Home / Politik / Dua Kali Gagal, Udin dari Guru Besar ke Wali Kota Pangkalpinang

Dua Kali Gagal, Udin dari Guru Besar ke Wali Kota Pangkalpinang

Pasangan Saparudin atau Profesor Udin dan Dessy Ayutrisna atau Cece Dessy yang akan dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang pada 15 Oktober 2025. (FOTO: FB @saparudin)

KINGDOMSRIWIJAYA – Langit Pangkalpinang pagi itu cerah. Matahari menyinari atap-atap rumah warga yang berderet rapi di kawasan Tuatunu. Suara gamelan Melayu sayup-sayup terdengar dari sebuah acara “nganggung” — tradisi silaturahmi dan makan bersama yang menjadi napas budaya masyarakat Bangka Belitung.

Di tengah kerumunan massa yang datang, seorang pria tersenyum teduh berdiri di panggung kecil, mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Ia bukan selebritas, bukan pula pengusaha kaya. Ia seorang profesor atau seorang guru (akademisi) yang dalam perjalanan karir politiknya, dua kali gagal, lalu bangkit, dan akhirnya menang.

“Alhamdulillah, kita sudah mendengarkan pengumuman dari KPU. Saya bersama Desy mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Pangkalpinang yang telah memilih kami”, katanya pelan, tapi penuh keyakinan. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena syukur yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata biasa.

Nama pria tersebut, Saparudin, di depan namanya tersandang gelar “Profesor”, ditulis lengkap “Prof. Saparudin, M.T., Ph.D”. Tapi semua orang memanggilnya “Udin” — panggilan akrab yang membuatnya terasa dekat, seperti tetangga sebelah rumah yang selalu tersenyum saat bertemu di warung kopi.

Di atas panggung yang sama, berdiri seorang perempuan anggun berkerudung, Desi Ayutrisna, yang akrab disapa “Cece Dessy” Wakil Wali Kota dari Profesor Udin. Desi Ayutrisna adalah politisi PDIP yang juga anggota DPRD Pangkalpinang. Cece Dessy adalah istri dari M. Irwansyah, mantan Wali Kota Pangkalpinang yang pernah mengalahkan Udin pada Pilkada 2018. Ini adalah langkah brilian, bukan hanya menyatukan basis politik, tapi juga menyembuhkan luka lama. Dua sosok ini hadir sebagai simbol rekonsiliasi politik yang indah di tengah polarisasi.


Prof Udin (tengah baju teluk belanga merah) bersama Cece Dessy menghadiri HUT Kota Pangkalpinang 2025. (FOTO: FB@Saparudin)
Prof Udin (tengah baju teluk belanga merah) bersama Cece Dessy menghadiri HUT Kota Pangkalpinang 2025. (FOTO: FB@Saparudin)

Udin dan Dessy akan menjadi pasangan memimpin Kota Pangkalpinang sebagai wali kota dan wakil wali kota definitif. Setelah hampir dua tahun lamanya Kota Pangkalpinang di Provinsi Bangka Belitung (Babel) tidak memiliki wali kota definitif, beberapa kali dipimpin Penjabat (Pj) Wali Kota. Maka sejak 15 Oktober 2025 wilayah ibu kota Provinsi Babel resmi memiliki wali kota dan wakil wali kota definitif untuk masa lima tahun ke depan.

Pada 15 Oktober 2025 dijadwalkan Gubernur Babel Hidayat Arsani atas nama Menteri Dalam Negeri akan melantik dan mengambil sumpah pasangan Saparudin – Desi Ayutrisna sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang yang baru yang akan berlangsung di Balai Betason, Ruang OR Lantai I Kantor Wali Kota Pangkalpinang.

Pasangan Saparudin – Desi Ayutrisna adalah pemenang dalam Pilkada Ulang Wali Kota Pangkalpinang 2025 yang berlangsung 27 Agustus 2025. Pasangan calon nomor urut 3 dalam pilkada ulang tersebut berhasil unggul dari tiga pasangan lainnya, Eka Mulya Putra – Radmida Dawam (calon independen), Maulan Aklil – Zeki Yamani (Calon Partai Gerindra) dan Basit Sucipto – Dede Purnama Alzulami (Calon dari koalisi Partai Golkar, NasDem, PKS, Partai Ummat, Partai Buruh).

Pasangan Saparudin – Desi Ayutrisna yang diusung koalisi enam parpol, PDIP, PKB, PAN, PPP, Demokrat, dan PKN yang bersatu dengan tagline “Percaya Kite Pacak” berhasil memperoleh dukungan 39.325 suara unggul dari pasangan Basit Sucipto – Dede Purnama Alzulami (27.325 suara), Maulan Aklil – Zeki Yamani (26.085 suara), dan Eka Mulya Putra – Radmida Dawam (5.439). KPU Pangkalpinang mencatat, jumlah total pemilih tetap (DPT): 169.016 orang, pengguna hak pilih: 103.856 atau dengan partisipasi: 61,14%, jumlah ini naik dari Pilkada 3024 sebesar 53,18% (2024) dan jauh di atas Pilkada 2018. Suara sah: 98.395 dan suara tidak sah: 5.461.


Prof Udin saat berkampanye pada Pilkada Ulang Kota Pangkalpinang 2025. (FOTO: FB @Saparudin)
Prof Udin saat berkampanye pada Pilkada Ulang Kota Pangkalpinang 2025. (FOTO: FB @Saparudin)

Kotak Kosong

Dalam catatan politik pemilihan kepala (Pilkada) Pangkalpinang, Pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota tahun 2025 ini merupakan sebuah perhelatan demokrasi yang tak biasa, karena lahir dari kegagalan pilkada sebelumnya. Tapi justru dari kegagalan itulah, masyarakat bangkit. Dan kini, setelah melalui proses panjang, melelahkan, dan penuh ketidakpastian, Kota Pangkalpinang memiliki Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang baru.

Catatan politik yang terangkai dalam cerita Pilkada ini bukan hanya tentang kemenangan Prof Udin dan Cece Dessy. Ini adalah cerita tentang sebuah kota yang bangkit dari keterpurukan politik, tentang masyarakat yang sadar akan hak pilihnya, tentang demokrasi yang bekerja meski lambat, dan tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya.

Mari surut ke masa satu tahun ke belakang. Pada 28 November 2024 di Pangkalpinang ada sebuah pemandangan yang jarang terjadi di Indonesia. Ada baliho terpasang bertuliskan “Kotak Kosong Menang” menghiasi sudut-sudut jalan di kota itu. Ada wajah-wajah muram ada juga wajah-wajh yang ceria. Pada Pilkada serentak yang digelar sehari sebelumnya menghasilkan keputusan luar biasa. pasangan calon tunggal Maulan Aklil-Masagus Hakim kalah suara melawan kotak kosong.

Satu tahun lalu Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyimpan cerita politik yang unik di penghujung 2024. Alih-alih melahirkan seorang pemimpin baru dari kontestasi Pilkada serentak, kota ini justru menjadi sorotan nasional karena hasilnya berbeda dari kebanyakan daerah lain. Saat itu, hanya ada satu pasangan calon, Maulan Aklil—yang akrab disapa Molen—bersama Masagus Hakim. Mereka melawan “kotak kosong”.

Bagi sebagian orang, kotak kosong hanyalah formalitas demokrasi. Hampir bisa dipastikan pasangan calon tunggal akan melenggang mulus. Tetapi Pangkalpinang memberi pelajaran lain dalam berdemokrasi, kotak kosong justru menang. Warga menolak calon tunggal Maulan Aklil yang merupakan calon petahan, itu menjadi sinyal keras bahwa masyarakat tidak ingin demokrasi di kota ini berjalan seadanya.


Sidang senat Unsri pada pengukuhan Prof Udin sebagai Guru Besar Unsri Tahun 2017. (FOTO: Maspril Aries)
Sidang senat Unsri pada pengukuhan Prof Udin sebagai Guru Besar Unsri Tahun 2017. (FOTO: Maspril Aries)

Kekalahan calon tunggal di Pilkada serentak 27 November 2024 memaksa lahirnya Pilkada ulang. Atmosfer politik pun bergeser. Dari sekadar “pasangan melawan kotak kosong”, kini warga berhak kembali memilih di antara empat pasangan calon yang mendaftar.

Warga Pangkalpinang seolah sedang menunggu babak baru. Kota yang identik dengan daerah penghasil timah itu butuh pemimpin yang mampu mengobati rasa kecewa, sekaligus menjawab kerinduan akan sosok pemimpin yang kuat, legitimite, dan bisa dipercaya. Bagi masyarakat, Pilkada ulang ini lebih dari sekadar memilih wali kota. Ia adalah simbol bahwa suara rakyat benar-benar menentukan. Bahwa Pangkalpinang bisa menolak, bisa memilih, dan bisa mengajukan tuntutan: hadirkan pemimpin yang layak.

Di tengah kekosongan itu, muncul figur yang sudah dua kali merasakan pahitnya kekalahan di Pilkada bernama Profesor Saparudin. Bersama perempuan tangguh, anggota DPRD dari PDIP, Desi Ayutrisna, ia mencatatkan diri. Mereka tidak tahu bahwa perjalanan mereka akan menjadi kisah klasik: ketika seorang akademisi bertemu dengan politikus berpengalaman, menulis ulang sejarah Pangkalpinang.

Pada Pilkada 2024 Profesor Saparudin juga menulis ulang sejarah. Ini adalah keikutsertaannya yang ketiga kali pada kompetisi Pilkada Wali Kota Pangkalpinang. Sebelumnya pada Pilkada 2013, Saparudin berpasangan dengan Maulan Aklil didukung Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional gagal meraih kemenangan. Demikian pula pada Pilkada 2018, Saparudin kembali mamju berpasangan dengan Edison Taher didukung Partai Gerindra dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali gagal. Apakah itu yang disebut “bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”?


Prof Udin saat menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar Unsri tahun 2017. (FOTO: Maspril Aries)
Prof Udin saat menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar Unsri tahun 2017. (FOTO: Maspril Aries)

Guru Besar Udin

Kisah Pilkada ulang Pangkalpinang 2025 akan selalu tercatat dalam sejarah politik lokal Indonesia. Bukan hanya karena fenomena kotak kosong setahun sebelumnya, tetapi juga karena kemenangan seorang profesor—sosok akademisi—yang akhirnya dipercaya rakyat untuk memimpin Kota Pangkalpinang.

Profesor Udin mungkin tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan berakhir di Balai Kota Pangkalpinang. Sebagai seorang anak kampung di Pangkalpinang, ia tumbuh dengan mimpi sederhana, sekolah setinggi-tingginya dan mengabdi di dunia pendidikan. Bermula dari ruang kelas ruang kelas SD Negeri 5 Pangkalpinang hingga podium pengukuhan profesor di Universitas Sriwijaya (Unsri) semua dijalaninya penuh disiplin dan kerja keras.

Saparudin dikukuhkan guru besar pada Rapat Senat Khusus Terbuka Universitas Sriwijaya pada 11 November 2017 sebagai guru besar bidang informatika Jurusan Teknik Informatika pada Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) sekaligus sebagai guru besar pertama bidang informatika di Unsri dan guru besar ke-123 Unsri. Saparudin menyampaikan pidato pengukuhannya berjudul “Teknologi Sistem Identifikasi Sidik Jari dan Penerapannya dalam Ilmu Forensik dan Diagnostik.”

Baca juga: https://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/17/11/17/ozk3f3283-saparudin-guru-besar-teknik-komputer-pertama-unsri

Gelar sarjana strata satu (S1) Saparudin diperoleh dari dari Program Pendidikan Matematika Unsri tahun 1993. Kemudian melanjutkan ke jenjang Magister (S2) Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung (ITB) bidang keahlian Software Engineering on Image Processing and Computer Vision, lulus tahun 2000. Tahun 2012 Udin meraih gelar Doktor Falsafah (S3) Computer Science dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), bidang keahlian Image Processing, Computer Vision and Pattern Recognition, lulus tahun 2012. Sekarang tengah menyelesaikan pendidikan Doktor Falsafah (S3) Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Darussalam Gontor.


Prof Udin mendapat ucapan selamat dari Rektor Unsri yang saat itu dijabat Anis Saggaff. (FOTO: Maspril Aries)
Prof Udin mendapat ucapan selamat dari Rektor Unsri yang saat itu dijabat Anis Saggaff. (FOTO: Maspril Aries)

Dalam perjalanan hidupnya, sejarah selalu punya kejutan. Politik datang mengetuk pintunya. Ia kalah sekali, kalah dua kali, mungkin ada yang mencemoohnya, “Profesor tidak cocok jadi politisi.” Tetapi ayah dari empat orang anak – Tsaniyah Nurlaily, Fachry Arif, Sandrina Oktryani dan Dimas Khalifah Hanif – memilih bertahan.

Udin memandang kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan data, seperti seorang peneliti yang selalu menghitung ulang eksperimen yang gagal. Sebagai orang yang menekuni matematika, jika orang lain akan bersikap, “Dua kali kalah cukup untuk membuat orang menyerah”. Tapi tidak bagi Udin. Ia percaya matematika, “Peluang ketiga selalu ada.”

Kini, semua perjuangan itu berbuah. Ia bukan hanya guru besar di kampus, tetapi juga pemimpin besar di kota kelahirannya. Sebagai Wali Kota Pangkalpinang, Udin adalah kepala daerah di Provinsi Bangka Belitung yang meraih gelar profesor.

Euforia kemenangan memang sudah lewat. Baliho sudah diturunkan, yel-yel kemenangan mulai mereda. Pelantikan telah berlangsung, kini tumbuh sebuah semangat baru di Pangkalpinang. Semangat percaya bahwa politik bisa melahirkan pemimpin yang berbeda.

Dari meja kopi hingga ruang kelas, dari pasar hingga kampus, obrolan tentang wali kota dan wakil wali kota baru masih terdengar. Ada harapan, ada keraguan, ada pula optimisme. Semua bercampur, seperti adonan yang siap dibentuk menjadi sesuatu yang lebih baik.

Dan di Balai Kota Pangkalpinang yang seperti terasa sepi, sebentar lagi akan ada langkah kaki seorang guru besar. Langkahnya bukan menuju ruang kuliah menyapa mahasiswanya atau ke aula berbicara dalam sebuah seminar, melainkan untuk mengurus kemaslahatan warga Pangkalpinang dari urusan drainase, jalan rusak, izin usaha, sampai ke kesejahteraan warganya. Itulah transisi besar, dari kampus ke balai kota. (maspril aries)

Tagged: