Ilustrasi Gedung Selantang. (FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA, Muaro Jambi – Ketika usia senja menjadi babak baru, bukan akhir cerita. Adalah Maisarah menatap cermin dengan senyum tipis. Rambutnya yang dulu hitam pekat kini telah berubah menjadi salju, mengikuti jejak waktu yang tak pernah berhenti berjalan. Namun yang menarik perhatiannya bukanlah kerutan di sudut matanya, melainkan sapu tangan batik yang terlipat rapi di meja rias—karya tangannya sendiri, hasil dari pelatihan yang baru saja ia ikuti beberapa bulan lalu.
“Di usia 68 tahun, saya kira hidup tinggal menunggu waktu”, ujar Maisarah, Duta Lansia Desa Kota Karang Tahun 2025, sambil merapikan jilbabnya. “Ternyata masih ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Masih ada yang perlu saya buktikan”.
Cerita Maisarah bukanlah kisah tunggal di tengah sunyi. Ia adalah salah dari 55 lansia di Desa Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, yang menemukan kembali makna hidup melalui sebuah ruang belajar yang tak mereka sangka akan mengubah segalanya.
Menua Realitas yang Tak Bisa Dihindari
Angka-angka tak pernah berbohong, meski seringkali mengabarkan kebenaran yang tak nyaman. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perubahan demografis yang signifikan dalam kurun waktu 2015 hingga 2024—persentase lansia di Indonesia melonjak hampir 4 persen menjadi 12 persen dari total populasi. Proyeksi lebih mengejutkan, pada 2045, sekitar 65,82 juta jiwa atau 20,31 persen penduduk Indonesia akan memasuki usia lanjut.
“Kita sedang menghadapi bonus demografi yang akan segera berakhir”, kata Novita Sari, Ketua Pokja Lansia & Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jambi. “Isu lansia bukan lagi masalah individual, melainkan tanggung jawab kolektif bangsa”.
Namun di balik angka-angka tersebut, tersembunyi narasi yang lebih dalam—bagaimana masyarakat seringkali memandang lansia sebagai beban, bukan aset. Bagaimana pengalaman puluhan tahun terkubur dalam isolasi, dan bagaimana tubuh yang melemah seringkali diikuti oleh hati yang merasa tak lagi diperlukan.

Sekolah Lansia Tangguh
Tepat di tengah lanskap persawahan yang membentang hijau, sebuah inovasi sosial mulai bersemi. Pada 2023, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) melalui BKKBN Provinsi Jambi memperkenalkan konsep revolusioner: Sekolah Lansia Tangguh, atau yang akrab disapa SELANTANG.
Desa Kota Karang terpilih sebagai salah satu lokasi pengembangan, melalui pembentukan Sekolah Lansia Tangguh – Bina Keluarga Lansia (BKL) Kamboja. Bukan sekolah dalam pengertian konvensional dengan bangku dan papan tulis, melainkan ruang komunal di mana para lansia berkumpul, berbagi, dan belajar bersama.
“SELANTANG bukan sekadar program kesehatan”, ujar Novita Sari. “Ini adalah ekosistem pendukung di mana lansia merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Keluarga menjadi bagian integral, bukan hanya pendamping pasif”.
Model ini terbukti sukses di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Jambi yang menjadi salah satu pilot project nasional. Keberhasilan SELANTANG di Desa Kota Karang kemudian menarik perhatian Pertamina EP (PEP) Jambi, yang melalui studi social mapping pada 2024 mengidentifikasi potensi pengembangan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Senja Karsa
Tahun 2025 menandai babak baru dalam perjalanan para lansia Desa Kota Karang. PEP Jambi meluncurkan program Semangat Lanjut Usia untuk Berkarya, Sehat, dan Sejahtera—disingkat SENJA KARSA persis seperti nama yang menggambarkan momen di mana matahari tak benar-benar tenggelam, melainkan bersiap menyinari dunia dari arah lain.
“SENJA Karsa lahir dari keyakinan fundamental”, kata Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 PEP. “Keberlanjutan masyarakat tak bisa lepas dari kualitas hidup generasi lanjut usia. Lansia bukan kelompok yang harus diabaikan, melainkan pilar yang perlu diperkuat”.
Program ini bukan sekadar bantuan material. PEP Jambi menyusun pendekatan komprehensif: penyediaan perlengkapan belajar dan alat kesehatan bagi 55 lansia, pengembangan keterampilan ekonomi kreatif, serta edukasi peran keluarga dalam sistem pendampingan.

Yang menarik, SENJA Karsa menempatkan lansia sebagai subjek, bukan objek. Mereka bukan penerima bantuan pasif, melainkan individu yang tetap memiliki daya cipta, pengalaman, dan nilai kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Batik Ecoprint
Di antara berbagai program pengembangan keterampilan, batik ecoprint menjadi salah satu yang paling diminati. Namun apa sebenarnya batik ecoprint?
Batik ecoprint adalah teknik pewarnaan kain yang memanfaatkan kekuatan alami dari dedaunan, bunga, dan bagian tumbuhan lainnya. Berbeda dengan batik konvensional yang menggunakan malam (lilin) dan canting, atau batik cap yang memerlukan peralatan logam, ecoprint mengandalkan proses transfer pigmen alami dari daun ke kain melalui teknik pounding (memukul) atau steaming (pengukusan).
“Setiap daun punya karakter unik”, kata instruktur pelatihan. “Daun jati memberikan warna coklat keunguan, daun indigo menghasilkan biru alami, sedangkan bunga rosella bisa menciptakan gradasi merah hingga ungu. Tidak ada dua hasil ecoprint yang identik—setiap karya adalah ekspresi alam dan tangan yang menciptakannya”.
Pelatihan batik ecoprint untuk lansia dirancang khusus mempertimbangkan kondisi fisik peserta. Teknik pounding menggunakan palu kayu ringan yang mudah dipegang, sementara proses steaming dilakukan dengan alat sederhana yang aman. Durasi pelatihan disesuaikan dengan stamina lansia, biasanya 2-3 jam dengan jeda istirahat yang cukup.
“Yang istimewa, ecoprint tidak menuntut kekuatan fisik berlebihan”, tambah instruktur. “Yang dibutuhkan adalah kesabaran, kepekaan terhadap detail, dan apresiasi terhadap proses—kualitas yang justru dimiliki para lansia dalam jumlah melimpah”.
Hasilnya tak sekadar kain bermotif. Setiap sapu tangan, setiap syal, setiap kemasan yang dihasilkan membawa cerita—jejak daun dari pekarangan rumah, memori musim panen, dan kebanggaan menciptakan sesuatu yang indah dari tangan sendiri.

Lansiapreneur
Dari sekadar hobi, batik ecoprint kemudian dikembangkan menjadi fondasi kelompok lansiapreneur—para lansia yang bertransformasi menjadi pengusaha.
“Konsep lansiapreneur adalah tentang membuktikan bahwa kewirausahaan tak mengenal batas usia”, kata Iwan Ridwan Faizal. “Pengalaman hidup para lansia justru menjadi modal berharga dalam berbisnis: jaringan sosial yang luas, kemampuan negosiasi yang terasah, dan ketahanan mental dalam menghadapi tantangan”.
Kelompok lansiapreneur di Desa Kota Karang dibentuk secara bertahap. Tahap awal fokus pada penguatan keterampilan produksi, diikuti dengan pelatihan manajemen sederhana: penentuan harga, pengelolaan modal, dan pemasaran produk. PEP Jambi memfasilitasi akses ke jaringan pemasaran, termasuk event-event pameran dan platform digital yang disesuaikan dengan kemampuan teknologi para lansia.
“Yang kami bangun bukan sekadar unit produksi. Ini adalah komunitas belajar di mana para lansia saling mendukung, berbagi pengalaman bisnis, dan membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk mandiri secara ekonomi”, kata Novita Sari.
Buah dari kegiatan itu, tanggal 31 Desember 2025 menjadi momen bersejarah. Di Kantor Desa Kota Karang, terselenggara wisuda Sekolah Lansia BKL Kamboja—bukan untuk anak-anak yang baru menyelesaikan pendidikan dasar, melainkan untuk para lansia yang membuktikan bahwa belajar tak mengenal usia.
Program SENJA Karsa tidak berhenti di wisuda. PEP Jambi telah menegaskan komitmen jangka panjang melalui berbagai inisiatif lanjutan: peningkatan kapasitas pembelajaran dengan kurikulum yang terus disesuaikan, pengembangan lebih luas kelompok lansiapreneur, pemantauan kesehatan rutin bersama tenaga medis, serta kegiatan yang mendukung kesejahteraan mental dan sosial.
“Kami membayangkan Desa Kota Karang menjadi model. Bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat bisa menciptakan ekosistem di mana lansia tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar hidup”, kata Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 PEP. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.


