Home / Literasi / “Lahan Basah Sungai Musi Dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa”, Jurnalisme Lingkungan yang Kaya Catatan Kaki

“Lahan Basah Sungai Musi Dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa”, Jurnalisme Lingkungan yang Kaya Catatan Kaki

Ilustrasi Taufik Wijaya dan buku terbarunya. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – Sungai Musi diciptakan Allah SWT ada di muka bumi, di Pulau Sumatera, bukan sekadar aliran air yang membelah Sumatera Selatan (Sumsel). Musi adalah nadi peradaban, pembawa sejarah, dan ruang hidup bagi jutaan manusia yang selama berabad-abad menautkan nasibnya pada ekosistem lahan basah. Namun, di balik kemegahannya, sungai ini kini tengah berjuang melawan gerusan zaman—menjadi korban sistematis dari apa yang disebut sebagai ruang ekstraksi.

Taufik Wijaya seorang penggiat sastra dan teater yang juga jurnalis menyajikan Sungai Musi dalam sebuah buku setebal 138 yang diberi judul “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa” (Ladang Publishing, 2026). Belum tuntas membalik lembar halamannya (versi digital/ e-book) maka tercium “aroma” Taufik Wijaya tengah menyajikan sebuah karya jurnalistik yang melampaui sekadar pelaporan peristiwa. Inilah reportase jurnalisme lingkungan berwujud buku, baik buku cetak atau digital.

Buku ini bukan hanya sebuah catatan jurnalisme lingkungan melainkan juga sebuah “jurnal penyelamatan” yang berupaya mendokumentasikan yang hilang, merekam ingatan yang tersisa, dan menggugah rasa kemanusiaan kita terhadap nasib rawa, sungai, dan gambut yang terpinggirkan oleh laju pembangunan. Sebagai sebuah karya ilmiah, buku ini masuk dalam kategori itu, karena kaya dengan catatan kaki, referense atau daftar pustaka dan indeks. Tiga hal ini biasanya identik dengan karya ilmiah yang lahir dari rahim akademisi/ kampus.

“Sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah ingatan, jalan kehidupan, sekaligus ruang tempat manusia belajar menghormati alam”.

Kalimat itu mungkin tidak tertulis secara eksplisit di halaman pertama buku Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa. Namun, setelah menelusuri setiap babnya (isi buku ini terbagi dalam empat bab), pembaca akan merasakan bahwa seluruh isi buku sebenarnya sedang menyampaikan pesan tersebut. Sungai Musi tidak hadir hanya sebagai bentang geografis yang membelah Sumatera Selatan. Sungai Musi adalah nadi peradaban yang selama berabad-abad membentuk identitas masyarakat Melayu, menjadi sumber pangan, jalur perdagangan, ruang spiritual, hingga tempat lahirnya berbagai pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi.

Dalam buku ini Taufik Wijaya yang pernah menjadi wartawan/ jurnalis Harian Lampung Post dan Detik.com, selain memotret Sungai Musi yang panjang dengan berbagai dinamika dan percik kehidupan di sekitar. Dalam buku ini ada potret pembangunan yang menjadikan lahan basah sebagai objek eksploitasi ekonomi. Taufik Wijaya tengah mengajak pembaca berhenti sejenak untuk memandang Sungai Musi dari sudut yang berbeda. Ia tidak berbicara mengenai angka investasi, nilai ekspor, atau luas perkebunan semata. Sebaliknya, ia mengisahkan manusia, satwa, tumbuhan, tradisi, sejarah, dan ingatan yang perlahan menghilang ketika rawa dikeringkan, hutan dibuka, serta sungai kehilangan fungsi ekologisnya.

Inilah kekuatan utama buku tersebut. Buku ini bukan hanya laporan mengenai kondisi lingkungan, melainkan dokumentasi kebudayaan yang dikemas melalui pendekatan jurnalistik. Setiap bab menghadirkan kisah lapangan yang hidup, memadukan hasil wawancara, observasi, referensi ilmiah, hingga pengalaman masyarakat lokal. Pembaca tidak hanya memperoleh informasi mengenai kondisi lahan basah Sungai Musi, tetapi juga diajak memahami mengapa kerusakan lingkungan selalu berkaitan dengan hilangnya sejarah, budaya, dan identitas masyarakat.

Baca  juga: Film “Jongot” tentang Kearifan Suku Musi di Penukal dalam Menjaga Alam

Jurnalisme Lingkungan

Dalam konteks itulah buku ini layak dibaca menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan (environmental journalism). Sebab sejak halaman pertama, Taufik Wijaya memperlihatkan bagaimana seorang jurnalis lingkungan bekerja, mengumpulkan fakta ilmiah, mendengar suara masyarakat adat, memotret hubungan manusia dengan alam, sekaligus mengkritisi perubahan kebijakan yang menggeser lahan basah dari “ruang hidup” menjadi “ruang ekstraksi”.

Bahkan, kata pengantar buku yang ditulis Ridzki R Sigit, Program Direktur Mongabay Indonesia, secara tegas menyatakan bahwa lahan basah Sungai Musi bukan sekadar bentang ekologis, melainkan sebuah peradaban yang menopang kehidupan jutaan manusia serta menyimpan pengetahuan lokal yang kini mulai terpinggirkan.


Ilustrasi buku “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa” terpajang di rak buku (FOTO: AI)

Saat membalik lembaran digital buku, saya mencoba membacanya dengan menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan (environmental journalism). Sebab sejak halaman pertama, Taufik Wijaya memperlihatkan bagaimana seorang jurnalis lingkungan bekerja, mengumpulkan fakta ilmiah, mendengar suara masyarakat adat, memotret hubungan manusia dengan alam, sekaligus mengkritisi perubahan kebijakan yang menggeser lahan basah dari “ruang hidup” menjadi “ruang ekstraksi”.

Buku ini hadir di tengah krisis ekologis yang mendera Sumatera Selatan. Buku ini merupakan buah kolaborasi penulis dengan beberapa institusi, secara substansial, menurut saya buku ini adalah manifestasi dari Jurnalisme Lingkungan.

Apa itu jurnalisme lingkungan? Jurnalisme lingkungan adalah salah satu ragam jurnalisme yang ada di muka bumi, merupakan cabang jurnalisme yang berfokus pada pelaporan isu-isu terkait ekosistem, kerusakan lingkungan, dampak aktivitas manusia terhadap alam, serta hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan tempat mereka hidup.

Berbeda dengan pelaporan berita biasa yang hanya menyajikan fakta angka atau peristiwa sesaat, jurnalisme lingkungan memiliki karakteristik khusus. Pertama, berbasis fakta dan data ilmiah, namun tetap menyajikan narasi yang menyentuh kemanusiaan. Kedua, melihat masalah secara menyeluruh dan terhubung, tidak memisahkan kerusakan hutan dari kemiskinan masyarakat, tidak memisahkan kepunahan hewan dari kebijakan pemerintah, tidak memisahkan budaya lokal dari perubahan iklim.

Ketiga, menyuarakan pihak yang tidak memiliki akses ke ruang publik, baik itu alam itu sendiri, masyarakat adat, warga pinggiran, maupun makhluk hidup lain yang terdampak. Keempat, tidak hanya mengabarkan kerusakan, tetapi juga mencari akar masalah dan jalan keluar. Kelima, menggabungkan bukti lapangan, penelitian akademis, ingatan kolektif, dan pengalaman hidup manusia.

Bagi Anda yang belum jelas juga apa jurnalisme lingkungan? Berikut tambahan sebagai pelengkapnya. Dalam perspektif jurnalisme lingkungan, sebuah tulisan tidak boleh hanya berfungsi sebagai penyampai informasi (seperti berita straight news), tetapi harus mampu menghubungkan isu-isu ekologis yang kompleks dengan realitas sosial, sejarah, dan hak-hak masyarakat lokal. Taufik Wijaya berhasil menjalankan peran ini. Ia tidak memandang lahan basah sebagai komoditas, melainkan sebagai ekosistem yang hidup, tempat di mana sains bertemu dengan kearifan lokal.

Jurnalisme lingkungan dalam buku ini terlihat dari pendekatannya yang tidak top-down. Penulis tidak berbicara dari “menara gading”, melainkan turun ke “akar rumput”. Ia memotret bagaimana masyarakat lokal menjaga keseimbangan—melalui mitos, jampi-jampi, dan sistem agroforestri seperti jongot—sebagai bentuk perlawanan terhadap cara pandang teknokratis yang cenderung merusak.

Jadi, buku “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa” karya Taufik Wijaya adalah salah satu contoh terbaik praktik jurnalisme lingkungan di Indonesia saat ini. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang rawa dan sungai, melainkan sebuah dokumentasi jurnalisme yang mendalam, menyeluruh, dan penuh rasa tentang salah satu ekosistem terpenting di Asia Tenggara yang perlahan hilang dari ingatan kita.

Ditinjau dari sudut pandang jurnalisme lingkungan, buku ini memiliki sejumlah kekuatan luar biasa yang menjadikannya karya penting bagi dunia pers dan pelestarian lingkungan di Indonesia. Buku ini menyajikan fakta yang terverifikasi dengan kedalaman narasi. Salah satu tantangan terbesar jurnalisme lingkungan adalah menyajikan data yang rumit tanpa membuat pembaca bosan, atau sebaliknya—terlalu emosional sehingga kehilangan keakuratan. Taufik Wijaya berhasil menyeimbangkan keduanya.

Setiap klaim dalam buku didukung oleh data yang jelas, seperti luas lahan basah sekitar 3 juta hektare, di mana 1,1 juta hektare telah berubah fungsi; populasi gajah sumatera tersisa sekitar 200 ekor; ditemukan 355 partikel mikroplastik dalam 100 liter air Sungai Musi; kerugian kebakaran tahun 2015 mencapai Rp220 triliun. Semua data ini bersumber dari lembaga penelitian, instansi pemerintah, maupun penelitian mandiri yang dicantumkan dalam daftar referensi.


Taufik Wijaya (kanan) berbicara pada peluncuran buku “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa”. (FOTO: Dok. TW)

Namun data ini tidak disajikan sebagai angka mati. Selintas di sini ada polesan jurnalisme data yang disentuh Taufik Wijaya. Data-data ini menjadi bercerita saat dikaitkan dengan kisah nyata warga. Kisah Rusni yang kini hanya menangkap ikan “sampah”, Syaiful yang harus membeli air bersih Rp10 ribu per galon setiap musim kemarau, atau Eddy yang tidak pernah melihat gajah sebagai hama. Inilah inti jurnalisme lingkungan, angka bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kehidupan manusia.

TW juga mampu menghubungkan isu lingkungan dengan budaya, sejarah, dan kemanusiaan. Banyak tulisan tentang lingkungan hanya membahas kerusakan ekologis tanpa melihat akar masalah yang lebih luas. Buku ini berbeda, Taufik menunjukkan bahwa kerusakan lahan basah Sungai Musi tidak lepas dari hilangnya penghormatan terhadap budaya lokal, keputusan kebijakan yang mengabaikan sejarah, serta pandangan yang keliru bahwa lahan basah adalah tanah yang tidak bernilai.

Ia juga menelusuri bagaimana sistem pemerintahan adat marga yang menjaga aturan larangan menangkap ikan di lebung dihapus pada tahun 1983, sehingga pengelolaan beralih ke pemerintah kabupaten yang akhirnya melelang sumber daya alam tersebut. Ia juga menjelaskan bagaimana pembauran budaya Melayu, Tionghoa, Arab, dan India di Sungai Musi selama berabad-abad lahir karena keberadaan ekosistem yang kaya—dan kerusakan ekosistem ini mengancam keberagaman budaya tersebut pula. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip jurnalisme lingkungan: tidak memisahkan alam dari manusia, melainkan melihat keduanya sebagai satu kesatuan yang saling membentuk.

Buku ini juga menyuarakan suara yang jarang terdengar. Pembaca tidak hanya mendengar pendapat pejabat atau pengusaha, melainkan suara dari mereka yang hidup seumur hidup di tepi sungai, petani, nelayan, tetua adat, perempuan pengrajin pempek, hingga anak muda yang kehilangan mata pencaharian. TW juga memberikan ruang bagi kearifan lokal yang sering diabaikan, bahwa kubangan gajah menjadi tempat berkembang biak ikan, bahwa jampi-jampi adalah bentuk penghormatan agar tidak mengambil sumber daya alam secara berlebihan, bahwa sistem jongot adalah bentuk agroforestri yang lebih lestari daripada perkebunan monokultur.

Jurnalisme lingkungan sejati memang harus menjadi suara bagi mereka yang sering tidak didengar dalam pengambilan keputusan. Taufik melakukannya dengan sangat baik tanpa memanfaatkan kesedihan warga sebagai bahan sensasi, melainkan menyajikan pengalaman mereka dengan penuh rasa hormat.

Tentu yang amat disenangi para pembuat kebijakan (birokrasi negara), buku ini tidak hanya menyoroti masalah, tetapi juga jalan keluar. Banyak laporan lingkungan berhenti pada menunjukkan kerusakan dan menyalahkan pihak tertentu. Buku ini berbeda, setelah memaparkan masalah secara menyeluruh, penulis menyajikan berbagai upaya pemulihan yang telah berjalan, baik yang dilakukan pemerintah maupun inisiatif masyarakat. Ia juga mengajukan usulan konkret, menghentikan konversi lahan gambut, mengembalikan pengelolaan lebak lebung ke masyarakat, memadukan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan modern, serta menjadikan lahan basah sebagai identitas budaya yang dilindungi hukum.

Nah ini aspek yang menentukan sehingga buku ini menarik untuk dibaca, tidak menjenuhkan karena gaya penulisan yang tidak monoton. Di buku ini ada gaya bahasa atau yang disebut ragam jurnalisme sastra, dan mudah dipahami. Bahasa jelas, lugas, namun sarat makna. Ia tidak menggunakan istilah ilmiah yang rumit tanpa penjelasan, sehingga buku ini dapat dibaca oleh siswa sekolah, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum. Alur tulisannya mengalir, dari sejarah ke masa kini, dari fakta ke narasi, dari kesedihan ke harapan, sehingga pembaca tidak merasa terbebani meskipun buku ini membahas masalah yang berat.

Pada titik ini, buku TW ini mengingatkan saya pada buku tentang liputan jurnalisme lingkungan berjudul “Bonita Hikayat Sang Raja” karya Haidar Anwar Tanjung (alm.) yang juga menjadi wartawan detik.com seperti halnya Taufik Wijaya. Jika buku “Bonita Hikayat Sang Raja” hadir dengan bergaya jurnalis langgam melayu karena ditulis kental dengan diksi melayu. Maka “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa” adalah jurnalisme lingkungan ragam sastra. Apa lagi pada Bab IV menyajikan delapan puisi karya Taufik Wijaya. Puisi yang ditulis TW demikian dia kerap disapa dapat disebut bergenre puisi esai. Salah satu puisinya berjudul “Belasan Abad, Ibu Mencuci Pakaian di Sungai Musi” juga ada di kanal Youtube, link-nya: https://www.youtube.com/watch?v=TudZkGPFC58 – namun link ini tidak tercantum dalam catatan kaki dan daftar pustaka.


Suasana peluncuran buku. (FOTO: Dok TW)

Buku ini terbagi ke dalam empat bab yang mengalir seperti aliran anak Sungai Musi. Bab pertama, Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan dan Ingatan, mengajak kita bernostalgia tentang kejayaan masa lalu—tentang rempah, gajah, dan harimau yang menjadi bagian dari tatanan budaya masyarakat.

Namun, bab kedua, Lahan Basah Sungai Musi yang Kehilangan, adalah “pukulan” nyata bagi pembaca. Penulis memaparkan bagaimana lahan basah perlahan kehilangan “arsipnya” akibat ekspansi perkebunan skala besar, industri, dan pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan. Penulis secara tajam menyoroti tragedi kebakaran lahan gambut—sebuah siklus bencana yang telah menjadi “satire” tahunan di Sumatera Selatan.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menarasikan “data yang berdarah”. TW tidak hanya menyodorkan angka-angka statistik ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat kabut asap, tetapi juga menceritakan penderitaan warga di Pangkalan Lampam yang harus membeli air bersih setiap hari karena sumur mereka kering akibat rusaknya ekosistem lahan basah. Ini adalah ciri khas jurnalisme lingkungan yang humanis, memberikan wajah pada setiap angka statistik.

Dari aspek kebahasaan, Taufik Wijaya sebagai jurnalis yang bergelut dengan sastra atau fiksi (puisi, cerpen dan novel) menggunakan gaya bahasa yang puitis namun tetap tajam. Ia mampu mengubah kompleksitas persoalan lingkungan menjadi narasi yang mudah dicerna, tanpa kehilangan bobot akademisnya. Alur penulisan yang disusun secara tematik (dari masa lampau ke krisis saat ini, hingga harapan ke depan) memberikan pemahaman utuh bahwa kerusakan yang terjadi hari ini bukan merupakan kejadian instan, melainkan akumulasi dari kebijakan yang abai terhadap akar sejarah.

Ada sebagai catatan kritis, buku ini mungkin semakin kuat melontar isu dan mengangkat gagasan dengan menyertakan banyak visual (foto-foto jurnalistik) dan infografis yang memotret lebih kontras untuk membandingkan luasan lahan basah sebelum dan sesudah intervensi industri masif. Kehadiran foto-foto dari Nopri Ismi dan Ariadi Damara yang menggugah emosi berhasil menjadi pelengkap visual yang sangat kuat.

Rekomendasi

Lahan Basah Sungai Musi bukanlah buku yang ditulis untuk memuaskan pembaca dengan happy ending yang semu. Sebaliknya, buku ini adalah tamparan keras. Ia menegaskan bahwa rekonstruksi lahan basah tidak bisa dilakukan dengan pendekatan teknokratis semata; ia harus melibatkan pemulihan relasi antara manusia dan alam, dengan menempatkan pengetahuan lokal sebagai panduan utama.

Untuk para aktivis, pengambil kebijakan, dan generasi muda yang peduli pada masa depan lingkungan, buku ini adalah bacaan wajib. Buku ini merekomendasikan sebuah model pengelolaan berbasis komunitas yang memungkinkan masyarakat lokal—subjek yang paling terdampak—untuk menjadi penjaga utama sumber daya alam mereka.

Membaca buku ini berarti kita diajak untuk kembali—bukan mundur ke masa lalu—tetapi mengambil pelajaran bahwa masa depan tidak mungkin dibangun dengan mengeliminasi akar peradaban. Selama ingatan, pengetahuan, dan rasa masih ada, harapan untuk memulihkan Sungai Musi tetap terbuka. Dan seperti yang ditulis dalam buku ini, harapan itu tumbuh dari bawah, dari masyarakat yang selama ini hidup, menjaga, dan memahami lahan basah sebagai bagian dari dirinya.

Identitas Buku:

  • Judul Lengkap: Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa
  • Penulis: Taufik Wijaya
  • Penerbit: Ladang Publishing
  • Tahun Terbit: 2026 (Cetakan Pertama)
  • ISBN: 978-602-1158-26-5
  • Jumlah Halaman: 140 halaman + lampiran referensi dan indeks
  • Ilustrasi dan Foto: Nopri Ismi, Ariadi Damara; Desain: Hidayaturohman

Tentang Penulis:

Taufik Wijaya lahir di Palembang, 25 Desember 1970, dan hingga kini menetap di kota yang dilalui Sungai Musi ini. Ia bukan sekadar penulis, melainkan jurnalis lingkungan yang telah meliput isu ekologi Sumatera Selatan selama lebih dari dua dekade. Selain menulis, TW aktif di dunia seni dan budaya, pendiri dan anggota Teater Potlot.  Karyanya mencakup novel, kumpulan puisi, naskah teater, serta puluhan laporan investigasi lingkungan. Ia telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain Anugerah Sastra Batanghari Sembilan (2010), penghargaan SOPA Awards untuk pelaporan lingkungan, serta Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori media tahun 2025. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *