Oleh Udo Z Karzi (Sastrawan Peraih 3 Penghargaan Rancage)
SEJAK awal, saya sebenarnya agak enggan mengulas buku ini. Apalah! Ini kerjaan AI. Mesin yang belakangan semakin rajin menulis, bahkan mungkin lebih rajin daripada sebagian penulis yang masih sibuk mencari inspirasi sambil menyeruput kopi. Walaupun, tentu saja, buku berjudul Perempuan di Tengah Labirin Mal ini tidak sepenuhnya lahir dari rahim mesin. Ada pengarahan, bimbingan, penyuntingan, dan perbaikan dari Maspril Aries.
Tapi, apa boleh buat. Saya bikin saja ulasannya. Biar Kak Maspril senang. Hehee ….
Buku kumpulan cerpen terbitan Pustaka LaBRAK, 2026, ini menarik setidaknya karena satu hal: ia secara terbuka membawa nama AI sebagai pengarang. Sebuah eksperimen yang patut dicatat di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin merangsek ke berbagai wilayah kehidupan, termasuk wilayah yang selama ini kita anggap sebagai teritori istimewa manusia: kreativitas dan kesusastraan.
Namun, setelah membaca beberapa cerita, saya justru menemukan persoalan yang cukup mendasar. Cerita-cerita yang dibikin AI terasa sangat templat. Semuanya seperti bergerak mengikuti resep yang sudah disiapkan: ada pengenalan tokoh, ada persoalan, muncul konflik, kemudian konflik berkembang, dan akhirnya cerita ditutup dengan penyelesaian. Rapi. Teratur. Bahkan terlalu teratur.
Adegan, konflik, alur, dan dialog-dialognya terasa datar. Kurang hidup. Nyaris tak ada kejutan yang membuat pembaca berhenti sejenak, mengernyitkan dahi, tersenyum geli, atau tiba-tiba merasa ditampar oleh sebuah kalimat. Cerita berjalan sebagaimana mestinya, tetapi tidak selalu meninggalkan sesuatu yang membuat pembaca ingin kembali mengingatnya.
AI tampaknya sangat memahami bagaimana sebuah cerita seharusnya dibangun. Namun, memahami konstruksi cerita tidak otomatis berarti mampu menghadirkan pengalaman batin manusia.
Dalam cerita manusia, sering kali justru ada sesuatu yang tidak masuk akal, tidak selesai, tidak terduga, bahkan agak berantakan. Tokoh bisa bertindak bodoh, dialog bisa melenceng, konflik bisa menggantung, dan ending tidak harus menyenangkan. Di situlah kadang-kadang kehidupan menyelinap ke dalam sastra.
AI sebaliknya tampak terlalu sopan. Tokoh-tokohnya seperti tahu apa yang harus dilakukan. Konfliknya seperti sudah mendapat pengarahan. Ending-nya pun cenderung menyelesaikan urusan dengan tertib. Padahal, hidup manusia tidak selalu tertib. Bahkan, sering kali lebih mirip benang kusut daripada labirin mal.

Ada satu hal lagi yang cukup mengganggu pembacaan saya: sejumlah cerpen dibagi menjadi Bagian 1, Bagian 2, bahkan berlanjut ke bagian berikutnya. Lah, ini cerpen atau cerita bersambung? Kalau memang satu cerita harus dibaca dalam beberapa bagian, apa tidak lebih baik disajikan sebagai satu kesatuan cerita utuh? Pemenggalan semacam ini terasa kurang perlu dan justru memutus kenikmatan membaca. Apalagi, ketika pembaca harus menunggu cerita menyambung kembali, padahal bukunya sudah berada di tangan.
Tentu, saya tidak sedang mengatakan bahwa AI tidak boleh menulis cerpen. Silakan saja. Zaman sudah berubah. Mesin bahkan sekarang bisa membantu manusia melakukan banyak hal yang dahulu dianggap hanya bisa dikerjakan manusia. Termasuk menulis cerita, puisi, esai, bahkan mungkin kritik sastra tentang dirinya sendiri.
Tapi, persoalannya bukan sekadar apakah AI bisa menulis, melainkan sejauh mana hasil tulisan itu memiliki daya hidup sebagai karya sastra.
Di sinilah peran manusia tetap penting. Maspril Aries, dalam kapasitasnya sebagai pengarah sekaligus penyunting, tentu mempunyai tanggung jawab artistik untuk memastikan cerita-cerita ini tidak sekadar menjadi produk kecakapan mesin. Sebab, AI bisa menghasilkan kalimat, tetapi sentuhan manusia diperlukan untuk memberi pengalaman, kedalaman, kegelisahan, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu bisa dirumuskan dalam pola.
Bisa dikatakan, Perempuan di Tengah Labirin Mal lebih menarik dibaca sebagai sebuah percobaan daripada sebagai pencapaian sastra. Ia memberi kita bahan untuk membicarakan masa depan kepengarangan, batas kreativitas mesin, dan posisi manusia dalam proses penciptaan karya fiksi.
Saya kira, kita tidak perlu buru-buru memusuhi AI. Tetapi, jangan pula terlalu cepat memberinya gelar sastrawan. Mesin boleh pintar merangkai kata, tetapi sastra bukan sekadar urusan merangkai kata.
Bagaimana pun, sebuah cerita bukan hanya soal bagaimana ia dimulai, dikembangkan, dan diakhiri. Cerita juga harus punya sesuatu yang membuat pembaca merasa bahwa kehidupan pernah singgah di dalamnya.
Dan, maaf, untuk urusan itu, mesin masih perlu banyak belajar dari manusia. Termasuk, belajar bagaimana membuat pembaca terkejut. Bukan sekadar membuat cerita selesai. ◼





