Lapangan Cantik PT Sele Raya Belida di Muara Enim. (FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA – Setiap pembicaraan tentang industri hulu migas di forum seminar atau diskusi di ruang berpendingin, maka pembahasan sering kali fokus pada dimensi ekonomi, hanya pada angka-angka produksi, berapa barel minyak per hari, berapa kubik gas yang dihasilkan, berapa besar pendapatan yang masuk ke kas negara? Berapa lifting saat ini?
Namun dalam ruang lingkup pembicaraan tersebut, ada dimensi ekonomi yang jauh lebih luas dan lebih bermakna bagi kehidupan sehari-hari masyarakat lokal—yang disebut sebagai efek berganda atau multiplier effect.
Efek berganda adalah fenomena di mana setiap rupiah yang diinvestasikan atau dikeluarkan oleh perusahaan migas memicu rangkaian dampak ekonomi lanjutan yang nilainya jauh lebih besar dari investasi awal. Itu bisa ditemukan di lapangan, di ruang terbuka, di wilayah ring 1 operasi perusahaan minyak dan gas (migas).
Dalam teorinya efek berganda perusahaaan migas atau KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) ini terbagi menjadi tiga tingkat. Pertama, dampak langsung (direct effect) berupa gaji yang dibayarkan kepada karyawan, pembelian material operasional, dan setoran pajak serta royalti ke negara. Ini adalah dampak yang paling mudah diukur dan paling langsung terasa.
Kedua, dampak tidak langsung (indirect effect). Ada aktivitas ekonomi yang muncul pada vendor dan pemasok KKKS. Ketika perusahaan membeli material, menyewa alat berat, atau membutuhkan jasa konstruksi, semua itu menciptakan permintaan bagi bisnis-bisnis lokal yang kemudian membutuhkan layanan tambahan dari bisnis lain.
Ketiga, dampak terimbas (induced effect). Dampak dari pembelanjaan pendapatan oleh karyawan dan pemilik usaha di pasar lokal. Ketika seorang karyawan KKKS menerima gaji, dia akan membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional, untuk menyekolahkan anak, untuk membeli kebutuhan rumah tangga—dan semua itu meningkatkan omzet pedagang lokal.
Dari hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga ekonomi, setiap Rp1 triliun yang diinvestasikan oleh perusahaan migas diproyeksikan memberikan dampak ekonomi total sebesar Rp1,6 hingga Rp3 triliun bagi perekonomian daerah dan nasional. Angka ini bukan sekadar teori ekonomi—ini adalah realitas yang bisa dilihat dan dirasakan pada daerah-daerah penghasil migas.
Ketika sejumlah wartawan dari berbagai media massa yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan Media Field Trip pada Senin, 8 Juni 2026, ke Lapangan Cantik di Lembak, Kabupaten Muara Enim yang dioperasikan KKKS PT Sele Raya Belida (SRB), cerita dan fakta tentang efek berganda tersebut terlihat di lapangan.

Seperti cerita seorang tenaga pengamanan atau sekuriti, dari seluruh sekuriti yang ada adalah warga lokal dari sekitar wilayah operasi PT SRB. “Kami direkrut melalui sebuah Perusahaan Jasa Pengamanan atau PJP yang ada di Jambi, lalu ditempatkan di PT SRB”, kata salah seorang tenaga pengamanan di Lapangan Cantik.
Cerita tenaga sekuriti tersebut hanya satu dari sekian banyak cerita tentang efek berganda dari industri hulu migas yang ada di Sumsel. Seperti penjelasan Valentina, PR Supervisor PT SRB tentang komitmen perusahaan migas swasta nasional tersebut terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
“Perusahaan memiliki kebijakan yang jelas, minimal 90 persen dari tenaga kerja yang tidak mengharuskan skill khusus memang berasal dari masyarakat sekitar wilayah operasi”, katanya. “Ini bukan hanya karena regulasi, tetapi karena kami percaya bahwa kehadiran PT SRB di sini harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dengan mempekerjakan warga lokal, kami memastikan bahwa pendapatan yang dihasilkan oleh industri ini tetap beredar di komunitas lokal”.
Komitmen PT SRB dalam teori ketenagakerjaan tentu akan mengubah demografi pekerjaan di Muara Enim. Sebelum kehadiran PT SRB, mayoritas masyarakat di daerah ini adalah petani atau pedagang kecil. Kini, ada segmen baru dari masyarakat yang memiliki keterampilan teknis dan pengalaman industri modern.
Jika penyerapan tenaga kerja adalah dampak langsung yang paling terlihat, maka pemberdayaan UMKM lokal adalah efek berganda yang paling kompleks dan paling bermakna dalam jangka panjang. Ketika PT SRB memulai operasi, tentu perusahaan menghadapi pilihan, apakah akan mengimpor semua barang dan jasa yang dibutuhkan dari luar daerah, ataukah akan bekerja sama dengan vendor lokal?
Menurut Dipo, HSSE Supervisor PT SRB, perusahaan memilih jalur yang kedua—jalur yang lebih sulit, tetapi lebih bermakna. “Perusahaan memiliki kebijakan untuk memprioritaskan pengusaha atau vendor lokal dalam pengadaan barang dan jasa non-teknis,”, ujarnya.
“Ini berarti bahwa ketika kami membutuhkan jasa transportasi, kami akan mencari vendor lokal. Ketika kami membutuhkan jasa katering, kami akan bekerja sama dengan pengusaha lokal. Ketika kami membutuhkan jasa konstruksi atau perbaikan, kami akan memberikan kesempatan kepada kontraktor lokal”, katanya.
Pada awalnya kehadiran vendor lokal di sekitar wilayah banyak tidak memenuhi standar. Untuk bisa memenuhi standar yang berlaku di industri hulu perjalanannya tidak selalu mudah. Banyak dari vendor lokal ini awalnya tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan, seperti standar keselamatan, standar kualitas, sertifikasi ISO—semua ini adalah persyaratan yang tidak familiar bagi pengusaha lokal yang terbiasa bekerja dalam skala kecil.

Terhadap masalah tersebut, menurut Valentina, PT SRB bersikap pro aktif. “Kami menyadari bahwa vendor lokal memiliki potensi besar, tetapi mereka memerlukan pembinaan dan dukungan. Oleh karena itu, perusahaan memiliki program ‘Vendor Development’ yang dirancang khusus untuk membantu pengusaha lokal meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka”.
PT SRB melibatkan vendor-vendor lokal dengan memberikan pelatihan, membantu mereka mendapatkan sertifikasi, kami bahkan membantu mereka dalam manajemen keuangan dan administrasi bisnis. “Program ini telah membuahkan hasil yang nyata. Banyak vendor lokal yang awalnya hanya bisa menangani pekerjaan-pekerjaan kecil kini mampu menangani kontrak-kontrak besar senilai miliaran rupiah”, ujar Valentina.
Di Lapangan Cantik, industri migas hadir menjadi jantung ekonomi masyarakat Kabupaten Muara Enim sebagai kisah nyata dari efek berganda hulu migas sekaligus transformasi sosial ekonomi di Sumatera Selatan.
Kunjungan ke Lapangan Cantik di tengah panas musim kemarau bisa menyaksikan langsung dan mendengar bagaimana deru mesin pompa yang bekerja di kejauhan. Bagi sebagian besar masyarakat lokal, suara itu bukan lagi simbol ancaman terhadap alam, melainkan simbol harapan—harapan untuk masa depan yang lebih cerah, pekerjaan yang stabil, dan ekonomi yang berkembang.
Cantik dan PPM
Lapangan Cantik—nama yang dipilih dengan penuh makna oleh PT Sele Raya Belida—telah menjadi lebih dari sekadar instalasi industri. Melainkan bukti nyata bagaimana industri hulu migas dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mengubah wajah ekonomi daerah.
“Nama ‘Cantik’ itu adalah doa kami semua”, kata Elvi Kurnia Hakim, Field Superintendent PT Sele Raya Belida menjawab pertanyaan wartawan tentang kata atau nama “Cantik” tersebut. Menurut Hakim, “Kami berharap produksi migas gas kami lancar dan berkualitas. Tapi lebih dari itu, kami ingin bahwa kehadiran Sele Raya di sini membuat kehidupan masyarakat lokal menjadi ‘cantik”, menjadi lebih baik dan lebih sejahtera”.
Pernyataan Elvi bukan sekadar slogan perusahaan. Di balik kata “Cantik” terdapat realitas ekonomi yang kompleks dan transformasi sosial yang nyata—sebuah efek berganda yang telah mengubah cara hidup ribuan keluarga di Muara Enim, Lembak, dan sekitarnya.
PT Sele Raya Belida hadir di Lembak dan mulai melakukan eksplorasi pada tahun 2018, ada kekhawatiran di kalangan masyarakat saat itu. Namun perusahaan migas nasional ini tidak hanya datang dengan mesin dan teknologi. Mereka datang dengan komitmen untuk memahami budaya lokal, untuk mendengarkan kekhawatiran masyarakat, dan untuk membangun kepercayaan.

Lapangan Cantik mulai beroperasi pada tahun 2019. Namun, yang menarik adalah bahwa lapangan ini seharusnya berhenti berproduksi pada tahun 2024 berdasarkan proyeksi awal. Cadangan yang terbatas dan penurunan produksi alami (natural decline) seharusnya membuat sumur ini tidak lagi ekonomis untuk dioperasikan.
Namun, melalui disiplin operasional yang ketat dan optimalisasi berkelanjutan, Lapangan Cantik terus berproduksi hingga saat ini di tahun 2026. Saat ini, lapangan ini menghasilkan sekitar 1.3 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), turun dari puncaknya 2.5 hingga 3 MMSCFD, tetapi masih merupakan kontribusi vital bagi pasokan energi nasional.
