Home / Budaya / Udara yang Kita Pilih

Udara yang Kita Pilih

Cerpen Oleh: AI (Kimi.com)

Di lantai tujuh gedung pemerintahan yang baru direnovasi tiga kali lipat dari anggaran, Bayu menatap jendela yang tak pernah bisa dibuka. Bayu bertugas sebagai staf pengadaan barang dan jasa—bukan jabatan tinggi, cukup untuk berada di tengah, tak berkuasa menentukan, tapi cukup dekat untuk mengetahui.

Ia tahu harga semen untuk jalan desa bisa melonjak dua ratus persen. Tahu berapa persen “biaya koordinasi” sebelum spanduk proyek terpasang. Tahu—dan tahu bahwa semua orang juga tahu.

Korupsi seperti udara, pikirnya. Kita hirup setiap hari. Busuk. Merayap. Dan dianggap biasa saja.

Bayu bukan pahlawan. Ia pria berusia tiga puluh dua tahun yang pulang ke rumah kontrakan, ada istri yang menunggu, dan Dira, anak perempuan lima tahun yang selalu bertanya, “Pa, langit di rumah nenek biru. Kenapa di sini tidak?”

Bayu menatap ke atas. Yang ia lihat hanya warna pucat di balik kepulan knalpot dan asap pabrik tanpa izin—milik kerabat seseorang yang namanya tak boleh disebut terlalu keras.

“Karena di sini banyak awan, Sayang”, jawabnya. Dusta. Mungkin yang keseribu dalam hidupnya.

*            *            *

Di ujung koridor yang sama duduk Surya, empat puluh lima tahun, auditor internal. Matanya lelah namun waspada—mata orang yang terlalu lama membaca angka di bawah lampu neon.

Tiga tahun lalu, Surya menemukan selisih empat miliar di proyek jembatan. Ia membuat laporan. Laporan itu ‘hilang.’ Kemudian istrinya kecelakaan—mobil tabrak lari di persimpangan yang seharusnya ada CCTV, namun rekaman itu juga ‘hilang’.

Sejak itu, Surya hidup seperti udara, ada, tapi tak terlihat. Tetap mencatat, tapi menyimpan semua dalam buku-buku di balik rak arsip bekas. Menunggu. Entah apa?

Berada di lantai yang sama, Surya dan Bayu saling mengenal secara pasif. Hingga suatu Senin, hujan turun seminggu penuh, jalan-jalan “baru diperbaiki” mulai tergenang, dan keduanya terjebak di lift macet di antara lantai lima dan enam.

Lampu redup. AC mati. Hanya napas dua pria yang terasa berat.

“Biasanya lima belas menit”, kata Surya.

“Kecuali mereka sedang istirahat”, sahut Bayu. “Atau kehabisan dana operasional”.

Surya menatapnya. Untuk pertama kali, tatapan itu tidak sekadar lewat.

“Kamu di pengadaan”, ucapnya. “Kamu tahu, berapa kali aku melihat nama perusahaan yang sama menang tender? Lima belas kali dalam dua tahun. Harganya selalu lima hingga sepuluh persen di atas pasaran”.

Bayu menegang. “Mungkin mereka memang yang terbaik”.

Surya tertawa getir. “Yang terbaik dalam membayar”.

Empat puluh lima menit berlalu. Tak ada yang datang. Dan di dalam lift gelap itu, sesuatu terbuka. Bukan pintu—tapi sesuatu yang lebih dalam.

Bayu bercerita tentang Dira. Tentang langit yang tak pernah biru. Tentang malam-malam terbangun dengan mual karena daftar nominal yang harus ditandatangani, proyek yang tak kunjung selesai, angka-angka yang mengalir seperti sungai kotor.

Surya bercerita tentang istrinya yang kini berjalan dengan tongkat. Tentang ratusan halaman bukti yang tak pernah dibaca siapa pun. Tentang malam-malam menghitung bukan uang yang hilang, tapi tahun-tahun hidup yang terbuang.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Bayu.

Surya diam lama. Petir menyambar, lift bergoyang.

“Karena aku sudah terlalu lama menghirupnya”, jawabnya pelan. “Udara ini. Aku lupa bagaimana rasanya bernapas bersih. Dan kalau aku pergi… siapa yang akan mencatat? Siapa yang akan tahu bahwa semua ini pernah terjadi?”

Lift berderit, lalu bergerak. Pintu terbuka di lantai enam. Cahaya menyilaukan. Dua pria itu berdiri diam, masing-masing memegang sesuatu yang baru, bukan persahabatan, tapi pengakuan. Bahwa di lautan orang yang berenang tenang di air keruh, ada yang masih berusaha mengapung sambil melihat ke atas.

*            *            *


Bulan-bulan berikutnya, mereka bertemu di warung kopi tua di gang sempit, pemiliknya tuli sebelah. Di antara aroma kopi tubruk dan suara motor, mereka berbagi potongan puzzle.

Surya membawa fotokopian catatannya. Bayu membawa ingatannya—nama, tanggal, percakapan di lorong. Mereka menyusunnya seperti membangun perahu dari serpihan kayu di tengah badai.

“Aku punya sesuatu”, bisik Surya suatu sore. “Proyek rumah sakit baru. Anggaran lebih lima ratus miliar. Invoice ganda untuk peralatan yang sama. Selisih delapan puluh miliar”.

Bayu menatap angka itu. Delapan puluh miliar. Cukup untuk sepuluh sekolah di desa terpencil. Cukup untuk membersihkan sungai yang membuat anak-anak gatal-gatal. Cukup untuk membuat langit biru kembali.

“Siapa di atasnya?”

Surya menyebut nama. Semua orang mengenalnya. Nama di spanduk, pita pengguntingan, ucapan selamat di televisi.

“Kalau kita bawa ini ke atas, kita mati”, kata Bayu.

“Bukan ‘kalau’”, Surya mengoreksi. “Kita akan mati. Tapi mungkin pelan-pelan. Atau mungkin kita hanya diberhentikan dengan cara memalukan. Penghianat. Pengganggu. Orang gila yang iri pada kesuksesan orang lain”.

Bayu memikirkan Dira. Istrinya yang menyiapkan makanan setiap malam, tak pernah bertanya dari mana uang gaji itu datang—karena menanyakan berarti menghadapi sesuatu yang terlalu besar.

“Ada cara lain”, kata Bayu. “Bukan ke atas. Ke samping. Ke luar”.

Ia bercerita tentang kenalannya, jurnalis muda di media online yang pernah menulis tentang mark-up alat tulis. Artikel itu dihapus dalam empat jam. Tapi empat jam cukup untuk membuat namanya masuk daftar yang “perlu diawasi”.

“Media nasional”, kata Bayu. “Yang lebih besar dari mereka. Yang namanya terlalu besar untuk dibungkam dengan satu telepon”.

“Kau punya kontak?”

“Tidak. Tapi aku tahu cara menemukannya. Dan aku tahu apa yang harus kita bawa, bukan hanya angka, tapi cerita. Cerita tentang rumah sakit yang dibangun dari darah orang-orang yang akan mati di dalamnya karena peralatannya palsu. Cerita tentang langit yang tak pernah biru”.

Surya menatapnya lama. Di mata lelaki itu, Bayu melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat, harapan. Begitu rapuh, begitu tua, begitu tak terduga, sehingga hampir terasa seperti kesedihan.

“Baiklah”, kata Surya. “Tapi tidak dari sini. Di kampungku, rumah nenek yang kosong. Tak ada sinyal, tak ada internet. Tapi ada kantor pos. Kalau kita kirim paket dari sana, dengan nama palsu…”.

“Mereka masih bisa menemukan kita”.

“Ya. Tapi butuh waktu. Dan waktu adalah satu-satunya yang kita punya”.

