Pada Pertemuan Nasional Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) yang berlangsung di Yogyakarta, Kepala Disnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga menyerahkan berkas usulan dari Muba. (FOTO: Dok Disnakertrans Muba)
KINGDOMSRIWIJAYA, Yogyakarta – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Musi Banyuasin (Muba), Herryandi Sinulingga hadir pada Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) yang berlangsung di Yogyakarta.
Kahadiran Sinulingga di Yogyakarta bukan sekadar menghadiri kegiatan seremonial tahunan belaka. Melainkan menjadi saksi sebuah langkah besar bagi masyarakat di pelosok Kabupaten Muba, yakni sebuah misi penting yang dibawa oleh delegasi dari Bumi Serasan Sekate.
Kepala Disnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga, datang dengan tas penuh dokumen usulan. Di dalamnya, termaktub mimpi ribuan warga di Kawasan Transmigrasi UPT Air Balui Jud Nganti, Kecamatan Sanga Desa, yang merindukan jalan mulus, sekolah yang kokoh, dan layanan kesehatan yang memadai.
Kadisnakertrans Muba datang ke Yogyakarta tidak sendirian. Ia didampingi oleh Kepala UPT Transmigrasi, Edward Lakasi, serta Ketua DPC PATRI Muba, Irwanto. Kehadiran tim lengkap ini menunjukkan betapa seriusnya Pemerintah Kabupaten Muba dalam memperjuangkan hak-hak warga transmigran.
“Kami datang Yogyakarta dengan satu tujuan, memastikan suara warga trans di Muba terdengar hingga ke pusat”, kata Sinulingga, Sabtu (7/9). Menurutnya, kawasan transmigrasi Muba bukan sekadar titik koordinat di peta pembangunan. Mereka adalah garda terdepan pertumbuhan ekonomi daerah yang selama ini sering kali terhambat oleh keterbatasan akses. Fokus utama yang dibawa adalah UPT Air Balui Jud Nganti di Kecamatan Sanga Desa. Kawasan ini memiliki potensi besar, namun masih terkendala oleh infrastruktur yang belum sepenuhnya “merdeka”.
Rantai Isolasi
Poin krusial pertama dalam usulan tersebut adalah konektivitas. Selama bertahun-tahun, warga di Desa Jud 1 dan Desa Air Balui harus berjibaku dengan medan yang sulit, terutama saat musim penghujan.
Dalam dokumen yang diserahkan kepada kementerian terkait dan forum PATRI, Pemkab Muba mengusulkan pembangunan serta pengecoran jalan induk. Bukan sekadar pengerasan, tapi pengecoran permanen agar mobilitas ekonomi—mulai dari angkutan hasil kebun hingga akses anak sekolah—bisa berjalan tanpa hambatan.
Tak hanya jalan, pembangunan jembatan penghubung juga menjadi harga mati. Jembatan ini dianggap sebagai “nadi” yang akan menghubungkan kantong-kantong produksi di kawasan transmigrasi menuju pasar yang lebih luas. Tanpa jembatan, biaya logistik membengkak, dan kesejahteraan petani transmigran tetap jalan di tempat.
Bagi Muba, pembangunan fisik tanpa penguatan sumber daya manusia adalah kesia-siaan. Itulah filosofi yang dipegang Sinulingga. Oleh karena itu, poin kedua dalam usulan Muba adalah pembenahan fasilitas dasar yang mulai dimakan usia.

“Bupati Muba melalui Disnakertrans mengusulkan rehabilitasi total untuk SD Negeri 4 Firial dan SD Negeri 4 Induk UPT Air Balui. Total ada 15 titik sekolah yang kami ajukan untuk diperbaiki”, kata mantan Kepala Dinas Kominfo Muba.
Muba vertekad bayangan anak-anak transmigran yang belajar di bawah atap bocor atau lantai yang retak harus segera diakhiri. Pendidikan adalah satu-satunya “eskalator” bagi anak-anak transmigran untuk mengubah nasib mereka di masa depan.
Di sisi lain, sektor kesehatan juga mendapatkan perhatian khusus. Perbaikan Pusat Kesehatan Pembantu (Pustu) UPT II Trans Air Balui menjadi prioritas utama. Selama ini, akses kesehatan yang jauh sering kali menjadi momok bagi warga saat menghadapi situasi darurat medis. Dengan Pustu yang layak, negara hadir di tengah-tengah mereka.
Banjir dan Rumah Layak
Isu kemanusiaan juga mewarnai usulan Pemkab Muba. Sejarah mencatat, beberapa kawasan eks transmigrasi di Muba kerap menjadi langganan banjir tahunan yang merugikan warga. Sebagai solusinya, Lingga membawa usulan pembangunan rumah relokasi bagi warga korban banjir.
“Kami ingin warga merasa aman di rumahnya sendiri. Relokasi ini bukan sekadar memindahkan orang, tapi membangun kembali harapan dan martabat mereka sebagai warga negara”, ujar Sinulingga.
Selain hunian, pembangunan fasilitas ibadah seperti musala dan penguatan gedung kantor UPT juga masuk dalam daftar. Kantor UPT yang representatif diharapkan mampu mengoptimalkan pelayanan publik, sehingga segala urusan administrasi warga bisa diselesaikan dengan cepat dan nyaman di tingkat lokal.
Kehadiran Disnakertrans Muba di Yogyakarta kali ini adalah kolaborasi erat antara birokrasi dan organisasi kemasyarakatan. Kehadiran Irwanto selaku Ketua DPC PATRI Muba memberikan “nyawa” pada setiap usulan yang disampaikan. Sebagai wadah para anak transmigran, PATRI tahu persis kebutuhan di lapangan.
“Ini adalah bukti sinergi kuat. Kita tidak hanya bicara seremonial, tetapi menyampaikan usulan teknis agar masyarakat transmigran di Muba mendapatkan fasilitas publik yang setara dan layak”, ujar Sinulingga.
Menurut Irwanto sendiri, langkah proaktif ini adalah angin segar. “Kami akan perjuangkan aspirasi keluarga besar transmigran ini. Jalan, sekolah, dan Pustu adalah hak dasar. Kami akan dorong melalui jalur-jalur strategis agar kementerian terkait segera merealisasikannya”, kata Irwanto dengan nada optimis. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






