Cerpen Oleh: Maspril Aries – Memperingati 5 Windu Berkarya, 2026
Tono melangkah tak gairah, udara yang panas membuatnya gerah. Mungkin akan turun hujan, kata Tono dalam hati. Ditatapnya langit, di timur telah terlihat mendung. Matahari yang biasa menemani langkahnya menyusuri kampus Gedong Meneng yang megah dan hijau tak bersinar diatas kepalanya.
Matahari yang bersinar terang setiap hari telah menjadi lambang dari cita-cita sejak kelas 4 SD dulu. Aku bercita-cita ingin seperti mu Matahari! Bersinar terang cemerlang menerangi dunia ini. Cita-citaku begitu besar sebesar mu matahari. Tapi kalau Tuhan mau memberi, aku ingin cukup seperti lilin saja bersinar kecil menerangi lingkungan di dekatnya saja. Itulah yang ingin kuraih, sebuah cita-cita kecil saja untuk menerangi masa depan ku, untuk ibu ku, juga untuk negeri ku tercinta.
Tono mempercepat langkahnya, dipegangnya buku catatan kuliahnya erat-erat. Langkahnya yang semakin cepat bukanlah menggambarkan bahwa ia sombong atau congkak. Ia ingin cepat sampai di rumah sebelum hujan turun.
Biar puji dan ucapan selamat dijabat oleh tangan Tono yang hitam dan agak kurus, “Kalian adalah sebagian kecil dari 500.000 putra putri terbaik Indonesia yang diterima di empat puluh tiga PTN yang ada di Indonesia…” Biar itu predikat yang disandang di bahunya Tono tak pernah congkak. Disetiap langkahnya ia selalu memandang ke bawah, dia takut pada batu, tunggul dan lubang yang akan menyentakan dan memperosokan kakinya hingga dia terjatuh, tersungkur dan pasti sakit, tentu ibunya akan sedih sekali.
Tono selalu berdoa, “Semoga itu tak terjadi pada diriku, hamba selalu berlindung kepada Mu”.
Tono menyebrang jalan yang memisahkan taman kampus dengan terminal, dengan kepala tertunduk. Matanya sering iseng menghitung kotak-kotak tegel trotoar yang diinjaknya. Sebanyak tegel inilah hari-hari dan rintangan yang akan ku lalui untuk meraih cita-cita ku, Tono mengingatkan dirinya.
Tono melompat ke dalam mikrolet yang hampir penuh. Dan duduk dengan tenang. Diliriknya dihadapannya duduk seorang gadis manis bergaun begitu menarik dan amat feminin. Sesekali Tono mencuri pandang ke arah gadis di depannya, duduknya begitu tenang, matanya memancarkan sinar yang terang dan cerah secerah harapan yang ada dihatinya.
Pasti dia keluarga yang kaya, sepatunya tak kurang dari dua puluh lima ribu rupiah, gaunnya senilai dengan sepatunya dan tasnya senilai sepuluh ribu rupiah. Jam tangannya yang kecil dan indah melingkar ditangan kanannya yang putih adalah merek Bulova, harganya ah… seperti yang tertulis di etalese toko jam di Lampung Plaza yang setiap pulang dan pergi kuliah selalu dilaluinya.
Kata Ibu aku tidak boleh iri dan dengki, itu tidak baik. Ah Ibu kau memang wanita nomor satu terbaik di dunia. Tono mengalihkan pandangan dari gadis dihadapan.
Saat itu bayangan ibunya membayang di matanya. Ibunya yang sedang bekerja keras menjadi tukang cuci dari rumah-kerumah, bergelut untuk mencari sesuap nasi dan juga untuk membiayai kuliahnya serta biaya sekolah adik-adiknya. Ibu kau begitu tabah! puji Tono dalam hati.
Tono melangkah cepat meninggalkan terminal Pasar Bawah. Ia ingin cepat sampai di rumah sebelum hujan menghentikan langkahnya, kemudian kembali lagi ke pasar bersama kotak rokoknya untuk berjualan rokok guna biaya kuliahnya, guna membiayai cita-citanya.
***

Malam tiba. Tono dengan tekun menyimak catatan ilmu politiknya sampai ibunya yang berdiri di sebelahnya tak diketahui datangnya.
“Ton” sapa ibunya.
“Ya bu” jawab Tono seraya menoleh kesamping.
“Bagaimana kuliahmu?” Tono tak langsung menjawab. Kuliah memang berjalan lancar tapi buku-buku literatur yang amat diperlukannya kurang lancar didapatinya.
“Bagi-baik saja bu”, jawab Tono datar.
Ibunya mengangguk tersenyum arif.
Ah ibu kau begitu baik, begitu tabah dan begitu besar keinginan mu menyekolahkan anak-anak mu sampai mereka menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
“Ibu tak ingin anak-anak ibu mengikuti nasib ibu dan ayah mu, menjadi buruh kasar. Ibu ingin kamu dan adik-adik mu menjadi orang yang berguna. Tunjukan pada sekitar kita, bukan hanya orang mampu saja yang berhak menikmati pendidikan apa lagi seperti di SMA, kita juga berhak untuk menikmati pendidikan tinggi. Kakek mu tentu akan bangga bahwa cucunya dapat menikmati hasil perjuangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kamu harus masuk SMA. Negara kita tidak akan melupakan begitu saja mengabaikan rakyatnya yang tidak mampu, nanti ibu akan urus pembebasan SPP mu”. Itu kata ibu di saat aku ingin mendaftar di SMA.
Akhirnya ibu membuktikan kata-katanya. SPP ku selama di SMA dibebaskan juga uang pembangunan. Itu semua berkat usaha ibu yang gigih. Sejak itu tertanam tekad dihatiku, aku ingin melanjutkan sekolah ku, aku ingin menggapai cita-cita ku.
Dengan kesungguhannya akhirnya Tono diterima melalui Sipenmaru di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Pemerintahan di Unila.
“Bagaimana tentang pembebasan SPP mu sudah kau urus?” tanya ibu kemudian.
“Belum bu” jawab Tono lirih.
“Kenapa?” tanya ibunya dengan nada kecewa.
“Maaf Bu. Saya masih sibuk dengan urusan KRS yang belum selesai. Saya janji akan menyelesaikan secepatnya.
Ibunya mengelus rambut Tono dengan lembut.
“Ibu tidur dulu ya”.
“Ya Bu, selamat malam”.
“Jangan lupa matikan lampu, minyaknya harus kamu irit untuk kamu belajar besok malam”.
“Baik Bu”, sahut Tono sopan dan kembali menyimak catatannya.
Malam di luar semakin kelam, angin malam yang dingin menyusup masuk melalui celah-celah geribik rumah. Tono menaikan sarungnya, dan terus menekuni catatan Ilmu Politik-nya untuk menghadap kuis besok pagi. Pagi yang menjanjikan sejuta harapan, sejuta rahmat dari Tuhan yang Maha Esa bagi setiap umatnya yang ingin berjuang dengan sungguh-sungguh. (Untuk Ibu ku tercinta)
# Cerpen ini pernah dimuat 40 tahun lalu di Harian Merdeka – 17 November 1985. Cerpen pertama yang dimuat di surat kabar nasional. Cerpen ini ditulis kembali untuk memperingati 5 Windu (40 Tahun) Berkarya pada Tahun 2026.






