Ilustrasi Newsroom media online. (FOTO: AI)
Prolog:
Senja baru turun, gerimis yang turun sejak siang tadi belum selesai. Di sebuah ruang redaksi media online (daring) sekaligus ruang redaksi surat kabar yang ada lantai lima sebuah gedung, seorang editor senior yang telah 25 tahun membaktikan hidupnya untuk dunia jurnalistik, menatap lembaran data pemasukan iklan di komputernya. Grafiknya menukik tajam, seperti pesawat yang kehilangan kendali. Ia menggeleng tak percaya di dalam ruang redaksi yang dulu riuh gelak tawa dari wartawan dan teriakan Sales Iklan yang mendapatkan deal besar. Kini, yang tersisa hanyalah sunyi dan desahan lega karena masih bisa bertahan hari itu.
Dalam hitungan ratusan meter, tak sampai satu kilometer jaraknya, di sebuah co-working space, seorang influencer dengan followers 2 juta, sedang merekam konten untuk sebuah brand skincare. Dengan ring light yang menyala terang dan smartphone berfitur canggih, ia menyelesaikan seluruh produksi kontennya dalam waktu dua jam. Tak lama hanya dalam hitungan menit, transfer dana pembayaran yang jumlahnya setara dengan pemasukan iklan satu halaman penuh surat kabar pada masa jayanya, sudah masuk ke rekeningnya. Ia tersenyum.
KINGDOMSRIWIJAYA – Itulah potret dari dua dunia yang dipisahkan oleh generasi, teknologi, dan filosofi, sedang berperang sengit. Perebutannya bukan dengan pedang atau peluru, melainkan dengan perhatian, engagement, dan yang paling nyata: kue iklan. Inilah kisah tentang revolusi yang diam-diam mengubah cara kita menerima informasi, cara pemerintah berkomunikasi, dan nasib para penjaga narasi publik.
Yang terjadi kini dan sebelumnya, dunia media massa atau media konvensional tengah memasuki masa senjakala. Senjakala tidak hanya terjadi di media cetak (suratkabar/ koran, majalah dan tabloid), senjakala juga terjadi pada media online atau media digital. Senjakala media cetak di Indonesia dengan tutup atau bertumbangan satu persatu surat kabar dan majalah.
Pada waktu yang bersamaan ternyata senjakala juga melanda media online. Mari fokus mencurahkan perhatian kita pada tumbuh kembangnya media online di Indonesia pasca internet masuk ke Indonesia tahun 1990-an.

Fakta yang nampak di depan mata, industri media di Indonesia tengah mengalami transformasi besar. Media konvensional — koran, majalah, televisi, radio, dan portal berita daring atau media online — yang dulunya menjadi rujukan utama informasi dan iklan, kini menghadapi tantangan eksistensial. Tantangan itu datang dari media sosial (medsos) dengan platform beragam, ada Influencer, YouTuber, TikToker, dan entitas baru seperti homeless media, merebut perhatian publik dan anggaran belanja iklan.
Selain itu, perubahan lanskap komunikasi publik di era digital telah menggeser paradigma distribusi informasi dan alokasi anggaran iklan dari perseorangan, swasta dan pemerintah. Media sosial kini menjadi kanal utama dalam menyampaikan pesan-pesan pada pemerintah daerah, menantang dominasi media massa konvensional.
Dengan membalik-balik sejenak halaman buku “Memetakan Lanskap Industri Media Kontemporer di Indonesia” (2013) yang ditulis Yanuar Nugroho, Dinita Andriani Putri dan Shita Laksmi, maka maka Pers Indonesia atau industri media di Indonesia telah mengalami pasang surut, dari menjadi alat untuk revolusi kemerdekaan di masa awal Republik Indonesia berdiri (1945-1955), menjadi pers partisan selama periode 1965-1980, dan kemudian menjadi industri yang menjanjikan pada akhir tahun 1980-an.
Pada saat itu, para politisi dan pejabat pemerintah mulai terlibat dalam bisnis media, dan izin hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai hubungan dekat dengan Presiden Soeharto. Kebanyakan media pada saat itu adalah kepanjangan tangan dari pemerintah dengan konten yang sebagian besar mengenai kegiatan pemerintah serta institusi-institusinya. Media-media yang bertentangan dengan pemerintahan sudah hampir pasti dibreidel. Rezim Orde Baru Soeharto membatasi banyak sekali ranah publik, termasuk pengekangan pada kebebasan pers.
Booming dan Senjakala
Situasi ini berubah setelah reformasi tahun 1998. Izin untuk mendirikan perusahaan media—khususnya media cetak—dapat diperoleh dengan lebih mudah; jaringan pers meluas dengan sangat cepat di seluruh negeri (seringkali melalui diversifikasi dari produk pers). Hasilnya, konglomerat media baru seperti Grup Kompas-Gramedia dan Grup Grafiti Pers muncul. Selain media cetak masa itu pula mulai bermunculan media online atau daring.

