Home / Bisnis / Sentuhan PTBA Mengubah Bayang-Bayang Stigma Menuju Kain Berharga (Transformasi Ekonomi dan Sosial di Dekat Pelabuhan Panjang)

Sentuhan PTBA Mengubah Bayang-Bayang Stigma Menuju Kain Berharga (Transformasi Ekonomi dan Sosial di Dekat Pelabuhan Panjang)

Perempuan di kawasan Pemandangan, Panjang menjahit kerajinan kain tapis dengan mesin jahit bantuan PTBA. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Bandarlampung – Sejarah mencatat, ada sebuah kawasan yang dulu bernama “Pemandangan”. Ini nama sebuah tempat yang tumbuh seiring dengan padatnya aktivitas di Pelabuhan Panjang. Jaraknya berkisar dua kilometer dari pelabuhan. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai tempat persinggahan yang menyediakan jasa hiburan dan akomodasi bagi para pekerja pelabuhan, awak kapal, maupun pedagang yang datang dan pergi.

Selama puluhan tahun, nama Pemandangan terpatri kuat dalam ingatan publik sebagai kawasan lokalisasi. Beragam stigma negatif melekat erat pada pada wilayah ini. Seiring perkembangan kota Bandarlampung dan perkembangan pelabuhan Panjang yang semakin pesat dan besar, lamban laun stigma itu terkikis, sudah jarang terdengar sebutan “Pemandangan” untuk kawasan tersebut.

Pelabuhan Panjang, salah satu gerbang maritim terpenting di Provinsi Lampung. Berdiri kokoh di pesisir Teluk Lampung, Pelabuhan ini telah lama menjadi urat nadi perdagangan dan distribusi barang, tidak hanya bagi warga Bandar Lampung, tetapi juga sebagai penghubung utama antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Sejak masa kolonial hingga masa kemerdekaan, pelabuhan ini menjadi saksi arus keluar masuk komoditas, mulai dari hasil bumi, barang dagangan, hingga energi.

Roda waktu terus berputar, dan kebijakan sosial serta pembangunan kota mulai mengubah wajah Bandar Lampung. Seiring dengan penertiban dan pengalihfungsian kawasan, Pemandangan perlahan melepaskan jati dirinya yang lama. Kawasan ini berubah menjadi pemukiman warga biasa, beberapa perempuan, sebagian besar mereka ibu rumah tangga, bergerak mengubah nasib dan mengibah image, melahirkan Kelompok Tapis Melati, sebuah wadah yang menaungi sekitar 30 perempuan dari lingkungan sekitar. Di bawah naungan kelompok ini, mereka berkumpul, belajar, dan saling menguatkan.

Kini dari kawasan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Panjang, sering terdengar suara mesin jahit dari rumah warga yang ada di situ. Suara mesin jahit yang khas melahirkan bunyi ritmis. Di atas mesin jahit itu, ada tangan – tangan perempuan cekatan yang tengah merajut sesuatu yang lebih dari sekadar kain.

Di komunitas inilah mereka belajar, bertahan, dan pelan-pelan menemukan jalan mereka kembali. Dengan tangan mereka sendiri, mereka menenun kain tapis, kain tradisional khas Lampung yang sarat makna budaya dan telah diwariskan lintas generasi.


Para perempuan yang tergabung dalam kelompok Tapis Melati di Panjang memperlihatkan hasil kerajinan yang dibuat dari kain tapis. (FOTO: Humas PTBA)

Kain tapis adalah warisan budaya yang telah diwariskan nenek moyang sejak berabad-abad silam. Bagi masyarakat Lampung, tapis bukan sekadar kain hiasan. Ia adalah identitas, adalah kitab yang tertulis dalam benang dan sulaman. Setiap motif yang ada pada kain tapis memiliki makna filosofis, menceritakan kisah kehidupan, keberanian, kesuburan, hingga nilai-nilai luhur adat istiadat. Kain ini juga menjadi simbol kehormatan yang kerap dipakai dalam upacara adat, pernikahan, hingga penyambutan tamu kehormatan.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Keterbatasan alat produksi menjadi tantangan utama. Sebagian proses jahit masih dilakukan secara bergantian dengan peralatan seadanya. Waktu produksi pun melambat, sementara permintaan mulai berdatangan dari berbagai kegiatan dan pameran di Bandar Lampung.

Semakin banyak peminat yang ingin membeli karya mereka, semakin terasa ketimpangan antara kemampuan produksi yang terbatas dengan potensi pasar yang terbuka lebar. Mereka berjuang dengan keterbatasan itu, bekerja keras siang dan malam demi menyelesaikan pesanan, namun tetap merasa ada yang kurang untuk bisa berkembang lebih jauh.

Di saat itulah, kerja keras dan ketekunan mereka menarik perhatian PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). BUMN yang bergerak di bidang pertambangan dan energi ini memiliki operasional penting di wilayah Lampung, khususnya melalui Bukit Asam Tarahan Port yang tidak jauh dari kawasan tersebut. PTBA memandang keberadaan kelompok ini bukan sekadar usaha kecil biasa, melainkan sebuah potensi besar yang berbasis pada semangat pemulihan sosial dan pelestarian budaya. Bagi PTBA, kehadiran perusahaan di wilayah ini tidak hanya berfokus pada kegiatan operasional dan logistik, tetapi juga pada tanggung jawab sosial dan lingkungan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat sekitar.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PTBA memutuskan untuk turut andil mendorong kemandirian ekonomi warga eks-lokalisasi Pemandangan. Dukungan nyata pun diberikan berupa penyerahan empat unit mesin jahit baru yang lengkap dengan perlengkapannya. Bantuan ini diserahkan langsung ke pusat kegiatan Kelompok Tapis Melati, membawa angin segar dan kebahagiaan luar biasa bagi para anggotanya. Bagi mereka, mesin-mesin itu bukan sekadar alat kerja, melainkan simbol pengakuan bahwa usaha mereka dilihat, dihargai, dan didukung.

Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor ekonomi kreatif yang berbasis kearifan lokal.


Perempuan di kawasan Pemandangan, Panjang menjahit kerajinan kain tapis dengan mesin jahit bantuan PTBA. (FOTO: Humas PTBA)

“Kami melihat semangat perubahan yang tumbuh dari masyarakat, khususnya para perempuan, untuk bangkit dan membangun penghidupan yang lebih positif, produktif, dan bermartabat. Melalui penguatan keterampilan, dukungan sarana produksi, dan pengembangan usaha berbasis budaya lokal seperti kain tapis, diharapkan tercipta peluang ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan”, kata Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, dua hari sebelum hari raya Idul Adha 2026.

Menurut Eko, kolaborasi seperti ini memiliki makna ganda, selain memberdayakan ekonomi warga, upaya ini sekaligus menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup, berkembang, dan memiliki nilai ekonomi yang kuat di tengah arus modernisasi.

Transformasi wilayah bekas lokalisasi menjadi pusat ekonomi kreatif juga menjadi bukti nyata bahwa setiap kawasan memiliki potensi emasnya sendiri, asalkan dikelola dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan.

Kini, wajah pusat kegiatan Kelompok Tapis Melati berubah drastis. Ruangan yang dulunya sepi atau hanya dipenuhi obrolan, kini berdenyut dengan suara mesin-mesin baru yang bekerja serentak. Proses produksi menjadi jauh lebih cepat, pengerjaan pesanan dapat diselesaikan tepat waktu, dan jumlah karya yang dihasilkan pun meningkat. Kepercayaan diri para anggota tumbuh subur seiring dengan kemajuan yang mereka raih.

Mereka tidak lagi hanya membuat kain tapis tradisional, tetapi mulai berinovasi menciptakan produk-produk turunan yang lebih variatif, seperti tas, dompet, alas kaki, baju, hingga aksesori rumah tangga yang tetap mempertahankan motif khas Lampung.

Kini perubahan di kawasan Pemandangan ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah kawasan yang letaknya bersebelahan dengan pusat aktivitas ekonomi besar seperti Pelabuhan Panjang, mampu bangkit dan menciptakan ekosistem ekonominya sendiri. Pelabuhan Panjang sebagai gerbang perdagangan menjadi latar sejarah yang kuat, sementara Kelompok Tapis Melati kini menjadi ikon baru kebangkitan sosial-ekonomi di wilayah tersebut.

Harapan besar kini menggantung di bahu para perempuan tangguh ini. Mereka bertekad agar karya tapis buatan tangan mereka tidak hanya dikenal di Bandar Lampung atau sekitar pelabuhan saja, tetapi dapat menembus pasar yang lebih luas, hingga ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri, sejalan dengan nama besar Pelabuhan Panjang yang sudah dikenal banyak orang. Mereka ingin memastikan bahwa setiap lembar kain tapis yang keluar dari tangan mereka membawa pesan, dari kawasan yang pernah dipandang sebelah mata, lahir karya luar biasa yang merajut kembali harapan, martabat, dan masa depan yang lebih cerah bagi anak cucu mereka nanti.

Di sudut Kecamatan Panjang itu, benang-benang harapan terus disusun. Stigma lama perlahan terkikis, digantikan oleh kebanggaan akan karya dan kemandirian ekonomi. Transformasi Pemandangan dari kawasan lokalisasi menjadi pusat ekonomi kreatif adalah kisah inspiratif tentang bagaimana kerja keras, dukungan pihak terkait, dan pelestarian budaya dapat berpadu menjadi kekuatan besar yang mengubah nasib sebuah komunitas selamanya. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *