Home > Budaya

Lokananta Lahir dari Keresahan Maladi pada Dominasi Lagu Barat (Bagian 1)

Pemberian nama label Indra Vox untuk studio rekaman yang berdiri di Solo tersebut membuat Presiden Soekarno tidak dapat menerimanya.

Salah satu sudut ruang pamer di Lokananta.

Versi lain tentang pendirian Lokanantan dari buku “20 Tahun Indonesia Merdeka Jilid IX” yang diterbitkan Departemen Penerangan menyebutkan, “Pendiriannya merupakan realisasi dari gagasan yang dicetuskan oleh Direktur Jenderal Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1954.”

Namun demikian, sebenarnya tahun1952 RRI telah menyiapkan rencana pembangunan untuk jangka waktu selama lima tahun secara keseluruhan dalam bidang program, peralatan teknik dan studio, serta personil dengan suatu garis kebijakan yaitu mendahulukan pembangunan pada studio studio di daerah.

Dengan kata lain menurut Dhanang Respati Puguh dalam “Perusahaan Rekaman Lokananta, 1956-1990-an: Perkembangan Produksi dan Kiprahnya dalam Penyebarluasan Seni Pertunjukan Jawa Surakarta” (2018), pendirian Lokananta merupakan realisasi dari rencana pembangunan yang terkait dengan upaya untuk menopang keberadaan stasiun RRI yang berada di beberapa daerah.

Pada awal tahun 1958 atau 1959, piringan hitam yang sudah diperbanyak kemudian disebarluaskan ke seluruh cabang RRI di Indonesia dengan nama label baru Lokananta. Inilah sejarah cikal bakal berdirinya studio rekaman atau label musik bernama Lokananta Record yang kemudian pada 3 Juni 2023 diresmikan kembali revitalisasinya oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Sejak saat itu Lokananta menjadi aset berharga milik Bangsa Indonesia yang merupakan industri rekaman pertama miliki negara. Lambat laun seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi rekaman Lokananta mulai ditinggalkan.

Pada masa kejayaannya, Lokananta Records termasuk label rekaman modern di Indonesia. Walau perusahaan rekaman yang dibiayai pemerintah, peralatan rekaman Lokananta memiliki sebuah Mixer analog Trident London series 80 B. Alat tersebut sama dengan yang digunakan BBC London masa itu.

Pada masa Orde Baru Lokananta menjadi perusahaan rekaman memiliki peralatan produksi yang sangat lengkap. Pada tahun 1980-an luas studio rekaman Lokananata berukuran 25 x 13 x 7 meter, memiliki mixer 32 track, pencetak piringan hitam, high-speed duplicating kaset hingga mesin penggandaan format video Betamax dan VHS. Saat berada di bawah Departemen Penerangan (Deppen), Lokananta memiliki peralatan rekaman terbaik seperti ada di Eropa.

Sebagai studio rekaman, Lokananta mulai merekam lagu berjudul “Kembang Kacang” yang menjadi karya lagu pertama masuk dapur rekaman studio Lokananta Records, lagu tersebut dinyanyikan penyanyi Waldjinah. Kemudian Lokananta Records terus merekam lagu-lagu Waldjinah ke dalam piringan hitam. Piringan hitam tersebut ada yang masih tersimpan di Lokananta.

Kemudian album rekaman Waldjinah di Lokananta yang berjudul “Entit” menandai peralihan produksi rekaman piringan hitam ke kaset. (maspril aries)

× Image