Home / Literasi / Sastra Manusia vs Sastra AI, Siapa Pemenangnya?

Sastra Manusia vs Sastra AI, Siapa Pemenangnya?

KINGDOMSRIWIJAYA – Sebuah karya ilmiah yang dimuat di jurnal Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pendidikan menyatakan, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menghadirkan perubahan signifikan dalam dunia sastra, khususnya melalui kemampuan sistem generatif seperti ChatGPT dalam menghasilkan puisi yang menyerupai karya penyair manusia. Fenomena ini memunculkan perdebatan mengenai kreativitas, kepengarangan, dan kualitas estetik karya sastra yang dihasilkan mesin. (Muhammad Bahrul Ulum dkk. 2026, “Kecerdasan Buatan Vs Penyair Manusia: Analisis Puisi Berbahasa Indonesia Hasil ChatGPT dan Karya Penyair Manusia”)

Kesimpulan dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa puisi berbahasa Indonesia yang dihasilkan ChatGPT dan puisi karya penyair manusia sama-sama memanfaatkan unsur diksi, citraan, majas, dan simbol sebagai pembangun kepuitisan, namun berbeda secara signifikan dalam sumber kreativitas dan kedalaman pengalaman estetiknya. Puisi ChatGPT unggul dalam keteraturan struktur dan koherensi bahasa, sedangkan puisi manusia menonjol dalam keunikan diksi, kompleksitas simbolik, kedalaman emosi, dan pengalaman eksistensial yang autentik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan buatan atau AI mampu merepresentasikan kreativitas pada tataran kebahasaan, tetapi belum dapat mereproduksi dimensi pengalaman hidup yang menjadi fondasi utama kreativitas manusia. Temuan ini melahirkan konsep kepuitisan hibrida yang menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai mitra kreatif manusia dalam pengembangan sastra digital kontemporer.

Penelitian tersebut menggambarkan bagaimana pergulatan AI vs manusia dalam menghasilkan sebuah puisi. Bagaimana dengan pergulatan AI vs Manusia dalam penulisan genre sastra lainnya seperti cerita pendek (cerpen) atau novel? Mungkin ini bisa menjadi penelitian selanjutnya bagi mereka yang berada di ranah akademi/ kampus.

Pasca semakin maraknya AI digunakan pada semua lini kehidupan manusia. Di lingkup dunia sastra atau dunia karya fiksi, sejak peluncuran model-model bahasa besar (large language models/LLM) seperti GPT-3, ChatGPT, hingga generasi Claude dan Gemini, dunia sastra mengalami guncangan epistemologis yang tidak kalah besar dibandingkan revolusi percetakan dengan penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pada abad ke-15 di Jerman. Jika dahulu mesin cetak mengubah cara sastra didistribusikan, kini kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengancam – atau menawarkan – untuk mengubah cara sastra diciptakan. Pertanyaan yang dulu terdengar seperti fiksi ilmiah kini menjadi bahan diskusi serius di ruang-ruang akademik, penerbitan, dan komunitas sastrawan, “Dapatkah mesin benar-benar menulis sastra? Jika bisa, apakah karya tersebut setara, lebih rendah, atau bahkan berpotensi melampaui karya sastra yang ditulis manusia?”

Kehadiran buku kumpulan cerpen berjudul “Perempuan di Tengah Labirin Mal” adalah salah satu jawabannya dari banyak jawaban lainnya. Untuk menjawab secara komprehensif jawaban dari pertanyaan di atas. Ada empat dimensi utama yang bisa dirumuskan sebagai jawabannya. Pertama, landasan teoretis tentang apa itu sastra dan apa itu kecerdasan buatan, sebagai fondasi untuk memahami di mana kedua entitas ini bertemu dan berbenturan.

Kedua, pemetaan keunggulan dan kelemahan masing-masing – baik sastra yang lahir dari pengalaman hidup manusia maupun sastra yang dihasilkan oleh sistem generatif statistik. Ketiga, pembahasan mendalam mengenai posisi AI dalam proses kreatif, apakah ia sekadar alat bantu (tool) yang memperpanjang tangan penulis manusia, ataukah ia telah menjelma menjadi agen kreatif yang berdiri sendiri.

Dan keempat, telaah atas unsur-unsur intrinsik sastra – emosi, konflik, alur, gaya bahasa, dan genre – untuk melihat sejauh mana mesin mampu, atau gagal, menandingi kedalaman karya manusia

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk digarisbawahi sejak awal bahwa pertanyaan “Sastra Manusia vs Sastra AI” tidak selalu tepat dirumuskan sebagai pertandingan zero-sum. Sebagaimana akan ditunjukkan, batas antara keduanya sering kali kabur, hibrida, dan berlapis, mulai dari AI sebagai asisten tata bahasa, AI sebagai kolaborator kreatif, hingga AI sebagai “pengarang” tunggal yang namanya tercantum di sampul buku. Justru dalam kekaburan itulah terletak persoalan filosofis paling menarik, apa sebenarnya yang membuat sebuah teks layak disebut “sastra”, dan apakah kesadaran, niat, serta pengalaman hidup adalah syarat mutlak bagi kelahirannya?


Definisi Sastra

Secara etimologis, kata “sastra” berasal dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “ajaran” atau “petunjuk”, sementara istilah literature dalam bahasa Inggris berakar dari littera (huruf) dalam bahasa Latin. Namun definisi etimologis semata tidak cukup menjelaskan hakikat sastra sebagai fenomena estetik dan sosial. Rene Wellek dan Austin Warren, dalam karya klasik mereka Theory of Literature (1949), membedakan sastra dari tulisan biasa berdasarkan tiga ciri utama: fiksionalitas (invention atau imajinasi), penggunaan bahasa yang menonjolkan fungsi estetiknya sendiri (bukan sekadar fungsi referensial atau informatif), dan organisasi teks sebagai satu kesatuan struktural yang koheren. Bagi Wellek dan Warren, sastra bukan hanya “apa yang dikatakan”, tetapi “bagaimana ia dikatakan”.

Jika membahas definsi sastra akan panjang pembahasannya dan tidak akan muat dalam sebuah artikel pendek antara 2000 atau 3000 kata. Namun secara umum, sastra dapat dipahami sebagai penggunaan bahasa secara artistik untuk membentuk pengalaman estetik, menyampaikan gagasan, mengolah emosi, dan menciptakan dunia imajinatif. Definisi ini memang luas, tetapi penting karena sastra tidak dapat direduksi menjadi informasi biasa. Kalimat dalam laporan ilmiah terutama berfungsi menyampaikan proposisi yang dapat diuji, sedangkan kalimat sastra dapat bekerja melalui ambiguitas, simbol, ironi, ritme, citraan, dan asosiasi.

Roman atau novel, cerpen, puisi, drama, esai sastra, dan bentuk-bentuk eksperimental memiliki cara kerja berbeda. Novel biasanya membangun dunia naratif yang panjang melalui tokoh, konflik, ruang, waktu, dan perkembangan peristiwa. Cerpen mengandalkan kepadatan, seleksi detail, serta efek tunggal atau kuat. Puisi memberi perhatian khusus pada bunyi, ritme, pemadatan makna, enjambemen, metafora, dan hubungan antara kata dengan keheningan.

Dengan demikian, sastra memiliki dua dimensi sekaligus. Pertama, sastra adalah objek bahasa. Kedua, sastra adalah tindakan kebudayaan. Sebagai objek bahasa, sastra dapat dianalisis melalui diksi, sintaksis, gaya, struktur, simbol, dan narasi. Sebagai tindakan kebudayaan, sastra berhubungan dengan siapa yang menulis, dari pengalaman sosial apa karya itu lahir, kepada siapa karya ditujukan, melalui lembaga apa karya beredar, dan bagaimana pembaca menafsirkan karya tersebut.

Selain itu ada juga yang menyatakan, sastra sebagai representasi pengalaman. Sastra tidak selalu menceritakan pengalaman pengarang secara langsung. Fiksi dapat menggunakan tokoh, sudut pandang, dan dunia rekaan. Kemudian, karya sastra tidak pernah hadir dalam ruang kosong. Ia dipengaruhi oleh sekolah, penerbit, pasar, sensor, penghargaan, komunitas pembaca, media, negara, dan teknologi.

Sastra juga menjadi alat komunikasi. Roman (novel & cerpen) dan puisi biasanya dipahami sebagai bentuk komunikasi antara pengarang dan pembaca. Namun komunikasi sastra tidak identik dengan percakapan langsung. Pengarang mungkin telah meninggal ketika pembaca menemukan karyanya. Bahasa sastra dapat bersifat ambigu, simbolis, bahkan sengaja tidak komunikatif secara langsung.

Meskipun demikian, sastra tetap mengandaikan adanya dunia pengalaman yang hendak dibagikan atau dipertukarkan. Bahkan karya yang eksperimental dan sulit dipahami tetap memiliki posisi komunikatif, ia mengundang pembaca untuk menafsirkan, menolak, merasakan, atau membangun makna.

Persoalan muncul ketika teks diproduksi oleh sistem yang tidak memiliki intensi sadar. Jika AI menghasilkan puisi tentang kesepian, apakah puisi itu benar-benar “mengomunikasikan” kesepian? Atau pembacalah yang memasukkan pengalaman kesepian ke dalam teks tersebut? Pertanyaan ini tidak membuat puisi AI otomatis tidak bermakna. Namun, sumber makna bergeser, dari intensi pengarang menuju hubungan antara keluaran mesin, konteks penerbitan, dan aktivitas interpretatif pembaca.

Sastra AI

Di penghujung dekade ketiga abad ke-21, dunia kesusastraan menghadapi guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bukan dari pergeseran estetika atau perubahan selera pembaca, melainkan dari sebuah teknologi yang mampu meniru, menyusun, dan melahirkan teks dengan kecepatan dan kelancaran yang menyaingi karya manusia. Kecerdasan buatan (AI), khususnya model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti GPT-3.5, GPT-4, Claude, dan model lainnya, kini mampu menghasilkan puisi, cerpen, novel, hingga naskah drama yang tampak mematangkan aturan gaya bahasa, struktur penceritaan, dan ketersambungan makna.


Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar, apakah karya yang dihasilkan tanpa pengalaman hidup, tanpa perasaan, tanpa pergulatan batin, dapat disebut sebagai karya sastra? Apakah AI hanyalah alat bantu, atau justru calon pengganti penulis itu sendiri? Dan akankah sastra karya manusia dikalahkan?

AI atau kecerdasan artifisial adalah bidang ilmu dan rekayasa yang berusaha membuat sistem mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya diasosiasikan dengan kecerdasan manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menghasilkan respons.

AI generatif, khususnya model bahasa besar, bekerja dengan mempelajari pola dari korpus teks berukuran besar. Model tersebut tidak menyimpan “makna” seperti manusia menyimpan pengalaman, tetapi menghitung hubungan probabilistik antarkata, frasa, struktur kalimat, dan konteks. Ketika pengguna memasukkan perintah, sistem memprediksi rangkaian token yang paling mungkin membentuk jawaban tertentu.

Dalam praktiknya, model bahasa dapat menghasilkan teks yang sangat meyakinkan karena dilatih dari berbagai ragam bahasa dan genre. Ia dapat meniru bentuk argumentasi akademik, gaya berita, bahasa puisi, dialog drama, atau struktur cerita populer. Namun, kelancaran tersebut tidak sama dengan kesadaran, pengalaman, niat, atau pemahaman eksistensial.

