Oleh: Riyadi Oyad
Kadang-kadang aku sulit membedakan antara suara dari luar dan suara dari dalam. Dokter bilang yang dari dalam tidak selalu jahat tapi yang dari luar sering kali lebih kejam jadi aku memilih mempercayai yang lebih tegas.
Kami sedang pindah, rumah baru kami kembali ke Rumah Susun—di Blok Kecik, antara Cinde dan Blok Besak. Kata Mama ini yang terakhir kali.
Pindah ke blok baru adalah lompatan besar bagi anak Rusun. Kau tercerabut dari wilayah kekuasaanmu dan dilempar ke blok “aku tak kenal kau” di mana setiap anak bisa jadi musuh. Bahkan ketika blok itu dihuni oleh orang-orang sekaummu sendiri, kau tetap dianggap orang luar yang harus membuktikan dirinya sebagai jagoan yang punya nyali.
Ketika mobil pindahan berhenti di depan gedung baru kami, blok 13, terlihat sangat familiar sebab tampak mirip blok-blok sebelumnya temboknya lembap, catnya mengelupas, lorong panjangnya bak lorong gelap yang meredam jerit, kami semua sudah berdiri di sana menunggu—Mama, Papa, Kakak perempuan, Gum, Oyad, Egust, dan aku. kami berpura-pura tak memperhatikan anak-anak setempat yang mengamati kami, terutama aku, mereka berdiri di sana ketika mobil berhenti atau mungkin mereka memang selalu berdiri di sana untuk mengawasi. — sekarang umur ku sudah masuk usia geng. Aku membaca wajah-wajah mereka dan tak menemukan kepercayaan sedikit pun; yang ada hanya kecurigaan dan kilatan kebencian yang mulai tumbuh. Aku berkata pada diriku sendiri, anak-anak ini bukan siapa siapa. Cuma ingin tahu saja.
Papa pernah bilang bahwa aku terlalu sering melihat sesuatu yang belum tentu ada. Tapi tatapan mereka itu nyata aku bergerak ke kiri mata mereka ke kiri, aku bergerak ke kanan mata mereka juga ke kanan. Aku bisa menyaksikan mereka membicarakanku kadang tanpa suara sekalipun. Bibir mereka tidak bergerak, kadang ditutup menggunakan telapak tangan, tapi aku mendengarnya aku mendengarnya dengan jelas.
Dan aku teringat apa yang terjadi padaku di blok lamaku. Mereka bilang aku terlalu keras memukul sesuatu yang tak memukul balik. Sebab aku adalah jagoan tak akan pernah kuberikan kesempatan pada siapapun untuk memukulku. meski pada akhirnya semuanya berakhir dengan aku terbaring di rumah sakit.
Blok ini tampak keras. Bagus. Keren. Tapi wilayah lamaku juga keras. Aku tangguh, suara dalam diriku berkata. Semoga aku cukup tangguh. Aku memang cukup tangguh. Aku punya banyak hati—banyak keberanian. Di mana pun aku berada, berpijak, bertambat di situ aku menjadi rajanya. Aku berani bertarung sampai mati. Aku bukan cuma bisa bertahan, aku akan hidup—tidak akan tumbang, tidak akan mati, tetap melangkah gahar; santai, tenang, halus. Pikiranku berlari kencang, dan pikiran-pikiran itu saling bertabrakan, berusaha menyusun diri menjadi pola yang menjaga reputasi. Perlahan aku berbalik, dengan kelopak mata setengah terpejam, memandang para penguasa dunia baru ini dengan anggukan bahu yang dingin dan cuek. Aku mengikuti para tukang angkut masuk ke lorong gedung blok 13 dan menepis perang yang mulai berkecamuk di kepalaku.
Keesokan paginya aku pergi ke sekolah baruku, bernama STM 1, dan tatapan-tatapan asing yang tajam mengikuti langkahku.
“Oi, jok,” sebuah suara memanggil—belakangan aku tahu itu milik Anang — “Mana wilayahmu?”
Dengan nada yang sama seperti yang ia pakai, aku menjawab, “Lagi kupegang, cees. Ada apa?”
“Gahar, ya?” Ia setengah tersenyum.
“Tidak selalu. Kadang lembut kalau lagi santai, dan jadi bahaya kalau lagi buruk suasana hati.”
“Siapa namamu, bocah?”
“Tergantung. ‘Kimel’ kalau lagi halus, dan ‘Kiki Mawar’ kalau waktunya injak injak.”
“Sekarang namamu siapa?” desaknya.
“Terserah kau saja yang kasih nama,” jawabku, memainkan peranku seperti jagoan.
Ia melirik sekeliling, dan tanpa banyak kata, anak-anak buahnya berdatangan. Anak anak yang kelak akan kukenal—untuk bertarung, untuk dibenci, untuk disayangi, untuk dijaga. Cela, Anang, Pardes Kecil, Radit, Candra, Edi, Raihan, dan banyak lagi. Mereka terlihat Terlalu rapi dan terlalu kompak. Bagaikan bayangan yang tahu tempatnya masing masing. Aku menegakkan badan dan berkata dalam hati. Waktunya injak-injak, Kimel. Melangkahlah dengan hati-hati.

Kusentuh knuckle duster di sakuku—buku-buku jari besi rakitanku sendiri. Benda itu ampuh untuk meremukkan perlawanan besar menjadi potongan-potongan kecil.
Anang, berdiri mantap di posisi pemimpinnya, berkata, “Nanti kami yang kasih nama buatmu, tuan.” Aku tidak menjawab. “Takut, ya!”—tapi wajahku tetap kaku sampai akhir. Dalam hati aku berpikir, Tenang saja, tuan.
Tak perlu waktu lama. Tiga hari kemudian, sekitar pukul enam sore, Anang dan anak anaknya duduk-duduk di tangga depan rusun blok 16. Jalanku ke blok 13 terputus. Sesaat aku berpikir, Kabur saja lewat tangga basement dan lari menembus halaman belakang—yang penting selamat! Lalu pikiran lain menyambar, Kampang! Lebih baik hidup sebagai pengecut atau mati sebagai pemberani? Aku bukan anak cengeng. Aku tak tunduk pada siapa pun. Aku terus berjalan—neraka menyala-nyala di dada, darah berputar deras. Terus melangkah, kawan, terus melaju tanpa takut. Kira-kira dia bakal panggil aku apa? ketika sepapasan.
“Gimana kabarnya, Tuan Kiki Mawar?” seru Anang dengan nada mengejek.
Pikir, jok, kataku pada diri sendiri, cari jalan keluar dari injak-injakan ini. Bikin yang bagus. “Kudengar anak-anak keren Blok Kecik katanya punya nyali,” kataku. “Aku sih tak tahu pasti. Tapi ada banyak jalan di mana satu ‘klik’ isinya cuma bocah-bocah pengecut yang tidak bisa ngadepin satu orang kecuali keroyokan buat injak-injak.” Aku berharap kalimat itu memancing Anang untuk memberi duel satu lawan satu. Wajahnya tak berubah.
Ia mengangkat dagunya, bahunya tegap, kedua tangannya terbuka seolah menantang, sambil berkata “Mungkin kami tak melihatnya begitu.”
Gila, men. Aku bersorak dalam hati. Dia masuk perangkapku. Kita lihat siapa yang babak belur duluan, sayang. “Aku bukan ngomong sama kamu,” kataku. “Di tempat asalku, kepemimpinan itu jadi pemimpin karena dia punya nyali kalau urusan beres-beres.”
Anang mulai tampak gelisah. Ia sudah menggigit umpanku dan merasa seperti ikan bodoh yang terpancing. Anak-anak buahnya kini tak lagi terlalu menekaniku. Mereka tak lagi terlalu tertarik untuk menginjak-injakku, melainkan ingin melihat bagaimana akhirnya antara aku dan Anang. “Ya,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum padanya. “Kau coba pahami di mana posisiku dan sekarang kau sudah membuatku tertarik padamu. Aku ingin tahu sebenarnya kau ada di posisi mana.”
Anang ragu sepersekian detik sebelum menjawab, “Ya.”
Aku tahu aku sudah menang. Ya, aku tetap harus berkelahi, tapi hanya satu lawan satu bukan sepuluh atau lima belas orang. Kalau kalah, mungkin aku tetap akan diinjak-injak. Kalau menang pun, mungkin tetap saja diinjak. Tapi setidaknya ini sudah kuatur lewat kalimatku berikutnya. “Aku nggak kenal kamu atau anak-anakmu,” kataku, “tapi menurutku mereka kelihatan keren. Nggak tampang pengecut.”
Sengaja aku tidak memasukkan dia saat mengatakan “mereka.” Sekarang anak buahnya berada di kelas yang berbeda. Aku sudah memisahkannya dari mereka. Ia harus melawanku sendirian untuk membuktikan nyalinya pada dirinya sendiri, pada anak buahnya, dan yang paling penting, pada wilayahnya.
Angin sore tidak bergerak. Aneh. Tidak ada suara ibu-ibu, tidak ada suara televisi dari jendela rusun. Padahal biasanya jam segini lorong selalu ribut. Tapi hari itu hanya ada kami atau mungkin hanya ada aku.
“Satu lawan satu, Kiki?”
“Uh-uh,” jawabku. “Sampai habis apa pun boleh.” Aku harus mengalahkannya telak, tapi tidak terlalu telak sampai merampas seluruh wibawanya, pikirku. Ia punya pengaruh— punya nyali. Ia menerjangku. Biarkan dia yang pertama menumpahkan darah, pikirku, ini wilayahnya. Buk! Hidungku langsung berdarah. Anak-anaknya bersorak, nyalinya bersorak, wilayahnya bersorak. “Habisin bocah itu!” seseorang berteriak.
Oke, sekarang giliranku. Ia mengayun pukulan. Aku pura-pura lengah, lalu dahiku menghantam hidungnya. Matanya berkunang-kunang. Kukunya menyasar mataku tapi malah masuk ke mulutku—krek! Aku menggigit keras. Aku meninju mulutnya saat ia menjauh dariku, dan ia menendang dadaku.

Kami terpisah sesaat—hidungku mengucur merah, dadaku berdenyut; jarinya—yah, itu urusannya. Kami kembali saling menghujam pukulan ke badan dan wajah. Kami berguling sampai ke tengah jalan. Aku bergulat demi diterima, sementara ia bertarung untuk menolakku—atau lebih tepatnya, menerimaku dengan syaratnya sendiri. Sudah waktunya memulai perundingan damai. Aku tersenyum padanya. “Kau punya nyali, cees,” kataku.
Ia menjawab dengan pukulan ke kepalaku. Aku menggeram dan membalas, kali ini lebih keras. Tawaran damai harus kudukung dengan kekuatan. Kupukul tulang rusuknya, dan saat kami saling mengunci, buku-buku jariku menggesek telinganya. Kucoba lagi. “Kau bertarung dengan bagus,” kataku.
“Kau juga,” gumamnya, sambil melepaskan diri. Dan begitu saja, perkelahian selesai. Aku merasakan sakit yang nyata, hangat, hidup. Kami bergulat di tengah jalan. Tidak ada yang melerai. Tidak ada orang dewasa. Tidak ada suara selain napas kami.
Tak ada lagi kata-kata. Kami hanya berpisah, tangan setengah terangkat, setengah turun. Jantungku berdegup keras: Reputasimu sudah kau tegakkan. Minggir sedikit, Blok Kecik. Kepakkan sayapmu—sekarang aku anakmu juga.
Aneh sekali sunyinya untuk perkelahian sebesar itu.
Lima detik kemudian, “taji”-ku diberikan sebagai bentuk perkenalan resmi kepada kalangan elite Rusun. Tak ada lagi tatapan kosong. Aku diterima—dengan nyali.
“Siapa nama aslimu, Kiki Mawar?”
“Kimel.”
“Oke, mau gabung sama kami?”
“Ya, kenapa tidak?”
Tapi aku tahu sebenarnya aku sudah bergabung sejak hari pindahan itu, ketika aku menatap mereka dengan tenang. Aku keren, jok, pikirku. Aku bisa saja menghabisi Anang kapan pun. Aku hebat—murni pengaruh. Hidup aku! Aku memang sempat takut, tapi itu sudah lewat. Aku sudah masuk; sekarang ini blokku juga. dan kami berdua berbaring sambil memejamkan mata.
Oh iya Bukan berarti aku bisa santai. Di Rumah Susun, kau selalu hidup di ujung kehilangan reputasi. Cukup sekali saja kehilangan nyali.
Lalu semuanya berhenti, tangga itu kosong. Tidak ada Anang. Tidak ada anak-anak. Tidak ada sorak-sorai dan aku berdiri sendirian, napasku terengah. Tanganku perih. Buku buku jariku berdarah. Di depanku hanya tembok lorong yang retak. “Kimel…” Suara itu lembut. Aku tau ini bukan suara Anang. “Kimel, berhenti.” Aku membuka mata. Langit langit putih. Bau obat. Tanganku dipegang Mama. Papa berdiri di samping ranjang. Ada perban di buku-buku jariku. “Kamu jatuh lagi dari tangga,” kata Papa pelan. “Kamu pukul tembok sampai berdarah.”
“Jangan lupa minum Obatmu!” Raung Papa, sambil menunjuk-nunjuk. Lalu papa di tarik mama keluar.
Blok 13 tetap ada. Tapi tidak pernah ada Anang. Tidak pernah ada duel. Reputasi yang kupertahankan dengan darah itu hanya hidup di kepalaku sendiri. Di Rumah Susun, kau memang selalu hidup di ujung kehilangan nyali. Dan kadang-kadang, musuh paling keras bukan yang berdiri di depanmu melainkan yang tinggal diam di dalam kepalamu. Papa bilang aku harus belajar membedakan mana yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya ingin terlihat sungguh-sungguh. Tapi bagaimana caranya membedakan kalau rasa sakitnya sama? Kalau darahnya sama merahnya?
Di Malam yang berbeda aku terbangun dan menatap langit-langit kamar. Blok 13 sunyi. Aku tersenyum. Besok mungkin aku akan bertemu Anang lagi. Dan kali ini, mungkin aku akan menang lebih telak dan menjadi orang pertama yang berpengaruh di Blok Kecik. (*)
#Cerpen ini untuk dibahas pada “Diskusi Komunitas Kata Kata” Edisi 186, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Pukul: 15.00 – 17.30 WIB. Tempat: Taman POM IX – Palembang.





