Home / Olahraga / Visioner Alex Noerdin tentang Ide yang Belum Terwujud: Sirkuit MotoGP di JSC (Bagian 1)

Visioner Alex Noerdin tentang Ide yang Belum Terwujud: Sirkuit MotoGP di JSC (Bagian 1)

Ilustrasi pembalap, lintasan dan tribun penonton sirkuit Jakabaring Sport City. (FOTO: Ilustrasi AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – TGB Muhammad Zainul Majdi mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) di laman media sosialnya (FB dan IG) menuliskan kembali kenangannya dengan almarhum Alex Noerdin (Gubernur Sumatera Selatan 2008 – 2018) yang meninggal dunia 25 Februari 2026, isinya sebuah dialog ringan yang menarik:

“Tuan guru, itu gimana ceritanya kok sirkuit saya diambil?” 

“Ya bagi-bagi lah Bang. Kan abang sudah banyak fasilitas di Sumsel”.

Itu salah satu dialog ringan saya dengan Almarhum Bapak H. Alex Noerdin Gubernur Sumsel 2008-2018.

Bang Alex protes karena dia sudah berjuang supaya sirkuit internasional dibangun di Palembang tapi malah jadinya di Lombok. Sirkuit itu sekarang dikenal dengan sirkuit Mandalika”.

Dialog ringan yang ditulis TGB (Tuan Guru Bajang) menjadi bukti nyata tentang visioner seorang kepala daerah, seorang gubernur atau seorang tokoh bernama Alex Noerdin yang menjabat Gubernur Sumsel dua periode masa jabatan, tahun 2008 – 2013 dan 2013 – 2018.

Dialog itu sekaligus cermin seorang visioner yang yang berani “menantang ketidakmungkinan” — yang berjuang untuk mewujudkan ide atau mimpi tentang sirkuit MotoGP ada di Sumatera Selatan (Sumsel) tepatnya di komplek Jakabaring Sport City (JSC).

Untuk mewujudkan mimpi itu Alex Noerdin sudah terbang ke Jerman, bertemu dengan arsitek sirkuit yang legendaris, Hermann Tilke, kemudian bertemu dan berunding dengan bos Dorna Sports Carmelo Ezpeleta di Sepang, Malaysia. Sekaligus menyiapkan lay out sirkuit di atas lahan 120 hektar di kawasan Jakabaring.

Namun pada akhirnya, mimpi itu harus “dibagi”—bukan karena kegagalannya mewujudkannya, melainkan karena roda politik dan prioritas pembangunan nasional yang berubah. Pada 28 Januari 2019, Dorna Sports SL dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) menandatangani Promoters’ Contracts di Madrid. MotoGP Indonesia resmi diumumkan akan digelar di Sirkuit Mandalika, Lombok, NTB, mulai 2021.


Ilustrasi pembalap, lintasan dan tribun penonton sirkuit. (FOTO: AI)

Pada pelaksanaan tahun 2025, MotoGP Mandalika sukses mencatat rekor 140.324 penonton dan menghasilkan perputaran ekonomi Rp4,8 triliun, kemudian lahir pertanyaan: Bagaimana jika Alex Noerdin berhasil mewujudkan lebih dulu? Bagaimana jika sirkuit itu jadi dibangun di Jakabaring, Palembang?

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/732561/jakabaring-sport-city-rosihan-arsyad-membangun-syahrial-oesman-melanjutkan-alex-noerdin-menyempurnakan/

Alex Noerdin Visioner

Ini adalah kisah tentang seorang pria yang berani bermimpi besar—dan mimpi yang kandas bukan karena ketidakmampuannya, melainkan karena takdir yang berkata lain.

Pada 2008, Alex Noerdin dilantik sebagai Gubernur Sumatera Selatan untuk periode kedua kalinya. Di tengah euforia kemenangan politiknya, ia menyimpan visi besar yang terdengar seperti khayalan, mengubah Palembang dari sekadar kota bersejarah, kota tertua di Indonesia menjadi episentrum olahraga dunia. Bagi Alex, olahraga bukan sekadar hiburan. Ia adalah instrumen diplomasi paling tajam untuk mengangkat marwah daerah.

“Membangun fasilitas olahraga berstandar dunia bukan sekadar soal kemegahan fisik, melainkan investasi harga diri bangsa yang akan dikenang lintas generasi”, katanya dalam sebuah wawancara tahun 2011. Titik balik itu terjadi pada 2009. Ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games 2011, Jakarta dijadwalkan menjadi tuan rumah utama. Namun Alex Noerdin mengajukan proposal berani, “Sumatera Selatan siap menjadi tuan rumah tunggal”.

Kemudian keraguan datang dari berbagai pihak. Sumsel boleh menjadi provinsi pertama di luar Jawa pasca reformasi yang menyelenggarakan PON (Pekan Olahraga Nasional) pada 2004, tapi SEA Games adalah level berbeda. Ajang internasional dengan delegasi dari 11 negara Asia Tenggara, dengan standar venue yang sangat ketat, dalam waktu persiapan yang sangat singkat.

Alex tidak gentar. Di bawah komandonya, kawasan Jakabaring—yang semula merupakan hamparan rawa gambut terisolasi yang sering dianggap “kawasan tak bertuan”—bermetamorfosis dalam waktu kurang dari dua tahun. Sejak saat kawasan seluas 325 hektar lahan rawa menjadi kompleks olahraga terpadu terbaik di Asia Tenggara.

Pada SEA Games 2011, Alex membangun dan merevitalisasi sejumlah venue dalam waktu yang cepat. Aquatic Center dengan sertifikasi FINA (Fédération Internationale de Natation), Stadion Atletik dengan lintasan sintetis standar IAAF, Lapangan Tembak dengan sistem sasaran elektronik tercanggih di Indonesia—semua berdiri megah di atas lahan yang dulu tergenang air. Jakabaring Sport City (JSC) menjadi kebanggaan nasional. Namun bagi Alex, SEA Games hanyalah pijakan. Target sebenarnya jauh lebih tinggi, Asian Games dan MotoGP.


Penampang rencana lokasi Sirkuit MotoGP di Jakabaring Sport City, Palembang. (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

Misi Rahasia ke Markas Hermann Tilke

Pada Oktober 2016, Alex Noerdin melakukan langkah berani yang mengejutkan dunia otomotif Indonesia. Ia tidak hanya “berniat” menggelar MotoGP — ia benar-benar terbang ke Jerman untuk bertemu langsung dengan Hermann Tilke, arsitek legendaris pembuat sirkuit Formula 1 dan MotoGP kelas dunia.

Hermann Tilke bukan sembarang desainer. Ia adalah “arsitek resmi” Dorna Sports dan FIA, pencipta Sirkuit Sepang Malaysia (1999), Sakhir Bahrain (2004), Shanghai China (2004), Istanbul Park Turki (2005), Marina Bay Singapura (2009), Yas Marina Abu Dhabi (2009), Circuit of the Americas Amerika Serikat (2012), dan belasan sirkuit elite lainnya. Dari 19 sirkuit Formula 1 yang aktif, 16 di antaranya adalah karya Tilke.

“Sumsel sangat serius dengan MotoGP”, kata Alex dalam sebuah konferensi pers di Palembang, 4 Oktober 2016. “Hermann Tilke ini membangun 16 sirkuit dari total 19 sirkuit Formula 1 yang ada. Kami ingin yang terbaik untuk Sumatera Selatan”. Pertemuan di Jerman itu bukan sekadar silaturahmi. Alex membawa misi konkret, meminta Tilke mendesain sirkuit MotoGP di Jakabaring. Ia membawa data topografi, studi kelayakan, dan komitmen anggaran dari Pemprov Sumsel. Tilke, yang terkenal selektif dalam menerima proyek, tertarik dengan antusiasme Alex.

Jauh sebelum Mandalika diresmikan, Alex Noerdin adalah orang pertama yang bergerak secara konkret. Ia tidak hanya berwacana. Alex dikenal sebagai kepala daerah yang “tak tahu cara mengetuk pintu pelan-pelan”. Jika ia menginginkan sesuatu untuk Sumsel, ia akan mendobraknya.

Strategi Alex sangat jelas, “Gandeng orang terbaik di dunia. Maka, ia mengundang dan bertemu Hermann Tilke, “tangan dingin” di balik sirkuit-sirkuit legendaris F1 dan MotoGP.

Beberapa kali pertemuan Alex Noerdin dengan Hermann Tilke di Jerman dan beberapa kali di Palembang adalah bukti keseriusan. Tilke, yang biasanya bekerja untuk proyek triliunan rupiah milik negara-negara kaya minyak, dibuat terkesan oleh kegigihan Alex. Tilke bahkan sempat turun langsung meninjau lahan seluas 120 hektar di samping danau ski air Jakabaring.

Desain pun dibuat. Layout sirkuit Jakabaring rancangan Tilke memiliki panjang sekitar 4,314 kilometer (4.314 meter) dengan total 14 tikungan (8 kiri, 6 kanan). Sirkuit ini didesain berlawanan arah jarum jam (anti-clockwise) dengan lintasan lurus terpanjang mencapai 750 meter.  Karakteristiknya, dirancang sebagai sirkuit high speed dengan rata-rata kecepatan tinggi. Tilke pun memuji Jakabaring karena memiliki keunikan yang tidak dimiliki sirkuit lain: terletak di tengah kota dan terintegrasi dengan kompleks olahraga yang sudah ada.

Pada 2022 saat meninjau calon lokasi sirkuit di JSC, Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo menyampaikan bahwa desain sirkuit MotoGP di Jakabaring sudah ada dan dibuat Hermann Tilke. “Keberadaan Sirkuit Jakabaring nantinya akan melengkapi keberadaan Sirkuit Sentul yang berada di Pulau Jawa, serta Sirkuit Mandalika yang berada di NTB sebagai representasi Indonesia bagian timur. Penyebaran sirkuit dari mulai Sumatera hingga Indonesia Timur akan berdampak positif bagi kemajuan prestasi atlet balap Indonesia, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai tuan rumah berbagai kejuaraan balap dunia,” Bamsoet yang juga waktu itu menjabat Ketua MPR.


Suasana sirkuit Mandalika pada MotoGP 2025. (FOTO: www.themandalikagp.com)

Tilke secara resmi menerima kontrak untuk mendesain sirkuit internasional di JSC. Desain awal menunjukkan lintasan mengitari danau buatan yang ada di Jakabaring yang indah, dengan konsep “natural stadium” mirip Sirkuit Sepang—dikelilingi vegetasi dan bukit-bukit buatan untuk tribun penonton. “Ini akan menjadi salah satu sirkuit paling indah di dunia”, kata Tilke dalam presentasi desainnya kepada Alex Noerdin. “Lokasi di tepi danau memberikan karakter unik yang tidak dimiliki sirkuit lain di Asia Tenggara”.

Perjuangan Alex tidak berhenti di Jerman. Kembali ke Palembang, ia menghadapi tantangan yang lebih berat, skeptisisme publik dan politisi. “MotoGP? Apa benefit-nya untuk rakyat Palembang?” tanya seorang anggota parlemen daerah. “Itu hanya mimpi mahal yang tidak realistis”, sindir pengamat politik lokal di media.

Alex tidak membantah dengan kata-kata. Ia membantah dengan data. Ia menunjukkan contoh Malaysia, Sirkuit Sepang yang dibangun dengan biaya 286 juta Ringgit Malaysia (sekitar 12 juta dolar AS) pada 1999 telah menghasilkan puluhan miliar dolar dalam 20 tahun terakhir. MotoGP Sepang menjadi destinasi wisata unggulan dengan 166.486 penonton pada 2017—23,81 persen di antaranya adalah wisatawan Indonesia yang mengeluarkan uang di Malaysia, bukan di Indonesia.

Kalau membangun sirkuit MotoGP tidak manfaatnya, mengapa Presiden Joko Widodo merestui Indonesia melaksanakan MotoGP di Mandalika? Pada 30 Oktober 2016, Alex melakukan langkah diplomatik penting. Ia terbang ke Malaysia, datang ke Sirkuit Sepang, untuk menonton MotoGP Malaysia secara langsung. Namun tujuannya bukan hiburan—ia diundang Dorna Sports untuk bertemu CEO-nya, Carmelo Ezpeleta. Di ruang VIP Sirkuit Sepang, Alex Noerdin dan Carmelo Ezpeleta berjabat tangan. Ezpeleta, pria berkepala plontos dengan kacamata khasnya, adalah “penguasa” MotoGP. Sebagai CEO Dorna Sports, ia memegang kunci siapa yang boleh masuk kalender MotoGP dan siapa yang tidak. Alex Noerdin meyakinkan Dorna bahwa Palembang punya pengalaman mengelola ajang internasional lewat SEA Games 2011 dan persiapan Asian Games 2018.

MotoGP sendiri bukan sekadar even olahraga. Ia adalah ekosistem global yang hak komersialnya dipegang oleh Dorna Sports. CEO-nya, Carmelo Ezpeleta, adalah figur sentral yang menentukan kalender balap dunia.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan prinsip, Sumatera Selatan siap menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia 2018. Alex menandatangani preliminary contract dengan Dorna, dengan komitmen pembangunan sirkuit akan dimulai segera. “Palembang to Boast MotoGP Race in 2018” begitu judul berita Jakarta Globe pada 1 November 2016.  (maspril aries)

Bersambung ke bagian 2.

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *