Home > Gaya Hidup

Memperingati Hari Batik dan Sejarahnya di Tengah Duka

Hari Batik yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober bukan tanggal pertama kali batik diciptakan atau batik ditemukan.

Batik juga disebut sebagai karya tulis, karena aktivitas membatik dikerjakan dengan penuh teliti seperti layaknya orang menulis. Dalam bahasa Jawa Krama Inggil, kata menulis berarti nyerat, dan membatik pun disebut sebagai nyerat. Dengan demikian, suatu kain dapat disebut sebagai batik apabila mengandung dua unsur pokok, yaitu teknik celup rintang yang menggunakan lilin sebagai perintang warna dan pola yang beragam hias khas batik.

Menurut Solichul Hadi dan kawan-kawan dalam “Sejarah dan Teknik Pembuatan Batik” (2014) menyebutkan, secara etimologi kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa : “Amba” yang berarti “menulis” dan “Titik” yang berarti “titik.”

Solichul Hadi melengkapi penjelasannya bahwa seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Di Mesir menemukan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola.

Kemudian di Asia, teknik serupa batik juga ditemukan di Tiongkok masa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika ada teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Batik di Indonesia berkembang bersamaan dengan kedatangan agama Hindu. Saat itu seniman Indonesia yang belajar membuat benda-benda atau barang keperluan ibadah agama yang secara tidak langsung didapatkan pengetahuan mengenai batik di India.

Boleh jadi para pakar menyatakan bahwa batik berasal dari Cina dan/atau India. Namun dengan teknologi tradisional, batik dikembangkan oleh masyarakat Jawa dengan segala filosofinya.

Menurut Kartini Pramono dalam “Simbolisme Batik Tradisional” (1995), “Batik dianggap sebagai sebuah karya seni yang memiliki nilai tinggi. Keindahan dari setiap garis yang ditorehkan canting ke dalam kain memiliki makna dan simbol. Seni batik tradisional merupakan simbol. Simbol-simbol tersebut diciptakan karena ada hasrat untuk menyampaikan pesan-pesan serta amanat untuk diwariskan ke generasi penerus sebagai pembentuk wakta dan kepribadian.

Sebagai karya seni batik di Jawa atau di Indonesia terus berkembang dengan berbagai motif serta berbagai nama sesuai dari mana batik tersebut berasal. Menurut Sewan Susanto dalam “Pendidikan Teknologi Kerumah tanggan dan Kejuruan Masyarakat” (1979), motif-motif batik Indonesia pada umumnya mempunyai dua macam keindahan. 1). Keindahan estetik atau keindahan visual, yaitu rasa indah yang diperoleh karena perpaduan yang harmoni dari susunan betuk dan warna melalui pengelihatan atau panca indera. 2). Keindahan filosofi atau keindahan jiwa yaitu rasa indah yang diperoleh karena susunan arti lambang yang memuat gambar sesuai dengan paham yang dimengerti.

Masih menurut Kartini Pramono, di Jawa menurut motif dan warnanya, batik dibedakan menjadi dua macam. Pertama, batik pedalaman (juga disebut batik keraton). Batik pedalaman adalah batik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keraton dengan dasar-dasar filsafat kebudayaan Jawa yang mengacu pada nilai-nilai spiritual dan pemurnian diri, serta memandang manusia dalam konteks harmoni sememesta alam yang serasi, tertib dan seimbang.

Kedua, batik pesisiran adalah batik yang berkembang di luar keraton dan tidak terikat pada alam pikiran Jawa. Pembatik bebas untuk mengungkapkan ekspresi dalam berkaya, mengembangkan motif sesuai dengan idenya masing-masing.

Batik tumbuh dan berkembang di pulau Jawa, bahkan ada kota yang disebut sebagai kota batik, yaitu Pekalongan di Jawa Tengah. Namun Solo dan Cirebon di Jawa Barat kerap disebut kota batik, di sini dikenal dengan sebutan “batik solo” dan “batik cirebon.”

Dari berbagai jenis batik di Indonesia, dalam proses pewarnaan banyak industri batik termasuk home industri menggunakan pewarna sintetis. Dalam proses membatik, pewarnaan dengan teknik perintang pewarnaan dengan menggunakan malam. Bagian kain yang dirintangi itulah yang menimbulkan corak motif batik. Merintangi kain saat dicelupkan kedalam cairan warna menggunakan berbagai cara dan berbagai jenis bahan perintang warna.

Sejak zaman pra sejarah batik sudah mulai dibuat dengan menggunakan bahan kanji ketan sebagai bahan perintang warna. Seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi pembatikan terus berkembang, jika dahulu batik menggunakan bahan perintang kanji ketan dengan teknik dan cara yang sederhana, kini cara itu sudah tidak digunakan lagi.

Bahan perintang yang digunakan sekarang sudah menggunakan “malam.” Penempelan bahan perintang pada lembar kain merupakan langkah awal proses pembatikan. Cara membubuhkan malam batik pada lembar kain dikenal dengan beberapa cara: dituliskan dengan menggunakan alat yang disebut canting, dituliskan dengan menggunakan kuas dan dicapkan dengan menggunakan cap logam (tembaga).

Walaupun proses penggunaan pewarna alam (seperti tumbuhan) dalam teknik batik sudah dilakukan oleh nenek moyang kita secara turun temurun. Namun saat ini proses pewarnaan kain sebagai proses berikutnya setelah kain dibubuhi bahan perintang, proses pewarnaan batik alami sudah sudah banyak ditinggalkan dengan berbagai alasan.

Kini industri dan pengrajin batik menggunakan sistem yang cepat dan ekonomis dengan pilihan memakai zat-zat warna kimia karena lebih mudah pemakaiannya serta lebih luas tata warnanya. Salah satu sentra batik di Indonesia, Pekalongan merintis penggunaan pewarna kimiawi dalam membatik pada awal abad ke-20. Dampaknya, limbah cair dari pewarnaan batik menggunakan bahan pewarna sintetis menjadi masalah yang mencemari lingkungan. Apabila mengalir ke dalam tanah, bahan-bahan itu bisa merusak ekosistem tanah.

× Image