Home / Lingkungan / Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Contohnya, bayangin kamu perlu Rp10 juta. Daripada minta ke satu orang kaya, kamu minta Rp10.000 ke seribu orang. Lebih gampang, kan? Dalam konteks bencana, ini berarti setiap orang bisa nyumbang berapapun yang dia punya, dan semua sumbangan kecil itu akan jadi dana raksasa yang super cepat!

Inti dari crowdfunding itu ada tiga, Pertama, Transparan. Semua orang bisa lihat duitnya udah terkumpul berapa, dan statusnya real-time. Kedua, Tujuan Sama. Kita semua sepakat mau bantu, jadi semangatnya sama. Ketiga, Dari Rakyat. Semua dana datang langsung dari masyarakat biasa yang besar nilai donasi tidak dibatasi.

Pada crowdfunding bencana untuk Sumatera dari Ferry Irwandi yang jumlahnya 87.605 penyumbang, namanya Donation Crowdfunding. Menyumbang murni buat amal, tanpa berharap imbalan balik uang atau barang.

Namanya memang keren crowdfunding dan high-tech. Namun sebenernya ide ngumpulin dana bareng-bareng ini sudah ada sejak lama. Ide mengumpulkan dana dari banyak orang bukan hal baru. Ayo kita bongkar ceritanya.

Pada 1783, musisi Mozart menggalang dana dari para patron untuk mengadakan konser. Pada 1885, masyarakat Amerika Serikat menyumbang untuk membangun alas Patung Liberty. Alas Patung Liberty di Amerika Serikat dulu dibangun pakai sistem crowdfunding. Seorang jurnalis, Joseph Pulitzer, memprakarasainya, mengajak semua orang menyumbang, bahkan yang cuma bisa nyumbang kurang dari satu dolar pun diterima. Hasilnya, lebih dari 120.000 orang nyumbang! Keren kan?

Diantara bantuan yang berhasil dikumpulkan Ferry Irwandi dan Kitabisa.com diangkut ke daerah bencana dengan pesawat dari Polri. (FOTO: IG @irwandiferry)
Diantara bantuan yang berhasil dikumpulkan Ferry Irwandi dan Kitabisa.com diangkut ke daerah bencana dengan pesawat dari Polri. (FOTO: IG @irwandiferry)

Di Indonesia, tradisi patungan (urunan, iuran) untuk keperluan hajatan, modal usaha, atau membantu tetangga yang sakit adalah bentuk crowdfunding analog. Kemudian masyarakat pers, melalui majalah dan surat kabar sampai stasiun televisi juga pernah menjadi “platform” penggalangan dana untuk korban bencana.

Kemudian masa berganti, era berganti, masuk ke era digital yang ditandai dengan munculnya platform modern. Tahun 1997 sebuah grup band, Marillion dari Inggris menggunakan fanbase internetnya untuk mendanai tur AS, dianggap sebagai salah contoh crowdfunding modern pertama. Tahun 2003 ada platform seperti ArtistShare yang fokus pada proyek musik. Kemudia tahun 2009 diluncurkan platform formal seperti Kickstarter dan di Indonesia ada Kitabisa.com (2013).

Pages: 1 2 3 4 5 6

Tagged: