Fiksi AI Setelah kembali dari penerbangan yang membangkitkan semangat, kami kembali ke rutinitas. Namun, suasana tegang tidak pernah hilang. Pada tanggal 21 Juli 1947, kabar buruk datang. Belanda mela...
Raka frustrasi. Ia kembali ke Mak Siti. “Mereka bilang cerita ini tak valid. Tidak ilmiah”, kata Raka yang duduk bersila di sebelah Mak Siti. “Ilmu kadang buta pada rasa. Tapi sungai...
FIKSI AI Angin sore menyapu tepian Sungai Musi, membawa aroma lumpur dan bunga kenanga dari halaman rumah-rumah panggung. Di bawah langit jingga, seorang perempuan tua duduk bersila di atas tikar pand...
KINGDOMSRIWIJAYA, Bandung – Jika dalam sepak bola ada yang namanya hattrick, istilah yang digunakan ketika seorang pemain mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. Ini dianggap sebagai pencapaian lua...
Prolog: Di tubuh kota yang tua, Sungai Musi mengalir bukan sekadar air, melainkan ingatan. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengalirkan denyut peradaban dari Sriwijay...
FIKSI AI Angin malam bulan Agustus merayap dingin menembus jendela kaca kamar kos yang bercahaya remang. Hanya satu-dua lampu meja yang menyala, memecah kegelapan yang pekat, seolah enggan mengusir ha...
FIKSI AI Pertemuan Terakhir Berbilang tahun, pertemanan Roni dan Bramudia adalah potret ombak laut terkadang pasang, lain hari surut. Lama Roni tidak jumpa Bramudia karena terkena rotasi berpindah des...
Ilustrasi pembicara Kritik Sastra AI, Yurnaldi. (FOTO: AI) Catatan YURNALDI (wartawan dan sastrawan, tinggal di Padang, Sumatera Barat) Dalam dunia yang dijejali oleh metrik, grafik, dan sistem otomat...
Menyaksikan kegagahan jembatan Ampera dari tepian Musi. (FOTO: Aina Rumiyati Aziz) KINGDOMSRIWIJAYA – “Palembang”. Nama itu terucap di bibir, seperti memanggil citra kejayaan Sriwijaya, ke...
Ilustrasi penyair baca puisi memperingati Hari Puisi Indonesia. (FOTO: AI) Prolog: Pagi itu, hari baru pukul 07.00 WIB, upacara bendera di lapangan sekolah baru saja selesai. Dari jendela kelas yang t...










