Diskusi Era Baru secara luring dan daring. (FOTO: Dok Era Baru)
KINGDOMSRIWIJAYA – Sebuah wadah atau organisi yang peduli pada lingkungan hidup hadir di Sumatera Selatan (Sumsel). Lembaga yang berpusat di Palembang ini Bernama “Era Baru” yang mengusung tagline “Arus Perubahan Iklim”.
Lembaga atau organisasi ini digagas beberapa orang wartawan senior, advokat senior, akademisi, dan aktivis lingkungan ini segera akan mendeklarasikan diri pada waktu dekat. “Kita sedang menjadwalkan waktunya”, kata Bangun P Lubis wartawan senior yang juga menjadi ketua di Era Baru, Kamis, 11 Juni 2026.
Ada yang menarik pada keanggotaan Era Baru, adanya keikutsertaan Rosihan Arsyad, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) periode 1998 – 2003. Kemudian ada akademisi dan pakar komunikasi Profesor Isnawijayani dan Yenrizal, ada advokat senior Bambang Hariyanto serta wartawan senior yang pernah menjabat Ketua DPRD Ogan Ilir, Iklim Cahya.
Nama-nama lain yang bergabung di Era Baru, di antarnya, Karan, Nora Juwita, Tedy Dwi Fani, Abriza, Salamah Syahabudin, Mas Mugiarto, Muhammad Husni dan Aina Rumiyati Aziz.
Sebagai kegiatan awal menuju deklarasi menurut Bangun Lubis, Era telah mengadakan diskusi perdana bertempat di kantor advokat Bambang Hariyanto atau BHP Law Firm. “Diskusi perdana ini juga berlangsung secara online dengan diikuti Pak Rosihan langsung dari Jakarta”, ujarnya.
Rosihan Arsyad yang menjadi pembicara pertama pada diskusi menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan hidup atau kondisi bumi di Indonesia. Ada yang menarik disampaiknya, khusus di Sumsel masalah kebakaran hutan dan lahan. “Waktu saya masih sekolah SD dan SMP di Sumsel sudah ada terjadi kebakaran hutan dan lahan, namun tidak seperti sekarang dalam jumlah skala yang luas”, ujarnya.
Laksamana bintang dua dari TNI AL itu bercerita, pada masa dirinya memimpin Sumsel, upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah dilakukan bekerjasama dengan Uni Eropa. “Selain mengatasinya tindakan memadamkan api di lapangan juga dilakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pelajar. Pada masa itu Dinas Pendidikan memasukan muatan local berupa pendidikan lingkungan untuk Pendidikan dasar atau SD. Bersama Uni Eropa Pemprov Sumsel menerbitkan buku untuk siswa dan guru SD bernama Desa Ilalang”, katanya.
Buku berjudul “Desa Ilalang” terdiri dari buku untuk siswa dan buku untuk guru. Bukunya digunakan untuk Pelajaran siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Buku yang menjadi legacy dari Gubernur Rosihan Arsyad tersebut berupa buku Pendidikan Lingkungan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan yang ditulis Muhamad Idris Bersama S.Porte, JM Bompard, keduanya staf FFPCP – Uni Eropa.
Buku Desa Ilalang setebal 75 halaman hadir saat Sumsel menghadapi karhutla sebagai ancaman serius terhadap degradasi sumber daya alam sekaligus pencemaran lingkungan.
Menurut Rosihan, upaya penanggulangan kebakaran berupa pemadaman tidak akan mengembalikan sumber daya dan keanekaragaman hewani dan hayati yang hilang. “Untuk itu upaya penyadaran masyarakat secara sistematis merupakan Langkah strategis untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik pada masa depan”, ujarnya.
Gerakan Era Baru
Sementara pada diskusi, Ketua Era Baru, Bangun Lubis merangkum isi diskusi. Menurutnya, di tengah semakin seringnya banjir melanda permukiman, suhu udara yang terasa kian menyengat, berkurangnya ruang hijau di perkotaan, serta meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan, sebuah pertanyaan besar muncul di benak banyak orang: sampai kapan bumi mampu bertahan jika manusia terus mengabaikan tanda-tanda yang diberikan alam?

Pertanyaan itu menjadi titik temu bagi sejumlah akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, dan insan media yang berkumpul pada pertemuan yang berlangsung secara luring dan daring di BHP Law Firm. “Hari ini yang terjadi bukan sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi melahirkan sebuah tekad bersama yang kemudian dirumuskan dalam Gerakan Era Baru – Arus Perubahan Iklim”, katanya.
Menurut Bangun Lubis yang sebelumnya aktif sebagai jurnalis Harian Suara Pembaruan, Gerakan ini hadir bukan sebagai organisasi lingkungan biasa. Ia lahir sebagai sebuah gerakan moral dan gerakan peradaban yang berupaya mengajak masyarakat melihat perubahan iklim bukan sekadar isu ilmiah atau agenda pemerintah, melainkan persoalan kehidupan sehari-hari yang menyentuh masa depan semua orang.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh dari latar belakang yang beragam, mulai dari akademisi hingga aktivis sosial. Mereka dipersatukan oleh satu kesadaran yang sama: perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para peserta menyadari bahwa berbagai fenomena yang selama ini dianggap biasa sesungguhnya merupakan bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi. Cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi, kualitas udara yang menurun, pencemaran sungai, hingga menyusutnya kawasan hijau merupakan tanda bahwa hubungan manusia dengan alam sedang menghadapi ujian serius.
Namun alih-alih terjebak pada pesimisme, pertemuan itu justru melahirkan optimisme baru. Sebuah keyakinan bahwa perubahan besar tetap mungkin diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama.
Pendidikan Titik Awal Perubahan
Salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam manifesto Gerakan Era Baru adalah menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama perubahan.
Para peserta menilai bahwa kesadaran lingkungan tidak bisa dibangun secara instan. Ia harus ditanamkan sejak usia dini dan tumbuh menjadi bagian dari budaya masyarakat.Di masa depan, sekolah dan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mengajarkan teori tentang lingkungan, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata. Misalnya melalui kebun sekolah, program adopsi pohon, laboratorium ekologi sederhana, hingga gerakan “satu siswa satu tanaman” yang dapat dipantau pertumbuhannya sepanjang tahun ajaran.
Ide lain yang mengemuka adalah perlunya membangun “Generasi Hijau Digital”—kelompok anak muda yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga lingkungan. Mereka tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga agen perubahan yang mendokumentasikan kondisi lingkungan, mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan, dan menyebarkan inspirasi kepada masyarakat luas.
Para peserta sepakat bahwa diskusi dan seminar memiliki peran penting dalam membangun kesadaran, tetapi tidak boleh berhenti di sana.
Gerakan lingkungan harus hadir dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Mulai dari penanaman pohon, penghijauan kawasan permukiman, gerakan bersih kampung, pembersihan pasar tradisional, sekolah, kampus, kantor, hingga sungai-sungai yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Di era digital saat ini, aksi nyata juga dapat diwujudkan melalui pendekatan yang lebih kreatif. Misalnya dengan menciptakan kompetisi kampung hijau berbasis aplikasi, gerakan pelaporan titik sampah melalui ponsel, hingga pemanfaatan teknologi pemetaan sederhana untuk memantau kondisi lingkungan di sekitar warga.
Konsep ini menjadi menarik karena menghubungkan kepedulian lingkungan dengan inovasi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Menjaga Musi
Dalam manifesto tersebut, perhatian khusus diberikan kepada sejumlah kawasan strategis di Sumatera Selatan seperti Taman Nasional Sembilang, kawasan hutan, lahan basah, rawa, pesisir, dan terutama Sungai Musi.
Bagi masyarakat Sumatera Selatan, Musi bukan sekadar sungai. Ia adalah identitas, sejarah, sumber kehidupan, sekaligus wajah daerah yang telah menjadi saksi perjalanan peradaban selama ratusan tahun.

Namun, seperti banyak sungai besar lainnya di Indonesia, Musi menghadapi berbagai tantangan mulai dari pencemaran, sedimentasi, hingga tekanan pembangunan.
Karena itu, para peserta mendorong lahirnya gerakan “Sahabat Musi”, sebuah semangat kolaboratif yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dunia usaha, media massa, dan masyarakat untuk menjaga kebersihan serta kelestarian sungai tersebut.
Bayangan masa depan yang ingin diwujudkan adalah Musi yang bersih, sehat, dan menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus destinasi wisata berkelanjutan.
Salah satu pesan yang paling kuat dalam manifesto Gerakan Era Baru adalah pentingnya keteladanan.
Menurut para penggagas gerakan, perubahan besar selalu dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, menghemat listrik, menanam pohon di halaman rumah, hingga menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.
Dalam konteks ini, setiap individu sesungguhnya adalah pemimpin perubahan.
Bumi tidak hanya membutuhkan kebijakan besar atau proyek raksasa. Ia juga membutuhkan jutaan tindakan kecil yang dilakukan oleh masyarakat setiap hari.
Gerakan Era Baru juga menegaskan bahwa menjaga bumi bukanlah tugas satu kelompok tertentu. Pemerintah memiliki peran dalam menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian dan inovasi. Dunia usaha dapat memperkuat upaya pelestarian lingkungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Sementara itu, media massa berperan sebagai penyebar informasi dan pembangun kesadaran publik. Kolaborasi lintas sektor inilah yang diyakini mampu menciptakan perubahan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, pengalaman WARSI dengan pendekatan “Konservasi Bersama Masyarakat” juga mendapat apresiasi karena menunjukkan bahwa pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
Ketua Umum Gerakan Era Baru – Arus Perubahan Iklim, Bangun Lubis, menegaskan bahwa gerakan ini hadir untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus melahirkan budaya baru yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, perubahan besar tidak pernah lahir dari satu orang, melainkan dari kebersamaan, keteladanan, dan konsistensi yang dijaga dalam jangka panjang. Pernyataan tersebut seolah menjadi penutup sekaligus awal dari perjalanan panjang sebuah gerakan yang baru lahir.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, Gerakan Era Baru – Arus Perubahan Iklim menawarkan harapan bahwa perubahan masih mungkin dilakukan.
Harapan itu tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari kesediaan banyak pihak untuk bergerak bersama.
Dengan mengusung semangat “Bumi Terjaga, Masa Depan Terpelihara”, gerakan ini ingin mengingatkan bahwa bumi yang kita tempati hari ini bukanlah warisan dari generasi sebelumnya, melainkan titipan yang harus diserahkan kembali kepada generasi yang akan datang dalam kondisi yang lebih baik.
Dan mungkin, dari sebuah ruangan sederhana di Palembang, sebuah arus perubahan baru sedang mulai mengalir—arus yang mengajak manusia kembali berdamai dengan alam, sebelum waktu benar-benar terlambat. (maspril aries)






