Home > Teknologi

Mewaspadai Gempa Megathrust Pulau Sumatera

Pulau Sumatera terdapat patahan-patahan, salah satunya terdapat interaksi antar lempeng yang menghasilkan Zona Sesar Mentawai.

Sesar Semangko

Indonesia yang merupakan negara kepulauan terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni: Lempeng Eurasia, Indo Australia dan Lempeng Pasifik. Juga ada Lempeng mikro Filipina, yang bergerak ke arah selatan di sebelah utara Sulawesi.

Foto handout yang disediakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mentawai menunjukkan orang-orang berkumpul di luar klinik masyarakat setempat setelah gempa bumi berkekuatan 7,3 di Bataet, Pulau Mentawai, Sumatera Barat. (EPA-EFE/BPBD MENTAWAI)

Dengan posisi tersebut, menurut Wiko Setyonegoro dalam “Gempa Bumi Padang 30 September 2009 dan Potensi Tsunaminya,” wilayah kepulauan Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempa bumi tektonik.

Pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di sepanjang bagian barat lepas pantai Sumatera, menerus ke selatan Jawa - Nusa Tenggara dan membelok ke Laut Banda, terjadi proses subduksi di bagian barat Sumatera, lempeng India bergerak di bawah subduksi kerak ke Sumatera dengan tingkat kecepatan relatif 57 mm/ tahun. Tektonik aktif di wilayah Sumatera sering disebabkan oleh gempa bumi, yang menunjukkan distribusi dari daerah dengan gempa bumi dangkal dan memiliki intensitas tinggi.

Menurut Y. Bock dkk dalam “Crustal motion in Indonesia from Global Positioning System Measurements,” (2003), pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di selatan Jawa hampir tegak lurus, berbeda dengan pertemuan lempeng di wilayah Sumatera yang mempunyai subduksi miring dengan kecepatan 5-6 cm/tahun.

Wilayah barat Pulau Sumatera merupakan salah satu kawasan yang terletak pada pinggiran lempeng aktif (active plate margin) dunia yang dicerminkan tingginya frekuensi kejadian gempa bumi di wilayah ini. Sebaran gempa bumi di wilayah ini tidak hanya bersumber dari aktivitas zona subduksi, tetapi juga dari sistem sesar aktif di sepanjang Pulau Sumatera.

Sesar Semangko atau sering disebut Sesar Sumatera, adalah salah satu sesar tersebut yang memanjang dari Lampung (Teluk Semangka) di selatan sampai Aceh di sebelah utara. Panjangnya menurut Sigit Sukmono dari Teknik Geofisika ITB, panjangnya mencapai 1.650 km. Sesar Sumatera ini terbentuk akibat tumbukan atau penunjaman antara dua lempeng besar, Eurasi dan Indo-Australia.

“Sesar Sumatera ini merupakan salah satu sesar geser paling aktif di dunia dengan kecepatan pergerakannya mencapai 25 mm pertahun,” kata Sigit Sukmono dalam disertasinya, “Pendugaan Terjadinya Gempa di Sepanjang Sistem Sesar Sumatera dengan Metode Fraktal.”

Pulau Sumatera khususnya wilayah yang berada di sebelah Barat yang berhadapan dengan Samudera Hindia adalah daerah yang paling rawan dan rentan terhadap gempa tektonik akibat pergeseran lempang Sesar Semangko tersebut. Pergerakan lempeng tersebut jelas bisa mengundang bencana yang menelan korban jiwa dan materi.

Menurut Sigit Sukmono sesar yang membujur sejajar dengan Pegunungan Bukit Barisan itu terbagi menjadi 11 segmen. Pada segmen-segmen itu terletak daerah yang rawan gempa tektonik yang bisa terjadi setiap waktu. Selain itu Sumatera juga masih diancam oleh kemungkinan terjadinya gempa vulkanik yang juga bisa muncul setiap waktu akibat aktifnya gunung berapi yang banyak terletak di sepanjang pegunungan Bukit Barisan itu.

Dari 11 segmen itu, Sigit Sukmono menjelaskan, dengan dimensi fraktal D = 1,00 - 1,24, masih bisa dikelompokan dalam tiga kelompok. Pada masing-masing kelompok itu, dengan pemodelan fraktal menunjukkan ada hubungan yang relatif konstan antara dimensi fraktal dan terjadinya gempa merusak (kekuatan lebih dari lima skala Richter).

Dari setiap kelompok itu, gempa di Sumatera terjadi pada kisaran waktu 4 -6 tahun dan 6 - 8 tahun. Beberapa gempa yang pernah terjadi, tentu mengingatkan setiap manusia untuk selalu waspada. Selain itu juga dibutuhkan suatu ramalan yang bisa memperkirakan kapan gempa tektonik akibat pergerakan lempeng itu terjadi di Sumatera? Kita tentu tidak ingin jatuh korban jiwa atau kerugian material akibat bencana tesebut.

Sebagai gambaran, gempa yang terjadi di Liwa atau Lampung Barat menewaskan 90 orang penduduk setempat. Demikian pula dengan gempa yang terjadi di Kabupaten Kerinci menewaskan 200 orang penduduk di daerah yang terletak di kaki Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Sumatera. Untuk meramal kapan gempa terjadi, dengan metode fraktal, Sigit Sukmono bisa meramal dua gempa terakhir yang terjadi di Sumatera, yaitu gempa Kerinci yang diramal dua bulan sebelum terjadi gempa tersebut. Demikian pula dengan gempa Karo.

Kemampuan pendugaan atau peramalan gempa ini sangat diperlukan sebagai usaha mitigasi bencana gempa terkait sehingga kerugian sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya dapat ditekan. Tak kalah penting, kepada masyarakat yang daerahnya relatif sering terjadi gempa bumi, perlu bersiap diri untuk menyongsongnya. (maspril aries)

× Image