Kolase foto Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan SK penetapan Hari Komedi Nasional. (FOTO: IG @fadlizon)
Prolog:
“Kalau hidup sudah terlalu serius, mungkin kita cuma butuh satu hal: tertawa. Tapi tahukah Anda, tertawa itu punya sejarah panjang, bahkan bisa jadi alat perlawanan?”
KINGDOMSRIWIJAYA – Setelah ada Hari Musik, Hari Puisi, sekarang Indonesia punya Hari Komedi. Jika Hari Musik diperingati setiap 9 Maret, Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap 26 Juli dan Hari Komedi Nasional diperingati setiap 27 September. Hari Puisi Indonesia dan Hari Komedi Nasional baru saja ditetapkan/ dicanangkan pada tahun 2025 sedangkan Hari Musik sudah dicanangkan sejak 2013.
Di Indonesia yang belum ada atau belum dicanangkan adalah Hari Sastra dan Hari Teater. Di dunia internasional, Hari Teater Internasional diperingati setiap tanggal 27 Maret, dicetuskan pada Kongres Dunia ITI ke-9 di Wina pada tahun 1961.
Khusus Hari Komedi Nasional Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia, Fadli Zon, baru saja menetapkan 27 September sebagai Hari Komedi Nasional melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan.
Lalu, kenapa tanggal 27 September dipilih sebagai Hari Komedi Nasional? Bukan tanggal lain, apa alasannya? Menteri Fadli Zon memberikan jawabannya, penetapan ini bertepatan dengan hari lahir seorang tokoh komedi Indonesia yang luar biasa, multi talenta, seorang maestro yakni Bing Slamet, yaitu pada tanggal 27 September.
Sekaligus penetapan Hari Komedi Nasional merupakan aspirasi yang telah lama diperjuangkan para seniman komedi, khususnya PaSKI, serta berbagai organisasi seni lainnya. “Kita berharap momentum ini menjadi penanda sekaligus apresiasi terhadap sosok Bing Slamet”, kata Fadli Zon.

Perjalanan Komedi di Indonesia
Perjalanan komedi di Indonesia sendiri telah berjalan lama dan melintasi jejak perjalanan yang panjang. Komedi di Indonesia dapat dikatakan sebagai bagian dari kesenian rakyat. Komedi muncul pertama kali dapat dilihat melalui kesenian rakyat, seperti ludruk di Jawa Timur yang sudah dikenal sejak abad ke-12, yang pada saat itu dikenal sebagai Ludruk Bandhan. Komedi juga menjadi bagian dari pertunjukan wayang, lenong, dan ketoprak.
Pada era tahun 1960-an, humor menjadi bagian dari pentas kesenian rakyat seperti ludruk, ketoprak, dan lenong. Komedi juga mulai berkembang melalui media massa cetak, seperti majalah dan surat kabar, serta film. Pada era 1970-an – 1980-an bermunculan grup-grup komedi seperti Kwartet Jaya. Sebelumnya sudah ada grup Reog BKAK. Reog BKAK (Badan Kesenian Anggota Kepolisian) adalah grup lawak yang beranggotakan anggota kepolisian atau Polri. Kelompok kesenian ini dirintis tahun 1956 dengan nama Reog BKKN (Badan Kesenian Kepolisian Negara) untuk mensosialisasikan program kepolisian dan mengangkat masalah masyarakat dalam kemasan komedi.
Kemudian grup ini berkembang dan berganti nama menjadi Reog BKAK. Meskipun bernama “Reog”, yang dikenal sebagai kesenian Reog Ponorogo, namun Reog BKAK adalah kesenian bebodoran atau guyonan dan lawakan khas Sunda, Jawa Barat.
Reog BKAK dengan personil masa itu empat polisi aktif, yaitu Mang Dudung (Inspektur Satu (Iptu) Dudung Endang), Mang Udi (Iptu Karmudi), Mang Hari (Ajun Brigadir Polisi tingkat Satu (Abriptu) Suhari) dan Mang Diman (Brigadir Polisi tingkat Dua (Bripda) R. Soepardiman Hardjosepoetro). Mang Diman adalah satu-satunya personil BKAK yang bukan berdarah Sunda, melainkan kelahiran Yogyakarta. Setiap tampil personil Reog BKAK tidak mengenakan kostum polisi, melainkan membawa semacam gendang yang diikat di pinggang bernama dogdog.
Sementara Kwartet Jaya adalah grup lawak yang populer di era 1970-an, grup ini dibentuk pada tahun 1967 oleh Bing Slamet dengan personil Bing Slamet, Eddy Sud (Eddy Sudihardjo), Ateng (Kho Tjeng Lie) dan Iskak (Iskak Darmo Suwiryo). Sebelum Ateng bergabung pada tahun 1967, grup ini bernama EBI, yang merupakan singkatan dari Eddy Sud, Bing, dan Iskak

Pada waktu yang bersamaan, surat kabar membuka rubrik khusus untuk humor, seperti cerita lucu, anekdot, karikatur, dan kartun. Era 1990-an terbit majalah khusus tentang yang lucu-lucu dan ketawa, namanya majalah Humor menjadi wadah bagi para pelawak untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sekarang majalah ini sudah tidak terbit.
Masih di tahun 1960-1970-an, grup lawak atau komedi yang menghibur tidak hanya lahir di Jakarta, di Surabaya ada grup lawak yang sangat terkenal, yaitu Srimulat. Grup Srimulat berdiri tahun 1967 oleh Teguh yang kemudian dikenal sebagai Teguh Srimulat.
Pada masa itu Srimulat adalah revolusi. Mereka membawa format Mereka membawa format vaudeville (pertunjukan variety dengan lawak, musik, tari) ke tingkat yang baru, dengan konten lokal yang sangat kuat. Banyak yang menyebut, era Srimulat (1960-an – 1990-an) adalah zaman keemasan komedi Indonesia. Era ini di Jakarta ada grup lawak Bagio Cs (Bagio, Darto Helm, Diran, Sol Soleh), Jayakarta Grup dengan personil Cahyono, Jojon, Prapto, Uuk, Surya Grup dan grup lawak lainnya.
Masih di Jakarta pada tahun 1973 lahir grup bernama Warkop Prambors. Komedi atau lawakan yang mereka tawarkan bermula dari acara radio Obrolan Santai di Warung Kopi di Radio Prambors Rasisonia. Grup ini pendirinya, Rudy Badil, Nanu Moeljono, Kasino Hadiwibowo, Wahjoe Sardono (Dono), Indrodjojo Kusumonegoro (Indro) bergabung terakhir pada 1976.
Mereka mulai dikenal lewat siaran radio, kemudian tampil di acara televisi, waktu yang baru TVRI. Lima orang personil Warkop Prambors ini memerankan tokoh-tokoh dari berbagai latar budaya Indonesia, seperti Slamet (Jawa), Poltak (Batak), Acing (Tionghoa), Mastowi (Tegal), dan lainnya. Dalam perjalanannya, grup ini berganti nama menjadi Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) setelah Nanu dan Rudy keluar.
Pada masa itu peran radio swasta sangat besar dalam melahirkan grup-grup lawak atau komedi di Indonesia, selain layar TVRI. Radio menjadi medium awal yang memungkinkan eksplorasi karakter lewat suara. Stasiun radio juga membentuk komunitas pendengar yang loyal, terutama anak muda, seperti Prambors dan Radio SK di Jakarta.

Radio SK (Suara Kejayaan) menjadi medium lahirnya beberap grup lawak/ komedi generasi berikutnya. Radio SK menjadi tempat lahirnya banyak talenta komedi muda, menjadi inkubator kreatif bagi para pelawak dan komedi muda, sekaligus menjadi menjadi alternatif dari Prambors. Dari Radio SK lahir pelawak atau talenta komedi muda yang mewarna dunia komedi Indonesia. Ada Bagito Grup dengan personil Miing (Tb. Dedi Gumelar), Didin (Tb. Didin Pinasti), dan Unang (Hadi Wibowo). Generasi berikutnya, ada Eko Patrio, Parto dan lainnya.
Dari Radio Prambors setelah Warkop DKI terbentuk grup Sersan Prambors. Sersan (Serius Tapi Santai) bermula dari program radio dengan personil Sys NS (Syswanto Soebagio), Mukhlis Gumilang, Krisna Purwana, Pepeng (Ferrasta Soebardi), Nana Krip. Grup ini sempat masuk dapur rekaman dengan mengeluarkan album yang berisi lawakan/ komedi plus lagu.
Grup lainnya ada Empat Sekawan: Eman, Ginanjar, Gito, Denny Cagur, Trio Bajaj: Melky Bajaj, Isa Bajaj, Aden Bajaj, ada juga serial televisi Bajaj Bajuri dengan tokoh Mat Solar dan Rieke Diah Pitaloka (Oneng), Project Pop dan lainnya.
Pada akhir tahun 1970-an sampai 1980-an di Indonesia lahir yang namanya Lembaga Humor Indonesia (LHI) berdiri pada 29 November 1978. LHI terbentuk dengan motornya Arwah Setiawan bersama Kris Biantoro, S. Bagyo, G.M. Sidharta, dan Bambang Utomo. Selain LHI ada Institut Humor Indonesia Kini (IHIK) yang menjadi pusat kegiatan humor di Indonesia yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset yang komprehensif.
Pasca reformasi 1998, di lingkungan dunia humor atau komedi Indonesia dikenal istilah “Stand Up Comedy” dan “Open Mic”. Menurut sejarahnya Stand Up Comedy di Indonesia yang diperkenalkan oleh Ramon Papana, dia menggelar stand up comedy di Jakarta sejak tahun 1997, bertempat di Comedy Café. Sebelumnya Ramon telah melakukan acara Open Mic untuk pencarian bakat dan latihan komedi pada tahun 1991.
Stand up comedy berasal dari berasal dari Amerika Serikat yang sudah mulai dikenal pada abad ke-18. Ramon Papana, yang pernah menjadi DJ di Eropa dan Amerika, ingin memperkenalkan komedi yang lebih cerdas dan modern ke Indonesia maka lahir dan dikenal luas istilah Stand Up Comedy yang semakin populer setelah adanya kompetisi di televisi tahun 2011.

Perbedaan dan Persamaan
Apakah antara komedi, lawak, humor dan Stand Up Comedy ada perbedaan atau persamannya? Mari membedahnya satu persatu berdasarkan referensi yang ada. Komedi adalah bentuk seni atau karya yang bertujuan untuk menghibur dan membuat orang tertawa. Istilah “komedi” berasal dari kata Yunani “komodia”, yang berarti membuat gembira. Lawak adalah perbuatan atau tingkah laku yang lucu dan menimbulkan tawa.
Sementara humor, yaitu sesuatu yang lucu atau menggelikan yang menimbulkan rasa senang dan tawa. Stand Up Comedy adalah seni pertunjukan komedi yang dilakukan oleh seorang penampil secara langsung di atas panggung. Jika di Indonesia, stand up comedy bisa kita artikan lawakan tunggal.
Persamaan komedi, lawak, humor dan Stand Up Comedy, semuanya bertujuan untuk menghibur dan membuat orang tertawa. Perbedaannya, komedi adalah istilah umum yang mencakup berbagai bentuk hiburan lucu, sedangkan lawak adalah tindakan atau perbuatan yang lucu. Humor adalah kualitas dari sesuatu yang membuatnya lucu sementara Stand up comedy adalah bentuk komedi modern yang dilakukan oleh seorang diri di atas panggung.
Stand Up Comedy yang sedang naik daun di Indonesia lebih mengandalkan monolog dari seorang comic atau komika (sebutan untuk orang yang menyampaikan humor dalam Stand Up Comedy. Sementara komedi lainnya mengandalkan kelucuan gerak adegan ketimbang dialog atau monolog.
Stand Up Comedy punya beragam teknik dan berbagai istilah khusus yang tidak ditemui dalam lawakan tunggal konvensional, seperti open mic, set-up, bit, roasting, punch line, act-out, close mic, call-back, rule of three, laugh per minute (LPM), dan lainnya.
Ada banyak Komika terkenal di Indonesia, diantaranya, Raditya Dika, Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono, Indra Jegel, Rigen Rakelna, Dicky Difie, Oki Rengga, Bintang Emon, Arie Kriting, Soleh Solihun, Dodit Mulyanto dan Kiky Saputri.
Sejarah Komedi

Semua itu bagian dari perjalanan komedi Indonesia. Bagaimana sejarah komedi di dunia? Ada yang menjelaskan, komedi di dunia lahir di Yunani Kuno (Sekitar Abad ke-5 SM). Dionysia adalah festival drama yang diadakan untuk menghormati Dewa Anggur dan Kesuburan, Dionysus. Di sinilah drama komedi pertama kali dipentaskan secara resmi.
Kemudian Aristophanes (Sekitar 446-386 SM) disebut sebagai “Bapak Komedi” melalui karyanya seperti “Lysistrata” (wanita melakukan mogok seks untuk menghentikan perang) dan “The Birds” (manusia membangun kota di awan) adalah contoh brilian dari komedi lama. Ciri-ciri komedi masa itu satir politik yang sangat tajam, humor vulgar, kritik sosial langsung, dan seringkali menampilkan karakter fiksi yang absurd.
Aristoteles dalam bukunya “Poetica” menulis beda antara tragedi dan komedi. Tragedi menggambarkan orang mulia yang jatuh, menimbulkan pity dan fear. Komedi, menurutnya, menggambarkan orang rendahan (dalam arti moral atau status) yang melakukan kesalahan konyol, menimbulkan ketawa. Ia juga menyebutkan bahwa komedi adalah “imitasi orang yang lebih rendah dari rata-rata”.
Pada era modern di Inggris Abda ke-17 dikenal Restoration Comedy atau komedi yang sangat licik, penuh intrik seksual, dan sindiran sosial tajam, menggambarkan kehidupan aristokrat pasca Restorasi Monarki. Kemudian awal Abad ke-20 dikenal adanya Music Hall & Vaudeville yakni pertunjukan variety dengan lawak, musik, sulap, dan akrobat. Melahirkan banyak bintang komedi panggung. Lalu lahir film komedi dari dari era film bisu (Charlie Chaplin, Buster Keaton – master slapstick dan visual comedy) hingga era suara (Marx Brothers dengan dialog cepat dan absurd, screwball comedy dengan percakapan cepat dan romansa konyol).
Tahun 1960-an sampai 1970-an di klub-klub malam yang ada di Amerika Serikat diperkenalkan Stand-Up Comedy dengan tokohnya Lenny Bruce, George Carlin, Richard Pryor yang disebut sebagai pelopor yang membawa komedi ke arah yang lebih personal, provokatif, dan menjadi alat komentar sosial-politik yang tajam.
Jadi komedi lahir dari kebutuhan manusia untuk melihat diri sendiri dan dunianya dengan cara yang lebih ringan. Dari altar dewa di Yunani hingga panggung Netflix, komedi terus berevolusi, tetapi esensinya tetap: menghadirkan tawa melalui pengamatan, eksagerrasi (tindakan melebih-lebihkan sesuatu dari keadaan sebenarnya), dan kadang-kadang, kebenaran yang pahit. Setiap budaya memberikan warna dan bentuknya sendiri.

Indonesia sendiri punya jejak komedi yang tak kalah tua. Sejak zaman kerajaan, wayang kulit telah mengenalkan tokoh “punakawan” — Semar, Gareng, Petruk, Bagong — pada babak goro-goro, menyisipkan kritik sosial dan petuah dengan humor. Kemudian ada ludruk, lenong, ketoprak, dan dagelan telah menjadi sarana canda rakyat dan instrumen lawan ketidakadilan.
Komedi, lawak, humor, dan stand-up bukan sekadar hiburan, melainkan institusi sosial, mekanisme bertahan hidup bangsa, instrumen mengkritik dan memperbaiki masyarakat. Tanggal 27 September sebagai Hari Komedi Nasional bukan cuma merayakan tawa, tapi juga meneguhkan posisi tawa sebagai hak, sebagai suara, sebagai upaya bangsa bertahan dari tekanan dan kesulitan, dan tetap waras di tengah dunia yang (sering) absurd.
Tawa adalah “senjata orang tak bersenjata”—meminjam istilah Simon Wiesenthal. Setiap zaman butuh cara baru untuk bertahan: kadang lewat satir Aristophanes, kadang lewat lelucon kentut di panggung, kadang cukup dengan monolog keresahan diri di stand-up pinggir jalan. Siapa pun Anda: politisi, mahasiswa, sopir ojol, pejabat, atau penjual bubur ayam, semua berhak atas tawa, dan semua—kadang—perlu jadi target tawa agar tetap mengingat diri.
Bila Anda tidak tertawa hari ini, mungkin bukan karena semua pelawak gagal. Mungkin Anda hanya sedang kelebihan masalah, atau mungkin punchline-nya belum sampai. Sabar, bro! Yang penting, jangan lupa bahagia dan jangan lupa tertawa!
Komedi di Indonesia bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin sosial, alat kritik, dan kadang pelipur lara. Sejak zaman penjajahan, rakyat menggunakan humor sebagai senjata diam-diam melawan kekuasaan.
Epilog:
Sorang penikmat humor sejati selalu percaya satu mantra: di dunia yang serius, mereka mencari celah untuk mengajak tawa. Karena hanya dengan tertawa hidup terasa lebih bernyawa—dan kalau pun gagal, setidaknya jadi bahan komedi episode berikutnya. (maspril aries)
#Penulisan Konten ini diolah dengan bantuan AI.






