
KAKI BUKIT – Tahun 1980 Partai Keselamatan Nasional (MSP – Milli Selamet Partisi) pimpinan Necmettin Erbakan dibubarkan, namun Recep Tayyip Erdogan sudah masuk dalam kancah politik Turki. Pertemuan Erdogan dengan Erbarkan menurut Syarif Thanghian dalam “Erdogan Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki” (2016), membuka cakrawala berfikir Erdogan tentang politik, melatihnya untuk lebih mengenal organisasi dan belajar berpolitik lebih mendalam. Erbakan sendiri merupakan panutan Erdogan saat menjadi pemimpin, karena karakteristik Erbakan dalam memimpin partai.
Erdogan dan AKP
Tahun 1983 Erdogan kembali ke politik ketika Partai Kesejahteraan (RP –Refah Partisi) didirikan dan setahun kemudian Erdogan menjadi Ketua Distrik Beyoglu. Pada tahun 1985, Erdogan diangkat pada pos Pimpinan Provinsi untuk wilayah Istanbul.
Tahun 1989 Erdogan mengikuti pemilihan lokal dan meraih suara terbanyak. Pada pemilihan umum tingkat wilayah di Istanbul Raya 27 Maret 1994 Erdogan terpilih menjadi Wali Kota Instanbul sekaligus menjadi Presiden Dewan Metropolitan.
Dengan dukungan dari kelompok-kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah dengan mengalokasikan dana kotamadya ke lingkungan yang lebih miskin. Sebagai Wali Kota, Erdogan mampu mengubah Istanbul menjadi lebih berkembang. Erdogan juga berhasil membawa perubahan pada struktur politik maupun kultur yang bersih untuk dibangun. Ia membangun pipa sepanjang ratusan kilometer untuk mengatasi polusi air dan mendirikan 50 jembatan demi mengatasi masalah transportasi.
Erdogan sebagai pemimpin politik yang adil mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan mengatakan “Kami membela semua orang dan korban yang tertindas tanpa memperhatikan akar, sekte atau kepercayaan mereka, biarkan mereka menjadi orang Arab, Kurdi, Turkmens, Yazidi, Kristen atau yahudi.” (Erdogan, 01.10.2015).
Erdogan sukses menata kota Istanbul menjadi sebuah kota yang nyaman dan modern, program-programnya sukses mengurangi jumlah pengangguran, menyediakan air bersih bagi masyarakat Istanbul, menanggulangi kadar polusi kota Istanbul dengan penanaman 1000 pohon, danberupaya memberantas prostitusi.
Pada 12 Desember 1997 jabatan Erdogan sebagai Wali Kota Istambul dibekukan oleh Komisi Pemilihan Umum Karena diangap telah berbuat inkonstutusional karena pidatonya di depan publik dengan mengutip puisi karangan Ziya Gokalp “Bapak Nasionalisme Turki” Akibatnya Erdogan dijatuhi hukuman 10 bulan penjara dan tidak diperkenankan melakukan aktivitas politik. Erdogan menjalani masa penjaranya selama empat bulan. Saat itu sebagian rakyat Turki menganggapnya sebagai pahlawan.
Ini bait puisi yang dibacakan Erdogan:
Masjid adalah barak kami,
Kubahnya adalah helm kami,
Menaranya adalah bayonet kami,
Dan orang-orang beriman adalah tentara kami.
Pada tahun itu pula Partai Kesejahteraan (RP –Refah Partisi) ditutup oleh Mahkamah Konstitusi Turki dengan alasan mengancam sifat Kemalis Turki, terutama sekularitas.
Dalam pidatonya pada 12 Desember 1997 di kota Turki Timur Siirt, Erdogan mengidentifikasi masyarakat Turki sebagai memiliki ‘dua kubu yang berbeda secara fundamental’ yaitu mereka yang mengikuti reformasi Ataturk atau pendukung sekuler dan Muslim yang menyatukan Islam dengan syariat. Polisi Turki menganggap pidato Erdogan bertentangan dengan nilai-nilai sekuler Turki yang dijunjung Mustafa Kemal Ataturk.
Pasca menjalani masa tahanan dan vakum berpolitik, pada 14 Agustus 2001 Recep Tayyip Erdogan kembali ke panggung politik dengan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP – Adalet ve Kalkinma Partisi). Erdogan terpilih sebagai ketua partai tersebut. Sebelum pemilihan nasional tahun 2002, Erdogan dilarang oleh Dewan Pemilihan Turki untuk mencalonkan diri dalam pemilihan karena keyakinannya di masa lalu.
Pada tahun tersebut Erdogan mengajukan diri sebagai calon anggota dewan, tetapi Kejaksaan Agung meminta Pengadilan Diyarbakir untuk menolak pencoretan hukuman tahanan terhadap Erdogan dari catatan undang-undang pidana, yang mencegah Erdogan masuk sebagai calon legislatif, dan tidak bisa beraktifitas politik selama tiga tahun selama masa hukuman belum selesai.
Namun dengan kemenangan AKP pada pemungutan suara parlemen, lalu konstitusi dimodifikasi untuk memungkinkan Erdogan mencalonkan diri pada pemilihan umum pada 9 Maret 2003 dari konstituensi Siirt, kampung halaman istrinya. Erdogan pun melenggang ke parlemen dan mengambil alih jabatan Perdana Menteri Abdullah Gul yang pernah menjabat sebagai perdana menteri sejak November 2002.
Pada pemilihan umum tahun 2007 AKP memenangkan kembali pemilu dan menjadikan Abdullah Gul sebagai Presiden, Erdogan kembali sebagai Perdana Menteri Turki.
Berkat kemajuan Turki yang pesat pada masa Perdana Menteri Erdogan, negara Turki menjadi salah satu negara kuat di Eropa dan menjadi pemimpin yang disegani. Semua prestasi itu membuat Erdogan kembali memenangi pemilihan umum tahun 2011 dan menjabat kembali sebagai Perdana Menteri Turki.

Tahun 2014 masa jabatan Erdogan sebagai Perdana Menteri Turki berakhir, lalu Erdogan mencalonkan diri sebagai Presiden Turki dengan dukungan Partai AKP. Pada pemilu yang berlangsung 10 Agustus 2014 Recep Tayyip Erdogan terpilih sebagai Presiden ke-12 Republik Turki untuk masa jabatan lima tahun.
Partai AKP sendiri datang dengan karakter islamis moderat. sementara konotasi muslim moderat terkait dengan eksistensi kelompok Islam yang mampu berdampingan secara damai dengan kelompok lain yang berbeda keyakinan, mendukung demokrasi, menghargai kebebasan berfikir, penyelenggara pendidikan yang mengakui iman dan agama, dan mencegah penggunaan kekerasan atas nama Islam.
AKP atau AK Parti yang dalam bahasa Turki Ak berarti cahaya, murni, putih, bersih dan tidak terkontaminasi AK Parti berkonotasi partai cahaya dengan simbol partai sebuah bola lampu. AKP menolak tudingan sebagai partai politik yang menyimpan agenda politik Islamis. AKP mengklaim sebagai partai demokrat – konservatif (muhafazakarlar demokrat) yang menekankan nilai-nilai tradisional Turki religius. Strategi ini didasari oleh kecendrungan masyarakat yang semakin konservatif, karena domominasi politik sayap kanan dalam waktu yang cukup lama terutama sejak lahirnya era Trugut Ozal.
Erdogan sendiri menolak identifikasi AKP sebagai partai islamis. Menurutnya, AKP diasosiasikan seperti halnya partai konservatif demokrat yang ada dalam tradisi politik Uni Eropa. Mengutip Ahmad Dzakirin dalam “Kebangkitan Pos-Islamisme,” (2012), “Bisa dikatakan ini adalah sebagai siasat Erdogan untuk tidak terjebak dalam politik sekular Turki terlebih lagi dalam berhadapan dengan militer.”
Dalam berbagai kesempatan, Erdogan menegaskan karakter sekular partai politik yang dipimpinnya. “Partai tidak memiliki agama, tuntutan beriman hanya diperintahkan kepada manusia.”Dan AKP melihat strategi ini lebih tepat dan mengena karena berpotensi memperluas konstituensi dan basis elektoral, sementara disisi lain mencegah adanya radikalisasi kubu sekular yang terutama militer yang memiliki alasan untuk menggulung partai.
Dalam “Tinjauan Gaya Kepemimpinan Dan Kebijakan Islamisasi Turki Recep Tayyip Erdogan” (2022), Naurah Habibah menuliskan, “Recep Tayyip Erdogan merupakan seorang politisi yang dijuluki sebagai penghapus sekularisme yang diwariskan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Melalui aksi politik yang dilakukannya, Erdogan berhasil mengembalikan masa keemasan Turki yang asalnya terjerat fanatik sekularisme dan terjadi pengosongan nilai-nilai Islam di negara Turki. Dengan langkah politik melalui kebijakan-kebijakannya, ia mampu meyakinkan masyarakat Turki bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan bangsa.”
Sejarah mencatat, menurut Muhammad Iqbal dan Amin Husein Nasution, dalam “Pemikiran Politik Islam Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer,” (2015), Turki merupakan negara yang sebelumnya mendapat julukan sebagai negara sekuler, hal tersebut tidak terlepas dari peran pemimpin sebelumnya, yaitu Mustafa Kemal Attaturk yang menyusupkan ideologi sekuler di negara yang menjadi perbatasan antara Asia dan Eropa tersebut.
Pada tanggal 3 Maret 1924 secara resmi ia menghapus khilafah Turki Utsmani yang telah berjaya lebih dari 4 abad di wilayah Turki. Mustafa Kemal Attaturk membandingkan negara-negara Barat yang memposisikan agama berada di ruang privat dengan di bawah kontrol negara hingga berhasil membina peradaban yang maju. Oleh sebab itu, apabila Turki menghendaki pemerintahan yang tumbuh berkembang dan modern, berarti tidak ada acara lain selain meniru perdaban Barat dengan melakukan sekularisasi. Maka masyarakat Turki harus diubah menjadi seperti Barat.
Sebagai Perdana Menteri dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengembalikan nilai-nilai Islam di Turki dengan mengimplementasikan kebijakan politik pemerintahannya telah mampu mengangkat martabat masyarakat Turki yang mayoritas beragama Islam, begitu pula dengan keberhasilannya memberi kebebasan dalam menjalankan syariat Islam secara nyaman di kalangan masyarakat Turki.
Prestasi politik pemerintahan Erdogan mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan sebelumnya sebagai “The Sick Man in Europe” menjadi negara yang sehat dan maju, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan konstribusi dalam menciptakan perdamaian.
Apakah pada Pemilu Turkiye 2023 Recep Tayyip Erdogan kembali memenangkan Pilpres kali ini? Kepada para pendukungnya di Ankara, Senin (15/5), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kepada para pendukungnya, masih bisa memenangkan pilpres. Namun, ia juga akan menghormati putusan rakyat Turki jika harus meneruskan pertarungan ke putaran kedua pilpres.
Pada pilpres kali ini Erdogan menghadapi persaingan ketat dari capres oposisi Kemal Kilicdaroglu. Jika hasil akhir penghitungan masih menunjukkan kedua kandidat di bawah 50 persen lebih, maka keduanya bertarung di putaran kedua pada 28 Mei 2023.
‘’Kita belum tahu apakah pilpres ini akan berakhir di putaran pertama. Namun, jika bangsa ini memilih untuk meneruskannya ke putaran kedua, hal itu juga akan saya terima,’’ kata Erdogan. (maspril aries)






