Home / Budaya / Merajut Wayang Palembang Bersama Generasi Muda

Merajut Wayang Palembang Bersama Generasi Muda

Dalang memainkan Wayang Palembang. (FOTO: Dok.Rumah Sri Ksetra).

KINGDOMSRIWIJAYA – Wayang Palembang masih ada, wayang Palembang belum punah. Jika bertanya pada warga Palembang tentang Wayang Palembang atau Wayang Kulit Palembang, maka jawabannya “antara ada dan tiada”. Pada saat ini pengetahuan masyarakat Palembang mengenai Wayang Palembang beransur hilang. Dan, kaderisasi dalang Wayang Palembang berjalan lamban atau cenderung berhenti.

Adalah sejumlah aktivis kesenian dan kebudayaan merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Beranjak dari gambaran tersebut, Rumah Sri Ksetra, sebuah komunitas budaya di Palembang bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang, berencana menggelar pertunjukan Wayang Palembang bersama generasi muda di ruang pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Minggu, 26 Juli 2026.

“Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya”, kata Nopri Ismi, Ketua Rumah Sri Ksetra, Jumat (17/7).

Pertunjukan yang akan berlangsung di Taman Budaya Palembang, Jalan Amri Yahya, merupakan kegiatan yang didukung Danaindonesiaraya tahun 2025. Menurut Ismi, selain menampilkan pertunjukan Wayang Palembang, juga pembuatan film dokumenter maestro Dalang Rasyid, lomba lukis Wayang Palembang tingkat pelajar, dan lomba poster Wayang Palembang.

Tentu akan ada yang bertanya, “Bagaimana ceritanya sampai ada Wayang Palembang di Pulau Sumatera?” Pertanyaan tersebut tidak terlepas dari yang ada pada benak banyak orang, bahwa wayang itu adanya atau asalnya dari Pulau Jawa. Ada Wayang Golek, ada Wayang Kulit sampai Wayang Orang.

Berikut jawaban dan sekilas kisah Wayang Palembang. Palembang adalah kota tertua di Indonesia yang ada di tepian Sungai Musi, sejak berabad-abad silam menjadi simpul pertemuan berbagai bangsa. Dari Cina, India, Timur Tengah, hingga Minangkabau, Sunda, Cirebon, Johor, dan Jawa, semuanya pernah singgah dan menetap, membawa serta budaya yang kemudian melebur dengan tradisi Melayu yang lebih dulu tumbuh di Sumatera Selatan. Dari percampuran itu lahirlah kebudayaan khas Palembang—terlihat dalam arsitektur rumah panggung, kuliner beraroma rempah, pakaian adat, sistem pemerintahan, hingga bahasa Bebaso yang digunakan di keraton.

Dikutip dari jurnal “Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000 – 2019” yang ditulis Nurhidayanti, Nuril Shalifah, Syarifuddin, Supriyanto (2022), Wayang Palembang berasal dari wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Ada dua versi masa dibawanya. Pertama, abad ke-17. Ini berdasarkan fisik wayang (artefak). Kedua, wayang dibawa Aryo Dila bersama rombongan pada abad ke-15. Aryo Dila adalah bangsawan Jawa.

Di awal abad ke-20, di Palembang dikenal banyak dalang Wayang Palembang. Antara lain Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, dan Dalang Ali.

Pada tahun 1950-an, muncul seorang dalang Wayang Palembang yang cukup dikenal. Namanya Kiagus Muhammad Abdul Rasyid atau Dalang Rasyid. Dia merupakan murid dari Raden Muhammad Hanan atau Dalang Hanan, seorang dalang yang dikenal pada masa sebelum Kemerdekaan Indonesia. Dalang Hanan adalah murid dari Dalang Syairin.

Tahun kejayaan Wayang Palembang bertahan hingga tahun 1970-an. Tahun 1980-an hingga 1990-an merupakan masa meredupnya Wayang Palembang. Saat itu masyarakat Palembang lebih memilih seni hiburan baru, seperti orkes melayu dan organ tunggal. Tahun 2004, Wayang Palembang diakui sebagai salah satu karya agung budaya oleh UNESCO. Pada 2013, UNESCO menetapkan seni wayang di Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Pada saat ini pengetahuan masyarakat Palembang mengenai Wayang Palembang beransur hilang. Dan, kaderisasi dalang Wayang Palembang berjalan lamban atau cenderung berhenti.

Beranjak dari gambaran tersebut, Rumah Sri Ksetra, sebuah komunitas budaya di Palembang bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang, berencana menggelar pertunjukan Wayang Palembang bersama generasi muda di ruang pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Minggu, 26 Juli 2026.


Latihan persiapan untuk pementasan Wayang Palembang. (FOTO: Dok.Rumah Sri Ksetra).

Salah satu warisan akulturasi yang paling menarik adalah Wayang Palembang, seni pertunjukan yang lahir dari pengaruh Jawa namun berkembang dengan identitas lokal yang kuat. Wayang Palembang diyakini berasal dari wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Ada dua versi sejarah masuknya kesenian ini. Pertama, sekitar abad ke-17, berdasarkan artefak fisik wayang yang ditemukan. Kedua, pada abad ke-15, ketika seorang bangsawan Jawa bernama Aryo Dila datang bersama rombongan ke Palembang, membawa serta tradisi wayang.

Sejak saat itu, wayang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palembang. Di awal abad ke-20, nama-nama dalang besar mulai dikenal, ada Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, dan Dalang Ali. Mereka bukan sekadar penghibur, melainkan penjaga nilai moral dan filosofi hidup yang disampaikan lewat lakon Mahabharata dan Ramayana.

Pada dekade 1950-an, muncul sosok yang kemudian menjadi maestro, bernama Kiagus Muhammad Abdul Rasyid, atau lebih dikenal sebagai Dalang Rasyid. Ia adalah murid dari Dalang Hanan, yang sebelumnya belajar dari Dalang Syairin. Rantai keilmuan ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi pewarisan dalam dunia wayang Palembang.

Wayang Palembang mencapai puncak kejayaannya hingga tahun 1970-an. Pertunjukan wayang menjadi hiburan utama masyarakat, digelar di halaman rumah, balai desa, hingga acara adat. Namun memasuki 1980-an hingga 1990-an, pamornya mulai meredup. Kehadiran hiburan baru seperti orkes melayu dan organ tunggal membuat masyarakat beralih.

Meski begitu, dunia internasional tetap mengakui nilai budaya wayang. Pada tahun 2004, UNESCO menetapkan wayang sebagai salah satu karya agung budaya dunia. Kemudian pada 2013, seni wayang di Indonesia diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Pengakuan ini seharusnya menjadi energi baru untuk menjaga keberlangsungan Wayang Palembang.

Sayangnya, di tingkat lokal, pengetahuan masyarakat tentang Wayang Palembang semakin menipis. Kaderisasi dalang berjalan lamban, bahkan cenderung berhenti. Generasi muda lebih akrab dengan gawai dan media sosial ketimbang duduk semalam suntuk menyimak kisah Pandawa dan Kurawa.

Bagi generasi muda, Wayang Palembang bukan hanya cerita klasik. Ia bisa menjadi media refleksi tentang kehidupan modern. Lakon-lakon yang mengisahkan konflik, pengkhianatan, persaudaraan, dan perjuangan, tetap relevan dengan dinamika zaman sekarang.

Bayangkan, bagaimana kisah Bima yang teguh hati bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk tetap berpegang pada prinsip di tengah derasnya arus globalisasi. Atau bagaimana Arjuna yang bijak bisa menjadi teladan dalam mengambil keputusan.

Dengan pendekatan kreatif, Wayang Palembang bisa dikemas ulang. Misalnya, melalui animasi digital, film pendek, atau pertunjukan kolaboratif dengan musik modern. Hal ini akan membuat wayang lebih dekat dengan dunia anak muda tanpa kehilangan ruh tradisinya.

Merawat Warisan

Wayang Palembang adalah cermin perjalanan panjang akulturasi budaya di Sumatera Selatan. Ia lahir dari pertemuan Jawa dan Melayu, tumbuh di tanah Palembang, lalu menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga warisan ini agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah. Generasi muda harus diajak untuk merasa memiliki, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku.

Pertunjukan di Taman Budaya Sriwijaya nanti adalah langkah kecil, namun penting. Ia menjadi simbol bahwa Wayang Palembang masih hidup, masih relevan, dan masih bisa menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.

Wayang Palembang bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah narasi tentang kebudayaan, identitas, dan kebijaksanaan hidup. Dari Aryo Dila di abad ke-15, Dalang Syairin di awal abad ke-20, hingga Dalang Rasyid di era 1950-an, semuanya adalah mata rantai yang menyambungkan masa lalu dengan masa kini.

Kini, giliran generasi muda Palembang untuk merajut kembali wayang sebagai bagian dari dirinya. Sebab, menjaga Wayang Palembang berarti menjaga jati diri, menjaga akar budaya, dan menjaga suara leluhur yang masih berbisik lewat bayangan kulit di balik kelir.

Pertunjukan pementasan Wayang Palembang yang akan dilaksanakan Rumah Sri Ksetra dan Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang, bukan sekadar menampilkan kisah-kisah lama dari kitab Mahabharata atau Ramayana. Tujuannya pementan ini sederhana, mengajak anak muda tidak hanya menjadi penonton, tapi juga menjadi bagian dari kisah Wayang Palembang. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *