Home / Politik / Zohran Mamdani Menang, Tabloid New York Post Laku Keras (The Ironic Revenge of Print)

Zohran Mamdani Menang, Tabloid New York Post Laku Keras (The Ironic Revenge of Print)

Cover New York Post berita kemenangan Zohran Mamdani. (FOTO: Tangkapan Layar New York Post)

KINGDOMSRIWIJAYA, REPUBLIKA NETWORK – Pemilihan Gubenur dan Pemilihan Wali Kota di Amerika Serikat baru saja usai. Dari pemilihan tersebut yang menyedot perhatian media massa dan masyarakat. Kandidat Wali Kota New York City (NYC) Zohran Mamdani memenangkan mayoritas suara dalam Pemilihan Wali Kota atau pilkada yang berlangsung 4 November 2025.

Zohran Mamdani dari Partai Demokrat berhasil mengalahkan pesaingnya Andrew Cuomo (calon independen), Curtis Sliwa (Partai Republik) dengan memperoleh 51,5 persen suara. Sementara Cuomo berada di posisi kedua dengan 39,7 persen, dan Sliwa hanya memperoleh 8 persen. Ke depan kota terbesar di Amerika Serikat tersebut untuk pertama kalinya dipimpin seorang Muslim.

Satu hari setelah pemilihan, Rabu, 5 November 2025 saat matahari musim gugur yang pucat baru saja menyingsing di atas skyline Manhattan, menerangi menara-menara kaca dan beton yang menjadi simbol kapitalisme global. Namun di jalanan, di trotoar-trotoar yang masih lembab oleh embun pagi, sebuah ritual urban yang tidak biasa sedang berlangsung. Bukan di Starbucks atau Dunkin’ Donuts, tapi di deli-deli, bodega-bodega, dan kios-kios koran yang tersebar di lima borough (wilayah administratif) New York City.

Deli adalah adalah singkatan dari delicatessen, yaitu toko kecil yang menjual makanan siap saji seperti sandwich, salad, daging olahan, dan minuman ringan. Namun, di banyak kota besar seperti New York, deli juga berfungsi sebagai toko serba ada—menjual kebutuhan harian seperti rokok, minuman, makanan ringan, dan koran. Deli sering buka pagi-pagi dan menjadi tempat warga lokal membeli sarapan sekaligus membaca berita.

Deli sebagai titik distribusi koran pagi. Di New York, deli adalah titik distribusi informal untuk koran seperti New York Post, The New York Times, dan Daily News.Karena lokasinya yang tersebar dan dekat dengan pemukiman, deli menjadi tempat strategis untuk menjual koran edisi pagi.


Zohran Mamdani berbicara usai memenangkan pemilihan walikota, Selasa, 4 November 2025, di New York. (FOTO: AP Photo/ Yuki Iwamura)
Zohran Mamdani berbicara usai memenangkan pemilihan walikota, Selasa, 4 November 2025, di New York. (FOTO: AP Photo/ Yuki Iwamura)

Sedangkan bodegai toko kelontong kecil yang biasanya berada di sudut jalan. Di New York bodega buka hampir 24 jam, dan menjadi bagian penting dari kehidupan warga kota. Bodega berasal dari bahasa Spanyol yang berarti gudang atau toko anggur, tapi di New York, istilah ini merujuk pada toko kelontong kecil yang dimiliki secara independen, sering kali oleh imigran. Bodega menjual barang kebutuhan sehari-hari seperti susu, roti, telur, makanan ringan, kopi, dan kadang makanan siap saji. Tahun 2020 diperkirakan ada sekitar 13.000 bodega di seluruh New York City.

Lima borough di New York City adalah. Pertama, Manhattan yang merupakan pusat keuangan dan budaya, rumah bagi Wall Street, Central Park, dan Times Square. Kedua, Brooklyn wilayah yang terkenal dengan seni, budaya hipster, dan jembatan Brooklyn yang ikonik. Ketiga, Queens sebuah wilayah paling multikultural, lokasi dua bandara besar: JFK dan LaGuardia. Keempat, The Bronx tempat kelahiran hip-hop, juga lokasi Yankee Stadium. Kelima, Staten Island wilayah paling tenang dan hijau, terhubung ke Manhattan lewat Staten Island Ferry.

Kelima borough ini memiliki pemerintahan kota yang sama, tetapi masing-masing punya karakter dan komunitas yang unik. Setiap borough adalah bagian dari satu kota besar bernama New York City, tetapi juga merupakan county tersendiri dalam sistem negara bagian New York. Borough memiliki presiden borough, namun kekuasaan utama tetap di tangan Walikota NYC dan Dewan Kota. Fungsi utama borough lebih ke representasi lokal dan koordinasi, bukan pemerintahan otonom penuh. Borough lebih mirip gabungan antara kabupaten dan kota administratif, tapi dalam konteks metropolitan yang sangat terpusat.

Pada pagi hari waktu New York, warganya tidak hanya berburu kopi dan bagel untuk sarapan mereka. Bagel adalah roti berbentuk cincin yang menjadi ikon sarapan khas New York City — kenyal di dalam, renyah di luar – dan sering disajikan dengan krim keju atau salmon asap. Asal-usulnya dari komunitas Yahudi Eropa Timur, tapi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner New York.

Artefak Koran

Pada Rabu pagi warga kota yang hidup 24 jam itu juga mencari sesuatu yang lebih tangible, lebih fisik, di era di mana berita telah lama bermigrasi ke layar ponsel. Mereka mencari sebuah artefak edisi cetak koran New York Post.


Calon walikota New York Zohran Mamdani dan istri memberikan suara di tempat pemungutan suara pada Selasa, 4 November 2025, di New York. (FOTO: AP Photo/ Olga Fedorova)
Calon walikota New York Zohran Mamdani dan istri memberikan suara di tempat pemungutan suara pada Selasa, 4 November 2025, di New York. (FOTO: AP Photo/ Olga Fedorova)

Mengutip dari New York Post, Ben (24 tahun) dan temannya Joaquin R. (28 tahun) berkeliling Brooklyn mendatangai selusin deli, tetapi semuanya sudah kehabisan stok, menjual habis koran tepatnya tabloid New York Post atau Post.

Edisi hari itu, tabloid sampul depan New York Post menampilkan wali kota terpilih dari kalangan sosialis demokrat, Zohran Mamdani, telah menjadi komoditas kapitalis, ludes dari rak-rak koran di New York dan bahkan dilelang di eBay dengan harga lebih dari $350 per eksemplar.

Hari itu Post pada sampul depan nya memasang judul “The Red Apple” dengan huruf kapital berwarna merah. Di samping judul ada Zohran Mamdani berdiri tegak dalam ilustrasi bergaya Soviet, memegang palu dan arit. Ternyata ini bagi warga New York bukan hanya berita. Bukan hanya satire. Ini adalah ledakan visual yang membakar imajinasi kota.

Post edisi 5 November 2025 melaporkan kemenangan Mamdani pada pemilihan Wali Kota New York, berita itu menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Pada hari Rabu tabloid Post langsung habis sebelum banyak warga New York sempat mendapatkannya.

“Ini karya seninya jenius. Ada efek kejutnya”, kata Ben D, pemilih Mamdani, kepada Post tentang sampul yang menampilkan sketsa bergaya Soviet dari Mamdani yang membawa palu dan arit.

Ben mengungkapkan isi hatinya, “Kami mencintai Zohran. Ini momen yang sangat penting dalam hidup kami. Akan luar biasa jika kami bisa memiliki koran itu untuk mengabadikan momen ini. Ini hanya akan dicetak sekali.

Post menuliskan peristiwa yang terjadi pasca pemilihan Wali Kota New York secara lengkap. Aaron Saleh (33 tahun) seorang pegawai sebuah deli menceritakan, tempatnya bekerja tersebut mulai buka pukul 6 pagi dan dalam waktu satu jam sudah menjual habis semua eksemplar New York Post.


Kota New York dilihat dari lantai 102 menara Empire State. (FOTO: Maspril Aries)
Kota New York dilihat dari lantai 102 menara Empire State. (FOTO: Maspril Aries)

Menurut Saleh, pagi itu teleponnya berdering terus sejak pagi sampai siang, mereka menanyakan apakah masih ada stok Post — bahkan ada pelanggan yang datang dari Bushwick dan Long Island City. “Juga ada teman-teman yang meminta dibelikan. Saya pergi ke dua SPBU yang biasanya menjual Post dan membeli semua eksemplar untuk teman-teman yang meminta”, kata Saleh.

“Kami menjual semua koran yang kami punya. Ada yang kemudian datang sekitar 100 orang, dan sekitar 30 orang menelepon menanyakan koran Post” ujar Saleh, yang juga mengagumi edisi tersebut dan menyebutnya “luar biasa”.

Pemandangan serupa terjadi di City Fresh Market di Astoria, di mana penjual menghabiskan stok Post sementara koran lain tetap tak tersentuh. “Orang-orang datang, mereka melihat tumpukan koran. Ketika mereka tahu Post sudah habis, mereka langsung pergi”, kata seorang pegawainya.

Seorang perempuan bernama Sharon datang ke City Fresh Market pada hari Rabu untuk mencari sampul yang diidamkan. “Saya sudah datang ke dua deli, tapi mereka juga tidak punya. Sampul koran lain membosankan,” katanya.

Akibat permintaan Post begitu tinggi di sebuah bodega di Bedford-Stuyvesant terpaksa memasang tanda bertuliskan “Tidak Ada NY Post”, menurut foto yang diunggah ke X.

Kehebohan perburuan Post edisi “The Red Apple” meluas hingga ke luar lima borough. Di Bergen County, New Jersey, warga bernama Chiquita Wilder mengatakan ia mengunjungi lima toko berbeda sebelum pukul 10 pagi hari Rabu — dan tetap pulang dengan tangan kosong.

Sementara itu akun akun @billymac di X menulis “Saya sudah mencari di seluruh BedStuy untuk mendapatkan satu eksemplar, tempat terakhir yang saya datangi bahkan memasang tanda karena terlalu banyak orang yang menanyakan!”


Tempat ikonik Time Square yang dipenuhi papan iklan digital raksasa, studio TV, bioskop, dan toko-toko global dilihat dari jendela kamar hotel Marriott Marquis. (FOTO: Maspril Aries).
Tempat ikonik Time Square yang dipenuhi papan iklan digital raksasa, studio TV, bioskop, dan toko-toko global dilihat dari jendela kamar hotel Marriott Marquis. (FOTO: Maspril Aries).

“Ini adalah kapsul waktu yang bagus,” kata Wilder, pemilih Mamdani berusia 24 tahun. “Saya pikir bisa mendapatkan satu eksemplar edisi ini adalah hal yang bagus untuk dikenang beberapa tahun ke depan, untuk melihat bagaimana segalanya telah berubah di era baru ini — dan melihat sejauh mana kita telah melangkah, atau seberapa buruk semuanya bisa berbalik arah.”

Pasar sekunder pun langsung bermunculan pada hari Rabu, di mana harga jual ulang edisi ikonik ini melonjak hingga ratusan dolar. Seorang penjual di eBay melelang satu eksemplar dengan harga fantastis sebesar $355. Jika menjadi Rupiah, berapa harganya satu tabloid New York Post?

Apa yang terjadi di New York tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena sosial yang unik, perburuan fisik massal di era digital. Bayangkan situasi ini. Sebuah berita besar telah Anda baca di ponsel Anda semalam. Tapi pagi ini, Anda ingin memiliki bukti fisiknya. Anda ingin sesuatu yang bisa Anda pegang, Anda simpan, Anda bingkai. Itulah yang dirasakan Ben dan Chiquita Wilder dan yang lainnya.

Apa yang mendorong warga New York berburu Post edisi 5 November 2025. Ada empat hal yang menjadi pemicunya. Pertama, Nilai Historis (Time Capsule) seperti kata Chiquita Wilder, “Ini adalah kapsul waktu yang bagus”. Mereka memahami bahwa mereka sedang hidup dalam momen bersejarah. Memiliki koran ini seperti memiliki sepotong sejarah. “Untuk melihat bagaimana segalanya telah berubah di era baru ini”.

Kedua, Nilai Simbolik (Totem of Resistance). Tabloid The Post ini menjadi semacam totem, sebuah benda suci yang memperkuat identitas kelompok dan keyakinan politik mereka. Memegangnya adalah bentuk solidaritas.

Ketiga, Nilai Ironi (The Joke’s on Them). “Ini juga lucu, secara sederhana”, ujar Wilder. “Saya suka melihat betapa konyolnya mereka”. Ada kepuasan dalam mengalahkan niat jahat Post. Dengan membeli koran itu, mereka merasa telah “mencuri” senjata musuh dan menggunakannya untuk sendiri.


Big Bus New York atau bus wisata untuk berkeliling New York untuk melihat berbagai destinasi wisata. (FOTO: Aina Rumiyati Aziz)
Big Bus New York atau bus wisata untuk berkeliling New York untuk melihat berbagai destinasi wisata. (FOTO: Aina Rumiyati Aziz)

Keempat, Kelangkaan (Scarcity Drives Demand). The New York Post, seperti semua koran cetak, dicetak dalam jumlah terbatas berdasarkan permintaan biasa. Mereka tidak—dan tidak bisa—mengantisipasi bahwa edisi yang menyerang seorang sosialis justru akan diburu oleh para pendukung sosialis itu sendiri. Kelangkaan fisik ini memicu psikologi “fear of missing out” (FOMO) yang massal.

Kapitalisme & Media Cetak

Apa yang terjadi pagi itu di New York? Zohran Mamdani, seorang sosialis demokrat, anak imigran Uganda-India, dan Muslim, berhasil memenangkan pilkada Wali Kota New York. Zohran Mamdani sebagai Wali Kota terpilih New York City yang tinggal menantikan pelantikannya. Ini sebuah kemenangan bersejarah yang menandai pergeseran politik dramatis di ibu kota finansial dunia.

Dan New York Post, tabloid sayap kanan yang legendaris milik Rupert Murdoch seorang taipan media global asal Australia-Amerika yang mengendalikan imperium media internasional, telah menerbitkan sampul yang akan dikenang sepanjang sejarah: sebuah ilustrasi bergaya propaganda Soviet tua yang menampilkan Mamdani dengan gagah memegang palu dan arit, dengan headline raksasa bertuliskan “The Red Apple” dan sub-headline yang tak kalah provokatif, “On Your Marx, Get Set, Zo! Socialist Mamdani Wins Race for Mayor”.

Secara visual, sampul itu tak terbantahkan kekuatannya. Estetika propaganda Soviet—warna merah menyala, palu-arit, dan gaya ilustrasi yang heroik namun menyeramkan—adalah sebuah kode budaya yang langsung terbaca bagi siapa pun yang memiliki sedikit pengetahuan tentang sejarah Perang Dingin. Ini adalah bahasa visual yang dirancang untuk menimbulkan rasa takut, untuk mengingatkan para pembaca yang lebih tua pada ancaman eksistensial Amerika Serikat di abad ke-20.

Sementara sub-headline, “On Your Marx, Get Set, Zo! Socialist Mamdani Wins Race for Mayor”. Kata “On Your Marx, Get Set, Zo!” adalah plesetan yang cerdik dan menghina dari pepatah olahraga “On your mark, get set, go!”. Redaksi The Post mengganti kata “mark” menjadi “Marx”, seolah-olah akan menghubungkan Mamdani dengan Karl Marx, membingkainya bukan sebagai seorang sosialis demokrat yang beroperasi dalam sistem, melainkan sebagai seorang revolusioner radikal.


Mobil patroli polisi New York yang khas. (FOTO: Maspril Aries)
Mobil patroli polisi New York yang khas. (FOTO: Maspril Aries)

Sampul depan Post dari kacamata Ilmu Komunikasi dapat dibaca, sebagai sebuah serangan politik balistik. Sebuah upaya untuk melukis Mamdani sebagai seorang komunis berbahaya yang akan mengubah “Big Apple” (julukan bagi New York) menjadi “Red Apple”—sebuah metafora yang penuh ancaman.

Tapi dalam aliran sungai realitas yang tak terduga, sesuatu yang lain terjadi. Alih-alih menjadi stigma, sampul itu justru berubah menjadi lencana kehormatan. Alih-alih dijauhi, koran itu diburu. Dan dalam ironi kapitalis yang paling getir, sebuah tabloid yang dimaksudkan untuk menyerang seorang sosialis justru menjadi komoditas kapitalis paling panas di kota New York, laku keras dari rak-rak koran dan bahkan dijual ulang di eBay dengan harga gila-gilaan, mencapai $355 per eksemplar. Ada anatomi sebuah ironi kapitalis di situ.

Apa yang terjadi di New York, ini adalah kisah tentang kemenangan seorang politisi, tetapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang kematian dan kelahiran kembali makna, tentang kekuatan simbol di era digital, dan tentang bagaimana sebuah medium lama (koran/ media cetak) menemukan napas barunya dalam kegilaan kolektif yang paling tidak terduga.

Buah dari kegilaan tersebut itu adalah, di mana ada permintaan yang jauh melampaui penawaran, di situlah pasar sekunder—dan spekulasi—akan muncul. Dan tidak butuh waktu lama. Pada hari yang sama, Rabu, 5 November, pasar sekunder itu lahir secara digital di platform lelang online terbesar di dunia eBay.

Jika Anda tidak bisa mendapatkan koran itu di deli, Anda bisa membelinya dengan harga premium. Dan “premium” di sini adalah sebuah understatement. Satu eksemplar New York Post edisi “The Red Apple” dilelang dengan harga yang membuat mata terbelalak $355. Bayangkan satu eksemplar koran yang biasanya dijual seharga $2,00, nilainya melonjak 17.650 % dalam hitungan jam. Ini bukan sekadar kenaikan harga; ini adalah transmutasi nilai. Koran itu telah berubah dari benda konsumsi harian menjadi komoditas koleksi, sebuah karya seni, dan sebuah investasi.


Area parkir mobil bertingkat di New York. (FOTO: Maspril Aries)
Area parkir mobil bertingkat di New York. (FOTO: Maspril Aries)

New York Post, corong kapitalisme dan konservatisme, telah secara tidak sengaja menciptakan sebuah produk yang begitu diinginkan sehingga hukum pasar kapitalis—penawaran dan permintaan—bekerja dengan sempurna untuk mendongkrak nilainya secara eksponensial. Para pendukung Mamdani, yang secara ideologis mungkin menentang ekses kapitalisme, dengan antusias (atau setidaknya, memahami) berpartisipasi dalam pasar ini untuk mendapatkan simbol kemenangan mereka.

Koran yang isinya dimaksudkan untuk mengutuk seorang sosialis, justru menjadi sumber nilai kapitalis yang spektakuler. Nilai tukarnya ($355) telah sepenuhnya mengerdilkan nilai pakainya (sebagai pembawa berita). Nilai simboliknya sebagai “artefak perlawanan” telah mengalahkan niat komunikatifnya sebagai “peringatan ancaman”.

Fenomena “The Red Apple” bukanlah sebuah kecelakaan singular. Ia adalah pertemuan sempurna dari beberapa tren sosial, teknologi, dan politik. Ini adalah kematian dan kelahiran kembali media cetak (The Ironic Revenge of Print). Di era di mana berita online gratis dan berlimpah, media cetak telah kehilangan fungsi utamanya sebagai pembawa informasi pertama. Namun, ia menemukan kehidupan baru sebagai medium untuk peristiwa-peristiwa penting, sebagai objek seni, dan sebagai artefak budaya.

Sebuah koran fisik memiliki gravitasi, kehadiran, dan aura yang tidak dimiliki oleh sebuah link atau gambar digital. Sampul Post adalah buktinya. Orang tidak ingin membagikan screenshot-nya; mereka ingin memegangnya, mencium bau tintanya, menunjukkannya di rak buku. Media cetak, dalam kematiannya, justru menjadi lebih berharga untuk momen-momen yang benar-benar spesial.

New York Post, di sisi lain, mungkin merenungkan ironi yang pahit-manis. Mereka menciptakan sebuah sampul yang begitu kuat sehingga ia meledak di tangan mereka. Mereka ingin menciptakan narasi ketakutan, tetapi justru menciptakan sebuah ikon kebanggaan bagi lawan mereka. Mereka ingin menjual koran kepada pembaca biasa, tetapi justru menjualnya (secara langsung maupun tidak langsung) kepada para pendukung Mamdani yang membelinya sebagai lelucon, sebagai trofi, atau sebagai kapsul waktu.

Pada akhirnya, “The Red Apple” mengajarkan bahwa bahkan di puncak era digital, kita masih merindukan artefak fisik untuk mengikat pengalaman kolektif kita. Ia mengajarkan sebuah ironi abadi, bahwa terkadang, alat paling efektif untuk melawan sebuah narasi justru disediakan oleh narasi itu sendiri. (maspril aries)

Tagged: