Home / Budaya / Menyibak Wajah Tambang Berkelanjutan di Bukit Asam Lewat Lensa Dokumenter

Menyibak Wajah Tambang Berkelanjutan di Bukit Asam Lewat Lensa Dokumenter

Ari Sihasale dan kru bersama pelajar SD di Tanjung Enim. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Jakarta – Di tengah perdebatan panjang tentang masa depan industri ekstraktif dan kelestarian lingkungan, sebuah film dokumenter hadir menawarkan sudut pandang yang berbeda. Berjudul “The Mind Journey: For Indonesia and The World”, karya ini menjadi jembatan narasi antara dunia pertambangan dan publik luas—mengajak penonton melihat lebih dekat bagaimana praktik pertambangan yang bertanggung jawab dijalankan di Indonesia.

Film ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari kolaborasi antara industri dan insan kreatif, didukung oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), anggota Holding Pertambangan MIND ID. Lewat pendekatan visual yang humanis dan reflektif, film ini berupaya mengedukasi masyarakat tentang konsep good mining practice sekaligus memperluas pemahaman mengenai kontribusi sektor pertambangan bagi pembangunan nasional.

“The Mind Journey” bukan sekadar dokumenter teknis tentang tambang. Film ini dibingkai sebagai perjalanan batin—sebuah eksplorasi tentang bagaimana manusia memandang alam, memanfaatkan sumber daya, dan bertanggung jawab terhadap dampaknya.

Dalam salah satu segmennya, penonton diajak mengikuti kisah seorang warga di sekitar wilayah tambang yang awalnya skeptis terhadap aktivitas industri. Namun, seiring waktu, ia menyaksikan perubahan nyata: program pemberdayaan ekonomi, akses kesehatan yang lebih baik, hingga pendidikan bagi anak-anak di desanya. Narasi ini menjadi benang merah film—bahwa pertambangan tidak melulu tentang eksploitasi, tetapi juga bisa menjadi katalis pembangunan jika dikelola dengan bijak.

Visual lanskap tambang yang luas dipadukan dengan potret kehidupan masyarakat menciptakan kontras yang kuat. Dari lubang tambang hingga ruang kelas, dari alat berat hingga senyum anak-anak desa, film ini merangkai cerita tentang harmoni yang diupayakan antara industri dan kehidupan sosial.

Kolaborasi Industri dalam Satu Layar

Film ini juga menjadi simbol sinergi antaranggota MIND ID. Selain PTBA, turut ditampilkan kontribusi perusahaan besar lain seperti PT Aneka Tambang (Antam), PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk. Melalui pendekatan dokumenter, masing-masing perusahaan diperlihatkan tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari komitmen terhadap keberlanjutan. Penonton diajak memahami bagaimana industri pertambangan kini bergerak menuju praktik yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang.


Ari Sihasale dan kru bersama karyawan PTBA Tbk. (FOTO: Humas PTBA)

Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di wilayah operasional PTBA di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Di sinilah cerita-cerita nyata dikumpulkan—tentang masyarakat, lingkungan, dan transformasi yang terjadi. PTBA menampilkan berbagai program unggulan dalam film ini. Salah satunya adalah Desa Impian, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi desa. Ada pula Sentra Industri Bukit Asam (SIBA), yang menjadi wadah bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.

Di bidang kesehatan, program Puskesmas Keliling menjadi sorotan. Layanan ini menjangkau masyarakat di daerah terpencil yang sebelumnya sulit mengakses fasilitas kesehatan. Sementara itu, inisiatif energi bersih seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Irigasi menunjukkan komitmen perusahaan terhadap transisi energi.

Tidak ketinggalan, Museum Batubara yang menjadi sarana edukasi publik juga hadir dalam narasi film. Tempat ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami sejarah dan peran batubara dalam pembangunan Indonesia.

Komitmen dan Transparansi

Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno mengatakan, “Partisipasi perusahaan dalam film ini merupakan bagian dari komitmen untuk mengedepankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab”. Menurutnya, film ini menjadi media transparansi—cara perusahaan membuka diri kepada publik dan menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan dapat memberikan manfaat nyata jika dilakukan dengan prinsip keberlanjutan.

Pesan ini terasa penting di tengah meningkatnya tuntutan terhadap industri untuk lebih peduli pada lingkungan dan masyarakat. Film ini seolah menjawab pertanyaan publik: apakah mungkin pertambangan dan keberlanjutan berjalan beriringan?

Sebagai sebuah feature dokumenter, “The Mind Journey” tidak menutup mata terhadap tantangan. Film ini tetap menyiratkan bahwa perjalanan menuju praktik tambang berkelanjutan bukanlah proses instan. Ada dinamika, kritik, dan perbaikan yang terus berlangsung.

Namun, justru di situlah kekuatannya. Film ini tidak sekadar menyajikan citra positif, tetapi juga mengajak penonton berpikir kritis—melihat industri dari berbagai perspektif, memahami kompleksitasnya, dan menyadari bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi semua pihak.


Jejak Kreatif di Balik Layar

Film ini diproduseri oleh pasangan sineas ternama Indonesia, Ari Sihasale bersama istrinya, dan Nia Sihasale atau populer dengan nama Nia Zulkarnaen, melalui rumah produksi Alenia Pictures. Keduanya dikenal konsisten menghadirkan film-film bertema sosial, budaya, dan nasionalisme.

Ari Sihasale, yang mengawali karier sebagai aktor pada era 1990-an, kemudian bertransformasi menjadi produser dan sutradara yang berfokus pada film anak dan keluarga. Bersama Nia Zulkarnaen—aktris senior yang telah membintangi puluhan film dan sinetron—mereka membangun Alenia Pictures dengan visi menghadirkan karya yang inspiratif dan mendidik.

Beberapa film yang mereka produksi antara lain Denias, Senandung di Atas Awan (2006), yang mengangkat kisah anak Papua mengejar pendidikan di tengah keterbatasan, serta Di Timur Matahari (2012), yang menyoroti realitas sosial di wilayah timur Indonesia. Rumah Merah Putih (2019) dan Indonesia dari Timur (2023). Khusus film Denias bahkan meraih berbagai penghargaan internasional dan menjadi salah satu film Indonesia yang mendapat apresiasi luas karena kekuatan ceritanya.

Karya-karya mereka dikenal tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran sosial. Dalam konteks itu, “The Mind Journey” menjadi kelanjutan dari misi mereka—menggunakan film sebagai medium edukasi publik.

Film dokumenter ini dijadwalkan tayang di Metro TV pada 25 April dan 2 Mei 2026 pukul 15.00 WIB. Penayangan di televisi nasional menjadi langkah strategis untuk menjangkau audiens yang lebih luas, dari kalangan akademisi hingga masyarakat umum. Di era informasi yang serba cepat, pendekatan visual seperti ini menjadi penting. Film mampu menyampaikan pesan yang kompleks, lebih mudah dipahami dan menyentuh emosi penonton.

Pada akhirnya, “The Mind Journey: For Indonesia and The World” bukan hanya tentang pertambangan. Ia adalah tentang cara kita memandang pembangunan, tentang tanggung jawab terhadap alam, dan tentang harapan akan masa depan yang lebih seimbang.

Melalui kolaborasi antara industri dan sineas seperti Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, film ini menjadi bukti bahwa cerita yang kuat dapat membuka ruang dialog. Bahwa di balik angka produksi dan laporan keberlanjutan, ada kisah manusia yang layak didengar.

Dan mungkin, dari perjalanan pikiran yang ditawarkan film ini, publik dapat menemukan perspektif baru—bahwa perubahan menuju keberlanjutan bukan hanya mungkin, tetapi juga sedang berlangsung. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *