Home / Budaya / Sedekah Rami Tradisi dari Sungai Keruh Muba

Sedekah Rami Tradisi dari Sungai Keruh Muba

Pj Bupati Muba Apriyadi dan Ketua TP PKK Muba melemparkan lemang kepada warga yang sudah menanti di bawah rumah. (FOTO-FOTO Dinkominfo Muba)

KAKI BUKIT – Ada banyak tradisi terus tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, salah satunya disebut “sedekah bumi.” Ada banyak tradisi sedekah bumi pada berbagai daerah di Nusantara. Seperti di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) ada tradisi sedekah bumi yang berlangsung setelah hari raya Idul Fitri, di sini disebut “sedekah rami.”

Kamis (3/5) warga dari berbagai desa di kecamatan Sungai Keruh datang berbondong ke Desa Kertayu yang menjadi tempat berlangsung tradisi sedekah rami. Penjabat (Pj) Bupati Muba Apriyadi bersama Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Asna Aini Apriyadi sengaja datang ke desa yang berjarak sekitar 35 km dari Sekayu, ibu kota Kabupaten Muba.

Ratusan warga memadati jalanan Desa Kertayu menunggu pembagian lemang dari Apriyadi dan Ketua TP PKK Asna Aini. Ternyata menurut seorang warga bernama Tarmizi, sudah sejak masih menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Muba, Apriyadi selalu menghadiri acara sedekah rami di desa mereka.

Saat Bupati Apriyadi membagikan lemang dari lantai dua rumah warga, di bawah dari orang tua, remaja dan anak-anak berebut lemang dengan gembira.

“Sedekah rami atau sedekah bumi di sini identik dengan lemang, makanan khas terbuat dari ketan yang dibakar menggunakan bambu. Rasanya, ada yang manis dan ada juga yang asin,” ujar Tarmizi.

Sementara itu menurut Kepala Desa Kertayu Ratna Juwita, kehadiran Pj Bupati Muba Apriyadi dan Ketua TP PKK Muba membuat acara tradisi sedekah rami tahun ini semakin semarak dan meriah.

Pj Bupati Muba makan bersama pada acara tradisi sedekah rami.

“Tahun lalu Pak Apriyadi juga datang ke sini untuk ikut acara sedekah rami. Sekarang datang lagi, dia sangat menjaga dan menghormati tradisi warga di di sini,” kata Ratna Juwita.

Melihat kehadiran warga yang ramai dan antusias berebut lemang, Pj Bupati Muba berpesan bahwa tradisi sedekah bumi dengan membagikan lemang tersebut harus terus dijaga dan dilestarikan. “Supaya anak cucu tetap menjaga tradisi ini, jangan sampai luntur. Apalagi ini sudah turun temurun dilaksanakan,” ujarnya.

Apriyadi sangat mengapresiasi antusias warga Kertayu dan warga Kecamatan Sungai Keruh yang hingga saat ini mampu menjaga tradisi kearifan lokal.

“Tradisi ini adalah salah satu bentuk wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa atas keberhasilan panen pertanian warga dan berharap agar selalu terhindar dari musibah dan bencana,” katanya.

Tradisi sedekah rami atau sedekah bumi selalu terlaksana setiap tahun, termasuk saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Seperti pada tahun 2021, sedekah bumi berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang langsung diawasi Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sungai Keruh.

Menurut Camat Sungai Keruh Edi Heryanto, sedekah bumi ini sudah menjadi tradisi masyarakat setempat sehingga warga tetap berupaya melaksanakannya walau sedang pandemi.

Ritual Adat

Sedekah rami atau sedekah bumi adalah tradisi yang ada di tengah masyarakat Indonesia. Ada beragam ritual dalam tradisi sedekah bumi antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Tradisi sedekah bumi di Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh berbeda dengan tradisi sedekah bumi di tempat lain.

Desa Kertayu di Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Muba memiliki luas wilayah sekitar 7.800 Ha letaknya sekitar 6 km dari pusat kecamatan. Jumlah penduduk sekitar 2.280 orang yang bermukim di enam dusun.

Pj Bupati Apriyadi melempar lemang kepada warga.

Mengenai sejarah tradisi sedekah rami atau sedekah bumi di Desa Kertayu, menurut penelitian Novalina Mursese dan Desy Misnawati berjudul “Makna Simbolik Ritual Adat Tradisi Sedekah Rami Di Desa Kertayu Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin” (2022), awal mula tradisi sedekah rami bermula saat di Desa Kertayu terkena suatu musibah berupa Aboh (wabah penyakit) muntaber yang mana pada saat itu tidak ada satupun masyarakat Kertayu yang tidak terkena penyakit tersebut dan bahkan banyak masyarakat yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Melihat keadaan meresahkan, masyarakat Desa Kertayu melakukan wangsit mencari petunjuk yang dilakukan melalui pertapaan yang diterima oleh juru kunci atas petunjuk dari Puyang Burung Jauh. Masyarakat diminta untuk melakukan sedekah bumi atau dikenal dengan sedekah rami yang pada saat itu dilaksanakan setelah panen padi dengan membuat makanan berupa lemang.

Setelah kejadian tersebut, ritual adat ini terus dilakukan oleh penduduk Kertayu sampai sekarang. Sedekah rami ini juga dianggap oleh penduduk Kertayu sebagai tolak balak. Tradisi sedekah rami juga menjadi tradisi yang yang dilakukan oleh penduduk Kertayu untuk mempererat silaturahmi kepada sesama.Setelah proses acara ini selesai penduduk akan bertamu ke setiap rumah tetangga mereka.

Sementara itu makanan lemang merupakan makanan pokok saat acara sedekah rami berlangsung. Lemang ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan menggunakan gula aren dan pisang kemudian dimasak di dalam bambu. Lemang pun menjadi sebuah simbol dalam sedekah rami.

Maka tradisi sedekah rami ini dikenal juga dengan “sedekah melemang.” Ada juga yang menyebut sedekah “Puyang Burung Jauh” atau “Puyang Tumamia” yang merupakan tokoh yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Kertayu.

Puyang Tumamia yang bergelar “Burung Jauh” dianggap oleh masyarakat sebagai seseorang yang kuat dan sekarang makamnya dikeramatkan oleh masyarakat di Desa Kertayu.

Puyang Tumamia atau Puyang Burung Jauh yang dikeramatkan oleh penduduk Desa Kertayu merupakan sosok seseorang yang tidak dilahirkan seperti layaknya manusia biasa pada umumnya, dia ditemukan di depan rumah gadis tua di desa ini, yaitu Puyang Rabi’ah kemudian dia dibesarkan oleh Puyang Rabi’ah ini.

Menurut Novalina Mursese dan Desy Misnawati dengan bersumber dari cerita rakyat barai (lama) dikatakan bahwa pada suatu hari saat Puyang Rabi’ah sedang bertenun didalam rumahnya tiba-tiba terdengar suara bayi menangis , kemudian Rabi’ah mengambil bayi tersebut dan dibawanya ke dalam rumah. Bayi tersebut kemudian diberi nama Tumamia dan dirawat dengan baik, bayi itu sudah dianggap oleh puyang Rabi’ah sebagai anak kandungnya sendiri walaupun ia tidak mengetahui asal usulnya.

Tradisi sedekah rami menjadi tradisi yang dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi oleh masyarakat Desa Kertayu. Sedekah rami merupakan ritual adat yang dilakukan masyarakat setelah panen padi, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tolak bala serta sebagai sarana mempererat silaturahmi kepada sesama.


Prosesi Sedekah Rami

Ramai dan meriahnya tradisi sekedah rami atau sedekah lemang di Desa Kertayu Kecamatan Sungai Keruh Muba.

Prosesi tradisi sedekah rami berawal dari pembicaraan antara para tetua adat, kepala desa dan perwakilan tokoh masyarakat bahwa akan dilangsungkan sedekah rami. Dibahas waktu dan tempat pelaksanaan lalu diumumkan di setiap masjid yang ada di Desa Kertayu.

Tradisi sedekah rami berlangsung setelah masyarakat panen padi ladang dan dilaksanakan pada siang hari setelah salat zuhur sampai dengan sore hari. Setelah tahu waktu pelaksanaan, warga Desa Kertayu akan mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan dalam pelaksanaan tradisi sedekah rami.

Warga lalu bersiap, bersama-sama mencari boloh (bambu) sebagai tempat pembuatan lemang. Bambu yang digunakan untuk melemang ini biasanya menggunakan bambu yang masih muda. Setelah bambu dibersihkan kemudian diletakkan lonco (lapisan daun pisang muda yang dijadikan sebagai lapisan pembatas antara bambu dengan beras ketan).

Kemudian dilakukan proses pengisian bambu dengan beras ketan yang dicampurkan dengan santan dan garam untuk lemang asin, (lemang lemak) ketan yang dicampurkan dengan santan dan gula merah serta gula pasir sebagai lemang manis, dan ketan yang dicampurkan dengan santan dan pisang yang sudah dihaluskan serta parutan kelapa untuk lemang pisang.

Lalu lemang tersebut siap dimasak dengan dibakar bambunya pada sendayan (bambu untuk menjepitkan lemang yang akan dimasak). Lalu api dinyalakan dengan membakar kayu. Setelah kira-kira lemang masak atau setelah api mulai padam dan bambu lemang mulai mengecut kemudian dilakukan proses nguce (penyisihan bara api di dekat lemang) selanjutnya leman di-tating (diangkat dari tempat pemasakan).

Setelah upacara ziarah ke makam Puyang Burung maka tradisi rami atau sedekah lemang pun dimulai.

Sedekah rami di Muba ternyata juga ada di desa lainnya di Muba, yakni di Desa Terusan Kecamatan Sanga Desa Kabupaten Muba. Tradisi sedekah rami di sini berbeda dengan yang ada di Desa Kertayu. Tradisi sedekah rami di Desa Terusan prosesinya hanya menggunakan punjung ayam dan tradisi ini dilakukan sebelum panen padi.

Demikian pula dengan tradisi sedekah rami di daerah tetangga Kabupaten Muba, yaitu di Kota Lubuklinggau. Di kota ini ada juga tradisi atau upacara adat yang bernama sedekah rami. Tradisi ini juga sudah berlangsung turun temurun oleh Marga Sidang Kelingi. Prosesi di sini berbeda dengan prosesi di Desa Kertayu, tidak ada sedekah lemang.

Pelaksanaan setelah salat Zuhur, warga satu persatu berdatangan ke tempat lokasi pelaksanaan sedekah rami. Kaum ibu datang dengan membawa beberapa jenis makanan antara lain punjung ayam putih, kuning, punjung ayam kumbang, punjung telur, punjung ayam mpat dulang, pisang mas, air kelapa dan lain-lain.

Kemudian pemegang benda-benda pusaka, datang ke lokasi acara dengan membawa benda-benda pusaka seperti keris, pedang, tombak, kain dan lain-lain. Masing-masing benda pusaka yang akan dibersihkan. Upacara sedekah rami diawali dengan pembacaan doa.

Lokasi prosesi sedekah rami ini dilaksanakan di pinggiran sungai Kelingi, karena pada akhir pelaksanaan ada pelepasan Jung (perahu) yang telah diisi dengan sesajian ke sungai Kelingi. (maspril aries)

Tagged: