KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Ada tiga kata yang harus Anda perhatikan dalam artikel ini, yaitu “Lubuklinggau, Zagreb dan Kairo”. Itu adalah nama tempat yang ada di muka bumi ini, letaknya bisa dicari di buku atlas atau bola dunia (globe). Jika mau tahu jarak dari tiga tempat tersebut, silahkan bertanya kepada mesin pencari atau pada kecerdasan buatan atau aplikasi imitasi (AI).
Jarak Lubuklinggau yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sampai ke Zagreb sejauh sekitar 10.500 – 11.000 km. Kemudian jarak antara Lubuklinggau dengan Kairo adalah sekitar 7.500 km dan jarak Zagreb – Kairo sekitar 2.199 atau 2.200 km.
Tetapi kali ini bukan berbicara tentang jarak, melainkan tentang perjalanan seorang novelis/ sastrawan asal Indonesia tepatnya dari Lubuklinggau, sebuah kota berjarak sekitar 320 km dari Palembang. Novelis tersebut Benny Arnas yang bermula dengan tujuan ke Zagreb di Kroasia negara pecahan Yugoslavia di Balkan. Namun perjalanan ke negara pesepakbola Luka Modric tersebut gagal.
Benny bercerita, ketika rencana residensi sastra selama sebulan di Zagreb, Kroasia, runtuh seketika. Runtuh oleh selembar kertas berstempel penolakan visa Schengen dari Konsuler Kroasia. Padahal, segalanya sudah rapi, anggaran dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan telah disiapkan, jadwal program disiapkan, tiket pesawat hampir dipesan. Saat bersiap melangkah, satu dokumen penolakan itu bagai tembok batu yang menjebol seluruh jembatan imajinasi yang sudah dibangunnya.
Apa itu visa Schengen? Visa Schengen adalah izin masuk bagi warga negara non-Uni Eropa untuk melakukan kunjungan singkat hingga 90 hari dalam periode 180 hari ke negara-negara yang tergabung dalam Wilayah Schengen.

Wilayah Schengen adalah zona di Eropa yang menghapus pemeriksaan perbatasan internal, sehingga orang dapat bergerak bebas antarnegara seperti dalam satu negara besar. Visa Schengen berlaku untuk 27 negara yang tergabung dalam Wilayah Schengen. Negara-negara tersebut meliputi:
Uni Eropa (yang ikut Schengen), yaitu Austria, Belgia, Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Italia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia. Negara Non-Uni Eropa (tetapi anggota Schengen) adalah Islandia, Liechtenstein, Norwegia, Swiss.
Residensi Satrawan
Mengapa Benny Arnas harus terbang ke negara di kawasan Balkan tersebut. Novelis kelahiran Lubuklinggau, 8 Mei 1983 menjadi salah seorang sastrawan Indonesia yang terpilih oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk mengingkuti “Residensi Sastrawan di Luar Negeri Tahun 2025”. Selain Benny terpilih juga sastrawan Sunlie dengan negara tujuan residensi Tiongkok.
Program Residensi Sastrawan di Mancanegara adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, sebagai bagian dari upaya penginternasionalan bahasa dan sastra Indonesia.
Program ini menempatkan sastrawan Indonesia di berbagai negara selama beberapa bulan untuk memperluas jejaring internasional, memperkenalkan sastra Indonesia kepada komunitas global, memperkuat posisi bahasa Indonesia di panggung dunia, serta mendorong lahirnya karya baru selama masa residensi.
Kegagalan ke Zagreb, apakah membuat seluruh agenda berantakan? Tentu tidak, solusinya mencari negara alternatif. Cepat.” Negara alternatif pengganti yang menjadi pilihan adalah Azerbaijan, negara pecahan Uni Sovyet dan Benny pernah mengajar di KBRI Baku.

Menurut Benny, hatinya saat itu ragu. Ada bisikan kecil, “Apakah kau benar-benar memilih tempat ini untuk berkarya, atau hanya untuk menyelamatkan anggaran negara?”
Benny menulis dalam artikelnya yang tayang di blog pribadinya, “Dalam keresahan, saya menengok kembali proyek sastra saya. Dua kota muncul: Zagreb dan Kairo. Zagreb sudah mustahil. Tinggal Kairo. Dan entah bagaimana, Kairo terasa seperti panggilan yang telah lama menunggu. Namun Kairo berarti berhadapan lagi dengan proses visa. Dan setelah penolakan Kroasia, saya cukup trauma”.
Zagreb dan Kairo bisa menjadi latar utama cerita-cerita fiksi atau sastra. Zagreb dikenal dengan nuansa Eropa Tengah yang kelam dan puitis. Kairo, dengan denyut Mesir kuno yang berdetak di bawah pasir dan kehidupan metropolitan yang hiruk-pikuk.
Visa Kairo
Setelah Zagreb tidak, kini tinggal Kairo. Dan entah bagaimana, begitu nama ‘Kairo’ muncul di benak, ia terasa berbeda. Ini bukan sekadar opsi pengganti, melainkan seperti “panggilan yang telah lama menunggu untuk dijawab”. Bagi Benny Arnas, Kairo atau Mesir bukan menjadi destinasi baru yang akan dikunjungi. Benny pernah ada dan pernah ke sana
Namun, antusiasmenya masih dibayangi trauma. Ke Kairo berarti berurusan lagi dengan konsulat, dokumen, dan proses visa yang tidak kaku. Setelah penolakan Kroasia, kepercayaan dirinya terhadap sistem birokrasi visa retak.
Masih di dalam blognya, Bennyarnas.com, ia menulis, “Di tengah gelombang keraguan itu, saya mencoba menarik napas dan melihat ke luar jendela. Saya ingat bahwa kisah-kisah besar sering lahir bukan dari rencana yang sempurna, tetapi dari belokan tak terduga. Van Gogh bercita-cita menjadi seorang misionaris, gagal total, dan baru kemudian—dalam keputusasaan—kembali ke kanvas dan menciptakan mahakarya yang mengubah seni modern.

Stephen King, sang maestro horor, berkali-kali ditolak penerbit hingga naskah pertamanya, Carrie, nyaris berakhir di tong sampah. Berkat keteguhan sang istri, Tabitha, yang lebih jernih membaca sinyal bakat suaminya, naskah itu diselamatkan dan akhirnya diterbitkan.
Kehidupan, rupanya, sering memulai perubahan besarnya justru lewat hambatan-hambatan kecil yang awalnya terasa seperti tembok. Mungkin, di titik kegagalan visa itulah, Benny perlu mengakui satu kebenaran sederhana: “penolakan bukanlah akhir; sering kali, ia hanyalah koreksi arah”. GPS kehidupan kita sedang berkata, “Rerouting ”.
Dengan tekad baru, Benny menghubungi KBRI Kairo. Email dikirim, nomor kontak dicoba. Awalnya, sunyi. Tak ada jawaban. Lalu, ketika respons akhirnya datang, labirin birokrasi lain terbentang. Agen visa meminta dokumen baru dengan format berbeda. Konsulat meminta surat pendukung yang lebih spesifik. Badan Bahasa harus bersurat ulang.
Proses ke Kairo tetap berjalan, meski tersendat-sendat. Sebuah titik terang muncul ketika Mas Fauzan dari KBRI Kairo akhirnya membalas panjang lebar email Benny Arnas. “Rupanya, di sana mereka sedang sibuk sekali mempersiapkan kuliah perdana Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar’.
Sambil menanti kabar dari negeri piramid, Benny Arnas kembali dengan aktivitasnya, kembali mengajar menulis, menjadi pembicara dan aktivitas lainnya. “Tanggal 18 November 2025. Saya sedang asyik mengampu kelas menulis intensif di Bengkulu, bertatap muka dengan para calon penulis yang matanya berbinar. Di jeda istirahat, ponsel bergetar. Sebuah pesan dari Badan Bahasa: Pak Benny, visa Mesirnya sudah keluar. Silakan diambil”.

Hanya ada waktu dua hari setelah visa keluar, dan saya harus berangkat. Panik sejenak melanda, Benny minta penundaan satu hari untuk menuntaskan kelas dan bersiap, tetapi aturan anggaran negara sangat ketat. Tiket harus segera dipesan sesuai tanggal yang disepakati. Maka, dengan irama cepat, segalanya diatur. Dari Bengkulu, Benny kembali ke kotanya Lubuklinggau untuk membereskan administrasi rumah, berpamitan pada keluarga, dan berkemas.
Tengah malam lewat beberapa menit, dengan tubuh lelah namun jiwa yang ringan, pesawat membawa Benny terbang meninggalkan Jakarta. Penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta bukan menuju Zagreb, melainkan menuju Kairo via Dubai.
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Kairo. Udara padang pasir yang hangat menyambut. Nama “Kairo” yang dulu hanya titik di peta, kini menjadi realitas, lalu lintas semrawut, hiruk-pikuk manusia, megahnya menara masjid, dan siluet Piramida Giza di kejauhan.
Zagreb tertutup, Kairo membuka pintunya untuk kedatangan Benny Arnas sastrawan yang telah menulis dan menerbitkan 32 judul buku sejak mengarang tahun 2008. Zagreb dan Kairo adalah dua jalan yang berbeda—satu melalui penolakan, satu melalui penerimaan.
Di Kairo, Benny menetap di sebuah kamar sederhana dekat Universitas Al-Azhar, dengan suara azan yang berkumandang lima kali sehari mengiringi menuliskan, sastra dan esai. Ada tentang Kairo sedang berjalan juga ada tentang Aleksandria dan Sriwijaya.
Kini kegagalan mendarat di Zagreb bukanlah akhir cerita melainkan menjadi awal dari babak yang lebih menarik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa terkadang, kita harus berani mengakui bahwa peta yang kita pegang sudah usang. Dan saat itu terjadi, dunia—dengan caranya yang misterius—akan membimbing kita untuk menemukan peta baru, yang mungkin lebih sesuai dengan jalur takdir kita. Gagal ke Zagreb, tetapi justru mendarat di Kairo, dengan hati yang lebih kaya dan mata yang lebih terbuka. Dan itu, mungkin, adalah tujuan sebenarnya dari seluruh perjalanan ini.
Di bagian tulisannya Benny Arnas menulis, “Kisah saya sebenarnya drama yang biasa. Namun, pelajaran yang diberikannya membuat saya percaya bahwa perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan cara membaca kehidupan”. (maspril aries)






