Home / Wisata / Wisata Hutan Repong Damar Di Kabupaten Pesisir Barat

Wisata Hutan Repong Damar Di Kabupaten Pesisir Barat

Ilustrasi perempuan di Krui, Pesisir Barat sedang memanjat pohon damar. (FOTO: AI).

Oleh: ANSHORI DJAUSAL

Di pesisir barat Provinsi Lampung, tepatnya di wilayah Krui yang kini masuk Kabupaten Pesisir Barat, ada sebuah kisah panjang tentang hubungan manusia dengan alam yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi contoh nyata bagaimana keberlanjutan bisa diwujudkan tanpa harus mengorbankan kesejahteraan. Kisah itu hidup dalam bentang hutan yang dikenal sebagai repong damar—sebuah lanskap yang bukan sekadar hutan, bukan pula sekadar kebun, melainkan perpaduan keduanya dalam harmoni yang telah terjaga selama ratusan tahun.

Repong damar adalah bukti bahwa masyarakat lokal memiliki kecerdasan ekologis yang sering kali melampaui pendekatan modern. Di tengah narasi global tentang deforestasi dan krisis lingkungan, masyarakat Pesisir Barat justru menunjukkan arah sebaliknya. Mereka tidak hanya mempertahankan hutan, tetapi juga menjadikannya sumber kehidupan yang berkelanjutan. Hutan ini bukan kawasan liar yang tak tersentuh, melainkan ruang hidup yang dirawat, dimanfaatkan, dan dihormati secara turun-temurun.

Jika kita berjalan menyusuri repong damar, kesan pertama yang muncul adalah kesejukan. Kanopi pohon yang rapat menyaring cahaya matahari, menciptakan suasana teduh yang menenangkan. Di bawahnya, berbagai tanaman tumbuh berdampingan—mulai dari pohon damar yang menjadi komoditas utama, hingga tanaman buah dan tumbuhan lain yang memperkaya ekosistem. Inilah yang disebut sebagai agroforestri, sebuah sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan kehutanan dan pertanian secara alami.

Menariknya, sistem ini tidak lahir dari teori akademik, melainkan dari praktik hidup masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Leluhur masyarakat Krui mulai menanam damar sejak dua abad lalu. Awalnya mungkin sederhana—sekadar membuka lahan dan menanam pohon untuk kebutuhan hidup. Namun seiring waktu, pola ini berkembang menjadi sistem kompleks yang tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga keseimbangan ekologis.


Perempuan di Pesisir Barat (Krui) Ngunduh Damar. (FOTO: Makalah Anshori Djausal)

Dalam kehidupan masyarakat Krui, repong damar bukan sekadar sumber ekonomi. Ia adalah identitas. Kepemilikan repong bahkan dulu menjadi simbol penguasaan lahan. Ketika seseorang membuka hutan dan mengubahnya menjadi repong damar, maka tanah itu diakui sebagai miliknya dan tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Dengan kata lain, repong bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang sosial dan kultural.

Dari sisi ekonomi, kontribusi repong damar sangat signifikan. Sebagian besar pendapatan masyarakat berasal dari getah damar yang dihasilkan pohon Shorea javanica. Getah ini memiliki nilai jual tinggi dan digunakan dalam berbagai industri, mulai dari kosmetik hingga bahan pelapis. Produksinya pun tidak merusak pohon, karena getah diambil dengan cara tradisional yang telah disempurnakan selama bertahun-tahun.

Kalpataru, Konservasi dan Wisata

Proses pengambilan getah damar, yang dikenal sebagai “ngundukh damakh”, bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga ritual budaya. Ada nilai-nilai yang dijaga, ada tata cara yang dihormati, dan ada hubungan emosional antara manusia dan pohon. Tidak heran jika praktik ini menginspirasi karya seni seperti puisi, lagu, hingga tarian. Alam tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi.

Keberhasilan masyarakat dalam mengelola repong damar tidak luput dari perhatian dunia. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mempelajari sistem ini, menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dalam berbagai bahasa. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan masyarakat Krui bukan hanya relevan secara lokal, tetapi juga penting secara global.

Pengakuan juga datang dalam bentuk penghargaan. Repong damar pernah mendapatkan Kalpataru, sebuah penghargaan bergengsi di bidang lingkungan. Selain itu, kawasan ini juga ditetapkan sebagai Kawasan Daerah Tujuan Istimewa. Semua ini menegaskan bahwa repong damar bukan sekadar hutan biasa, melainkan model pengelolaan sumber daya alam yang patut dicontoh.


Potensi getah damar. (FOTO: Makalah Anshori Djausal)

Namun, nilai repong damar tidak hanya terletak pada ekonomi dan budaya. Dari sisi ekologis, hutan ini memainkan peran penting sebagai penyangga kawasan konservasi di sekitarnya. Ia menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, termasuk primata yang berperan dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan. Kehadiran satwa ini juga menjadi indikator kesehatan ekosistem.

Kesehatan hutan sendiri sangat bergantung pada keanekaragaman hayati. Semakin beragam spesies yang hidup di dalamnya, semakin stabil ekosistem tersebut. Dalam konteks repong damar, keberagaman ini tidak hanya terjadi pada flora, tetapi juga fauna. Ini menunjukkan bahwa sistem agroforestri yang diterapkan masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan berbagai makhluk.

Selain sebagai ruang produksi dan konservasi, repong damar kini juga berkembang sebagai destinasi wisata. Konsep wisata yang ditawarkan bukan wisata massal yang merusak, melainkan wisata berbasis pengalaman. Pengunjung diajak untuk merasakan langsung kehidupan di dalam hutan, memahami hubungan manusia dengan alam, dan menemukan kembali kedekatan yang mungkin telah hilang dalam kehidupan modern.

Salah satu aktivitas yang ditawarkan adalah berjalan di dalam hutan. Aktivitas ini mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar bagi kesehatan mental dan fisik. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, berjalan di hutan memberikan ruang untuk bernapas, untuk diam, dan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.

Ada juga konsep “mandi hutan”, yang bukan berarti mandi dalam arti harfiah, melainkan meresapi suasana hutan dengan seluruh indra. Suara dedaunan, aroma tanah, cahaya yang menembus pepohonan—semua ini menciptakan pengalaman yang menenangkan dan menyegarkan.

Selain itu, ada pula aktivitas yang dikenal sebagai “menapak bumi” atau grounding. Ini adalah praktik sederhana berupa berjalan tanpa alas kaki di atas tanah. Tujuannya adalah untuk menghubungkan tubuh dengan energi alami bumi. Dalam kehidupan modern, manusia sering terpisah dari alam, dan grounding menjadi cara untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.


Mandi hutan. (FOTO: Makalah Anshori Djausal)

Secara ilmiah, tubuh manusia memang berfungsi sebagai konduktor listrik. Kontak langsung dengan bumi dipercaya dapat membantu menstabilkan sistem tubuh, meningkatkan energi, dan mengurangi stres. Meskipun konsep ini masih terus diteliti, banyak orang merasakan manfaatnya secara langsung.

Di repong damar, praktik ini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang unik. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Mereka diajak untuk melepas alas kaki, berjalan perlahan, dan menyadari setiap langkah. Ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bentuk meditasi.

Semua pengalaman ini pada akhirnya membawa kita pada satu kesadaran: bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya. Ketika hubungan ini terputus, maka berbagai masalah muncul—mulai dari kerusakan lingkungan hingga krisis kesehatan. Namun ketika hubungan ini dipulihkan, maka keseimbangan bisa tercapai.

Repong damar mengajarkan bahwa keberlanjutan bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik nyata yang bisa dilakukan. Ia menunjukkan bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus saling bertentangan. Dengan pendekatan yang tepat, keduanya bisa berjalan seiring.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan, model seperti repong damar menjadi semakin relevan. Ia menawarkan alternatif yang tidak hanya efektif, tetapi juga berakar pada kearifan lokal. Ini penting, karena solusi yang berkelanjutan sering kali datang dari pemahaman mendalam terhadap konteks lokal.

Masyarakat Krui telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi pelopor dalam pelestarian lingkungan. Dari peladang berpindah, mereka bertransformasi menjadi penjaga hutan yang dihormati. Ini adalah perjalanan panjang yang tidak mudah, tetapi penuh pelajaran.

Tantangan dan Modernisasi

Salah satu pelajaran penting adalah bahwa perubahan tidak harus datang dari luar. Ia bisa tumbuh dari dalam, dari kesadaran masyarakat itu sendiri. Ketika masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya, maka upaya pelestarian akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Repong damar. (FOTO: Makalah Anshori Djausal)

Tentu saja, tantangan tetap ada. Modernisasi, tekanan ekonomi, dan perubahan gaya hidup bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan repong damar. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.

Pendidikan menjadi kunci dalam hal ini. Generasi muda perlu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam repong damar, sekaligus dibekali dengan pengetahuan untuk mengembangkan sistem ini secara berkelanjutan. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga pengembang.

Selain itu, dukungan dari berbagai pihak juga diperlukan. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dapat berperan dalam memperkuat sistem ini melalui kebijakan, penelitian, dan investasi yang berpihak pada keberlanjutan.

Wisata juga bisa menjadi alat untuk mendukung pelestarian. Dengan pendekatan yang tepat, wisata tidak hanya memberikan pemasukan, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam. Namun, pengelolaannya harus hati-hati agar tidak merusak nilai-nilai yang ada.

Pada akhirnya, repong damar adalah cerita tentang harapan. Ia menunjukkan bahwa di tengah berbagai krisis, masih ada ruang untuk optimisme. Bahwa manusia bisa hidup selaras dengan alam, bukan dengan merusaknya.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita semua perlu sesekali kembali ke hutan—bukan hanya untuk berwisata, tetapi untuk belajar. Belajar tentang kesederhanaan, tentang keseimbangan, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih utuh.

Karena pada akhirnya, hutan bukan hanya tentang pohon. Ia adalah tentang kehidupan. Tentang hubungan. Dan tentang masa depan yang ingin kita wariskan. ●

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI dari Makalah Anshori Djausal dengan Editor Maspril Aries.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *