Focus Group Discussion (FGD) Pengusulan Jendral Bambang Utoyo sebagai pahlawan nasional. (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini tercatat dua pahlawan nasional yang berasal dari daerah ini. Pertama, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1984. Kedua, Mayjen TNI (Tituler) dr Adnan Kapau Gani (AK Gani) yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2007.
Tahun ini Sumatera Selatan akan mengusulkan kembali satu orang putranya untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Usulan tersebut tengah dipersiapkan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumsel melalui Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung, Senin (22/9).
PWNU Sumsel akan mengusulkan Jenderal TNI Purn (Hor) Bambang Utoyo yang pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) menjadi pahlawan nasional.
FGD yang berlangsung satu hari selain dihadiri Indra Bambang Utoyo anak nomor tiga dari Bambang Utoyo, juga sebagai pemantik diskusi Kolonel TNI (Purn) Jeni Akmal yang pernah bertugas di Dinas Sejarah TNI AD dan juga anggota tim penulis buku biografi berjudul “Bambang Utoyo Jiwa Ragaku untuk Negeri Tercinta”.
Pembicara lainnya, Farida R. Wargadalem guru besar dari FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri), Syafruddin Yusuf (Sejarawan dari Unsri), KH Syarifuddin Yaqub Rois PWNU Sumsel dan Dudi Oskandar (jurnalis pencinta sejarah).
Kemas Khoirul Mukhlis ketua panitia FGD menyampaikan, diskusi diadakan sebagai langkah awal untuk memperkuat data dan sejarah perjuangan Bambang Utoyo. “FGD ini akan melengkapi dokumen penting yang dibutuhkan sebagai syarat pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Jenderal TNI Purn (Hor) Bambang Utoyo. Hari ini kita akan memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang Jenderal Bambang Utoyo melalui penuturan langsung dari salah seorang putranya, Indra Bambang Utoyo mewakili keluarga”, katanya.

Mukhlis berharap FGD ini menghasilkan rekomendasi dan usulan kuat untuk Bambang Utoyo bisa ditetapkan sebagai pahlawan nasional, dan PWNU Sumsel siap mendukung dengan mengusulkannya ke pemerintah melalui pemerintah Provinsi Sumatera Selatan”.
Sementara itu Ketua PWNU Sumsel KH Hendra Zainuddin Al Qodiri menegaskan komitmennya mendukung penuh pengusulan Jenderal TNI (Hor) Bambang Utoyo sebagai Pahlawan Nasional.
Menurutnya, dalam perspektif Nahdlatul Ulama, Bambang Utoyo adalah keturunan Sunan Bonang. “Bagi kami, sembilan wali adalah teladan dalam perjuangan berbangsa dan bernegara. Mengetahui bahwa Bambang Utoyo memiliki garis keturunan itu, semakin menguatkan keyakinan kami untuk mendukung pengusulan ini. Sebagai wujud dukungan nyata, PWNU Sumsel akan membentuk tim khusus yang dipimpin Kemas Khairul Muklis staf khusus Gubernur Sumsel”, katanya.
Rais Syuriah PWNU Sumsel, KH Syarifuddin Ya’qub, dalam sambutannya menyatakan bahwa pengusulan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan kepada pejuang Sumatera Selatan Jenderal TNI Purn (Hor) Bambang Utoyo.
“Kita menyaksikan bahwa Bambang Utoyo adalah sosok yang berjasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, beliau sudah berperan aktif melawan penjajahan. Atas nama Rais Syuriah PWNU Sumsel, saya mendukung penuh pengusulan Bambang Utoyo menjadi Pahlawan Nasional”, katanya.
Indra Bambang Utoyo pada pembukaan FGD menceritakan kembali tentang sejarah perjalanan hidup ayahnya. “Pada kesempatan berkumpul, kami enam orang anaknya selalu mendengarkan cerita perjuangannya, dan cerita itu masih melekat dalam ingatan hingga sekarang. Ayah kami juga bercerita tentang kehilangan satu tangan akibat ledakan granat buatan anak buahnya dan menyebut dirinya Astha Murcha atau tangan yang hilang”.
Indra yang pernah menjadi anggota DPR dari Golongan Karya (Golkar) dan menjadi Ketua Umum FKPPI menyampaikan terima kasih atas inisiatif dan dukungan PWNU Sumsel yang mengusulkan Bambang Utoyo untuk menjadi pahlawan nasional.

Dukungan untuk mengusulkan Bambang Utoyo juga datang kalangan akademisi dan sejarawan, selain dari Farida R. Wargadalem dan Syafruddin Yusuf, juga dari Dedi Irwanto sejarawan dari Universitas Sriwijaya.
Dalam pengusulan Bambang Utoyo menjadi pahlawan nasional, Syafruddin Yusuf mengingatkan perlunya dukungan dan kajian akademis dengan dokumen dan arsip yang lengkap, mengingat Sumsel pernah mengusulkan Residen Abdul Rozak menjadi pahlawan nasional. “Namun usulan tersebut ditolak pemerintah. Hal ini jangan sampai terjadi pada Jendral Bamba Utoyo”, katanya.
Jenderal TNI Purnawirawan (Kehormatan) Bambang Utoyo adalah salah satu tokoh militer penting dalam sejarah Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Selatan dan Palembang. Pernah menjabat sebagai KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) ke-4 tahun 1955.
Sebagai seorang perwira tinggi ABRI atau TNI Angkatan Darat Bambang Utoyo pernah menjabat sebagai Panglima Teritorium II (sekarang Panglima Kodam II/ Sriwijaya) dan sebagai pemimpin militer dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang atau Palagan Palembang.
Setelah tidak aktif di militer (ABRI) Bambang Utoyo pernah menjadi anggota MPRS (1966), anggota MPR (1971-1980), Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) (1978-1980).
Bambang Utoyo lahir di Tuban, Jawa Timur, 20 Agustus 1920, dan wafat di Bonn, Jerman Barat, 4 Juli 1980 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Pada tahun 1997 Pemerintah Indonesia menganugerahkan kenaikan pangkat kehormatan menjadikannya Jenderal TNI (Kehormatan). (maspril aries)





