Home / Literasi / Penyair Anwar Putra Bayu Rindu Kehadiran Penulis Perempuan

Penyair Anwar Putra Bayu Rindu Kehadiran Penulis Perempuan

Penulis Perempuan Aina Rumiytai Aziz dengan buku terbarunya, buku puisi “Pulang” (FOTO: Dok. Aina RA)

KINGDOMSRIWIJAYA – Pada acara Bincang Buku Puisi “Pulang” karya Aina Rumiyati Aziz yang berlangsung, 11 April 2025, sastrawan Sumatera Selatan (Sumsel) Anwar Putra Bayu ditanya wartawan tentang penulis perempuan khususnya penyair dari Sumsel.

Kepada sastrawan yang akrab disapa Bayu, Dina Apriana seorang reporter dari Radio Sonora Palembang bertanya, “Bagaimana kontribusi Buku Puisi ‘Pulang’ dalam perkembangan dunia kepenulisan perempuan khususnya puisi di Sumatera Selatan, menurut Anda?”

Bayu yang juga Ketua Satupena Sumsel menjawabnya, “Buku puisi ‘Pulang’ ini salah satu sumbangan dalam khasanah dunia penulisan perempuan. Di Sumsel kita miskin dalam hitungan, sedikit sekali jumlah penulis perempuan. Seolah-olah penulis puisi atau sastra pada umumnya adalah milik kaum lak-laki”.

Menurutnya, dunia kepenulisan sastra apakah puisi atau novel, ada kesenjangan. “Jika dilihat runut dari tahun, dalam beberapa tahun atau 10 tahun belakangan ada beberapa buku karya penulis perempuan yang terbit”.

Bayu menjelaskan, tahun 2013 ada penulis Rita Sumarni menerbitkan buku puisi berjudul “Titipan Hati”. Tahun 2017 Dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) Izah Zen Syukri menerbitkan buku berjudul “Karena Rindu”. Tahun 2018, Dian Rennuati dengan buku berjudul “Selalu Ingat”. Tahun 2018 Lely Mela Sary menerbitkan buku puisi “Evolusi Patah Hati” dan tahun 2024 kembali menerbitkan buku puisi berjudul “Hujan yang hilang”.

“Tahun 2025 buku puisi ‘Pulang’ dari penulis perempuan Aina Rumiyati Aziz. Jadi dalam kurun 12 tahun di Palembang hanya ada enam judul buku genre sastra karya penulis perempuan yang terbit. Selain itu ada beberapa antologi puisi bersama”, kata Anwar Putra Bayu yang juga Koordinator Satupena Sumatera.


Acara bincang buku puisi "Pulang". (FOTO: Dok. Aina RA)
Acara bincang buku puisi “Pulang”. (FOTO: Dok. Aina RA)

Beberapa buku antologi puisi bersama yang pernah terbit dengan melibatkan penulisan perempuan dari Sumsel di antaranya penulis Linny Oktovianny, Rita Sumarni, Dian Renuati, Ine Somad, Ani Sumarni dan Hesma Eryani. Tahun 2013 pernah terbit satu buku kumpulan cerpen berjudul “Bunga Rampai 8 Jurnalis dari Bumi Sriwijaya” dengan Editor Maspril Aries yang melibatkan seorang jurnalis perempuan Noparina Bahraq.

Menurut Bayu, dunia kepenulisan di Sumsel merindukan kehadiran penulis-penulis perempuan, tidak hanya penulis puisi juga prosa. Kehadiran penulis pria selama ini cukup mendominasi dalam dunia kepenulisan di provinsi berjuluk Bumi Sriwijaya

Jika rindu adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merindukan kehadiran, kehangatan, atau hubungan dengan sesuatu atau seseorang yang istimewa. Rindu sering kali bercampur antara keindahan kenangan dan harapan untuk bertemu kembali. Maka kehadiran buku puisi tunggal “Pulang” karya Aina Rumiyati Aziz adalah jawaban dari kerinduan sekaligus menambah kekayaan khasanah dunia perbukuan di Sumsel.

Ternyata penulis di Sumatera Selatan (Sumsel) tidak hanya bermukim di Palembang sebagai ibu kota provinsi, ada juga di Lubuklinggau dan sekitarnya. Di kota yang berjarak sekitar 300 km ada penulis novel nasional Benny Arnas. Menurut Benny, di Lubuklinggau ada juga penulis perempuan, salah satunya Desy Arisandi yang pada pada 2024 menerbit kumpulan cerita berjudul “Hamidah Hamiduh”.

Kerinduan penyair Anwar Putra Baru pada penulis perempuan di Sumsel saat sudah menjadi keinginan sejak lama. Sebuah artikelnya pernah ditulis surat kabar lokal yang terbit tahun 2008 judulnya “Pengarang Perempuan dan Lokalitas”.

Pada paragraf pertama dari tulisannya ia menulis: “Sebuah kenyataan yang harus diterima oleh jagad sastra, khususnya dunia pengarang di Sumatera Selatan dengan jumlah penduduk lebih kurang 6.518.791 jiwa (data tahun 2003) yang mendiami 11 kabupaten dan 4 kotamadya, maka sedikit sekali bahkan dapat dihitung dengan jari tangan adanya pengarang berjenis kelamin perempuan”.


Nara sumber bincang buku puisi "Pulang", dari kiri - kanan, Weny Ramdiastuti (moderator), Prof Nurhayati Guru Besar Bahasa dan Sastra Unsri, Anwar Putra Bayu dan Aina Rumiyati Aziz penulis buku puisi "Pulang". (FOTO: Dok. Aina RA)
Nara sumber bincang buku puisi “Pulang”, dari kiri – kanan, Weny Ramdiastuti (moderator), Prof Nurhayati Guru Besar Bahasa dan Sastra Unsri, Anwar Putra Bayu dan Aina Rumiyati Aziz penulis buku puisi “Pulang”. (FOTO: Dok. Aina RA)

Bila dicermati beberapa buku yang memuat tentang data atau biografi pengarang Indonesia, buku Direktori Penulis Indonesia (Depdikbud 1997) misalnya, maka hanya tercatat nama seorang perempuan kelahiran Bangka, yakni Hamidah. Selebihnya pengarang laki-laki dari Sumatera Selatan. Sebelum reformasi 1998, Pulau Bangka atau Kabupaten Bangka menjadi bagian dari Provinsi Sumsel.

Menurut Bayu, setelah Hamidah meninggal pada 8 Mei 1953, tidak ditemukan lagi pengarang perempuan selama lebih kurang 37 tahun yang khusus memberi kontribusi terhadap denyut sastra di Sumatera Selatan. Barulah memasuki era 1990-an muncul beberapa nama-nama seperti Hesma Eryani (almarhumah), Emedi Serry dan Ine Somad. Kehadiran mereka mewarnai jagad sastra Sumatera Selatan melalui karya puisi mereka yang diterbitkan media cetak atau surat kabar lokal. Ine Somad bersama lima penyair laki-laki menerbitkan buku kumpulan puisi “Profetik Ghirah”, yang diterbitkan oleh Sriwijaya Media Utama tahun 1992.

Feminisme, Gender & Patriarki

Jika mendiskusikan tentang kepenulisan pada ranah sastra, khususnya dunia kepenulisan perempuan, kerap atau selalu dikaitkan atau terhubung dengan feminisme. Feminisme adalah paham yang menggabungkan doktrin persamaan hak bagi perempuan yang menjadi gerakan yang terorganisir untuk mencapai hak asasi perempuan.

Mengutip Widyastuti Purbani dalam “Watak dan Perjuangan Perempuan dalam Novel-Novel Karya Penulis Perempuan Indonesia dan Malaysia Awal Abad 21” (2013), feminisme dalam sastra adalah promosi dan pemeriksaan tulisan-tulisan kaum perempuan, yang selama berabad abad terpendam dan hampir tidak memiliki suara akibat dominasi yang kuat dari penulis laki-laki. Namun ruang dalam tulisan ini tidak akan membahas tentang feminisme tersebut.

Dalam dunia kepenulisan yang terkait dengan penulis perempuan juga kerap tidak terlepas dari keterkaitannya dengan gender dan patriarki. Gender dalam hal ini, seperti penjelasan Wiyatmi dalam “Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia” (2012) bahwa gender bukan permasalahan jenis kelamin. Gender dimaksudkan sebagai cara pandang terhadap laki-laki dan perempuan dari sudut nonbiologis.

Menurut Wiyatmi, konsep sosial yang merupakan konstruksi feminitas dan maskulinitas yang dibahas dalam isu gender. Hal-hal tersebut tercermin dalam perilaku, keyakinan, organisasi sosial, bahkan pembagian kerja di dalam kehidupan bermasyarakat. Masalah tersebut berakar dari budaya patriarki yang sudah mengakar lama di masyarakat.


Penyair Anwar Putra Bayu membaca puisi. (FOTO: Dok. Aina RA)
Penyair Anwar Putra Bayu membaca puisi. (FOTO: Dok. Aina RA)

Dan menurut Seplia Sartika Sari & Yenni Hayati dalam “Perempuan dalam Budaya Patriarki: Kajian Karya Sastra Penulis Perempuan Indonesia” (2023), sudah sejak lama kebiasaan masyarakat di dunia seolah telah menempatkan laki-laki pada kelas atau tingkatan pertama, dan perempuan di tingkatan bawah alias nomor dua. “Patriarki membentuk pandangan bahwa perempuan sebagai subordinat laki-laki. Artinya, perempuan akan tunduk di bawah laki-laki dalam keadaan apa pun”, tulis NA Guamarawati dalam dalam “Suatu Kajian Kriminologi Mengenai Kekerasan terhadap Perempuan dalam Relasi Pacaran Heteroseksual” (2009).

Sistem patriarki yang mendominasi kebudayaan masyarakat menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hingga ke berbagai aspek kegiatan manusia. Termasuk dalam dunia kepenulisan dan di jagat sastra.

Dunia Kepenulisan

Dunia kepenulisan dalam ranah sastra di Indonesia tidak hanya dibentuk oleh penulis-penulis besar dari komunitas penulis laki-laki atau yang berasal dari kota-kota besar semata, tetapi juga ada kontribusi suara perempuan atau penulis perempuan dan mereka tersebar di berbagai daerah, sehingga ini menghadirkan perspektif unik tentang kehidupan, budaya, dan identitas.

Dalam sejarah kepenulisan di Indonesia, penulis perempuan Indonesia telah berkontribusi besar dalam membentuk khazanah sastra dengan karya-karya yang memikat, mulai dari puisi, cerpen, novel, hingga esai.

Jika membicarakan sejarah penulis perempuan Indonesia sudah ada sejak era kolonial, meskipun pada masa itu akses pendidikan dan publikasi bagi perempuan masih terbatas. Sebut saja, RA Kartini (1879–1904) yang lebih dikenal sebagai pejuang emansipasi, ia telah menulis dalam surat-suratnya yang kemudian dikenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Karya ini ada yang menyebut sebagai karya sastra yang menggambarkan pergulatan perempuan Jawa di bawah tekanan tradisi dan kolonialisme.

Kemudian dari Sumatera Barat (Sumbar) ada penulis perempuan Sariamin Ismail (Selasih) (1909–1995) yang terkenal dengan novel berjudul Kalau Tak Untung (1934) dan merupakan salah satu novel pertama karya penulis perempuan di Indonesia.


Penulis perempuan Aina Rumiyati Aziz menyerahkan buku puisi "Pulang" kepada Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, Zaki Aslam. (FOTO: Dok. Aina RA)
Penulis perempuan Aina Rumiyati Aziz menyerahkan buku puisi “Pulang” kepada Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, Zaki Aslam. (FOTO: Dok. Aina RA)

Nanik Setyawati dan kawan-kawan dalam penelitiannya berjudul “Potret Eksploitasi Perempuan oleh Penulis Perempuan dalam Susastra Angkatan 2000-An: Kajian Feminisme Dalam Susastra Indonesia” menulis, peran perempuan dalam susastra merupakan situasi yang sangat positif dalam dunia kepenulisan mengingat dunia kepenulisan selama ini selalu didominasi kaum laki-laki. Besarnya dominasi kaum laki-laki muncul karena pengaruh penulis-penulis perempuan terlalu lemah sehingga warna “keperempuanan” seolah tak ada dalam khasanah susastra Indonesia.

Baru pada kisaran 1970-an, ketika gelombang persamaan gender dan feminisme memasuki Indonesia, barulah penulis-penulis perempuan mulai bermunculan satu-persatu.

Diakui atau tidak gelombang feminisme dan perubahan sosial pada dekade-dekade berikutnya memberikan dorongan signifikan bagi perkembangan kepenulisan bagi perempuan di Indonesia. Penulis perempuan tidak lagi hanya berkutat pada isu-isu domestik atau romansa, tetapi mulai mengangkat tema-tema yang lebih kompleks dan berani, seperti ketidakadilan gender, kekerasan, politik, dan spiritualitas.

Munculnya berbagai komunitas literasi dan platform publikasi, baik cetak maupun digital, juga memberikan ruang yang lebih luas bagi penulis perempuan dari berbagai daerah untuk menyuarakan karya mereka. Internet dan media sosial telah membuka peluang baru untuk berinteraksi dengan pembaca dan membangun jaringan dengan penulis lain.

Dinamika kepenulisan perempuan Indonesia juga tercermin dalam keragaman genre yang mereka tekuni. Mulai dari puisi yang liris dan reflektif, cerpen yang padat dan menggugah, hingga novel yang epik dan mendalam. Mereka juga merambah genre non-fiksi, seperti esai, memoar, dan tulisan-tulisan ilmiah dengan perspektif perempuan.

Salah satu aspek menarik dari lanskap kepenulisan perempuan Indonesia adalah munculnya suara-suara (penulis) perempuan dari berbagai daerah yang membawa kekayaan budaya, bahasa, dan pengalaman lokal ke dalam karya mereka. Mereka tidak hanya menceritakan kisah-kisah dari daerah mereka, tetapi juga memberikan perspektif yang unik tentang isu-isu nasional dan global melalui lensa lokal.


Meskipun telah mencapai banyak kemajuan, penulis perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Stereotip gender dalam dunia literasi, kurangnya representasi dalam penerbitan dan penghargaan, serta tantangan dalam menyeimbangkan peran domestik dan karir menulis masih menjadi isu yang relevan untuk diskusikan dalam khasanah sastra Indonesia.

Menjawab kerinduan Anwar Putra Bayu, akan ada dan selalu ada bahwa semangat dan dedikasi para penulis perempuan Indonesia tidak pernah surut. Mereka terus berkarya, menghasilkan tulisan-tulisan yang kuat, inovatif, dan menggugah. Anwar Putra Bayu bersama komunitas-komunitas penulis perempuan sudah saatnya maju ke depan terus memberikan dukungan dan ruang untuk berbagi pengalaman dan ide.

Harapannya, akan semakin banyak lagi penulis perempuan di Sumatera Selatan, bukan hanya dari Palembang tapi dari daerah kota dan kabupaten lainnya mendapatkan pengakuan dan kesempatan untuk menyuarakan karya mereka. Dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah setempat, termasuk penerbit, media, dan pembaca, sangat penting untuk menciptakan ekosistem literasi yang lebih inklusif dan beragam.

Jika kita cermati perjalanan penulis perempuan Indonesia adalah kisah tentang keberanian, ketekunan, dan kekuatan suara. Dari pionir seperti Kartini hingga generasi penulis kontemporer, mereka telah memberikan kontribusi yang tak ternilai dalam memperkaya khazanah sastra bangsa. Melalui puisi, cerpen, novel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya, mereka menghadirkan perspektif yang unik, mengangkat isu-isu penting, dan menceritakan kisah-kisah yang menginspirasi dan menggugah.

Mari terus mendukung dan memberikan ruang bagi penulis perempuan dari seluruh pelosok negeri, kita tidak hanya merayakan keberagaman suara, tetapi juga memperkuat fondasi literasi Indonesia yang kaya dan berdaya. Untaian kata dari para penulis perempuan Indonesia adalah cerminan dari jiwa bangsa yang terus bertumbuh dan berkembang. (maspril aries)

Tagged: