Home / Literasi / Ada Balige Writers Festival, Ada Ubud Writers & Readers Festival, Kapan Ada Seguntang Writer Festival?

Ada Balige Writers Festival, Ada Ubud Writers & Readers Festival, Kapan Ada Seguntang Writer Festival?

KINGDOMSRIWIJAYA – Balige adalah sebuah kota yang ada di Sumatera Utara (Sumut), tepatnya Balige adalah ibu kota Kabupaten Toba yang jika ditempuh dengan perjalanan darat dari Medan butuh waktu 5 atau 6 jam perjalanan dengan roda empat. Bisa juga dijangkau dengan penerbangan dari Jakarta menuju Bandara Silangit, dari bandara butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Balige.

Memang sedang ada apa di Balige, kota yang berada di tepian Danau Toba, danau terluas di Indonesia? Pada tahun 2026, di bulan Mei, di sana tengah berlangsung “Balige Writers Festival” (BWF). Pada BWF kali ini dua putra Sumatera Selatan (Sumsel), sastrawan Benny Arnas dan Wendy Permana Putra bersama Haryadi Yansah diundang untuk hadir ke sana. Benny Arnas dari Lubuklinggau diundang sebagai mentor untuk Program Penguatan Festival Sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, Kementerian Kebudayaan.

BWF adalah salah satu bagian dari kekayaan budaya dan sastra Nusantara, sekaligus menjadi ruang penting untuk merayakan karya, bertukar gagasan, dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Sebelum Balige Writers Festival, di Indonesia sudah ada agenda besar bernama “Ubud Writers & Readers”.  Festival yang sudah lama dikenal sebagai ajang sastra berskala internasional.

Namun, sejak beberapa tahun terakhir, muncul nama baru yang mulai menarik perhatian dunia sastra nasional, dikenal dengan nama Balige Writers Festival (BWF). Berada di jantung Tanah Batak, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, festival ini hadir dengan karakteristik yang khas, berakar kuat pada budaya lokal, namun tetap membuka ruang bagi wacana nasional maupun internasional.

Apa Itu Balige Writers Festival?

Sebelum mencari tahu apa itu Ubud Writers & Readers? Maka mari mengenal lebih jauh Balige Writers Festival (BWF) sebagai festival sastra tahunan yang diadakan di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, dan tercatat sebagai festival penulis pertama yang diselenggarakan secara rutin di wilayah Sumatera Utara (mungkin di Sumatera?). Festival ini didefinisikan sebagai ruang pertemuan yang merayakan buku, tulisan, gagasan, dan kekayaan budaya, khususnya yang bersumber dari tradisi dan pemikiran masyarakat Batak Toba, namun tetap terbuka bagi penulis, pembaca, dan pegiat budaya dari seluruh Indonesia maupun luar negeri.

BWF merupakan wahana pertemuan bagi penulis fiksi maupun nonfiksi, penyair, sejarawan, akademisi, pekerja kreatif, pembaca, serta pecinta budaya dan religi lintas iman. Tujuan utamanya tidak hanya sekadar mempertemukan penulis dan pembaca, tetapi juga mengangkat dan memperkenalkan kekhasan pemikiran, sastra, dan nilai-nilai lokal Sumatera Utara, khususnya budaya Batak Toba, ke kancah nasional.

Tidak kalah pentingnya BWF mengembangkan minat baca dan budaya literasi di wilayah Danau Toba dan sekitarnya. Jika karya sastra (fiksi) dan non fiksi tidak ada yang mau membaca atau tidak ada minat baca, apa kata dunia? BWF juga menghidupkan kembali warisan sastrawan besar asal daerah tersebut agar tetap hidup dan menjadi rujukan generasi muda. Serta menjadi menjadi ruang dialog yang menghubungkan tradisi masa lalu dengan isu-isu kekinian yang relevan bagi masyarakat.

BWF yang sudah berlangsung sejak 2023 mengusung tema utama yang selalu berakar dari kosakata atau konsep budaya Batak, yang kemudian diterjemahkan maknanya ke dalam konteks kehidupan modern. Pendekatan ini menjadikan BWF berbeda dari festival sastra lain, karena selalu menempatkan identitas budaya setempat sebagai landasan utama setiap diskusi dan kegiatan.

Mengapa festival sastra ini ada di Balige bukan di Medan yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Utara? Balige menjadi tempat berlangsungnya sebuah festival sastra bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai pusat budaya, pendidikan, dan sejarah masyarakat Batak Toba, serta merupakan tempat kelahiran dan berkarya sejumlah sastrawan besar Indonesia, seperti Sitor Situmorang, Bokor Hutasuhut, dan Suhunan Situmorang. Oleh karena itu, BWF juga berfungsi sebagai bentuk penghormatan sekaligus revitalisasi terhadap jejak-jejak karya para pendahulu tersebut.

Balige selain dikenal dengan destinasi wisata Danu Toba, di sini juga ada sejumlah tempat ikonik, seperti Museum TB Silalahi, salah satu pusat budaya dan sejarah terpenting di wilayah tersebut, sering menjadi lokasi diskusi utama dan pameran budaya. Ada Taman Gurgur, Desa Gurgur Aek Raja, Kecamatan Tampahan, lokasi yang asri, terbuka, dan dekat dengan alam, menjadi tempat utama kegiatan BWF sejak tahun 2024, memberikan suasana akrab dan menyatu dengan lingkungan.

Juga ada Desa Wisata Lumbangaol / Tambunan Lumban Gaol. Sejak tahun 2025 kegiatan BWF diperluas masuk ke desa-desa wisata, agar budaya sastra dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pedesaan dan menjadi pendukung pariwisata budaya setempat. Kemudian ada Plaza Mulia Raja, Damar Toba, dan Tepi Bistro, sebagai ruang publik dan tempat kreatif di pusat kota Balige juga digunakan untuk berbagai sesi diskusi, pembacaan puisi, dan pameran.


Sastrawan Benny Arnas dari Sumsel menjadi mentor pada BWF 2026. (FOTO: IG @baligewritersfest)

BWF hadir dan memiliki makna filosofis ingin menyatukan sastra, budaya, dan alam. Dengan latar belakang Danau Toba, bukit-bukit hijau, dan bangunan bersejarah, setiap kegiatan tidak hanya menjadi acara intelektual, tetapi juga pengalaman budaya dan alam yang mendalam. Penyelenggara percaya bahwa keindahan lingkungan dan kekayaan sejarah tempat tersebut akan memperkaya wawasan dan perasaan setiap peserta yang hadir.

Di BWF ada rangkaian kegiatan yang sangat beragam, dirancang untuk melibatkan semua kalangan, dari penulis profesional, akademisi, siswa sekolah, hingga masyarakat umum. Kegiatannya selalu menyeimbangkan antara diskusi intelektual, apresiasi seni, pengembangan bakat, serta pengenalan budaya lokal. Jenis kegiatan yang selalu ada setiap tahunnya adalah diskusi panel dan dialog publik.

Yang tidak kalah penting ada Program Emerging Writers (Penulis Muda), ini merupakan program unggulan BWF sekaligus menjadi ciri khasnya. Setiap tahun, penyelenggara memilih sekitar 10 penulis muda berusia di bawah 35 tahun dari seluruh Indonesia, yang karyanya potensial namun belum banyak dikenal, untuk diundang hadir sepenuhnya ditanggung biayanya. Dari Sumsel terpilih Wendy Permana Putra.

Mereka akan berinteraksi langsung dengan sastrawan senior, salah satunya tahuan 2026, sastrawan Benny Arnas. Pada program ini peserta mempresentasikan karyanya, belajar menulis, dan menjadi bagian dari jaringan sastra nasional. Program ini bertujuan mencetak penulis masa depan dan menjaga keberlanjutan dunia sastra Nusantara. Juga ada kegiatan lainnya, pembacaan karya sastra dan pentas puisi, ada kelas menulis dan lokakarya kreatif dengan pengajarnya adalah penulis, penyair, dan ahli sastra ternama dari seluruh Indonesia. Ada peluncuran buku dan diskusi buku, pameran budaya dan sastra, wisata sastra dan budaya, pentas seni dan budaya, serta pasar buku dan kuliner.

Ubud Writers & Readers Festival

Selanjutnya mari mengenal Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang berlangsung di Bali setiap tahun. Meskipun keduanya sama-sama festival sastra besar dan terkemuka di Indonesia, terntua ada perbedaan mendasar yang menjadikan keduanya memiliki karakter, tujuan, dan pengalaman yang sangat berbeda. Berikut perbandingan lengkapnya:

Ubud Writers & Readers Festival kegiatannya berlangsung di tengah budaya Bali, namun pendekatannya lebih luas dan terbuka. Festival ini berstatus internasional. Menjadi salah satu festival sastra terbesar dan paling bergengsi di Asia. Narasumbernya penulis, pemikir, dan tokoh dunia, pesertanya datang dari puluhan negara. Bahasa pengantar pun ada dua: Indonesia dan Inggris. Cakupan bahasannya sangat luas, lintas negara, lintas bahasa, dan lintas disiplin ilmu.

Mari sejenak surut ke belakang. Pada 12 Oktober 2002 sebuah ledakan menggelegar di jantung Pulau Dewata. Bukan gempa bumi, bukan halilintar, melainkan suara bom yang merobek kedamaian di kawasan Legian, Kuta. Asap hitam membubung, sirene meraung-raung, dan debu kepedihan menyelimuti surga tropis itu. Seratus sembilan puluh dua nyawa melayang dari dua puluh satu negara, meninggalkan luka yang dalam bukan hanya di tanah Bali, tetapi juga di jiwa seluruh Indonesia. Pariwisata, nadi kehidupan pulau itu, sekarat. Kepercayaan dunia runtuh. Bali berduka, terpuruk dalam bayang-bayang teror yang paling kelam.

Di tengah keputusasaan itu, dari sebuah rumah yang dikelilingi sawah hijau di Ubud, seorang perempuan bernama Janet DeNeefe  yang berdarah Australia merasakan duka  yang dalam. Di antara puing-puing kepedihan, ia bertanya dalam hati, “Bagaimana caranya membangkitkan kembali semangat Bali? Bagaimana menunjukkan kepada dunia bahwa roh Bali yang damai, kreatif, dan spiritual tidak pernah mati?

Jawabannya tidak datang dari politik atau ekonomi, tetapi dari sesuatu yang paling primordial, “kata-kata”. Dari situ Janet DeNeefe menggagas sebuah festival yang tidak hanya akan menyembuhkan luka, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia, sebuah panggung di mana suara-suara dari pelosok Nusantara dan penjuru bumi bersatu dalam simfoni cerita.

Gagasannya sederhana namun ambisius, mengadakan sebuah festival sastra. Sebuah pertemuan bagi para penulis dan pembaca dari seluruh dunia, dengan Ubud sebagai latarnya yang memukau. Tujuannya selain memulihkan sektor pariwisata dan budaya Bali, juga menciptakan sebuah platform internasional bagi penulis Indonesia, dan yang terpenting, membangun perdamaian serta dialog antarbudaya melalui kekuatan sastra.

Dengan tekad membaja dan dana dari kantongnya sendiri serta sumbangan kecil-kecilan dari komunitas, Janet dan suaminya, bersama segelintir relawan, mulai bekerja. Tantangannya sangat besar. Mengundang penulis internasional ke sebuah lokasi yang baru saja dilanda teror? Mencari pendanaan di tengah krisis ekonomi? Meyakinkan pemerintah dan masyarakat lokal tentang pentingnya acara semacam ini?

Tetapi keyakinan mereka tidak goyah. Nama “Ubud Writers & Readers Festival” dipilih. Lokasinya tersebar di berbagai sudut magis Ubud, ada di Wantilan di Puri Saren Agung (istana Ubud), di kedai-kedai kopi, di galeri-galeri seni, dan tentu saja, di Casa Luna. Mereka ingin festival ini meresap ke dalam denyut nadi Ubud, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan acara yang terisolasi di sebuah ruang konferensi yang steril.


UWRF 2026. (FOTO: ubudwritersfestival.com)

Akhirnya, pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 2004, tepat dua tahun setelah tragedi bom, UWRF yang pertama dibuka. Suasanya haru dan penuh semangat. Sekitar 50 penulis dari dalam dan luar negeri hadir. Kerumunan orang, yang terdiri dari warga lokal, ekspatriat, dan segelintir turis pemberani, memadati venue-venue yang tersedia. Udara dipenuhi oleh rasa solidaritas dan harapan. Festival itu sendiri adalah sebuah pernyataan, “Kami masih di sini. Kami masih bercerita”.

UWRF lahir dari acara kecil yang heroik itu, terus tumbuh bak pohon beringin yang kokoh. Setiap tahun, akarnya makin dalam menancap di tanah budaya Bali, sementara dahannya menjulang tinggi, menyentuh langit sastra global. Bagi UWRF, tahun 2005-2010 menjadi masa konsolidasi dan ekspansi. Festival ini dengan cepat mendapatkan reputasi sebagai acara sastra yang unik dan penting di kawasan Asia Tenggara. Tema-tema yang diangkat mulai dari isu-isu lokal hingga global. Penulis-penulis besar dunia mulai melirik Ubud. Pada 2008, festival ini menarik perhatian media internasional dan jumlah pengunjung membengkak. Lokasi pun harus menyesuaikan, dengan Taman Baca, Indus, dan Betelnut Cafe menjadi venue tetap.

Kemudia sejak tahun 2011 sampai 2025 menjadi puncak kematangan UWRF yang telah menjelma menjadi salah satu festival sastra terkemuka di dunia. Ia bukan lagi sekadar “festival yang baik untuk ukuran Indonesia”, tetapi sebuah festival kelas dunia yang setara dengan Jaipur Literature Festival di India atau Edinburgh International Book Festival di Skotlandia. Jumlah pesertanya melonjak dari puluhan menjadi ratusan penulis dari puluhan negara. Jumlah audiens bisa mencapai 20-25 ribu orang selama empat hingga lima hari penyelenggaraan.

Hingga tahun 2025, Ubud Writers & Readers Festival telah berlangsung sebanyak 21 kali. Edisi ke-21 ini sendiri adalah sebuah bukti ketahanan, setelah tahun-tahun sebelumnya sempat terganggu oleh pandemi COVID-19 tetapi berhasil bangkit dengan format hybrid. Dua dekade lebih perjalanan telah dilalui, dari sebuah pelita kecil menjadi mercusuar yang bersinar terang.

Seguntang Writer Festival?

Balige Writers Festival dari sebuah kota kabupaten hadir bukan sekadar festival sastra biasa, melainkan sebuah gerakan budaya yang lahir dari keprihatinan dan kecintaan pada warisan leluhur. Berlokasi di tempat yang indah di pinggiran Danau Toba, festival ini tumbuh dengan identitas yang kuat, berakar pada budaya Batak, terbuka bagi wacana Nusantara, dan bertekad menjadikan sastra sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. BWF kini telah menempatkan diri sebagai salah satu agenda sastra terpenting di Indonesia bagian barat. Dari Balige mereka menyatakan, kekayaan sastra Indonesia tidak hanya berpusat di kota besar atau pulau Jawa dan Bali saja,

Ubud Writers & Readers Festival ada dengan berorientasi internasional dan lintas budaya. Ubud Writers & Readers Festival hadir sebagai perayaan bahasa, sastra, dan budaya yang memiliki dampak besar terhadap komunitas lokal dan internasional. Festival ini tidak hanya mempromosikan karya sastra, tetapi juga memperkuat hubungan budaya dan meningkatkan pariwisata di Bali. Melalui UWRF, Ubud terus menjadi pusat kreativitas dan inspirasi bagi penulis, pembaca, dan wisatawan dari seluruh dunia.

Bagaimana dengan Seguntang Writer Festival? Festival ini memang belum ada, apakah perlu digagasan dan direalisasikan? Siapa yang menjawab pertanyaan tersebut? Seguntang Writer Festival bisa digagas dengan karakteristik yang lokal yang mendalam, dan berfokus pada pelestarian identitas serta pemberdayaan masyarakat.

Sejarah dan kisah telah bercerita bahwa Bukit Seguntang/Siguntang dimaknai sebagai puncak Melayu sekaligus pusat Melayu, dengan makna berbeda namun saling melengkapi. Puncak Melayu, dari segi makna simbolis, keramat, dan asal-usul keturunan raja-raja Melayu; dianggap sebagai tempat tertinggi, paling suci, dan asal mula kekuasaan serta identitas orang Melayu. Pusat Melayu, dari segi sejarah, kebudayaan, politik, dan keagamaan; menjadi pusat kegiatan, pemerintahan, kepercayaan, dan jantung kebudayaan Melayu di masa lalu.

Jika merujuk pada referensi yang ada seperti Kitab Sejarah Melayu/ Sulalatus Salatin (tahun 1612) menyebutkan, “Adapun Bukit Siguntang itu, di situlah turunnya Sang Sapurba dari langit, bersama dua saudaranya; maka Sang Sapurba itulah nenek moyang segala raja-raja Melayu di atas muka bumi ini…”

Disebut sebagai tempat turunnya leluhur utama raja-raja Melayu; semua raja di Palembang, Melaka, Johor, Pahang, hingga wilayah Semenanjung dan Kalimantan Barat diklaim keturunannya dari sini. Dinyatakan sebagai tanah asal orang Melayu. Kemudian adalam penelitian Sejarah Melayu oleh A. Samad Ahmad, (1979) dan Muhammad Yusoff Hashim, (1984) menyatakan bahwa dalam pandangan tradisi Melayu, Bukit Seguntang adalah titik tertinggi identitas dan asal-usul, di atas tempat lain mana pun.

Mari menanti kehadiran Seguntang Writer Festival untuk melengkapi Balige Writers Festival dan Ubud Writers & Readers Festival. Atau sekedar hanya ada “di angan-angan” seperti lagu Gombloh. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *