Home / Literasi / Maspril Aries Memperoleh Profesor Mahyuddin Award 2025 – Ingin Terus Menjaga Lentera Jurnalisme

Maspril Aries Memperoleh Profesor Mahyuddin Award 2025 – Ingin Terus Menjaga Lentera Jurnalisme

Penerima penghargaan Profesor Mahyuddin Award 2025 bersama keluarga Profesor Mahyuddin. (FOTO: Mang Jack)

KINGDOMSRIWIJAYAMalam itu, Ahad, 14 September 2005, di Ballroom The Zuri Hotel yang berada di komplek Transmart, Jalan Radial, Palembang, bukanlah tentang siapa yang paling bersinar di bawah sorotan lampu. Malam itu adalah tentang sebuah lentera yang tetap menyala di tengah kegelapan, tentang sebuah kompas yang tidak pernah bergeser meski badai menghadang.

Di antara samudera batik, jas dan gaun malam gemerlap yang memantulkan cahaya bintang buatan, seorang pria berjaket hitam yang membungkus tshirt biru bertuliskan “Wakanda No More Indonesia Forever” menjadi kontras nyata di antara gemerlap yang mencahayai ruangan. Dia adalah Maspril Aries, seorang jurnalis senior tengah berdiri di tengah panggung yang terang bendera di depan layar LCD besar yang tengah memutar gambar perjalan karir jurnalistiknya.

Dari pandang mata dan senyum yang tulus itu, tidak ada ambisi untuk diakui, hanya ada ketenangan bak seorang pelaut yang telah berlayar di lautan keruh dan menemukan jalannya pulang. Penghargaan Profesor Mahyuddin Award 2025 yang diterimanya bukan karena ia mencari popularitas, melainkan karena ia memilih untuk mempertahankan integritas di sebuah profesi yang semakin kehilangan arah. Ia adalah satu-satunya wartawan yang namanya disebut, sebuah petir di tengah hening, yang mengumumkan bahwa kejujuran masih memiliki tempatnya.

Perjalanan karir jurnalistik Maspril Aries dimulai dari tepi sungai informasi, di mana airnya masih jernih dan alirannya lurus. Ia mulai menekuni karir jurnalistiknya sejak masih mahasiswa, menjadi seorang reporter di Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung (Unila) tahun 1985.


Maspril Aries dengan sertifikat dan piala dari Yudha Pratomo Mahyuddin. (FOTO: Mang Jack)
Maspril Aries dengan sertifikat dan piala dari Yudha Pratomo Mahyuddin. (FOTO: Mang Jack)

Namun, seiring waktu, sungai itu mengalir ke lautan keruh jurnalisme modern. Di sana, gelombang kepentingan politik dan ekonomi datang silih berganti, mencoba menenggelamkan perahu kecil idealismenya. Ia menyaksikan banyak rekan seperjuangannya menukar dayung nurani dengan dayung emas, berlayar menuju pelabuhan kekuasaan dan harta. Mereka yang seharusnya menjadi penjaga mercusuar kebenaran malah memilih menjadi pedagang pasir yang menjual ilusi.

Maspril mencoba terus setia pada prinsip jurnalistik yang lurus dan bersih, di tengah gelombang era informasi yang makin keruh. Di tengah jurnalisme yang dipicu click bait ia terus menulis larik-larik panjang dalam setiap artikel dan opininya. Ia percaya masih banyak pembaca setia menunggu narasi-narasi panjang.

Profesor Mahyuddin Award 2025

Sebelum namanya diumumkan meraih Profesor Mahyuddin Award 2025, dibacakan di panggung, Yudha Pratomo Mahyuddin Ketua Profesor Mahyuddin Institute mengatakan dalam sambutannya, “Wartawan yang baik itu memperjuangkan kebenaran. Bukan yang dipanggil lalu diam, bukan yang 86,” katanya.

Profesor Mahyuddin Award sendiri bukan penghargaan biasa. Ia lahir dari niat tulus keluarga almarhum Profesor Mahyuddin, tokoh pendidikan dan intelektual yang semasa hidupnya menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anaknya. Mahyuddin pernah menyandang jabatan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dan anggota DPR.


Maspril Aries menerima sertifikat dan piala dari Yudha Pratomo Mahyuddin. (FOTO: Mang Jack)
Maspril Aries menerima sertifikat dan piala dari Yudha Pratomo Mahyuddin. (FOTO: Mang Jack)

“Anugerah ini diberikan bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap lurus di jalan yang benar, meski banyak yang memilih jalan pintas”, kata Yudha dalam pidatonya malam itu. Yudha Pratomo adalah putra kedua dari pasangan Mahyuddin dan Halifah, kini ia menjabat Rektor Universitas Sumatera Selatan (USS).

Tahun ini, tepat pada 14 September, tanggal kelahiran almarhum Prof. Mahyuddin yang ke-78—seandainya ia masih hidup—penghargaan ini digelar. Menurut Yudha, sebuah tanggal yang dipilih penuh makna, sebagai cara keluarga mengenang dan melestarikan semangat hidup sang ayah: menjadi baik, apa pun profesinya.

Maspril Aries sebagai salah seorang penerima award untuk kategori wartawan diantara sembilan kategori yang mendapat award, ia adalah cermin dari semangat itu. Ia menulis bukan untuk menyenangkan pembaca atau penguasa, tetapi untuk mengabarkan yang benar dan mengkritik yang keliru. Di tangannya, berita menjadi jembatan antara rakyat dan nurani sosial.

Maspril Aries juga seorang penulis, ada 20 judul buku yang ditulis dan diterbitkannya, ada buku solo dan ada buku antologi. Berbagai buku dan tulisan telah banyak dilahirkan dari tangannya terutama opininya mengenai berbagai masalah yang terjadi.

Tak sedikit tulisan-tulisannya yang menyuarakan suara-suara kecil di pelosok, membuka ruang bagi mereka yang tertindas untuk didengar. Ia menulis tentang orang-orang, masyarakat dan tempat serta waktu yang terlupakan, kebijakan yang tidak berpihak, dan juga tentang harapan—yang kadang hanya tersisa dalam satu paragraf berita.

Apa yang membuat Maspril Aries berbeda? Mungkin bukan teknik jurnalistik yang rumit atau tulisan yang penuh retorika. Tetapi karena ia menulis dengan hati. Ia tak pernah menjadikan pena sebagai alat mencari kuasa, tetapi sebagai alat untuk mengabdi. Mungkin banyak tawaran kepada dirinya, untuk sebuah pijakan yang nyaman, tapi ia tidak pernah tergiur. Relasinya sangat baik, mereka yang ada di ibu kota atau di daerah, tapi ia tetap berada seperti sekarang ini.


Daftar penerima penghargaan Profesor Mahyuddin Award 2025 untuk sembilan kategori.
Daftar penerima penghargaan Profesor Mahyuddin Award 2025 untuk sembilan kategori.

Malam itu, Maspril Aries menerima piala dan sertifikat penghargaan Profesor Mahyuddin Award 2025 untuk Kategori Wartawan. Ini bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi sebagai penegasan: bahwa kebaikan, kejujuran, dan dedikasi sejati masih diakui—dan akan selalu dihargai.

Di luar panggung, ia tetap Maspril yang sama seperti saat liputan di lapangan. Ia wartawan yang akan pulang ke rumah, menulis lagi, dan terus menyuarakan yang perlu disuarakan. Tanpa sorot kamera, tanpa tepuk tangan, tapi dengan cahaya kecil di nurani yang tak pernah padam.

Penghargaan ini tidak menjadikan pria yang pernah menjadi wartawan Lampung Post dan Republika lebih besar dari wartawan lainnya. Kini ia mengelola dan menulis berita, artikel, opini, atau esai di www.kingdomsriwijaya.id sebuah media yang berada di dalam jaringan Republika Network. Maspril Aries adalah pengingat bahwa menjadi jujur adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap waktu.

Dan malam itu, kita diingatkan kembali bahwa masih ada wartawan yang tidak sekadar menulis berita—tetapi menuliskan sejarah kecil (Petite Histoire) tentang keberanian menjadi orang baik.

Bagi Maspril, piala dan sertifikat yang diterimanya tidak mengubah dirinya, hanya menegaskan bahwa jalan yang sepi itu tidak sia-sia. Ia tidak menulis untuk tepuk tangan, tetapi untuk cahaya kecil di nurani yang tidak akan pernah padam.

Melalui Profesor Mahyuddin Award 2025, Maspril Aries menebar pesan kepada rekan satu profesinya bahwa jurnalisme bukanlah semata tentang mencari berita, tetapi menuliskan kebenaran. Dan di dunia yang bising ini, di mana banyak peluru kata ditembakkan tanpa makna, keberanian untuk menjadi orang baik adalah berita utama yang paling penting. Ia hadir dan terus ingin menjaga lentera jurnalisme agar tak padam.

Selamat untuk sahabat jurnalis Maspril Aries. (D Oskandar)

Tagged: