Maspril Aries memperkenalkan buku kumpulan cerpen karya AI “Perempuan di Tengah Labirin Mal” (FOTO: Dok. Tribun Sumsel)
KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Sebuah buku kumpulan cerpen terbaru berjudul “Perempuan di Tengah Labiran Mal” terbitkan Pustaka Labrak dan Kaki Bukit Literasi, September 2026 hadir ke ruang publik dan sudah diperkenalkan melalu kanal podcast Tribun Sumsel.
Buku yang penulisnya Artificial Intelligence atau AI hadir di tengah hiruk-pikuk perdebatan global tentang kecerdasan buatan yang kerap dikaitkan dengan otomasi pekerjaan dan ancaman terhadap kreativitas manusia.
Menurut Maspril Aries yang berperan sebagai penyunting dari buku setebal setebal xviii + 212 halaman, “Kumpulan cerpen dalam buku ini bukan karya manusia melainkan karya mesin yang disebut Artificial Intelligence atau AI”.
Buku yang memuat 21 judul cerpen, tidak hanya menawarkan serangkaian cerita pendek. “Buku ini menawarkan sebuah eksperimen, apa yang terjadi ketika mesin diminta menulis sastra, sementara manusia hanya bertindak sebagai penyunting, kurator, atau menjadi ‘penjaga cahaya’ manusiawi di balik kode?” ujar Maspril.
Buku “Perempuan di Tengah Labiran Mal”, katanya, adalah karya kolaboratif yang lahir dari dialog antara algoritma dan intuisi. Bukan sekadar kumpulan teks yang dihasilkan mesin, melainkan dokumentasi sastra atas pertanyaan filosofis yang menggugat batas: “Dapatkah mesin memahami dan mencipta keindahan, kerinduan, serta kompleksitas emosi manusia?”
Klik & Tonton: https://www.youtube.com/watch?v=A516rHPag2Y
Mengutip Nasir Tamara wartawan senior penulis buku “Revolusi Iran – Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS” yang memberikan endorse buku kumpulan cerpen ini, “Buku suntingan penulis berbakat Maspril Aries ini sangat menarik karena untuk pertama kalinya orang Indonesia mengedit cerita-pendek yang dibuat dari AI. Saya belum melihat orang Indonesia lain melakukannya. Karena sesungguhnya kebanyakan orang kita masih awam tentang potensi yang dimiliki AI”.

Menurut Nasir yang juga pendiri Toko Buku Natan di Yogyakarta, dengan suntingan Maspril, karya Akal Imitasi atau Artificial Intelligence bisa menjadi lebih baik mencapai derajat tertinggi dalam sastra. Tentu ini tidak mudah tetapi mungkin dilakukan dengan kerja cerdas dan imajinatif. Di sini bisa terjadi kolaborasi atau konfrontasi antara manusia dengan Akal Imitasi.
“Tren pemakaian bantuan dari AI dalam sastra sekarang pun di belahan bumi lain seperti di Amerika Serikat makin meluas memang. Tampaknya tren ini akan mendunia. Maspril telah memeloporinya di Indonesia. Untuk itu ia patut mendapat hadiah MURI”, ujar Nasir Tamara yang pernah menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika.
Bagi Maspril yang juga pernah bergabung dengan Harian Republika, di Sumatera Selatan (Sumsel) buku kumpulan cerpen “Perempuan di Tengah Labiran Mal” adalah buku pertama yang ditulis oleh AI, bahkan berpotensi menjadi tonggak awal di Indonesia untuk kumpulan cerpen komersial yang secara transparan menempatkan AI sebagai penghasil cerita utama.
Dalam catatan pengantar yang panjang, Maspril Aries menyebut proyek ini sebagai artefak budaya era digital, di mana penciptaan bukan lagi monopoli manusia, melainkan sebuah simbiosis. “AI adalah bukan sekadar alat atau tools jika berada di tangan yang tepat,” tulisnya.
Dari Prompt Sederhana Menuju Karya
Maspril menjelaskan, proses lahirnya buku ini bermula dari prompt. Bukan dari renungan panjang di meja kayu atau experience hidup yang digali dari luka pribadi, melainkan dari perintah teks yang diberikan kepada mesin. Ide-ide itu datang dari apa yang terlintas di benak, dari esai atau kutipan, dari lagu, dari foto-foto di media sosial, hingga dari berita yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. AI kemudian membangun cerita demi cerita, merangkai kata, menciptakan karakter, dan menyusun plot dengan menggali jutaan data teks sastra yang pernah ada.

Namun, kehadiran penyunting manusia menjadi kunci. “Pada buku ini saya berperan sebagai kurator dan penyaring yang mengubah output teknis menjadi karya yang koheren dan menyentuh.
Dalam catatan pembuka pada buku ini yang ditulis Muhammad Rachmadi, Dosen Sistem Informasi Universitas MDP menjelaskan, AI ditempatkan dalam berbagai peran yang mungkin: sebagai pencetus ide, kolaborator kreatif, penulis draf, atau bahkan penghasil cerita utuh. Dalam model yang dipilih buku ini, AI menghasilkan cerita berdasarkan ide manusia, lalu manusia memilih, memeriksa, menyunting, menyusun, dan memublikasikan dengan tetap menyatakan asal-usulnya.
Rachmadi menekankan bahwa pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “apakah AI bisa menulis cerpen?” – karena kenyataannya sudah bisa – melainkan bagaimana manusia memilih memanfaatkan AI. “Fokus pembahasannya bergeser dari kemampuan teknologi menuju keputusan kreatif manusia,” tulisnya.
Rachmadi menganalogikan AI dengan kamera. Seorang fotografer tidak mengarahkan kamera ke sembarang arah lalu berharap mendapatkan foto indah. Ia memilih objek, menentukan komposisi, mengatur pencahayaan, dan menekan tombol pada momen yang tepat. Kamera penting, tetapi kualitas foto tetap dipengaruhi visi fotografer. Demikian pula AI. Teknologi ini menyediakan kemampuan luar biasa, tetapi kualitas karya tetap sangat dipengaruhi oleh keputusan kreatif manusia.
Maspril Aries juga menegaskan, dengan mengutip pandangan Luciano Floridi dari Yale University dalam The Ethics of Artificial Intelligence (2019) bahwa AI dapat memperluas kapasitas kreatif manusia, tetapi tidak menggantikan pengalaman subjektif. AI lebih tepat dipandang sebagai co-creator. “Buku ini menjadi bukti artistik (proof of concept) bahwa output AI dapat disaring, dikurasi, dan diarahkan untuk menghasilkan karya dengan nilai sastra, emosi, dan kedalaman tertentu yang layak dinikmati khalayak”.
Maspril juga mengingatkan dalam menggunakan AI untuk menulis cerpen tetap ada risikonya. “Tanpa arahan yang kuat, hasil AI cenderung mengikuti pola-pola umum sehingga terasa generik dan kehilangan keunikan suara pengarang. Ada pertanyaan tentang orisinalitas, sebab AI belajar dari kumpulan teks yang sangat luas sehingga sewaktu-waktu dapat menghasilkan kalimat atau gagasan yang menyerupai karya orang lain tanpa disengaja. Di sinilah kejelian manusia menjadi penentu. Penulis yang berpengalaman akan mengenali kapan hasil AI terasa datar, kapan sebuah gagasan perlu diperkaya, dan kapan sebuah kalimat harus ditulis ulang agar terasa hidup”.

Bagi Maspril, buku ini juga bertujuan mendekatkan teknologi AI yang sering dianggap “dingin” dan teknis melalui medium cerita yang hangat dan manusiawi, sehingga masyarakat awam dapat memahami potensi dan limitasinya. Transparansi menjadi prinsip utama. Setiap cerpen dinyatakan sebagai karya AI, dan proses penyuntingan manusia tidak disembunyikan. “Sebagai karya mesin, manusia tidak bisa mengakui sebagai karya dirinya, walau ada sentuhan atau kontribusi pada karya tersebut”, katanya.
Menurut Maspril, gagasan utama yang menggerakkan buku ini bukanlah kompetisi antara manusia dan mesin, melainkan perluasan kemungkinan. “Buku Perempuan di Tengah Labirin Mal bukan tentang menggantikan penulis manusia. Ia adalah tentang perluasan kemungkinan”, ujarnya. Buku ini adalah cermin yang memantulkan bagaimana kita, sebagai manusia, mendefinisikan dan menemukan keunikan diri di era mesin yang semakin cerdas.
Sisi Cerita
Meski prosesnya digital, isi buku ini menawarkan keragaman cerita yang menyentuh isu-isu aktual dan lokal. Dari daftar isi, terlihat sekitar 30 cerpen (beberapa dalam dua bagian), ditambah dua catatan kritis dari wartawan senior Yurnaldi.
Cerpen pembuka, “Obituari yang Tidak Pernah Ditulis” (Bagian 1 dan 2), mengisahkan Roni, jurnalis muda yang mencoba menulis obituari untuk mentornya, Bramudia, wartawan tua yang dijuluki “Sang Pelita yang Enggan Padam.” Cerita ini digarap dari “Catatan Pinggir” Goenawan Mohamad berjudul “Seorang Wartawan Tua Meninggal” (Tempo, 11 September 1976). Di dalamnya, perdebatan antara idealisme dan realitas industri media digambarkan dengan tajam.

Kemudian ada cerpen “Bayang-Bayang di Tepian Sungai Musi” membawa pembaca ke pelataran Benteng Kuto Besak, Palembang. Raka, mantan anak jalanan yang kini menguasai parkiran liar dan “retribusi” malam, berhadapan dengan keluarga wisatawan dan aktivis muda bernama Dian yang merekam praktik pungli. Konflik memuncak antara premanisme yang tumbuh dari pembiaran dan perlawanan warga yang dipelopori Pak Usman. Sungai Musi menjadi saksi bisu. Cerita ini terinspirasi dari berbagai berita tentang pungli dan premanismeyang pernah terjadi di kawasan tepian sungai Musi.’
Buku ini juga memuat catatan kritis. Yurnaldi menulis esai “Mencari Makna di Ujung Cahaya” yang membaca ulang “Cahaya yang Tertinggal di Santorini”, serta “Puisi Melawan Algoritma” yang menanggapi “Kronik Polymath Nusantara”. Kehadiran catatan ini menambah lapisan interpretasi manusia atas karya mesin.
Secara keseluruhan, kumpulan ini menampilkan tema aktual, lingkungan, teknologi, sosial, cinta, dan kemanusiaan. Proses kreatifnya baru, manusia sebagai editor/penyunting AI dan relevan dengan perkembangan zaman digital. Meski ditulis mesin, setiap cerita dipilih dan disunting ketat agar tetap memiliki “cahaya” dan “rasa” yang autentik.
Buku kumpulan ”Perempuan di Tengah Labirin Mal” hadir di saat dunia sastra berdiri di persimpangan. Kecerdasan buatan yang selama ini dikenal melalui fungsi utilitasnya mulai menapaki wilayah yang dianggap sakral, kreativitas dan narasi manusia. Buku ini tidak menjawab semua pertanyaan. Ia justru membuka ruang dialog. Apakah AI dapat menulis karya sastra? Apakah kreativitas manusia akan tergantikan? Atau justru AI menjadi medium baru yang memperluas cara manusia berkarya?
Jawaban yang ditawarkan buku ini bersifat praktis dan etis, yang terpenting bukan seberapa besar peran AI, melainkan bagaimana pembagian peran antara manusia dan AI dirancang dengan jelas dan jujur. Dengan transparansi yang dijunjung, karya “non-manusia” pun dihargai dalam ekosistem kreatif, dengan manfaat yang dikembalikan ke masyarakat.
Menurut Maspril, penerbitan ini menjadi investasi bukan hanya pada satu judul, melainkan pada sebuah percakapan budaya yang akan menentukan lanskap kreativitas ke depan. Di tangan yang tepat, AI tidak mengakhiri kreativitas manusia. Ia justru menjadi awal dari bentuk kolaborasi baru, sebuah simbiosis di mana cahaya manusia di balik kode bertemu dengan cahaya kode yang belajar menjadi manusia.
Buku ini, dengan segala keterbatasan dan keberaniannya, menawarkan bukti bahwa di labirin mal modern yang penuh algoritma, masih ada ruang untuk cerita yang mencoba menyentuh hati. Dan di tengah labirin itu, perempuan, baik sebagai tokoh maupun sebagai metafora, tetap menyalakan lampu di jalan yang sunyi. ●





