Peserta pelatihan Cerdas Mengelola Keuangan UMKM Naik Kelas dari Kabupaten OKU Timur bersama PTBA Micro & Small Enterprise Funding Section Head. Weny Yuliastuti. (FOTO: Humas PTBA)
KINGDOMSRIWIJAYA, OKU Timur – Di sudut-sudut wilayah Belitang, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, deru mesin jahit, aroma harum kriya makanan, dan ketukan palu para perajin bukan sekadar suara bising aktivitas ekonomi. Itu adalah simfoni harapan. Namun, di balik semangat yang menggebu, ada satu momok yang sering kali membuat langkah para pejuang ekonomi akar rumput ini tertatih, “buta finansial”.
Banyak pelaku UMKM yang mahir memproduksi barang berkualitas, namun limbung saat harus menghitung laba bersih atau memisahkan uang dapur dengan modal usaha. Menyadari celah tersebut, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui Rumah BUMN Bukit Asam hadir membawa “kompas” baru bagi mereka melalui pelatihan bertajuk “Cerdas Mengelola Keuangan UMKM Naik Kelas” yang berlangsung akhir tahun 2025.
Bagi PTBA, mendukung UMKM bukan sekadar menyalurkan dana CSR, melainkan membangun ekosistem yang mandiri. Weny Yuliastuti, PTBA Micro & Small Enterprise Funding Section Head, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen BUMN tambang ini dalam mendukung penguatan UMKM binaan agar semakin mandiri dan berdaya saing. Kemandirian adalah muara dari seluruh pendampingan ini.
“Keuangan yang dikelola dengan baik akan menjadi pondasi kuat bagi UMKM untuk tumbuh, berkembang, dan siap naik kelas” kata Weny dengan nada optimis. Rabu (4/2). Baginya, angka-angka dalam buku kas bukan sekadar catatan mati, melainkan denyut nadi yang menentukan sejauh mana sebuah usaha bisa berlari.
Weny Yuliastuti menyampaikan harapannya. “Melalui pelatihan ini, pelaku UMKM tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten. Keuangan yang dikelola dengan baik akan menjadi pondasi kuat bagi UMKM untuk tumbuh, berkembang, dan siap naik kelas”, ujarnya.
Untuk sesi pelatihan PTBA menghadirkan nara sumber Purwanto, MM., CFP, seorang pakar perencana keuangan. Ia menekankan satu hal krusial bagi UMKM untuk berkembang “kedisiplinan”.
“UMKM yang ingin naik kelas harus memulai dari keuangan yang tertib dan terukur. Dengan pencatatan yang rapi, pelaku usaha dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan mengelola risiko” kata Purwanto di hadapan para peserta yang antusias mencatat setiap poin presentasinya.

Transformasi di Belitang ini sejalan dengan visi besar Pemerintah Pusat. Melalui Kementerian UMKM”, pemerintah telah merancang model pengelolaan keuangan yang terstandarisasi agar pelaku usaha kecil bisa sejajar dengan korporasi dalam hal akuntabilitas.
Berikut adalah pilar-pilar model pengelolaan keuangan yang kini didorong oleh Kementerian UMKM:
1. Literasi Digital dan Aplikasi SAK-EMKM
Kementerian UMKM mendorong transisi dari pencatatan manual ke digital. Mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK-EMKM), pemerintah memperkenalkan aplikasi seperti “Laporan Akuntansi Usaha Mikro (LAMIKRO)”. Model ini menyederhanakan siklus akuntansi yang rumit menjadi input data yang mudah dipahami, sehingga laporan laba rugi bisa dihasilkan secara otomatis.
2. Pemisahan Aset (Entity Concept)
Salah satu “dosa besar” UMKM adalah mencampuradukkan uang pribadi dan usaha. Model pengelolaan dari Kementerian menekankan konsep entitas ekonomi yang terpisah. Pelaku usaha diajarkan untuk “menggaji” diri sendiri agar arus kas perusahaan tidak terganggu oleh kebutuhan konsumtif rumah tangga.
3. Akses Pembiayaan Berbasis Data (Credit Scoring)
Dengan manajemen keuangan yang tertib, UMKM tidak lagi kesulitan saat berhadapan dengan perbankan. Model yang diusung pemerintah bertujuan menciptakan *financial track record*. Laporan keuangan yang sehat menjadi tiket bagi UMKM untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pembiayaan dari lembaga seperti PTBA dengan bunga yang kompetitif.
4. Manajemen Arus Kas (Cash Flow Management)
Banyak usaha yang terlihat ramai namun sebenarnya “keropos” karena masalah piutang atau stok yang menumpuk. Kementerian menekankan pentingnya memantau cash flow operasional, investasi, dan pendanaan agar usaha memiliki bantalan likuiditas yang cukup saat krisis melanda.
Weny Yuliastuti menutup sesi pelatihan dengan sebuah harapan besar. Ia ingin ilmu yang diperoleh tidak mengendap sebagai catatan di buku, tetapi menjadi budaya kerja baru. “Pelatihan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi UMKM Belitang. Ilmu yang diperoleh harus diterapkan langsung untuk mendorong kesiapan UMKM menghadapi tantangan global”, ujarnya. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






