Fiksi AI
Aku menatap layar ponselku dengan perasaan cemas. Ponsel yang selalu setia menemani setiap langkah hidupku kini menunjukkan tanda-tanda ketidakberesan. Layar yang biasanya menyala cerah kini berkedip-kedip, kadang-kadang mati sejenak sebelum kembali menyala. Tombol-tombol virtual sering kali tidak merespons, dan notifikasi yang biasanya bertubi-tubi kini datang dengan jeda yang aneh.
Awalnya, aku menganggap ini hanya masalah kecil. “Mungkin sistemnya perlu di-restart“, pikirku, mencoba menghibur diri. Namun, ketika pagi itu aku membuka aplikasi perbankan untuk mengecek saldo, layar ponsel tiba-tiba membeku. Setelah beberapa menit, aplikasi tertutup dengan sendirinya. Aku mencoba lagi, tapi hasilnya sama. Aku mulai panik.
Hari itu adalah hari yang sangat penting bagiku. Aku telah mengatur janji untuk menyelesaikan transaksi penjualan rumah dengan seorang klien. Rumah itu adalah warisan keluargaku, dan aku berencana menggunakan uang hasil penjualannya untuk membuka usaha kecil-kecilan. Semua detail transaksi, termasuk dokumen digital, nomor rekening, dan catatan penting lainnya, tersimpan di ponselku.
Ketika aku mencoba menghubungi klien untuk memastikan lokasi pertemuan, ponselku tidak dapat melakukan panggilan. Sinyal muncul dan hilang seperti bayangan. Aku berusaha menggunakan aplikasi pesan singkat, tetapi pesan-pesanku tidak terkirim.
Dengan perasaan cemas, aku mengambil laptopku. Namun, semua data penting yang ada di ponsel tidak tersinkronisasi ke laptop karena fitur cloud-ku sudah lama tidak diperbarui. Aku selalu menunda-nunda memperbaiki hal-hal kecil seperti ini, dan kini aku menyesalinya.
Aku akhirnya memutuskan untuk pergi langsung ke lokasi pertemuan dengan klien, sebuah kafe kecil di pusat kota, di jalan yang selalu ramai setiap hari. Sesampainya di sana, aku melihat wajah kecewa klienku.
“Kami sudah menunggu lebih dari satu jam”, kata pria itu dengan nada tegas.
Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/714567/-trilogi-cerpen-ponsel-tua-ponsel-ku-hang
Aku mencoba menjelaskan bahwa ada masalah dengan ponselku, tetapi ia tidak terlihat peduli. “Transaksi ini terlalu penting untuk ditunda-tunda. Kalau Anda tidak bisa memberikan kepastian hari ini, kami terpaksa membatalkan semuanya”.
Aku memohon agar mereka memberiku waktu tambahan untuk mencari salinan dokumen, tetapi mereka tetap pada keputusan mereka. Aku pulang dengan tangan kosong, merasa sangat terpukul.
Malam itu, aku memutuskan untuk membawa ponselku ke pusat servis. Tempat itu penuh dengan orang-orang yang juga mengeluhkan masalah pada perangkat ponsel mereka. Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya aku dipanggil.

Seorang teknisi muda memeriksa ponselku dengan seksama. “Ponsel Anda terkena malware“, katanya. “Sepertinya Anda pernah mengunduh aplikasi tidak resmi atau membuka tautan mencurigakan”.
Aku mengingat-ingat, dan benar saja, beberapa minggu yang lalu aku mengunduh sebuah aplikasi pengedit foto dari situs yang kurang terpercaya. Aku mengira aplikasi itu aman, tetapi ternyata tidak.
“Bisakah semua data saya diselamatkan?” tanyaku dengan harap-harap cemas.
Teknisi itu menggeleng pelan. “Beberapa data mungkin bisa dipulihkan, tetapi sebagian besar kemungkinan hilang. Malware ini cukup merusak sistem penyimpanan ponsel Bapak”.
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk. Aku kehilangan hampir semua kontak penting, catatan pekerjaan, dan bahkan foto-foto kenangan. Aku harus memulai segalanya dari awal. Lebih buruk lagi, berita tentang pembatalan transaksi rumah itu menyebar di antara teman-teman dan rekan bisnisku. Mereka mulai meragukan profesionalismeku.
Namun, di tengah segala kekacauan itu, aku mencoba mencari pelajaran. Aku mulai lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi. Aku mengaktifkan sistem pencadangan otomatis, memperbarui perangkat lunak secara rutin, dan menghindari mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya.
Meskipun kerugian yang kuterima tidak dapat dihapus begitu saja, aku berusaha memandangnya sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Kehilangan data penting dan batalnya transaksi itu menjadi pengingat keras bahwa dalam dunia yang serba digital ini, keamanan informasi adalah hal yang sangat berharga.
Menit berjalan, jam berjalan, hari berjalan dan beberapa bulan kemudian hidupku mulai kembali ke jalur yang lebih baik. Aku berhasil menjual rumah itu kepada pembeli lain dan memulai usahaku yang baru. Ponselku, yang dulu menjadi sumber masalah, kini menjadi alat yang lebih andal berkat pengamanan tambahan yang kubuat.
Namun, aku tidak akan pernah melupakan pelajaran dari kejadian itu. Di setiap kesempatan, aku selalu mengingatkan teman-temanku tentang pentingnya menjaga data dan perangkat mereka.
Ponselku mungkin pernah bermasalah, tetapi dari situ aku belajar sesuatu yang jauh lebih penting: tidak ada teknologi yang sempurna, dan yang paling utama adalah bagaimana kita menggunakannya dengan bijak.
Cerita itu berakhir di sebuah kafe kecil, tempat aku kini sering bertemu dengan klien baru. Setiap kali aku duduk di sana dengan ponselku, aku selalu teringat hari yang mengubah caraku melihat dunia digital. Ponsel mungkin hanya alat, tetapi cara kita menjaganya mencerminkan bagaimana kita menghargai hidup kita sendiri.
* * *
*(Penyusun: maspril aries)