“Ini bukti bahwa dengan teknologi yang tepat dan manajemen yang baik, kita bisa memaksimalkan setiap tetes minyak dan setiap kubik gas yang ada”, kata Field Superintendent Elvi Kurnia Hakim.
Selain tentang Lapangan Cantik, Hakim juga menyampaikan kabar gembira, pda Agustus 2025, PT SRB telah mencapai kesuksesan eksplorasi yang signifikan dengan penemuan sumur Sungai Anggur Selatan-2 (SAS-2) di Desa Tapus, Lembak. Sumur SAS-2 ini adalah penemuan yang penting karena mengidentifikasi lapisan reservoir baru yang tidak ditemukan di sumur SAS-1 sebelumnya. Pengeboran dimulai pada 16 Juni 2025.
“Penemuan ini adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi tim kami. Kami melakukan riset geologi yang mendalam, kami menganalisis data seismik dengan cermat, dan kami merancang strategi pengeboran yang optimal. Hasilnya adalah penemuan yang akan memperpanjang umur operasi kami di wilayah ini”.
Data teknis dari sumur SAS-2 menunjukkan, produksi minyak sebanyak 3.856 barel per hari (bmph), produksi gas 3.257 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Penemuan ini diverifikasi melalui wireline logging, side wall core (SWC), dan reservoir data testing (RDT), diikuti dengan Drill Stem Test (DST/UKL). Sumur ini direncanakan untuk mulai produksi awal pada kuartal keempat (Q4) 2025.
“Dengan penemuan SAS-2 berarti operasi kami di wilayah ini akan berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Dengan demikian, lapangan kerja akan tetap tersedia, vendor lokal akan terus memiliki pekerjaan, dan masyarakat lokal akan terus merasakan manfaat dari kehadiran kami”.
Keberdaan PT SRB di Lembak dan sekitarnya berdampak juga pada pembangunan infrastruktur. Jalan-jalan yang dulunya rusak dan sulit dilalui kini telah diperbaiki. Fasilitas-fasilitas publik yang sebelumnya tidak ada kini telah dibangun.
Selain dampak ekonomi langsung dari operasi bisnis, PT SRB juga memiliki program khusus yang disebut Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Program ini dirancang untuk memberikan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Berdasarkan laporan PPM PT SRB untuk tahun 2025-2026. Program ini mencakup berbagai inisiatif di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan infrastruktur.

Di bidang kesehatan, PT SRB telah menyelenggarakan program khitan massal untuk 50 anak di Desa Lembak dan Gelumbang. Program ini dilakukan secara gratis dan melibatkan tenaga medis profesional. Selain itu, perusahaan juga melakukan pemeriksaan kesehatan gratis secara berkala, memberikan bantuan peralatan medis kepada puskesmas lokal, dan menjalankan program pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak-anak kecil guna mencegah stunting.
“Program ini sangat penting karena stunting masih menjadi masalah kesehatan yang serius di daerah kami”, kata seorang bidan di Puskesmas Lembak. “Dengan dukungan dari PT SRB, kami bisa memberikan perhatian lebih kepada ibu hamil dan anak-anak kecil. Kami bisa memberikan suplemen gizi, kami bisa melakukan edukasi tentang pentingnya gizi yang baik. Ini akan berdampak pada kualitas generasi muda kami di masa depan”.
Menurut Valentina, di bidang pendidikan, PT SRB telah melakukan renovasi terhadap SD Negeri 12 Gelumbang, membangun fasilitas sanitasi di sekolah-sekolah, dan memberikan dukungan kepada fasilitas pendidikan anak usia dini (PAUD). Perusahaan juga memiliki program beasiswa untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
“Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Dengan mendukung pendidikan anak-anak lokal, kami memastikan bahwa generasi muda di daerah ini memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai impian mereka”, katanya.
Di bidang lingkungan, KKKS ini bersama KKKS lainnya ikut melakukan penanaman pohon mangrove di Desa Sungsang IV, Banyuasin, dan program reboisasi di zona penyangga lapangan, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kerusakan ekosistem.
Tidak Boleh Satu Tetes Pun Hilang
Safei Safri, Kepala Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan) yang ikut mendampingi kunjungan wartawan tersebut, menyampaikan tentang komitmen industri hulu migas terhadap optimalisasi produksi. “Industri hulu migas adalah pertempuran melawan penurunan produksi alami atau natural decline”, katanya.
Menurut Syafei, setiap tetes minyak dan setiap kubik gas yang dihasilkan adalah kontribusi untuk energi nasional, untuk ekonomi nasional, dan untuk kesejahteraan masyarakat. SKK Migas bersama KKKS berkomitmen untuk mengoptimalkan setiap aspek dari operasi—dari eksplorasi, dari pengembangan, dari produksi, hingga dari perawatan lapangan.
Filosofi yang menjadi motto dan sering digunakan oleh SKK Migas adalah “Tidak Boleh Satu Tetes Pun Hilang” (Not One Drop Lost). Ini bukan hanya slogan, tetapi prinsip operasional yang fundamental. (maspril aries)