*            *            *

Kampung Sumberagung, tiga jam perjalanan setelah jalan aspal berakhir. Bayu meninggalkan istri dengan alasan dinas. Surya bilang mengunjungi sanak saudara. Keduanya tahu ini kebohongan—mungkin pertama dari banyak yang akan datang, atau mungkin terakhir sebelum kebenaran terungkap.

Rumah kayu tua, atap bocor, tapi ada sesuaru yang begitu asing sehingga hampir menakutkan. Di sini tak ada klakson, tak ada kabar proyek baru, tak ada udara yang harus dihirup dengan waspada.

Mereka bekerja siang malam. Surya menyusun dokumen. Bayu menulis narasi—bukan laporan kering, tapi kisah. Ayah yang ingin anaknya melihat langit biru. Auditor yang istrinya tabrak mobil tak bertuan karena berani mencatat. Kota yang lupa bahwa udara bisa bersih.

Hari ketiga, Bayu terbangun oleh suara langkah di atap. Terlalu berat untuk binatang. Ia membangunkan Surya. Keduanya duduk di kegelapan, memegang besi tua.

Langkah berhenti. Suara motor menjauh.

“Mereka tahu”, bisik Surya.

“Belum”, kata Bayu, jantung berdebar. “Kalau mereka tahu, kita sudah mati. Ini pengecekan. Mereka ingin kita tahu bahwa mereka bisa menemukan kita”.

Keesokan harinya, mereka mempercepat. Tiga amplop besar, satu untuk media nasional, satu untuk Komisi Rasuah, satu untuk pengacara muda yang baru memenangkan kasus melawan pejabat—untuk pertama kalinya, terdakwa dipenjara nyata.


“Kalau satu jalan buntu”, kata Surya, “Masih ada dua lainnya. Dan kalau semua buntu?” Ia tersenyum, “Setidaknya kita sudah mencoba bernapas bersih. Sekali dalam hidup”.

Bayu mengirim paket pertama dan ketiga dari kantor pos kecamatan. Surya mengirim yang kedua dari kecamatan berikutnya, dua jam perjalanan. Kemudian mereka kembali ke kota, ke kehidupan masing-masing, seperti dua orang asing.

Pekan pertama: tidak ada apa-apa.

Pekan kedua, artikel singkat di media nasional, tanpa nama. Bayu dan Surya membaca di ponsel masing-masing, di tempat terpisah, dan menangis sendirian.

Pekan ketiga, pengacara muda mengajukan gugatan praperadilan. Ditanggapi gugatan balik pencemaran nama baik.

Pekan keempat, KPK mengumumkan penyelidikan. Bukan penindakan—hanya penyelidikan. Tapi itu cukup. Untuk pertama kali, nama yang tak boleh disebut muncul di berita dengan konteks berbeda.

Lalu datang balasan.

*            *            *

Bayu dipanggil atasannya. Bukan untuk marah, sesuatu yang lebih berbahaya.

“Kau masih muda, Bayu. Punya anak perempuan, ya? Dira. Lucu, aku dengar. Pintar”.

Bukan ancaman terbuka. Lebih buruk. Bahasa mereka—halus, bisa dibantah, terdengar seperti kebaikan kalau diucapkan ulang.

“Kau bekerja keras. Tapi terkadang, kita bekerja pada hal yang salah. Fokus pada yang penting. Keluarga. Masa depan. Udara bersih”, Tertawa pahit. “Itu hanya mitos, Bayu. Di mana-mana sama. Yang penting kita bisa hidup. Nyaman. Aman”.

Bayu pulang dengan amplop di saku. Uang. Banyak. Cukup untuk pindah, memulai usaha baru, melupakan. Atau cukup untuk menjadi bagian dari mereka, sepenuhnya?

Ia menatap Dira yang tidur. Istrinya yang menyiapkan makan malam dengan tangan mulai keriput. Dan ia tahu, dengan kepastian menghancurkan, bahwa ia tidak bisa menjadi pahlawan. Pahlawan punya harga yang bisa dibayar, dan harganya terlalu mahal.

Ia mengambil keputusan.

*            *            *

Surya menunggu di warung kopi, tapi Bayu tak datang. Hari pertama, kedua, ketiga. Panggilan tak dijawab. Hari kelima, Surya ke rumah Bayu. Kontrakan kosong. Tetangga bilang mereka pindah tengah malam, ke arah tak diketahui.

Surya duduk di apartemen sepi, di antara tumpukan buku catatan yang kini terasa tak berarti. Lalu telepon berdering. Dari pengacara muda.

“Pak Surya, kami perlu bertemu. Ada sesuatu yang harus Anda lihat”.

Di ruang rapat kecil, Surya diberi berkas. Bukan yang ia kirim. Lebih tebal, lebih lengkap, dengan catatan tangan begitu mirip miliknya sehingga ia benar-benar percaya ia yang menulisnya. Tapi ia tidak.

“Di mana dapat ini?” tanyanya.

“Dikirim seminggu lalu. Anonim. Dengan surat, ini dari Surya, auditor yang benar. Yang sebelumnya palsu”.

Surya membuka berkas. Angka-angka yang ia kenal, tapi disusun berbeda. Bukti yang ia kumpulkan, ditambahi foto-foto tak pernah ia ambil, rekening koran tak pernah ia lihat. Di halaman terakhir, surat pengakuan, Surya bekerja sama dengan pihak tertentu untuk memfitnah pejabat tak bersalah. Dokumen sebelumnya pemalsuan. Semua ini balas dendam pribadi.

Tertanda: Surya, Auditor yang Menyesal.

“Ini pemalsuan”, bisiknya. “Saya tidak pernah…”.

Saya tahu”, kata pengacara. “Tapi berkas ini juga dikirim ke media. Ke KPK. Ke semua pihak. Dan versi ini lebih ‘meyakinkan’. Seseorang menghabiskan banyak waktu dan uang”.

Surya merasa dunia berputar. Bukan karena kekalahan. Bukan karena pengkhianatan. Tapi karena pengertian bahwa ia tak pernah benar-benar berjuang. Bahwa sejak awal, ia hanya bergerak sesuai skenario orang lain. Bahwa “udara bersih” yang ia cari hanyalah ilusi yang lebih halus, lebih kejam.

“Siapa?” tanyanya, meski ia sudah tahu.

Pengacara menggeleng. “Tapi ada satu hal lagi”. Ia menyodorkan amplop kecil.

“Ditemukan di dalam berkas palsu. Seperti sengaja diselipkan”.


Surya membuka amplop. Satu lembar kertas, tulisan tangan Bayu.

“Maaf. Aku tidak punya pilihan. Tapi aku punya pilihan untuk memilih sisi yang mana. Berkas asli sudah aman. Yang ini—biarkan mereka percaya bahwa mereka menang. Biarkan aku menjadi pengkhianat yang mereka inginkan. Tapi tolong, jangan biarkan Dira tumbuh dengan berpikir ayahnya pahlawan. Beritahu dia yang sebenarnya. Bahwa ayahnya hanyalah pria biasa yang mencoba bernapas bersih, meskipun gagal. Dan beritahu dia—langit itu memang pernah biru. Aku melihatnya, sekali, di kampung Sumberagung. Aku ingin dia tahu bahwa warna itu nyata”.

*            *            *

Surya duduk di ruang tunggu rumah sakit, menunggu istrinya selesai terapi. Media nasional akhirnya menurunkan artikel lengkap—berdasarkan berkas “asli” yang masih bisa diverifikasi meski diserang palsu. Pengacara muda itu lebih pintar dari yang mereka kira. Di dunia digital, jejak tak pernah benar-benar hilang.

Bukan kemenangan besar. Hanya goresan kecil di dinding batu. Tapi goresan itu ada, dan akan tetap ada.

Komisi Rasuah membuka penyelidikan resmi. Bukan untuk rumah sakit—terlalu rumit. Tapi untuk kasus lebih kecil, yang terkait, yang bisa dijadikan tangga. Satu orang ditahan. Dibebaskan dalam seminggu. Tapi namanya sekarang ada di catatan, dan catatan itu menumpuk hari demi hari, seperti debu yang bisa terlihat kalau cahaya masuk dari sudut tepat.

Surya tak lagi bekerja di kantor pemerintahan. Ia kini “konsultan independen” sebutan samar untuk seseorang yang terlalu berbahaya untuk dipekerjakan, tapi terlalu berharga untuk dibungkam. Ia membantu LSM kecil, komunitas yang masih percaya angka bisa berbicara, cerita bisa mengguncang, udara bisa dibersihkan meski butuh waktu lebih dari satu hidup manusia.

Suatu pagi, ia menerima surat tanpa pengirim. Di dalamnya satu foto anak perempuan berusia enam atau tujuh tahun, berdiri di bawah langit begitu biru. Di belakang foto, tulisan tangan anak-anak, masih canggung, “Terima kasih sudah bilang ke Papa bahwa langitnya biru. Aku sudah lihat sendiri. Dira.”

Surya menatap foto itu lama. Di luar jendela rumah sakit, langit kota masih abu-abu, masih penuh kepulan, masih seperti udara yang dipaksakan. Tapi di sudut timur, ada celah kecil di antara gedung-gedung tinggi. Dan di sana, untuk beberapa menit sebelum tertutup awan, terlihat warna yang hampir biru.

Bukan biru sempurna. Bukan biru seperti di foto. Tapi biru. Nyata. Ada.

Ia tersenyum. Bukan senyum pemenang. Bukan senyum keadilan terwujud. Hanya senyum seseorang yang akhirnya mengerti, kita tak pernah benar-benar memilih udara yang dihirup. Tapi kita bisa memilih terus mencari celah biru di antara kepulan. Bisa memilih mencatat, meski catatan dibakar. Bisa memilih bercerita, meski cerita dipalsukan. Bisa memilih bernapas, meski setiap napas terasa seperti perlawanan.

Dan terkadang—hanya terkadang—perlawanan itu cukup untuk membuat seseorang, di suatu tempat, melihat langit yang pernah kita lihat, dan percaya bahwa warna itu nyata.

Surya menutup buku hariannya. Di halaman terakhir, ia menulis:

“Negeri apa ini? Negeri di mana korupsi seperti udara yang dipaksa kita hirup setiap hari. Busuk. Merayap. Dan dianggap biasa saja. Tapi negeri ini juga punya orang-orang yang masih bisa batuk. Masih bisa merasa mual. Masih bisa memilih untuk tidak terbiasa. Dan batuk itulah—batuk kecil yang mengganggu di ruangan sunyi—yang membuat kita ingat, kita masih hidup. Kita masih bisa memilih. Dan pilihan itu, meski kecil, adalah benih dari segala sesuatu yang mungkin menjadi lebih baik”.

Ia berdiri, memasukkan foto Dira ke dompet, dan berjalan menjemput istrinya. Langkahnya pelan, tapi tegap. Seperti orang yang akhirnya menemukan cara bernapas—tidak bersih, belum, tapi cukup untuk melangkah maju, satu napas demi satu napas, menuju celah biru yang mungkin, mungkin, menunggu di ujung jalan.

*            *            *

Di kota yang sama, di gedung yang sama, lift masih sering macet. Tapi kini, setiap kali pintu terbuka, ada yang berbeda. Bukan karena liftnya berubah. Tapi karena orang-orang di dalamnya—beberapa dari mereka—mulai saling menatap sedikit lebih lama. Mulai bertanya, dengan suara masih ragu-ragu, “Kau juga merasa sesak?”

Dan di antara jawaban “Ya” yang terbata-bata, sesuatu mulai tumbuh. Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang di kota ini, di negeri ini, di udara yang dipaksakan ini, adalah bentuk paling liar dari pemberontakan. Harapan yang tidak mati.

TAMAT.

(Inspirasi dari unggahan kutipan pada cerita Instagram @wenyramdiastuti)

#Penyunting: Maspril Aries.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *