Home / Opini / Menga Penghargaan Sastra Udo Z Kariz?

Menga Penghargaan Sastra Udo Z Kariz?

Oleh Udo Z Karzi (Tukang Tulis, Tinggal di Bandar Lampung)

SAYA sering ditanya, atau lebih tepatnya mulai membayangkan akan ditanya: mengapa namanya Penghargaan Sastra Udo Z Karzi?

Pertanyaan itu sebenarnya wajar. Bahkan, saya sendiri agak risih mendengarnya. Ada semacam perasaan tidak enak ketika nama sendiri dipasang sebagai label sebuah penghargaan. Rasanya seperti orang yang baru belajar berenang lalu buru-buru menamai kolam renang dengan namanya sendiri.

Tapi, hidup kadang-kadang bergerak dengan cara yang aneh. Kita tidak selalu sampai pada sebuah keputusan karena merasa pantas. Kadang justru karena keadaan tidak menyediakan pilihan lain.

Kegelisahan ini bermula sejak saya menjadi semacam “pengangguran sastra” setelah tidak lagi bekerja di media cetak.

Dulu, ketika masih di pers mahasiswa Teknokra dan Republica Universitas Lampung (Unila), lalu berlanjut koran lokal seperti Sumatera Post, Lampung Post, Borneo News, Fajar Sumatera, dan Lampung News, pekerjaan saya bukan hanya menulis. Saya menjadi semacam “kuncen ruang kreatif”. Saya membaca dan menyeleksi tumpukan naskah—belakangan berubah menjadi file-file email–yang datang setiap hari: artikel, opini, puisi, cerpen, esai, resensi, dan berbagai jenis tulisan yang kadang membuat kepala pening sekaligus bahagia.

Saya sengaja memakai istilah “menyeleksi” daripada “kurasi”. Belakangan istilah kurasi sering diperdebatkan, bahkan dikritik habis-habisan oleh kawan-kawan seperti Doddi Ahmad Fauji. Maka, agar tidak menambah dosa terminologi, mari kita pakai saja kata lama yang lebih sederhana: menyeleksi.

Saya membaca naskah-naskah itu, memilih mana yang layak dimuat, memperbaiki seperlunya, lalu mengirimkannya ke korektor untuk dimuat di halaman koran. Tidak berhenti sampai di situ. Saya juga harus memberikan persetujuan honorarium sebelum bagian keuangan membayarkannya kepada penulis.

Jadi, setiap kali sebuah puisi, cerpen, esai, resensi, dan tulisan lainnya dimuat koran, ada penghargaan konkret yang menyertainya. Tidak besar memang. Bahkan, sering kali jauh dari cukup. Namun, ada satu pesan penting di sana: karya intelektual dihargai.

Lebih dari itu, saya juga “diwajibkan” memastikan halaman-halaman opini dan budaya tidak kosong. Harus ada tajuk, kolom, feature, reportase, atau ulasan tentang sastra dan seni budaya. Kalau tidak ada yang menulis, ya saya sendiri yang menulis.

Kadang saya merasa seperti penjaga warung yang sekaligus menjadi kasir, koki, pelayan, dan tukang cuci piring.

Melelahkan? Jelas. Tapi, dari situ saya belajar satu hal: ekosistem sastra membutuhkan ruang dan penghargaan.

Baca juga: Sastrawan Lampung Zulkarnain Zubairi (Udo Z Karzi) Tiga Kali Raih Rancage

Dari proses seleksi redaksional itulah lahir persaingan. Dari persaingan lahir kualitas. Dari kualitas lahir tradisi. Orang menulis puisi sebaik mungkin karena ingin dimuat. Orang menulis cerpen sebaik mungkin karena ingin lolos. Orang menulis esai dengan argumentasi yang matang karena tahu ada redaktur yang akan memeriksanya.


Sederhana sekali. Tapi, mekanisme sederhana itulah yang selama bertahun-tahun menjaga standar.

Sekarang? Saya sering merasa sedih. Bahkan, sangat sedih. Hari ini tidak ada media di Lampung yang memberikan honorarium kepada penulis. Banyak ruang budaya hilang. Banyak halaman sastra menghilang tanpa upacara pemakaman. Tidak ada karangan bunga. Tidak ada doa tujuh hari. Tahu-tahu lenyap saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, ada media yang masih menyediakan ruang opini, tetapi dengan syarat adanya kerja sama dengan lembaga tempat penulis bernaung. Artinya apa? Artinya opini tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang pertarungan intelektual. Ia perlahan berubah menjadi ruang negosiasi kepentingan. Yang bertarung bukan gagasan, melainkan jaringan. Yang diuji bukan argumen, melainkan kedekatan.

Tentu saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Saya paham situasi media sedang tidak baik-baik saja. Model bisnis berubah. Pendapatan iklan menurun. Semua orang sedang berjuang bertahan hidup. Namun, memahami bukan berarti berhenti prihatin. Saya tetap prihatin karena profesi penulis, intelektualitas, dan kesenimanan semakin kurang dihargai.

Hari ini semua orang merasa bisa menulis. Dan memang benar, semua orang bisa menulis. Namun, tidak semua orang bisa menulis dengan baik. Tidak semua orang bisa menulis dengan kedalaman. Tidak semua orang bisa menulis dengan keindahan. Tidak semua orang bisa mengubah pengalaman menjadi karya.

Perbedaan antara “bisa menulis” dan “menjadi penulis” itulah yang sering terlupakan. Padahal, sastra tumbuh dari kerja yang panjang, kesabaran yang panjang, dan kesungguhan yang panjang. Bukan dari sekadar kemampuan mengetik.

Karena itulah saya sering memikirkan kembali tradisi penghargaan sastra di Lampung. Kita pernah memiliki Lomba Cipta Puisi Festival Krakatau tahun 1999 yang kemudian berkembang menjadi Krakatau Award sejak 2002 hingga terakhir tahun 2019. Penghargaan itu memang beberapa kali tersendat dan sempat terhenti, tetapi keberadaannya pernah menjadi penanda bahwa sastra mendapat perhatian.

Kita juga pernah memiliki sayembara puisi, cerpen, dan esai yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Berbagai komunitas, lembaga, dan kelompok sastra juga pernah mengadakan penghargaan atau pembinaan.

Namun, ada satu masalah yang terus berulang. Semua berlangsung sporadis. Begitu acara selesai, selesai pula gaungnya. Bubar jalan. Foto-foto diunggah ke media sosial. Sambutan dibagikan. Ucapan terima kasih ditulis. Lalu semuanya menghilang. Padahal, sastra tidak hidup dari seremoni. Sastra hidup dari keberlanjutan.

Karena itu saya semakin yakin bahwa penghargaan sastra harus dirawat secara kontinyu. Setiap tahun. Dengan mekanisme yang jelas. Dengan standar yang terbuka. Dengan penghormatan yang layak kepada para penulis.

Tidak penting apakah ia disebut sastrawan muda, pemula, senior, atau bangkotan. Yang penting adalah karya dan kontribusinya.

Pikiran itu semakin menguat saat malam apresiasi dan peluncuran buku Kain Merah di Malam Jamuan: Antologi Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung yang diterbitkan melalui kerja keras kawan-kawan di Sijado Institute bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu-Lampung di Hotel Mor Living, Bandar Lampung pada 17 Januari 2026.

Malam itu sebenarnya biasa saja. Atau, setidaknya saya mengira akan biasa saja. Ternyata tidak. Dalam sesi bincang-bincang, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung Univesitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Farida Ariyani, M.Pd., tiba-tiba melemparkan gagasan.

“Coba buat penghargaan sastra Lampung seperti Hadiah Sastra Rancage. Lampung ini tidak punya yang begitu-begitu.”

Saya menjawab santai, “Kan ada Unila dan Pemda, Yunda. Mereka punya sumber daya.”

Beliau langsung menyambar, “Gak jalan. Mesti Udo yang buat!”


Saya tertawa. Lalu, puyeng. Dalam hitungan detik, kepala saya terasa lebih berat daripada tumpukan manuskrip cerpen lima ratus halaman. Sebab, sesungguhnya ide itu bukan barang baru.

Sebelum Yunda Farida mengucapkannya, tim di Sijado Institute sudah mendiskusikannya sejak akhir 2025. Kami sudah menyiapkan berbagai kemungkinan. Nama penghargaan. Konsep penyelenggaraan. Kemungkinan sumber dana. Mekanisme penjurian. Lembaga penyelenggara. Bahkan, mimpi-mimpi yang lebih besar. Semua sudah ada dalam notulensi.

Sayangnya, hingga awal Juni 2026, semuanya masih berupa rencana. Masih berupa catatan rapat. Masih berupa harapan yang belum menemukan jalannya.

Karena itu saya sampai pada kesimpulan yang sederhana. Kalau menunggu semua syarat ideal terpenuhi, mungkin penghargaan itu tidak akan pernah lahir. Kalau menunggu dana besar, mungkin kita akan menunggu terlalu lama. Kalau menunggu semua orang sepakat, bisa-bisa kita menunggu sampai kiamat sastra.

Maka, dengan segala keterbatasan, saya memilih memulai. Peluncuran buku dan apresiasi kepada para penulis dalam buku Kain Merah di Malam Jamuan saya anggap sebagai langkah pertama. Kecil. Sederhana. Jauh dari sempurna. Tapi, nyata.

Dan, karena untuk sementara ini lebih merupakan inisiatif pribadi daripada program lembaga, nama yang dipakai pun menjadi Penghargaan Sastra Udo Z Karzi.

Bukan karena saya merasa paling hebat. Bukan karena saya merasa paling berjasa. Apalagi karena saya ingin diabadikan.

Percayalah, saya masih cukup waras untuk tidak berpikir sejauh itu. Nama itu lebih merupakan penanda administratif daripada monumen. Semacam papan nama darurat di depan warung yang belum selesai dibangun.

Kalau suatu hari nanti dukungan kelembagaan, pendanaan, dan tata kelola yang lebih baik sudah tersedia, nama itu akan kembali kepada nama yang sejak awal kami cita-citakan.

Sebab, yang penting bukan nama Udo Z Karzi. Yang penting adalah penghargaan itu ada. Yang penting adalah para penulis merasa dihargai. Yang penting adalah sastra memiliki ruang penghormatan yang berkelanjutan.

Kalau suatu hari penghargaan itu berkembang menjadi milik masyarakat sastra Lampung, saya justru akan menjadi orang pertama yang bahagia melepaskan nama saya dari sana.

Sebab, sejak awal tujuan saya bukan membuat monumen. Tujuan saya hanyalah menjaga agar sastra tidak merasa sendirian.

Sebab, di tengah dunia yang semakin gaduh, semakin cepat, dan semakin gemar menghitung segala sesuatu dengan angka, sastra tetap membutuhkan satu hal yang sederhana: penghargaan. Bukan sekadar uang. Bukan sekadar piala. Melainkan, keyakinan bahwa kerja kreatif masih dianggap penting.

Bahwa kata-kata masih punya nilai. Bahwa penulis masih layak dihormati.

Dan, kalau untuk sementara keyakinan itu harus berjalan dengan nama Penghargaan Sastra Udo Z Karzi, ya sudahlah.

Saya yang puyeng. Yang penting sastranya jangan ikut pingsan.

Tabik. ●

Bandar Lampung, 11 Juni 2026

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *