Buku “Dibawah Reaktor Salju” (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Jumat, 19 Juni 2026, jauh di sana di belahan benua Eropa tepatnya di Kazan, Rusia, KTT 35 tahun Kemitraan ASEAN-Rusia baru saja selesai. Indonesia pada pertemuan tersebut Presiden Prabowo Subianto diwakili Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Selama di Rusia, Menlu juga melakukan pertemuan dan pembahasan rencana Indonesia membangun PLTN (Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir) terapung.
Untuk urusan yang satu ini, Indonesia menjajaki kerjasama dengan perusahaan industri nuklir milik Rusia, Rosatom. Menurut Direktur Utama Rosatom Alexey Likhachev, bahwa penjajakan komersial ini menindaklanjuti ketertarikan besar dari pemerintah Indonesia terhadap pemanfaatan teknologi nuklir dalam transisi energi. “Indonesia menunjukkan ketertarikan yang sangat besar pada teknologi nuklir. Atas undangan Presiden Prabowo Subianto, delegasi besar Rosatom telah mengunjungi Indonesia beberapa minggu lalu”.
Pada pertemuan dengan Presiden Prabowo fokus utama pembicaraan pihak Rosatom mengarah pada pembangunan reaktor nuklir terapung, dengan melibatkan pelaku bisnis Indonesia guna mendukung lokalisasi teknologi.
Menurut Likhachev, bagi Indonesia dengan karakter geografis yang didominasi wilayah kepulauan dan garis pantai yang Panjang, pembangkit energi dengan menempatkan reaktor nuklir di atas kapal maupun tongkang menjadi lebih relevan dan efisien dibandingkan jika membangun infrastruktur pembangkit listrik konvensional di darat.
Pada saat bersamaan di Palembang, Jumat, 19 Juni 2026 wartawan Kingdomsriwijaya mendapat sebuah buku autobiografi dari Doktor Shinta Paramita Sari yang pernah menuntut ilmu di Rusia. Dosen fakultas hukum STIH Serasan di Muara Enim memberikan buku berjudul “Di Bawah Reaktor Salju”. Buku dengan tebal 110 halaman ditulis Winata Kusuma seorang mahasiswa Indonesia yang lahir dan menjalani pendidikan SD sampai SMA di Lubuklinggau. Pada 2025 telah menyelesaikan pendidikan magister atau strata dua (S2) di Rusia di MEPhI. Dua peristiwa yang terjadi pada waktu bersamaan di Rusia dan Indonesia tersebut mungkin saja sebuah kebetulan, namun ada kesamaan, yaitu tentang nuklir.
MEPhI adalah singkatan dari National Research Nuclear University MEPhI (Moscow Engineering Physics Institute), universitas teknik dan penelitian negeri terkemuka di Moskow, Rusia, didirikan tahun 1942. Awalnya dibentuk untuk mendukung proyek atom Soviet, kini menjadi pusat pendidikan dan riset utama di bidang sains dan teknologi tingkat tinggi.
Winata Kusuma adalah mahasiswa Indonesia yang berasal dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel), sebuah kita yang berjarak sekitar 300 km dari Palembang, ibu kota Sumsel. Lulus dari SMA di Lubuklinggau, Winata atau dipanggil “Nata” melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta berkuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN lewat jalur prestasi. Sekarang STTN menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia.
Lulus dari Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia, Nata melanjutkan pendidikannya ke Rusia diterima di Universitas Riset Nuklir Nasional MEPhI (Institut Fisika Teknik Moskow) selesai tahun 2022 dengan meraih gelar Magister Teknik Nuklir. Tahun 2023 Nata melanjutkan pendidikan ke IMT Atlantique Juga meraih Magister Teknik – MEng, Teknologi/Teknisi Teknik Nuklir pada Juni 2025.

Sebagai mahasiswa, Nata juga menjadi Duta Nuklir Rosatom, sebuah komunitas muda yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya di bidang nuklir, serta mempromosikan dan memperkenalkan teknologi, serta memberikan edukasi seputar nuklir di Indonesia dan Rusia.
Sekarang Winata Kusuma sudah kembali ke Indonesia, dia tidak pulang ke Lubuklinggau, kini menetap di Bali. “Saya mendirikan Ata Foundation, Alhmdulilah ada sekitar 4O anak kurang mampu mendapatkan pendidikan gratis dari saya, juga memberikan pendidikan fisika, matematika dan bahasa Rusia gratis bagi anak-anak muda bertalenta. Saya paham betul, terkadang masalah ekonomi membuat banyak anak muda takut bermimpi”, katanya, Sabtu (20/6).
Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang buku “DiBawah Reaktor Salju” mari mengulik sejenak bagaimana masa-masa pendidikan Nata di kotanya bernama Lubuklinggau yang merupakan kota perlintasan jalan lintas Sumatera (Jalinsum). Nata yang lahir di Linggau sejak lahir sampai lulus SMA tinggal bersama keluarganya di Jalan Sultan Mahmud Baddarudin II, Kelurahan Tanah Periuk, Kecamatan Lubuklinggau selatan II.
Nata bersekolah di SD Negeri 56 Lubuklinggau, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Lubuklinggau dan terus ke jenjang SMA di SMA Yadika Kota Lubuklinggau. Dari Lubuklinggau dia menyebrang ke pulau Jawa dan kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Yogyakarta, Jurusan Teknofisika Nuklir meraih gelar Bachelor Degree. Terus ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di National Research Nuclear University, MEPhi. Jurusan Nuclear Engineering meraih gelar Master Degree.
“Untuk berangkat ke sekolah, waktu SD dan SMP dari rumah saya berjalan kaki. Setelah SMA, karena jaraknya yang cukup jauh saya naik angkot yang jarak sekitar 15 sampai 20 menit perjalanan”, ujarnya.
Urip Iku Urup
Buku “Dibawah Reaktor Salju” . Sampul buku ini pertama kali saya lihat di akun media sosial atau Instagram @shienttaparamita, saat melihat judulnya saya langsung teringat pada peristiwa reaktor nuklir Chernobyl. Ternyata dalam buku ini ada catatan tentang Tragedi Chernobyl yang terjadi tahun 1986. Nata menulis “Tidak ada sejarah nuklir Rusia tanpa menyebut Chernobyl. Kesalahan desain pada reaktor RBMK dan kelalaian manusi menyebabkan bencana terbesar dalam sejarah nuklir. Dunia mengira industri nuklir Rusia akan mati” (halaman 34).
Menurut Nata, di sinilah letak kehebatan sains Rusia. Alih-alih menyerah, mereka melakukan audit total. Mereka menciptakan sistem keamanan pasif yang tidak butuh listrik untuk untuk mendinginkan reaktor jika terjadi darurat.
Catatan di atas adalah satu bagian cerita dari autobiografi Winata Kusuma tentang kehebatan teknologi nuklir dari negara yang dulu bernama Uni Sovyet. Dalam buku ini, selain tentang nuklir juag bercerita tentang perjalanan hidup seorang anak manusia yang menempuh lini masanya dari Kota Lubuklinggau menuju Yogyakarta dan Moskow (Rusia) dengan beragam ceritanya.
Pada bagian sampul belakang tertulis, “Nata adalah seorang anak yang lahir di Kota Lubuklinggau. Masa kecilnya begitu akrab dengan aroma getah karet dan suasana sederhana. Ia tidak pernah berpikir nasib akan membawanya menuju MEPhI, jantung teknologi nuklir Rusia, karena baginya, cita-cita sangat mahal harganya. Saat ia berjuang keras dengan pendidikannya, bertarung meningkatkan nilai matematika dan fisiknya, di sanalah awal mula masa depannya dipertaruhkan untuk pertama kalinya”.

Di Rusia, Nata tidak hanya bertarung dengan rumus-rumus fisika neutron, tetapi juga dengan rasa lapar, keterbatasan biaya, dan suhu minus tiga puluh derajat yang menusuk tulang. Jika di siang hari ia adalah seorang peneliti yang bergelut dengan atom, maka malamnya ia gunakan untuk mengulek sambal ayam geprek di dapur asramanya.
Urip iku urup, sebuah filosofi Jawa yang digenggamnya hingga saat ini. Ia belajar bahwa manusia layaknya atom yang memiliki potensi energi yang dahsyat apabila memiliki keberanian untuk pecah dan bereaksi pada tantangan. Hidup bukan hanya tentang berjuang, tetapi bagaimana memaknainya sebagai pelepasan dari belenggu keterbatasan.
Autobiografi ditulis dengan gaya bahasa yang menarik, tidak kaku melainkan sangat luwes dengan pilihan diksi atau untaian kalimat yang menarik. Seperti bagaimana Nata menggambarkan kota kelahirannya yang awalnya merupakan ibu kota Kabupaten Musi Rawas sebelum terjadi pemekaran pada masa awal era otonomi daerah pascar reformasi 1998.
“Lubuklinggau pada awal tahun sembilan puluhan bukanlah kota yang menawarkan kemilau. Ia hanyalah sebuah titik singgah di bagian selatan Sumatera, sebuah wilayah yang sedang menggeliat bangunn dari tidur panjangnya”.
Atau pada bagian lainnya, bagaimana Nata menggambarkan kampus tempatnya menggeluti teknik nuklir. “Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN-BATAN) adalah tempat bagi mereka yang mencintai presisi. Di sini angka adalah tuhan. Rumus-rumus fisika adalah hukum yang tidak terbantahkan. Kehidupan kampus terasa sangat teknokratis, kaku dan terkadang … bisu. Para mahasiswa nuklir sangat ahli dalam menghitung burnup bahan bakar, tetapi sering kali gagap ketika harus menjelaskan visi mereka kepada dunia dalam bahasa internasional”.
“Nata melihat celah itu. Ia melihat rekan-rekan jeniusnya seringkali kehilangan kesempatan beasiswa internasional atau konperensi global hanya karena satu tembok besar: Bahasa Inggris”.
“Kita tidak boleh hanya jago kandang”, ujar Nata. “Nuklir Indonesia tidak akan pernah maju kalau kita tidak bisa bicara dengan dunia. Kita butuh pintu gerbang”.
Bagi Nata, nuklir bukan sekedar ilmu pengetahuan biasa, ia adalah geopolitik, ia adalah masa depan energi, dan ia adalah teknologi yang sangat ekslisif. Di Indonesia wacana PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) pasang surut seperti gelombang laut selatan. Nata merasa energinya akan padam jika ia hanya menunggu di zona nyaman.
Bahwa nuklir adalah geopolitik, bisa kita baca dan lihat pada awal bagian tulisan ini. Bagaimana pertemuan Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin topik pembahasannya adalah tentang teknologi nuklir dan pemanfaatnnya bagi Indonesia. Demikian pula pembahasan delegasi Indonesia dengan Direktur Utama Rosatom Alexey Likhachev, perusahaan industri nuklir milik Rusia. Dalam buku ini di halaman 34 juga menulis tentang Rosatom dan diplomasi nuklir Rusia.
“Kini melalui perusahaan negara Rosatom, Rusia menguasai hampir 40 persen pasar pengayaan uranium dunia dan sedang membangun puluhan reaktor di Turki, Mesir, India hingga Bangladesh. Rusianya menjadi satu-satunya negara yang menawarkan solusi “kunci kontak” dari pembangunan, penyedian bahan bakar, hingga pengolahan limbah”.
Itu pula alasan Nata memilih berkuliah di negeri beruang merah untuk belajar teknik nuklir. Dosennya saat kuliah di STTN bertanya, “Ta kenapa tidak ke Amerika atau Prancis?” pertanyaan itu saat akan melanjutkan jenjang pendidikan ke strata dua (S2).

Nata menjawab, setelah melakukan riset mendalam ia menemukan jawabannya. Amerika memang pionir, Prancis adalag penguasa energi nuklir Eropa, namun ada satu negara yang memiliki karakteristik unik yang mirip dengan ambisi Indonesia, negara itu adalah Rusia.
Rusia bukan hanya membangun reaktor; mereka membangun ekosistem. Mereka memiliki siklus bahan bakar yang tertutup, teknologi Fast Neutron Reactor yang terdepan, dan paling penting mereka memiliki VVER (Vodo-Vodyanoi Energetichesky Reaktir)—reaktor air tekan yang menjaga standar emas keamanan pasca Chernobyl.
“Aku ingin ke tempat di mana nuklir bukan sekedar pilihan energi, tapi identitas nasional”, gumam Nata. Pilihan itu jatuh pada MEPhI (Moscow Engineering Physics Institute). Sebuah institut yang sangat tertutup, tempat para ilmuwan Soviet merancang hulu ledak sekaligus kedamaian lewat energi atom.
Ayam Geprek di Rusia
Selain tentang teknik nuklir, dalam buku ini Nata juga menceritakan perjuangan hidup selama bersekolah di Rusia. Walau mendapat beasiswa dari Pememrintah Rusia, namun dengan uang saku yang terbatas, memang membuat dirinya harus memutar otak agar tetap bisa bertahan hidup di Rusia, salah satunya denganmengajar bahasa Inggris basic secara online/offline. Nata menawarkan jasa mengajar bahasa Inggris dengan biaya relatif murah jika di-kurs-kan ke Rupiah sebesar 200.000 – 250.000/ 2 jam.
Selama berjuang di Moskwa, Nata juga berwirausaha kuliner ayam geprek. Nata memulainya dengan menawarkan katering kepada mahasiswa Indonesia di ibu kota Rusia ini, seperti nasi ayam geprek, lontong opor, soto, sate dan martabak. Semua itu ia tawarkan melalui platform media sosial Instagram. Harganya satu porsi dalam Rupiah, 25.000 – 45.000 atau satu porsi ayam geprek dijual dengan harga 350 rubel. Harga yang cukup murah bagi mahasiswa namun memberikan margin keuntungan bagi Nata. Pemasarannya melalui grup WhatsApp “Persatuan Perut Lapar Moskow”.
Dalam buku yang berukuran 14 x 20 cm, Winata Kusuma mengirim pesan kepada anak-anak Indonesia tentang memutus mata rantai ketidakmungkinan. “Saya adalah bukti hidup bahwa garis kemiskinan bukanlah sebuah takdir yang dikunci dengan gembok baja. Saya lahir dari rahim seorang ibu tunggal yang kekuatannya melampaui baja tahan karat reaktor mana pun. Kami pernah hidup di rumah petak di mana saura hujan terdengar lebih keras dari percakapan kami sendiri. Di sana doa-doa Ibu saya terbang setiap malam, melewati atap seng yang berlubang, menembus awan tropis, dan tanpa saya sadari, doa itu mendarat di langit Moskow yang membeku”.
“Moskow telah mengajarkan saya bahwa es yang paling tebal sekalipun akan retak jika ditekan terus-menerus dengan panas yang stabil. Kegagalan hanyalah variabel sementara dalam eksperimen panjang yang kita sebut kehidupan”.
“Dunia mungkin sedang gelap, tapi kamulah yang memegang saklar cahayanya. Berdirilah tegak, hadapi badai dan jadilah nyala yang tak kunjung padam”. Demikian pesan Winata Kusuma dalam buku “Di Bawah Reaktor Salju” yang baru saja terbit pada Mei 2026.
Jika Anda tertarik untuk menekuni ilmu teknik nuklir dan perjuangan hidup selama berkuliah di Moskow (Rusia) maka buku ini layak dibaca. (maspril aries)