Ketika internet mulai merambah Indonesia tahun 1990, menurut J. Heru Margianto dan Asep Syaefullah dalam “Media Online: antara Pembaca, Laba, dan Etika Problematika Praktik Jurnalisme Online di Indonesia”, wabah internet mulai mengemuka di publik saat jasa layanan internet komersil pertama yaitu Indonet berdiri pada 1994. Pada tahun yang sama media pertama yang hadir di internet adalah Republika Online (www.republika.co.id) yang tayang perdana pada 17 Agustus 1994, satu tahun setelah Harian Republika (edisi cetak terbit).
Pada 1996 awak majalah Tempo yang tahun 1994 dibreidel penguasa Orde Baru mendirikan tempointeraktif. com (kemudian menjadi www.tempo.co). Kemudian menyusul harian ekonomi Bisnis Indonesia juga meluncurkan situsnya pada 2 September 1996. Di Medan pada 11 Juli 1997, Harian Waspada meluncurkan Waspada Online (www.waspada.co.id). Tak lama kemudian hadir Kompas Online (www. kompas.com) pada 22 Agustus 1997. Media-media tersebut adalah generasi pertama media online di Indonesia. Waktu itu, kontennya hanya memindahkan halaman edisi cetak ke internet, kecuali tempointeraktif yang tidak lagi memiliki edisi cetak.
Pada tahun 1998 hadir www.detik.com yang digagas oleh empat sekawan yaitu Budiono Darsono, Yayan Sopyan, Abdul Rahman dan Didi Nugrahadi. detik.com diunggah pertamakali pada 9 Juli 1998. Walau sebelumnya pernah ada Tabloid Detik. Detik.com hadir tanpa menginduk pada media cetak. Detik muncul sebagai media online otonom.
Menurut Heru Margianto dan Asep Syaefullah, pada akhir 1990-an dunia dilanda booming dotcom. Indonesia tak lepas dari pengaruh gelombang baru ini. Situs-situs lokal bermunculan satu per satu, termasuk situs-situ berita. Beberapa situs berita yang lahir pada era ini antara lain astaga.com, satunet.com, lippostar.com, kopitime.com dan berpolitik.com. Mereka yang terjun ke situs-situs berita ini adalah para pemodal berkantong tebal. Astaga dan Satunet dimodali investor asing, sementara Lippostar adalah besutan Grup Lippo dan Kopitime.com menjadi media online pertama yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Di luar nama nama itu, satu persatu media online terus bermunculan.

Euforia media online tersebut tidak bertahan lama. Yang terjadi, kucuran dana besar dari para investornya untuk media online tersebut rupanya tidak diimbangi dengan pertumbuhan bisnis yang baik. Memasuki tahun 2002, satu per satu media berguguran, tak mampu mengongkosi biaya operasional. Senjakala media online pun dimulai di Indonesia. Kopitime pun tak lama menikmati lantai bursa. Pada 2003 saham Kopitime disuspensi di harga Rp 5 per lembar. Berbeda dengan detik.com, Republika.co.id dan Kompas.com tetap bertahan.
Iklan dan FAMS
Akankah senjakala media online kembali terjadi khususnya pada media online yang ada di daerah? Jawabannya, ancaman itu nyata, pengelola media massa khususnya media online yang selama hidup dari iklan yang berasal dari pemerintah daerah, sudah mulai merasakannya, pendapatan iklan yang berasal dari pemerintah dan BUMN atau BUMD sudah jauh berkurang. Belanja iklan mereka sudah terbagi ke media sosial. Para pengelola perusahaan media online sudah menyampaikan keluh kesahnya, pendapatan dari iklan sudah berkurang, padahal selama ini biaya operasional perusahan mayoritas bersumber dari belanja iklan pemerintah atau BUMN dan BUMD.
Masalah yang yang dikeluhkan terkuak dalam Indek Kemerdekaan Pers (IKP) 2023 yang diterbitkan Dewan Pers. Meskipun ekonomi Sumatera Selatan tumbuh rata-rata 5,2 persen pada 2022 sejak pandemi Covid 19 melanda (Sumsel.bps.go.id, 2022), situasi bisnis media tidak baik-baik saja. Peluang mendapatkan iklan terbatas. Situasi ini berdampak pada sulitnya bayar gaji wartawan dan memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Ada pula media yang terpaksa tutup.
Begitu ada sumber pendanaan, seperti iklan pemerintah daerah yang bersumber pada APBD, perusahaan pers berupaya keras menjaga sumber dana tersebut agar pendapatan tidak hilang. “Media kecil juga ingin survive, pemilik media juga turut mempengaruhi kebijakan redaksi,” ucap Diansyah Putra General Manager Lahat Pos.
Menurut Diansyah, “Berita tidak lagi dimiliki pers. Saat ini, siapapun bisa memproduksi berita, salah satunya adalah content creator. Hal ini menyebabkan terjadinya perebutan iklan yang berdampak pada pendapatan. Alokasi dana APBD untuk iklan di media dibagi juga ke content creator yang tergabung dalam Forum Admin Media Sosial atau FAMS”. (Bersambung ke Bagian Dua) (maspril aries)






