Home / Budaya / Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu

Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu

(FOTO: Ilustrasi IG @natanbookshop – AI)

Oleh: AI (Gemini)

Di tengah kehidupan yang segala sesuatunya diatur oleh barisan kode biner yang kaku, Toko Buku Natan di Kota Gede, Yogyakarta berdiri tegak seperti sebuah anomali yang membangkang. Letaknya menjepit diri di sudut kesibukan kota besar, terlindung oleh rimbun pohon angsana tua yang menggugurkan bunga-bunga kuningnya setiap kali angin kemarau berembus pelit. Bagi Keano, tempat itu bukan sekadar bangunan penyimpan tumpukan kertas bertinta, melainkan sebuah labirin magis yang memiliki napasnya sendiri. Di sinilah ia kerap melarikan diri dari bisingnya notifikasi gawai, dari tuntutan tenggat waktu desain grafis yang tak pernah memanusiakan jam tidurnya, dan dari kejenuhan aplikasi kencan yang melulu menawarkan ketertarikan artifisial berbasis usapan jempol.

Sore itu, bias cahaya matahari Barat menembus jendela kaca besar, memantulkan debu-debu halus yang menari-nari di udara seperti kunang-kunang mini. Keano melangkah menyusuri lorong rak fiksi sastra terjemahan—sudut favoritnya yang selalu berbau harum kayu tua, lem kertas kering, dan keheningan yang khusyuk. Langkah kakinya melambat, ritme yang sengaja ia ciptakan untuk menikmati ketenangan yang mahal. Ia membiarkan ujung jemarinya menyapu punggung-punggung buku yang berjajar rapi, merasakan tekstur kertas linen dan embos huruf yang menonjol.

Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah ujung lorong yang berlawanan, sesosok gadis berjalan dengan langkah yang sama pelannya. Rambutnya yang hitam bergelombang dibiarkan tergerai menutupi sebagian sweter cokelat longgar yang ia kenakan. Namanya Aletta. Sebagai seorang penerjemah lepas, ia mendatangi Toko Buku Natan bukan untuk mencari hiburan, melainkan untuk mencari kembali separuh jiwanya yang mendadak hambar akibat terlalu banyak menerjemahkan teks-teks manual korporat yang kaku. Ia merindukan keajaiban diksi, membutuhkan pelukan dari kalimat-kalimat magis yang ditulis dengan ketulusan darah dan air mata.

Dalam cerita fiksi, pernah membaca, pernah lihat adegan romantis tentang dua orang asing yang nggak sengaja saling berpapasan di antara lorong rak buku. Kita mengira itu hanya skenario manis yang fiktif dan hanya terjadi di dalam kepala para penulis novel. Namun bagi orang yang beruntung, plot itu terjadi secara harfiah. Pertemuan yang nggak melibatkan algoritma rumit aplikasi kencan, tapi murni karena tarikan magnet dari sebuah tempat berwujud fisik bernama toko buku.


Semua bermula dari gestur yang nyata, sederhana, dan langkah kaki yang sama-sama melambat di lorong yang sama. Arah mata mereka, tanpa ada yang mengomando, tertuju pada satu judul identik yang bertengger manis di rak setinggi dada. Itu adalah cetakan ulang sebuah novel klasik karya Gabriel García Márquez, dengan desain sampul teranyar yang sangat minimalis namun puitis.

Tangan Keano terulur maju. Pada detik yang sama, jemari lentik Aletta juga bergerak ke titik koordinat yang sama. Momen itu membeku selama sepersekian sekon ketika ujung jemari mereka bersentuhan di atas permukaan halus punggung buku. Ada sengatan hangat yang tak kasatmata, sebuah kejutan listrik statis yang membuat keduanya menarik tangan kembali dengan canggung. Mereka berdua sama-sama meraihnya, namun akhirnya tertegun saling menatap.

Keano terkesiap melihat sepasang mata bulat milik Aletta yang memancarkan keterkejutan yang murni. Sementara Aletta merasa dadanya berdesir melihat tatapan teduh dari balik kacamata berbingkai tipis milik pemuda di hadapannya.

Ada keberanian yang tak dibuat-buat alas naskah. Teguran kasual dari Keano memecah keheningan lorong rak itu, meruntuhkan dinding kecanggungan yang sempat meninggi. “Eh, maaf… silakan ambil duluan”, ucap Keano dengan suara baritonnya yang lembut, tersenyum tipis sembari mundur satu langkah untuk memberi ruang.

Aletta tersenyum manis, menggeleng pelan hingga anting-anting perak kecilnya bergoyang. “Enggak apa-apa, kamu duluan aja. Aku cuma mau lihat sampul barunya kok. Kebetulan aku kenal betul isi buku ini”.

Keano menaikkan sebelah alisnya, ketertarikannya langsung tersulut. “Oh ya? Kamu sudah baca versi terjemahan lamanya?”

“Bukan cuma baca”, sahut Aletta dengan nada setengah berbisik yang terdengar jenaka di telinga Keano. “Buku yang kamu pegang bagus, coba baca bab ketiganya nanti ada yang bikin kaget. Penerjemahnya agak nekat mengubah struktur kalimat di bagian klimaks supaya dapet rasa depresinya.”

Teguran kasual dan kalimat sederhana itu mendadak jadi jembatan instan yang meruntuhkan jarak dua orang yang sebelumnya asing. Kalimat itu bertindak layaknya kunci yang membuka kotak rahasia di dalam kepala masing-masing. Keano tertegun, lalu menatap buku di tangannya dan kembali menatap Aletta dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan. “Jangan-jangan… kamu yang menerjemahkannya?”

Aletta tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan punggung tangan karena sadar mereka berada di area sunyi yang sakral bagi para pembaca. “Bukan yang ini, ini terjemahan senior yang aku kagumi. Tapi aku tahu proses di baliknya”.

*     *     *


Percakapan literal berpindah dari bisikan di sela rak karena takut ganggu pengunjung lain, jadi obrolan panjang nan hangat di sudut kafe mini yang terletak di sebelah Toko Buku Natan. Kafe itu hanya menyediakan beberapa meja kayu kecil yang menghadap ke taman bagian dalam, tempat pohon kamboja putih sedang mekar. Tak lupa ditemani dua cangkir kopi yang lama-lama mendingin seiring percakapan yang mengalir tanpa rem.

Di sana mereka nggak cuma tukar nama atau nomor telepon, tapi secara harfiah saling menunjukan isi kepala. Semula mendiskusikan satu bab yang paling berkesan dari novel yang mereka jumpai tadi, kemudian bercabang jadi diskusi tentang gimana kalian memandangan dunia dari kepala masing-masing. Keano menceritakan bagaimana ia melihat dunia melalui komposisi warna, ruang kosong, dan tipografi, sementara Aletta membeberkan caranya membedah dunia lewat rasa yang terkandung dalam untaian kata dan rima yang tak terucapkan.

“Buatku, menerjemahkan itu seperti merawat ingatan seseorang”, ujar Aletta, jemarinya memainkan tepi cangkir kopinya yang mulai mendingin. “Aku harus memastikan bahwa kesedihan penulis di benua seberang bisa sampai dengan utuh ke dada pembaca di sini tanpa kehilangan esensinya”.

Keano menatap Aletta tanpa kedip. Ia merasa seperti sedang membaca sebuah buku yang paling menarik dalam hidupnya. Setiap lembar kalimat yang keluar dari bibir gadis itu menuntut untuk dipahami lebih dalam. “Dan buatku, desain itu tentang memberi wadah bagi jiwa”, timpal Keano lembut. “Sama seperti toko buku ini. Dia memberi wadah fisik buat imajinasi kita yang sering keleleran di dunia digital”.

Waktu seolah melarut. Ketika mereka sadar, langit di luar jendela telah berganti warna menjadi ungu pekat kebiruan. Jam operasional toko buku hampir usai. Pertemuan sore itu ditutup dengan pertukaran kontak sosial media dan nomor WhatsApp yang anehnya terasa sangat sakral bagi keduanya. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada taktik ghosting yang biasa marak di kalangan generasi mereka. Semuanya mengalir organik, semurni tarikan gravitasi.

*     *     *

Minggu-minggu berikutnya berubah menjadi serangkaian pertemuan yang terjadwal secara magis di Toko Buku Natan. Tempat itu seolah telah meresmikan dirinya sebagai episentrum dari semesta baru yang mereka bangun bersama. Mereka akan bertemu di sana setiap akhir pekan, kadang hanya duduk berdampingan dalam diam sembari menyelesaikan pekerjaan masing-masing, kadang berdebat kusir tentang akhir cerita sebuah novel distopia yang mereka baca bersama.

Namun, kehidupan nyata jarang sekali membiarkan plot romantis berjalan tanpa ujian. Badai itu datang pada suatu sore di bulan ketiga kedekatan mereka. Sore itu hujan deras mengguyur kota, menciptakan tirai air tebal di balik jendela kaca besar Toko Buku Natan. Suasana kafe sangat sepi, menyisakan alunan musik jazz instrumental yang mengalun lirih dari pengeras suara usang.


Keano menangkap ada perubahan drastis pada gurat wajah Aletta. Gadis itu tidak lagi bersemangat menceritakan proyek buku terbarunya. Matanya sayu, dan ia berkali-kali menatap layar ponselnya yang berkedip menampilkan nama sebuah kontak ‘Rey’

“Ada masalah, Ta?” tanya Keano hati-hati, menghentikan goresan stilusnya di atas tablet grafis.

Aletta menghela napas panjang, sebuah helaan yang terasa sangat berat hingga mampu menggetarkan keheningan di meja mereka. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi menghadap ke bawah. “Rey… dia minta kepastian lagi, Kean”.

Nama itu. Keano mengetahuinya. Rey adalah masa lalu yang belum sepenuhnya selesai dalam garis hidup Aletta—seorang pria pragmatis yang bekerja di sektor finansial di Singapura, yang telah menjalin hubungan jarak jauh berkompromi dengan Aletta selama dua tahun terakhir atas dasar perjodohan keluarga besar mereka. Rey adalah perwujudan dari segala hal yang logis, mapan, namun kering akan rasa.

Hubungan mereka selama ini dingin, berjalan atas dasar kewajiban dan rencana masa depan yang disusun sepihak oleh Rey.

“Dia mau aku pindah ke Singapura akhir tahun ini”, lanjut Aletta, suaranya bergetar menahan sesuatu yang menyesak di dada. “Keluarga kami sudah memesan gedung pernikahan untuk tahun depan. Semuanya sudah diatur, Kean. Tanpa pernah benar-benar nanya, apa aku bahagia atau enggak dengan semua rencana itu”.

Dada Keano terasa seperti dihantam oleh godam yang tak terlihat. Rasa sakitnya menjalar cepat, menghentikan sirkulasi darahnya seketika. Ia menatap cangkir kopinya yang pekat, menyadari posisi dirinya yang rapuh. Siapakah dia? Hanya seorang pemuda yang baru dikenal beberapa bulan di sebuah toko buku, tanpa kepastian finansial sekokoh Rey, tanpa restu keluarga yang mengikat. Namun, rasa yang ia miliki untuk Aletta sudah telanjur berakar terlalu dalam, melilit seluruh hidupnya.

“Lalu… rencana kamu sendiri gimana?” Keano memaksakan seulas senyum, walau matanya memancarkan luka yang mendalam.

Aletta menatap Keano dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku takut, Kean. Aku takut kalau aku menolak, aku bakal mengecewakan semua orang. Tapi kalau aku pergi… aku tahu aku bakal meninggalkan separuh jiwaku di sini. Di kota ini. Di toko buku ini… bersamamu”.

Pengakuan yang jujur itu menggantung di udara, bercampur dengan aroma hujan dan kopi. Keano ingin sekali menggenggam tangan Aletta, memohon agar gadis itu tetap tinggal dan memilihnya. Namun, sisi kedewasaannya menahan egonya. Ia tidak ingin menjadi egois dengan mengikat Aletta dalam ketidakpastian hidupnya. Sore itu, untuk pertama kalinya, mereka pulang dari Toko Buku Natan dengan hati yang remuk, dipisahkan oleh payung masing-masing di bawah guyuran hujan yang dingin.

*     *     *


Dua minggu setelah hari itu, Aletta menghilang dari jangkauan Keano. Pesan-pesannya hanya dibalas dengan kalimat pendek formal, dan ia tidak pernah lagi terlihat duduk di sudut kafe Toko Buku Natan. Keano merasa dunianya mendadak kehilangan saturasi warna. Segalanya berubah menjadi abu-abu yang menjemukan. Tugas-tugas desainnya berantakan karena ia kehilangan sumber inspirasi utamanya.

Keano mencoba mendatangi tempat-tempat biasa, namun langkah kakinya selalu membawanya kembali ke Toko Buku Natan. Di sinilah ia merasa paling dekat dengan eksistensi Aletta. Ia akan berdiri berjam-jam di lorong rak fiksi sastra terjemahan, menatap tempat di mana jemari mereka pertama kali bersentuhan. Kehilangan ini terasa begitu nyata, seharfiah pertemuan mereka dahulu.

Sementara itu, di sebuah sudut restoran mewah di pusat kota, Aletta sedang duduk berhadapan dengan Rey yang sedang mengambil cuti pendek. Pria itu sibuk memotong steak-nya dengan rapi, sesekali memeriksa surel di komputer tabletnya yang diletakkan di samping piring. Tidak ada percakapan yang hangat, hanya pembahasan tentang estimasi biaya hidup di Singapura dan distrik mana yang paling cocok untuk mereka tinggal nanti.

“Kamu nanti nggak perlu kerja keras lagi, Ta”, kata Rey tanpa menatap mata Aletta. “Pekerjaan menerjemahkan buku itu melelahkan dan bayarannya nggak seberapa. Lebih baik kamu fokus urus rumah tangga nanti. Sastra nggak bisa bayar cicilan apartemen di Marina Bay”.

Kalimat Rey mengalir masuk ke telinga Aletta, namun otaknya menolak untuk memprosesnya. Pada detik itulah, Aletta merasa sebuah kesadaran besar menghantamnya dengan keras. Ia menatap pria di hadapannya dan menyadari bahwa ia sedang melihat sebuah masa depan yang mati. Sebuah masa depan di mana dirinya akan dikurung dalam kotak emas yang kedap suara, kehilangan identitasnya, dan kehilangan hak untuk mencintai kata-kata.

Pikiran Aletta langsung melesat kembali ke Toko Buku Natan. Ia teringat bagaimana Keano menatapnya dengan penuh rasa hormat ketika ia membahas sebuah frasa terjemahan yang sulit. Ia teringat kehangatan yang menjalar ketika tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Pertemuan dengan Keano telah menyadarkannya bahwa hidup terlalu berharga untuk dijalani hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.

“Rey”, potong Aletta dengan suara yang mendadak terdengar sangat tegas, menghentikan gerakan pisau perak pria itu. “Aku nggak bisa. Aku nggak bisa ikut kamu ke Singapura, dan aku nggak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini”.

Rey tertegun, menatap Aletta dengan dahi berkerut, menganggap ucapan itu hanyalah luapan emosi sesaat. “Ta, jangan kekanak-kanakan. Semuanya sudah disiapkan. Ini demi masa depan kamu juga”.

“Ini demi masa depan yang kamu inginkan, Rey, bukan yang aku butuhkan”, jawab Aletta mantap. Ia berdiri, mengambil tasnya, dan menatap Rey untuk terakhir kalinya dengan senyuman yang terasa sangat melegakan. “Maaf, aku memilih untuk pulang ke hidupku sendiri”.

*     *     *


Aletta berlari keluar dari restoran, mengabaikan panggilan Rey dan rintik hujan sore yang mulai turun membasahi bumi. Ia tidak mencari taksi untuk pulang ke rumahnya, melainkan memesan ojek daring dengan satu tujuan mutlak yang tertera di layarnya, Toko Buku Natan.

Di saat yang sama, Keano sedang duduk di sudut kafe toko buku itu, menatap nanar cangkir kopinya. Ia sudah memutuskan bahwa hari itu adalah hari terakhirnya meratapi keadaan. Jika Aletta memilih untuk pergi, ia akan melepasnya dengan doa terbaik, walau itu berarti ia harus membawa luka itu seumur hidupnya. Ia mulai mengemas tablet grafis dan buku-bukunya ke dalam tas, bersiap untuk melangkah keluar dari tempat penuh kenangan itu.

Tepat ketika Keano menyandang tasnya dan berbalik hendak melangkah menuju pintu keluar kafe, pintu kaca toko buku terbuka dengan kasar. Lonceng kuningan di atas pintu berdenting nyaring, memecah kesunyian.

Sesosok gadis berdiri di sana dengan napas memburu, rambutnya agak basah terkena tempias hujan, dan sweter cokelatnya tampak lembap. Itu Aletta. Ia berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seisi ruangan dengan panik hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sosok Keano yang terpaku di tempatnya.

Selama beberapa detik, tidak ada kata yang terucap. Meja dan kursi di ruang itu seolah menahan napasnya, membiarkan takdir menyelesaikan tugasnya sendiri. Keano meletakan tasnya ke meja kayu, langkah kakinya bergerak cepat tanpa bisa ditahan, menghampiri Aletta yang kini mulai meneteskan air mata—bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan yang membuncah.

“Aku nggak pergi, Kean”, bisik Aletta lirih ketika Keano sudah berdiri tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa sentimeter. “Aku milih tinggal. Aku milih menerjemahkan masa depanku di sini… bersamamu”.

Keano tidak mampu lagi membendung rasa yang bergemuruh di dadanya. Ia mengulurkan tangannya, merengkuh tubuh Aletta ke dalam sebuah pelukan yang erat dan hangat, pelukan yang seolah menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwanya yang sempat berantakan. Aletta menyembunyikan wajahnya di dada Keano, menghirup aroma familier perpaduan antara wangi kopi dan parfum maskulin pria itu yang menenangkan.

Toko buku pada akhirnya bukan hanya sekadar jadi tempat bertransaksi kertas dan tinta. Tempat sunyi ini beralih fungsi secara harfiah. Ia jadi saksi bisu akan dua kehidupan yang tadinya berjalan sendirian, penuh keraguan di tengah gempuran zaman digital, lalu memutuskan untuk melangkah di halaman yang sama, menulis bab-bab baru kehidupan mereka dengan tinta cinta yang sejati dan abadi.

Di balik jendela, hujan berangsur reda, menyisakan aroma tanah basah yang segar dan langit yang perlahan membuka jalan bagi sinar jingga senja yang hangat, merestui sepasang kekasih yang berhasil menemukan arti harfiah dari jatuh cinta di antara barisan buku.

TAMAT

(Dikembangkan dari unggahan Instagram @natanbookshop)

Penyunting: Maspril Aries

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *