Ilustrasi Udo Z Karzi dan Buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” (FOTO: AI)
Oleh Udo Z Karzi (Tukang Tulis, Tinggal di Bandar Lampung)
INI zaman ketika semua orang ingin cepat dibaca, cepat ditonton, cepat viral, dan cepat dilupakan. Tapi, ternyata masih ada orang-orang yang dengan keras kepala memilih jalan yang sebaliknya. Mereka menulis puisi ketika puisi dianggap tak laku. Mereka membuat pertunjukan teater ketika penonton lebih suka menatap layar gawai. Mereka menerbitkan naskah drama ketika penerbit bahkan belum tentu yakin ada yang akan membacanya.
Karena itulah saya merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada Iswadi Pratama. Bukan semata karena ia menulis Bayangan Pucat Memudar (Lampung Literature, 2024), melainkan karena ia ikut memungkinkan terbitnya sebuah buku naskah lakon di tengah kelangkaan yang semakin terasa dalam dunia sastra kita hari ini.
Sebelumnya bersama ia menerbitkan Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski: Sebuah Pengantar (bersama Ari Pahaha Hutabarat, 2012) dan Orang-orang Setia (kumpulan drama, ditulis bersama Ari Pahala, Fitri Yani, dan Imas Sobariah, 2016).
Kita cukup sering menemukan buku puisi. Kumpulan cerpen masih terbit. Novel bahkan terus membanjiri rak-rak toko buku dan beranda media sosial. Buku esai juga semakin banyak hadir dalam berbagai bentuk. Namun naskah lakon atau naskah drama? Itu lain perkara.
Genre sastra yang satu ini seperti kerabat jauh yang sesekali datang saat Lebaran lalu menghilang bertahun-tahun. Padahal, naskah drama adalah salah satu genre sastra yang memiliki sejarah panjang dan terhormat dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Dari Armijn Pane, Utuy Tatang Sontani, Achdiat K. Mihardja, Motinggo Busye, W.S. Rendra, Arifin C. Noer, hingga Putu Wijaya, drama pernah menjadi bagian penting dari percakapan sastra kita.
Kini kehadirannya semakin jarang. Mungkin karena drama dianggap lebih cocok dipentaskan daripada dibaca. Mungkin karena pasar pembacanya terbatas. Mungkin juga karena zaman sedang tidak terlalu ramah terhadap sesuatu yang membutuhkan kesabaran dan imajinasi.
Karena itu ketika Bayangan Pucat Memudar tiba di Lepau Buku Kemiling pada malam 20 Desember 2024, saya menyambutnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Esok paginya saya membacanya ditemani kopi dan singkong yang dicocol gula semut aren dari Liwa.
Baca juga: Iswadi Pratama Sutradara Teater Satu Terbitkan Buku Sebuah Lakon Bayangan Pucat Memudar
Tidak ada yang istimewa dari hidangan itu. Justru kesederhanaannya yang membuat saya merasa kembali menjadi anak kampung yang dulu gemar membaca apa saja yang bisa ditemukan. Di kampung terpencil nun di balik Bukit Barisan Selatan, saya pernah membaca naskah-naskah drama seperti Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja dan Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani. Saya membaca bukan karena ingin menjadi teaterawan. Saya membaca karena tertarik pada cerita dan kata-kata.

Maka, setiap kali menemukan buku naskah drama, saya selalu merasa sedang menemukan sesuatu yang langka. Perasaan itulah yang muncul kembali saat membaca Bayangan Pucat Memudar.
Sebagai naskah lakon, karya ini menawarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam genre lain: kehidupan yang dibangun melalui dialog, gestur, jeda, dan kemungkinan-kemungkinan panggung. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti cerita, tetapi juga membayangkan ruang, cahaya, suara, bahkan keheningan.
Iswadi Pratama memahami betul wilayah itu. Ia menulis bukan hanya sebagai sastrawan, melainkan juga sebagai sutradara dan pekerja teater yang telah puluhan tahun bergelut dengan panggung. Karena itu dialog-dialog dalam naskah ini terasa hidup. Ada ritme. Ada ketegangan. Ada lapisan-lapisan makna yang seolah menunggu diterjemahkan oleh tubuh para aktor.
Tema yang diangkat sebenarnya sangat manusiawi: tentang kehilangan, ingatan, penyesalan, dan pergulatan manusia menghadapi kenyataan hidup. Namun, di tangan Iswadi, tema-tema tersebut tidak jatuh menjadi keluhan sentimental. Ia hadir sebagai perenungan tentang manusia yang berusaha memahami dirinya sendiri.
Bahasa yang digunakan tetap menunjukkan ciri khas Iswadi: puitis, reflektif, dan kadang-kadang seperti puisi yang sedang menyamar menjadi percakapan.
Membaca naskah ini membuat saya berpikir tentang nasib sastra dan teater hari ini. Keduanya menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sastra sedang berhadapan dengan krisis perhatian. Orang membaca semakin cepat, tetapi belum tentu semakin dalam.
Teater menghadapi persoalan yang lebih rumit lagi. Selain harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan digital, teater juga berhadapan dengan persoalan regenerasi, ruang pertunjukan, pendanaan, dan penonton.
Di banyak tempat, teater hidup dari kegigihan segelintir orang. Mereka mengurus latihan, mencari sponsor, membuat proposal, menyusun panggung, menjual tiket, sekaligus menjadi aktor bila diperlukan. Kadang-kadang mereka bahkan harus membeli konsumsi dengan uang sendiri.
Kalau dipikir-pikir, memang agak tidak masuk akal. Namun, kesenian sering kali bertahan justru karena orang-orang yang tidak terlalu peduli pada masuk akal atau tidaknya sesuatu. Mereka bertahan karena cinta. Atau, mungkin karena keras kepala.
Dan, Iswadi Pratama termasuk dalam kategori itu. Lahir di Tanjungkarang pada 8 April 1971, ia telah menjalani perjalanan panjang sebagai sastrawan, sutradara, penulis naskah, aktor, sekaligus penggerak kesenian. Di Lampung, namanya hampir mustahil dipisahkan dari perkembangan teater modern beberapa dekade terakhir.

Yang menarik, Iswadi tidak hanya menciptakan karya. Ia juga menjaga ekosistemnya. Ia tidak sekadar menulis naskah, tetapi ikut memastikan bahwa teater tetap memiliki ruang hidup. Ia tidak hanya berdiri di atas panggung, tetapi juga membantu menyalakan lampu panggung itu agar tidak padam.
Dalam dunia yang semakin memuja popularitas sesaat, ketekunan semacam ini menjadi sesuatu yang berharga. Sebab, sesungguhnya kesenian tidak dibangun oleh orang-orang yang sesekali datang lalu pergi. Kesenian dibangun oleh mereka yang bertahan.
Mereka yang terus bekerja, meskipun tidak selalu mendapat sorotan. Mereka yang terus berkarya meskipun tahu jumlah penontonnya mungkin tidak banyak. Mereka yang tetap percaya bahwa sastra dan teater masih penting bagi kehidupan manusia.
Ada satu bagian dalam Bayangan Pucat Memudar yang terus terngiang setelah buku ini ditutup. Pada halaman 121, Iswadi menulis:
Yang berjalan sendiri di saat semua pergi
Itulah aku…
Yang menjahit hati sambil menikmati pagi
Itulah aku…
Yang selalu keliru disesatkan rindu
Itulah aku…
Berayun-ayun di antara ada dan tiada
Berduyun-duyun di jalan kecil penuh prahara
Bertimbun-timbun harapan dan sia-sia
Akan tetapi kujahit hatiku, agar patut di matamu
Akan tetap kuseduh rinduku, hingga engkau tak menjauh
Akan tetap kutampa laraku, demi melihat indahmu
Saya tidak tahu apakah bait itu sedang berbicara tentang seseorang yang mencintai seseorang yang lain, tentang manusia yang berusaha berdamai dengan hidupnya, atau bahkan tentang teater itu sendiri.
Namun, saya menangkap satu hal yang sangat kuat: keteguhan. Orang yang tetap berjalan ketika yang lain pergi. Orang yang tetap menjahit hati ketika hidup berkali-kali mengoyaknya. Orang yang tetap menyeduh rindu dan menanggung lara meskipun tahu hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Bukankah itu pula gambaran para pekerja sastra dan teater?
Mereka terus berjalan ketika banyak orang memilih jalan lain. Mereka terus merawat panggung ketika perhatian publik berpindah ke layar-layar yang lebih terang. Mereka terus menulis, berlatih, membaca, dan mementaskan karya-karya yang belum tentu menjanjikan keuntungan apa pun.
Pendek kata, mereka keras kepala.
Dan, setelah membaca Bayangan Pucat Memudar, saya semakin yakin bahwa dunia kesenian memang selalu bertahan berkat orang-orang semacam itu. Orang-orang yang memilih setia ketika yang lain menyerah. Orang-orang yang memilih bertahan ketika yang lain beralih arah. Orang-orang yang tetap berjalan sendiri di saat semua pergi.
Benar-benar keras kepala!
Dan syukurlah, sastra dan teater masih membutuhkan mereka.
Tabik. []





