Home / Eduaksi / Dari Meja Redaksi ke Ruang Sidang, Wartawan Dudy Oskandar Bedah Sejarah Negara Sumatera Selatan Raih Gelar Magsiter Humaniora

Dari Meja Redaksi ke Ruang Sidang, Wartawan Dudy Oskandar Bedah Sejarah Negara Sumatera Selatan Raih Gelar Magsiter Humaniora

Dudy Oskandar saat menjalani ujian tesis di kampus UIN Raden Fatah, Palembang. (FOTO: Dok Dudy)

Deskripsi:

Wartawan RMOL Sumsel Dudy Oskandar berhasil mempertahankan tesisnya tentang sejarah pendirian hingga pembubaran Negara Sumatera Selatan (NSS) tahun 1948–1950 di UIN Raden Fatah Palembang.”

KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Setiap hari, Dudy Oskandar sebagai seorang jurnalis, kesehariannya bergelut dengan peristiwa yang baru terjadi, pada rapat parlemen di DPRD, kebijakan pemerintah daerah, dinamika politik Sumatera Selatan (Sumsel) sampai berita seputar kriminal di kantor polisi.

Namun, ketertarikannya pada masa lalu membawanya ke arah yang berbeda. Wartawan RMOL Sumsel yang dikenal sebagai wartawan peminat sejarah ini baru saja menuntaskan pendidikan Magister Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Raden Fatah Palembang.

Kamis, 15 Oktober 2026 Dudy menghadapi ujian dari tesisnya berjudul “Sejarah Pendirian Negara Sumatera Selatan (NSS) Tahun 1948–1950” di hadapan penguji Dr. Betty, S.Ag, MA dan Dr. Herlina, S.Ag, SS, MHum dengan pembimbing Dr. Syawaluddin, M.Ag dan Dr. Ahmad Sukry, SIP, MSi dengan predikat “lulus” dan berhak mengenakan gelar Magister Humaniora (M.Hum).

Tesisnya yang mengangkat peristiwa yang jarang dibahas di luar kalangan akademisi, tentang berdirinya Negara Sumatera Selatan (NSS) pada 1948 dan pembubarannya pada 1950. Pemilihan tentang  sejarah Negara Sumatera Selatan oleh Dudy membuktikan bawah sejarah bukan sekadar hobi sampingan. Di antara rekan sejawatnya, ia dikenal sebagai wartawan yang gemar menggali latar belakang sejarah sebuah peristiwa. Kebiasaan membaca dan menelusuri akar persoalan itu akhirnya mendorongnya melanjutkan studi.

Tesis berjudul “Sejarah Pendirian Negara Sumatera Selatan (NSS) Tahun 1948–1950” membawa pembaca ke periode genting dalam sejarah Indonesia, yakni ketika kemerdekaan yang baru diproklamasikan masih diperebutkan.

Di hadapan penguji dan pembimbing Dudy menjelaskan latar belakang penelitiannya yang berangkat dari situasi politik Indonesia pascakemerdekaan. Saat itu Belanda berusaha mempertahankan pengaruhnya dengan mendorong pembentukan negara-negara federal. Kebijakan tersebut juga sampai ke Sumatera Selatan.

Menurut jurnalis senior kelahiran 7 Janui 1976, masa itu di daerah ini, kebijakan federalisme bertemu dengan kepentingan sebagian elite lokal, terutama kelompok Para Raden. ”Mereka memanfaatkan identitas yang dikaitkan dengan Kesultanan Palembang Darussalam sebagai salah satu sumber legitimasi politik. Pertemuan dua kepentingan inilah yang menurut Dudy menjadi kunci untuk memahami lahirnya NSS”

Dalam tesisnya, Dudy yang menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) menegaskan “NSS tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari perpaduan strategi federal Belanda dan kalkulasi politik elite setempat atau lokal. Dalam kerangka itu, simbol kesultanan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga dipakai sebagai modal politik”, ujarnya.

Menurut jurnalis yang memimpin Forum Jurnalis Parlemen (FJP) di DPRD Sumsel, umur Negara Sumatera Selatan tidak sampai dua sejak didirikan Dari 30 Agustus 1948 lalu bubar pada 18 Maret 1950. “NSS resmi berdiri pada 30 Agustus 1948, dengan Abdul Malik diangkat sebagai Wali Negara. Namun, menurut dari penelitian ditemukan bahwa pemerintahan baru ini sejak awal menghadapi sejumlah keterbatasan”, kata Dudy.

Pertama, kedaulatannya terbatas. Kedua, wilayahnya terbatas. Ketiga, NSS sangat bergantung pada Belanda. Keempat, para elitenya terfragmentasi. Kelima, dukungan sosial-politik dari masyarakat lemah.


Dudy Oskandar (kanan) saat mengikuti FGD Karhutla di gedung Rektorat UIN Raden Fatah, Senin (15/10) (FOTO: Maspril Aries)

“Faktor-faktor itu membuat NSS rapuh. Di satu sisi ada Belanda yang berkepentingan, di sisi lain ada kelompok Para Raden dengan agendanya sendiri. Sementara itu, pendukung Republik Indonesia terus menyuarakan tuntutan agar Sumatera Selatan kembali ke pangkuan Republik”, ujarnya.

Lalu, ketika tuntutan pembubaran dan integrasi semakin kuat, krisis legitimasi pun tak terhindarkan. Dalam tesisnya Dudy menulis, pada 18 Maret 1950, kekuasaan NSS diserahkan. Pembubaran itu bukan peristiwa tunggal, melainkan hasil proses politik yang melibatkan perubahan konfigurasi kekuasaan, pertentangan antarelite, dan menguatnya keinginan kembali ke Republik Indonesia.

Sebagai penelitian sejarah, tesis ini memakai metode yang lazim disebut heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumbernya beragam, mulai dari arsip kolonial, dokumen resmi, surat kabar sezaman, dan literatur sejarah, hingga wawancara.

Untuk menganalisis data, Dudy memakai dua kerangka teori. Yang pertama adalah teori politik identitas Stuart Hall, yang membantu membaca bagaimana identitas dikaitkan dengan Kesultanan Palembang Darussalam dan dijadikan sumber legitimasi. Yang kedua adalah teori sirkulasi elite Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca, yang membantu memahami pergeseran, persaingan, dan fragmentasi kelompok elite.

Kombinasi keduanya memungkinkan tesis ini melihat NSS tidak hanya sebagai rangkaian tanggal dan peristiwa, tetapi juga sebagai arena perebutan pengaruh dan makna.

Tesis ini disusun dalam enam bab. Bab I berisi pendahuluan: latar belakang, rumusan masalah, tujuan, tinjauan pustaka, teori, dan metode. Bab II mengulas kondisi politik Sumatera Selatan serta faktor-faktor yang mendorong pembentukan NSS. Bab III menguraikan proses pendirian NSS pada 30 Agustus 1948 dan pengangkatan Abdul Malik sebagai Wali Negara.

Bab IV membahas dinamika politik NSS, yaitu persaingan kepentingan antara Belanda, kelompok Para Raden, dan pendukung Republik Indonesia. Bab V mengupas krisis legitimasi, tuntutan integrasi, dan penyerahan kekuasaan pada 18 Maret 1950. Bab VI memuat kesimpulan serta saran untuk penelitian selanjutnya.

Pada bagian akhir tesisinya Dudy menulis, dengan kesimpulan utama cukup tegas. “NSS berhasil dibentuk sebagai pemerintahan federal, tetapi gagal membangun kemandirian dan legitimasi yang cukup kuat untuk bertahan.

Kontribusi penelitian ini terletak pada penempatan elite lokal, identitas kesultanan, dan dinamika legitimasi sebagai bagian penting dalam proses berdiri dan bubarnya NSS.”

Dengan cara itu, Dudy menawarkan penjelasan yang lebih dalam tentang sejarah politik Sumatera Selatan, sehingga babak ini tidak hanya dibaca sebagai episode singkat pada masa revolusi.

Bagi masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan, kajian semacam ini penting. Sejarah NSS kerap hanya muncul sebagai catatan kaki, padahal di dalamnya tersimpan pelajaran tentang hubungan antara kekuasaan, identitas, dan dukungan rakyat.

Dari Jurnalis ke Sejarawan

Pencapaian Dudy memperlihatkan bahwa dunia jurnalistik dan dunia akademik bisa saling menguatkan. Wartawan terbiasa mengecek fakta, menggali sumber, dan menyusun narasi yang runtut. Keterampilan itu pula yang dibutuhkan dalam penelitian sejarah.

Dengan gelar magister di tangan, Dudy diharapkan terus merawat minatnya pada sejarah. Bab penutup tesisnya sendiri memuat saran untuk penelitian selanjutnya, tanda bahwa kajian tentang NSS dan sejarah Sumatera Selatan masih terbuka luas untuk digali.

Bagi Dudy, perjalanan dari meja redaksi ke ruang sidang tesis ini menjadi bukti bahwa mengejar kecintaan pada sejarah tidak mengenal batas profesi. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *