Prolog:
Puisi itu dalam tradisi intelektual dan kebudayaan diyakini, bukan sekadar alat estetis untuk mengekspresikan keindahan, tetapi juga menjadi arena protes, catatan sejarah, dan instrumen moral.
Jika Anda kuliah dan duduk di ruangan mempelajari bahasa dan sastra maka Anda akan mendapat penjelasan itu. Buktinya ini, buku kumpulan puisi berjudul “Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” karya Afnan Malay hadir tengah belitan krisis sosial, politik, dan etika yang akut dalam kehidupan bangsa Indonesia kontemporer.
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Ahad malam, 16 November 2025 di Teater Sihombing Taman Ismail Marzuki (TIM) berlangsung “Baca Puisi Perayaan 60 Tahun Penyair Aktivis, Pencipta “Sumpah Mahasiswa” Afnan Malay Peluncuran Buku Kumpulan Puisi Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” yang diadili sejumlah tokoh, ada Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Andi Arief, Marcella Zalianty, Jose Rizal Manua dan lainnya.
Soal semarak dan meriah acaranya jangan ditanya. Ada yang baca puisi dan ada yang memberi testimoni. Sebelum membicarakan puisi Afnan Malay yang pada masa Orde Baru dikenal sebagai aktivis mahasiswa Yogyakarta, mari sejenak menelesuri jejak perjalanan hidupnya. Afnan lahir di Maninjau, tempat sebuah danau yang indah di dalam wilayah Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar)
Maninjau, di Sumatera Barat dalam peta intelektual Indonesia dikenal sebagai wilayah rahimnya para intelektual dan dan pejuang kemerdekaan Indonesia sejak pengujung abad ke-19. Dari sini lahir sejumlah tokoh, seperti Buya Hamka dan Rasuna Said. Afnan Malay yang lahir di Maninjau kemudian mengikuti orang tuanya merantau ke Bandarlampung dari daerah berjuluk Sang Bumi Ruwa Jurai, kemudian menetap di Yogyakarta. Dalam tubuhnya mengalir darah “perantauan intelektual” Minangkabau.

Apa arti “Malay” di belakang namanya? Apakah nama marga atau nama orang tua? Afnan Malay mengingat kepada seorang teman yang bernama Nursalim Malay yang juga berasal dari Bandarlampung. Tak perlu bertanya kepada Afnan apa arti “Malay” di belakang namanya. Jawaban dari pertanyaaan tersebut, Malay melekat sebagai nama suku (pasukuan) di Minangkabau. Di Sumatera Barat, khususnya dalam masyarakat Minangkabau, “Malay” (atau lebih tepatnya “Malayu”) adalah nama salah satu suku atau klan dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau. Selain itu dikenal juga ada suku Tanjuang dan Chaniago. Lengkapnya Afnan Malay bisa menjelaskannya.
Di Yogyakarta Afnan Malay tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah mada (UGM). Ia juga pernah kuliah IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) pada Fakultas Bahasa Prancis (tidak tamat) juga di S-2 Sosiologi UGM (juga tidak tamat).
Perjalanan Maninjau – Bandarlampung (Tanjungkarang) – Yogyakarta mengingatkan pada pepatah Minangkabau: “Karakok madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun”.
Kultur Minangkabau
Pertama kali mengenal Afnan Malay pada saat Ia menjadi aktivis pers mahasiswa bergabung di Majalah Balairung UGM. Pada masa itu bisa jumpa Afnan di Gelanggang (Gelanggang Mahasiswa) Bulak Sumur atau di Blok B21 yang jadi kantor redaksinya Balairung. Perjalanan hidupnya yang monumental sebagai aktivis mahasiswa, selain turun ke jalan adalah dikenal sebagai pencipta teks “Sumpah Mahasiswa” yang selalu dibaca mahasiswa saat beraksi turun ke jalan.
Sebagai penyair yang berasal dari kultur Minangkabau dan pernah terjun langsung dalam medan aktivis mahasiswa pada masa Orde Baru, Afnan Malay dalam puisi-puisinya menawarkan gugatan kultural, politik, dan eksistensial yang mendalam, dan membingkai kegundahan kolektif bangsa.
Afnan Malay adalah figur yang unik dan kompleks dalam peta sastra dan aktivis Indonesia. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat pergi merantau Afnan membawa darah “perantauan intelektual” Minangkabau yang mempercayai bahwa rantau adalah tempat mengasah kecerdasan dan komitmen sosial.

Untuk bisa memahami dan menelaah puisi-puisinya bisa dimulai dengan menyelami isi dari teks “Sumpah Mahasiswa” yang ditulisnya tahun 1988. Ini adalah sebuah deklarasi ideologis mahasiswa Indonesia era anti-Orde Baru. Afnan Malay nyaris selalu memosisikan diri di barisan depan gerakan perubahan di Indonesia. Setelah reformasi 1998 Ia dikenal tetap konsisten sebagai pengamat yang kritis, baik melalui opini terbuka maupun antologi puisi sosial-politik.
Sebagai penyair, Afnan mengakui “suntuk menulis puisi” semenjak masa kuliah, bahkan menyebut bahwa “menulis puisi atau pantun bagi kami seperti menulis biasa saja. Tiap hari kami melakukannya, meski kadang menemukan gaya penulisan yang kontradiktif. Begitu masuk Yogyakarta Ia mengalami pengayaan. Tradisi Minangkabau, dengan kentalnya pantun, dendang, dan kaba (prosa liris naratif), memang telah membina bakat naratif, kepekaan moral, serta sikap kritis atas keganjilan sosial. Sosiokultural Minang yang penuh dialektika antara adat, agama, dan kecintaan pada perdebatan intelektual menemukan jalannya dalam karya Afnan yang dialiri semangat “merantau” — baik secara spasial maupun gagasan.
Karier Sastra
Rekam jejak sastra Afnan Malay cukup produktif, meski ia termasuk penyair yang boleh disebut “terlambat tampil ke panggung nasional”. Padahal sebelum terbit buku puisi “Anjing Berbukit Kabut,” Ia sudah menulis dan menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi.
Pertama, “Tentang Presiden dan Pelajaran Membaca” (2020) sebuah antologi yang menghimpun sajak-sajak reflektif selama lebih dari satu dekade pasca reformasi, berisi gugatan atas konsistensi kepemimpinan nasional dan gagasan kenegaraan.
Kedua, “Tukang Cukur Tuan Presiden: Sajak-Sajak 25 Tahun Reformasi” (2023) buku yang berisi puisi menggubah peringatan 25 tahun reformasi dalam bentuk satir, sindiran politik dan reinterpretasi gejala struktural ketimpangan kekuasaan.
Ketiga, “Buku Fiksi Mulyono (2024). Ini kumpulan puisi yang memotret keganjilan serta absurditas sosial-politik Indonesia era mutakhir, mengangkat figur “Mulyono” sebagai alegori kerancuan identitas dan moral bangsa.

Dari tiga buku kumpulan yang telah lebih dulu tersebut, Afnan Malay dalam lanskap puisi Indonesia kontemporer muncul sebagai suara yang membakar sunyi. Ia bukan sekadar penyair yang menulis dari ruang estetika, melainkan seorang penggali luka, pengarsip kabut, dan penafsir nyala yang tak pernah padam.
Kelak semua itu terpotret dalam kumpulan puisinya Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar yang merupakan sebuah arsip emosional dan eksistensial yang menolak untuk jinak. Buku ini bukan hanya kumpulan puisi, melainkan semacam ritual pembacaan terhadap dunia yang retak, tubuh yang terbakar, dan sejarah yang terus mengabur.
Dari puisi-puisinya yang setiap hari Ia bagikan di laman Facebook @Afnan Malay, Ia dikenal sebagai penyair dengan gaya penulisan yang intens, metaforis, dan kadang-kadang brutal, menempatkan dirinya dalam tradisi puisi yang tidak hanya ingin indah, tetapi juga ingin mengganggu. Ia menulis dari tepi, dari batas-batas antara yang spiritual dan yang profan, antara yang personal dan yang politis. Dalam Anjing Berbukit Kabut, kita menemukan puisi-puisi yang tidak hanya berbicara tentang anjing dan kabut, ada juga tentang kepala babi (babi kepala) tetapi juga tentang tubuh yang dikoyak, ingatan yang dipelintir, dan dunia yang terus membakar dirinya sendiri.
Coba baca dan simak puisinya berjudul “Babi Kepala”. Tak perlu diinterpretasi dengan menggunakan teori sastra, pembaca awam akan tahu bahwa ini adalah ceritta tentang potongan kepala babi yang dikirim ke kantor redaksi Tempo di Palmerah, Jakarta Barat pada 19 Maret 2025. Puisi ini ditulis Afnan Malay pada bulan Maret 2025 saat Ia ada di Jakarta.
“suatu tempo, negeri
dipanggang waktu dihela
surut ditarik kencang tali-tali pengikat
.
kepala babi datang
menyeringai tanpa
kaki-kaki pendek
jelalahnya”
“Babi Kepala” adalah puisi yang menggunakan simbol grotesk untuk menyampaikan kritik terhadap kekuasaan, ketakutan sistemik, dan absurditas sosial. Afnan menuliskannya melalui struktur bebas, citra yang mengganggu, dan simbol yang kompleks, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bentuk-bentuk kekuasaan yang tidak lagi memiliki tubuh, tetapi tetap menyebar teror.

(Simbol grotesk adalah lambang atau representasi visual yang menggabungkan unsur keindahan dan keburukan secara ekstrem, sering kali untuk menggugah emosi, mengkritik norma, atau mengeksplorasi sisi gelap kemanusiaan.)
Setelah membaca puisi-puisi dalam “Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” jika Anda seorang ahli atau pakar bahasa dan sastra maka Anda bisa menggunakan dengan pendekatan strukturalisme dengan membedah dari bentuk dan struktur puisi. Seperti puisi “Babi Kepala” dan puisi lainnya akan ditemukan bahwa puisi Afnan Malay dibangun dengan struktur yang padat dan fragmentaris, menciptakan kesan distopia dan ketegangan. (Distopia atau dystopia adalah gambaran masyarakat yang sangat buruk, menindas, dan penuh penderitaan—biasanya dalam konteks masa depan atau dunia alternatif. Ia merupakan kebalikan dari utopia, yaitu masyarakat ideal).
Kemudian pembaca akan menemukan tipografi bebas. Puisi Afnan tidak mengikuti pola bait atau rima konvensional, mencerminkan kekacauan dan ketidakteraturan dunia yang digambarkan.
Ada pengulangan dan enjambemen, frasa seperti “kepala babi” dan “babi kepala” diulang dalam posisi berbeda, memperkuat makna dan menciptakan efek retoris. Kemudian, diksi tajam dan kontras bisa dengan mudah dijumpai dalam puisi-puisi Afnan Malay. Contohnya, kata-kata “dipanggang waktu”, “teror”, “menyeringai”, dan “terperanjat” membangun suasana mencekam dan penuh ancaman.
(“Enjambemen adalah teknik dalam puisi di mana satu baris tidak diakhiri dengan tanda baca atau pemikiran yang lengkap, melainkan dilanjutkan ke baris berikutnya tanpa jeda”).
Sah juga jika kemudian ada yang menyatakan, kumpulan puisi “Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” adalah puisi protes. Jika menyimak pada titi mangsa saay puisi-puisi tersebut ditulis pada periode 2024 – 2025, benar adanya. Puisi-puisi Afnan Malay tidak bisa lepas dari konteks sosial-politik Indonesia pada periode tersebut. Untuk memahami gelora dan getaran puisi-puisi Afnan Malay dalam buku ini ada pentingnya untuk mengaitkan dengan konteks sosial-politik Indonesia, khususnya pada Agustus – September 2025.

Afnan menulis tentang fenomena yang melanda bangsa, menciptakan atmosfer “luka bangsa”—trauma kolektif, kekecewaan, dan amarah meluap atas elite negara, olok-olok korupsi, hingga lambannya janji keadilan sosial. “Anjing Berbukit Kabut” hadir bukan sebagai ekpresi angan-angan atau glorifikasi nasionalisme, namun sebagai dokumen puitik tentang luka yang dialami bersama.
Jika Anda ingin menulis puisi-puisi dalam “Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” dalam suatu ringkasan atau policy brief jika perlu? Maka jelas puisi-puisi Afnan Malay ada dalam buku ini tentang luka kolektif sebagai bentuk cinta tanah air. Puisi-puisi Afnan Malay menolak romantisme nasionalisme sebagaimana umumnya ditemukan dalam puisi-puisi patriotik. Puisi “Tuhan, Kenapa Aku Jadi WNI?”— salah satu sajak kunci dalam buku ini — menunjukkan transformasi cinta tanah air sebagai tindakan menatap luka, bukan sekadar partisipasi dalam ritual kebangsaan.
Dalam buku ini juga menemukan satire politik dan gugatan moral. Puisi-puisi Afnan Malay penuh dengan satire yang sederhana namun mengguncang. Baca deh puisi berjudul “Presiden Datang ke Rumah” di halaman 113, Ia menulis betapa mustahil seorang pemimpin datang ke rumah rakyat, menyindir relasi kekuasaan yang korup dengan metafora buah naga merah— bukan kah ini simbol kekuatan pada sebuah kelompok ekonomi di negeri ini?
Kemudian dalam puisi berjudul “Negeri Para Penipu (halaman 19):
“di negeri para penipu
orang-orang berdiri tegak
takut tergelincir
genangan kebenaran
…
malam terasa lebih panjang
orang-orang mendengkur
menutup mata kebenaran
pagi pasti datang”
Satire ini menohok tanpa perlu retorika mewah — penguasa menipu dan rakyat memilih tidur, menjadi cermin bagi tumpulnya nurani sosial dalam masyarakat.
Puisi-puisi Afnan Malay juga memberi ruang pada fragmen kehidupan rakyat kecil, bahkan anak-anak, dalam puisinya. Lihat puisi “Tangis Murid Sekolah Dasar” (halaman 131-132). Dalam puisi seorang guru meminta murid bercerita tentang negaranya. Saat murid-murid lain bercerita riang gembira, murid ini juga menitikkan air mata, suasana kelas hening seketika murid itu menangis sejadi-jadinya.

Ini adalah kritik politik menjadi sangat telanjang dan menyayat ketika diucapkan oleh seorang anak kecil. Inilah keistimewaan puisi-puisi Afnan—ia meletakkan suara polos rakyat jelata sebagai sumber keotentikan estetika.
Kemudian apa lagi yang bisa ditemukan pembaca dalam kumpulan puisi “Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar”? Maka Anda bisa menemukan Pengalaman eksistensial, identitas, dan kekalahan. Di balik satire sosial, puisi Afnan Malay juga membunyikan kegelisahan eksistensial. Banyak puisinya berbicara tentang kehilangan harapan, absurditas struktural, bahkan kegamangan menjadi “orang Indonesia” dalam situasi sosial yang serba tidak stabil.
Juga ada kematian, alam, dan simbolisme kabut. Melalui judulnya yang metaforis, “Anjing Berbukit Kabut,” Afnan Malay menafsirkan suasana bangsa dalam jepitan kabut—situasi yang menyesakkan, tak pasti, dan penuh ancaman dari kekuasaan yang korup dan kebodohan yang dipelihara. Ini tergambar dalam teknik penciptaan suasana, pemilihan citraan, dan ditemukan adanya penggunaan simbol-simbol alam Minangkabau.
Gaya Penulisan
Di atas sudah dijelaskan tentang bentuk dan struktur serta tipografi bebas dari puisi-puisi Afnan Malay, sekarang dari gaya penulisannya, bisa dijumpai puisi dengan penulisan diksi sederhana namun penuh daya ledak moral — sebuah strategi estetis. Ini mengingatkan pada puisi-puisi karya penyair senior Taufiq Ismail dan W.S. Rendra, dengan nuansa kontemporer yang lebih getir dan “membara”. Bisa ditemukan simbol-simbol seperti air mata, kabut, naga merah, rumah, dan upah tercabik, mengindikasikan pengendapan pengalaman sehari-hari yang dijaga tetap meruang, bukan melangit.
Ada gaya penulisan satire dan parodi yang menjadi teknik utama dalam banyak puisi Afnan. Satir ini tidak hanya ditembakan pada elite penguasa, tetapi juga pada kebodohan rakyat yang rela “dibodohi”. Terkadang, ia menutup puisinya dengan punchline ironic yang mengajak pembaca bercermin dan sekaligus merinding. (Punchline ironic adalah kalimat penutup dalam sebuah lelucon, cerita, atau pernyataan yang mengejutkan karena bertentangan dengan harapan atau logika umum — dan biasanya mengandung sindiran atau kritik halus).

Membaca puisi Afnan Malay tidak harus membuat mata diajak lelah karena membaca larik-larik puisi yang panjang, seperti membaca puisi esai. Puisi Afnan adalah larik-larik pendek dan pengulangan. Ada pengulangan ungkapan (“aku mengarungi lautan… airmata”, “aku mendaki gunung… airmata”), ini bukan sekadar repetisi liris, tetapi memperkuat impresi keadaan bangsa dan memberi tekanan emosional. Struktur larik pendek menstimulus kecepatan baca, kedalaman refleksi, dan mendukung efek “tamparan moral.”
Tak perlu juga kaget jika menemukan realisme dan absurd dalam puisi Afnan Malay. Banyak puisinya menampilkan imaji sehari-hari (seperti supir ojol, anak sekolah, upah, rumah, buah naga), namun diolah menjadi absurditas yang mendalam dan kontemplatif.
Dalam Prolog buku ini, Denny JA Ketua Satupena menulis, bahwa ada tiga kekuatan utama puisi Afnan Malay. Yaitu kekuatan berupa kejujuran luka sebagai estetika, kemudian satire yang mengguncang, dan suara rakyat marjinal.
Selain itu, puisi-puisi Afnan menolak kompromi dengan kekuasaan maupun selera pasar. Ia menegaskan, “seandainya kebusukan negara hari ini lupa dicatat negara, aku telah menuliskannya ke dalam ratusan puisi”. Pernyataan ini mempertegas fungsi puisinya sebagai “catatan yang terbakar”—saksi yang menolak jinak.
Epilog:
Selamat memasuki usia 60 Tahun Uda Afnan Malay. Buku ini hadir dan berdiri kukuh sebagai catatan sejarah alternatif, bukan sekadar kumpulan puisi.
“Anjing Berbukit Kabut – Catatan yang Terbakar” Adalah “catatan yang terbakar” di tengah kabut bangsa, lolongan anjing yang menolak jinak dan tidak padam. Benar adanya bahwa, “Kritik lewat puisi dasarnya adalah kecintaan terhadap kehidupan bernegara. Sebagai sebuah bangsa kita harus solid, interospeksi agar kecintaan itu tidak semu.”
Sebelum ngelantur, mari kita akhiri, Tabik untuk mu Uda. (maspril aries)






