan profil perusahaan (company profile) yang profesional.
Bagi Hasan dan pengurus BUMDes Bintialo Sejahtera, program LBD ini memberikan lebih dari sekadar teori di dalam kelas pelatihan. Medco hadir membuka cakrawala berpikir pengurus BUMDes, membongkar dan menata ulang sistem manajemen, serta menumbuhkan harapan baru yang realistis.
Di bawah bimbingan para mentor profesional dari MedcoEnergi, Hasan yang dulunya gemetar saat melihat lembar kerja spreadsheet akuntansi, perlahan-lahan mulai mahir menganalisis arus kas (cash flow) dan menentukan break-even point (BEP) dari unit bisnis yang dikelolanya. Pengalaman ini memberikan Hasan dua hal yang selama ini hilang dari dirinya, keterampilan teknis mengelola bisnis dan kepercayaan diri yang kokoh sebagai seorang eksekutif desa.
Keberhasilan sebuah transformasi bisnis diukur dari hasil konkret di lapangan. Berbekal ilmu dan kompetensi baru yang diperoleh dari program LBD, Hasan langsung tancap gas menata ulang organisasi dan mengembangkan lini bisnis, dari satu unit usaha menjadi tiga unit usaha, dari Unit Usaha Pertanian Terpadu, Unit Usaha Ternak Ikan Air Tawar sampai Unit Usaha Internet Desa (Digitalisasi Perdesaan). “Usaha internet desa ini merupakan usaha unggulan BUMDes Bintialo Sejahtera”, kata Hasan.
Kini BUMDes Bintialo Sejahtera telah merasakan dampak nyata dari efek berganda hulu migas dari KKKS MedcoEnergi. BUMDes sebagai penerima manfaat telah merasakan langsung dari kebijakan PPM Medco yang berfokus pada tiga area utama, yaitu: pertama, sumber daya alam dan kearifan lokal. Dalam area ini program pengembang an masyarakat yang dijalankan adalah program yang berbasis sumber daya alam dan kearifan lokal untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.
Kedua, pemberdayaan. Proses pemberdayaan komunitas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunitas dalam bertindak secara mandiri sesuai dengan potensi diri dan lingkungan nya. Ketiga, pelibatan pemangku kepentingan. Pelibatan ini dijalankan untuk mendapatkan dukungan sosial dalam proses pelaksanaan program pengembangan masyarakat serta operasi perusahaan.
Tak hanya sekadar dilaksanakan, suatu program pengembangan masyarakat yang dijalankan MedcoEnergi juga membutuhkan pemantauan dan evaluasi. Kegiatan pemantauan dan evaluasi dijalankan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan efektif, bisa diukur dampaknya, serta dapat dikomunikasikan kepada semua pemangku kepentingan.
Dari berbagai kesuksesan PPM MedcoEnergi termasuk pada BUMDes Bintialo Sejahtera, ada tiga kata kunci untuk meraih kesusksesan tersebut, yaitu “kerja keras”, “transparansi”, dan “profesionalisme manajemen”, seperti yang diterapkan Hasan membuahkan hasil yang mencengangkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan Jun Harbi dan kawan-kawan dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) berjudul “Transformasi Kapasitas Kelembagaan BUMDes di Kabupaten Musi Banyuasin Melalui Pendampingan Intensif dan Kemitraan Bisnis”, menyatakan program pendampingan BUMDes tahun 2024 memberikan kontribusi dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalisme BUMDes entitas bisnis strategis di tingkat desa. Melalui kegiatan pendampingan, Bumdes dibekali dengan kemampuan administratif dan teknis serta diperkuat dalam membangun jaringan kerja sama dengan perusahaan sekitar.
Menurut penelitian tersebut peningkatan kapasitas BUMDes salah satunya dilakukan melalui workshop dan pendampingan untuk membangun kerja sama strategis. Workshop menjadi fondasi penting bagi setiap BUMDes dalam memetakan potensi desa, termasuk potensi kerjasama, menyusun dan merancang dokumen-dokumen strategis yang dibutuhkan, seperti proposal kerja sama, profil bisnis, dan strategi branding, serta strategi untuk menjalankan program yang sudah disusun.
Sebuah workshop yang dilakukan selama 3 (tiga) hari dari 21-23 November 2024 di Palembang telah berhasil memfasilitasi para pengurus BUMDes untuk belajar secara partisipatif sekaligus menghasilkan produk konkret yang langsung dapat digunakan dalam menjalin kemitraan. Pendampingan juga diarahkan untuk membantu BUMDes menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan sekitar, terutama dengan Medco E&P Grissik Ltd dan perusahaan kontraktornya.
Kesimpulan dari penelitian tersebut menyebutkan, pelatihan atau workshop dan program pendampingan terbukti berhasil meningkatkan kapasitas kelembagaan dan daya saing BUMDes sebagai entitas ekonomi strategis di desa. Keberhasilan itu kini melekat pada BUMDes Bintialo Sejahtera dan Hasan.
Kontribusi utama Hasan telah membuatnya diakui sebagai penggerak ekonomi desa yang visioner meliputi beberapa aspek kunci, seperti peletakan fondasi integrasi kepercayaan (Trust Building). Memanfaatkan reputasinya sebagai tokoh agama untuk meyakinkan warga bahwa BUMDes dikelola dengan asas kejujuran, keterbukaan, dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, maupun nepotisme (KKN).
Kemudian, keberanian melakukan aliansi strategis. Hasan meruntuhkan tembok pembatas antara desa dan korporasi berskala internasional seperti MedcoEnergi melalui pendekatan profesional yang berbasis pada asas saling menguntungkan (win-win solution). Serta penerapan prinsip bisnis modern berbasis kearifan lokal. Hasan berhasil mengawinkan kedisiplinan kerja korporasi modern dengan nilai-nilai syariah Islam yang mengutamakan keberkahan, keadilan, pembagian hasil yang adil, serta kepedulian ekologis lingkungan.
Dari diri dan Hasan dan pengurus BUMDes Bintialo Sejahtera, lahir ungkapan terima kasih kepada MedcoEnergi yang telah banyak membimbing BUMDes Bintialo Sejahtera. Melalui program LBD yang dijalankan secara konsisten. Mereka yang tinggal di desa, jauh dari kota jadi tahu dan paham bagaimana cara menjalin kerja sama kemitraan yang profesional demi meningkatkan produktivitas desa. Bagi seorang Hasan, perjalanan panjang memajukan ekonomi Lubuk Bintialo tentulah masih jauh dari kata selesai.
Kini, setiap kali azan berkumandang dari menara masjid Lubuk Bintialo, warga desa tidak hanya diingatkan untuk memenuhi panggilan ibadah kepada Sang Pencipta, tetapi mereka juga diingatkan bahwa di tanah tempat mereka berpijak, kesejahteraan, martabat, dan kemandirian ekonomi telah berhasil mereka rebut kembali dengan tangan mereka sendiri. Kini dan ke depan BUMDes Bintialo Sejahtera telah menjadi episentrum kemandirian ekonomi di Lubuk Bintialo dan sekitarnya. (maspril aries)