Kebangkitan karya sastra yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) secara fundamental menantang pemahaman kita tentang konsep lama “sastra”. Mari kita melihat pada peristiwa yang terjadi Januari 2024. Penulis Jepang Rie Kudan memenangkan Penghargaan Akutagawa ke-170 dengan novelnya Tokyo-to Dōjō Tō. Setelah menerima penghargaan, ia secara terbuka mengakui bahwa sekitar 5% dari karya tersebut berasal langsung dari generasi ChatGPT. Ketika berita itu tersebar, dunia sastra Jepang gempar. Fokus kontroversi bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan pertanyaan yang lebih fundamental, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “penulis” sebuah karya sastra?

Ini bukanlah peristiwa yang terisolasi. Sejak tahun 2016, sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Hitoshi Matsubara dari Universitas Future University Hakodate Jepang, bekerja sama dengan tim Prancis, telah memasukkan sebuah novel yang sebagian dihasilkan AI ke dalam seleksi awal Penghargaan Sastra Shinichi Hoshi. Pada tahun 2018, Ross Goodwin menggunakan teknologi jaringan saraf untuk “menulis” 1 The Road, sebuah karya yang oleh beberapa media disebut sebagai “novel pertama yang sepenuhnya ditulis oleh AI”, mencatat perjalanan darat dari New York ke New Orleans dengan narasi fragmentaris seperti aliran kesadaran. Hingga awal 2024, platform Amazon telah memiliki lebih dari 4.000 buku elektronik berbahasa Inggris yang mencantumkan AI sebagai satu-satunya penulis atau co-author.

Peristiwa-peristiwa ini bersama-sama menunjuk pada fakta yang tidak dapat dihindari, sastra sebagai salah satu bentuk ekspresi spiritual tertua umat manusia sedang menghadapi “Yang Lain” yang belum pernah ada sebelumnya. “Yang Lain” ini tidak memiliki tubuh, tidak memiliki masa kecil, tidak dapat merasakan sakit, namun dalam beberapa tahun telah belajar meniru cara manusia bercerita, dan dalam beberapa dimensi yang dapat diukur melakukannya dengan “cukup baik”, bahkan “lebih baik”.

Dari fakta dan peristiwa di atas, ternyata AI menunjukkan keunggulan signifikan dalam stabilitas struktur naratif, kelancaran bahasa, dan efisiensi kreatif, namun memiliki kelemahan struktural dalam koordinasi multi-skala arsitektur emosional, penciptaan metafora berdasarkan pengalaman yang terwujud (embodied experience), serta pemanggilan mendalam memori budaya.

Mari kita bersepakat bahwa kecerdasan artifisial atau AI adalah bidang ilmu dan rekayasa yang berusaha membuat sistem mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya diasosiasikan dengan kecerdasan manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menghasilkan respons.

AI generatif, khususnya model bahasa besar, bekerja dengan mempelajari pola dari korpus teks berukuran besar. Model tersebut tidak menyimpan “makna” seperti manusia menyimpan pengalaman, tetapi menghitung hubungan probabilistik antarkata, frasa, struktur kalimat, dan konteks. Ketika pengguna memasukkan perintah, sistem memprediksi rangkaian token yang paling mungkin membentuk jawaban tertentu.

Dalam praktiknya, model bahasa dapat menghasilkan teks yang sangat meyakinkan karena dilatih dari berbagai ragam bahasa dan genre. Ia dapat meniru bentuk argumentasi akademik, gaya berita, bahasa puisi, dialog drama, atau struktur cerita populer. Namun, kelancaran tersebut tidak sama dengan kesadaran, pengalaman, niat, atau pemahaman eksistensial.


Kemampuan AI menghasilkan bahasa sering mendorong orang untuk menyamakan kefasihan dengan kesadaran. Padahal, kedua hal tersebut berbeda. Sistem atau mesin AI dapat menulis “aku merasa hancur” tanpa memiliki tubuh, memori autobiografis, atau pengalaman kehancuran. Ia dapat menghasilkan narasi yang tampak empatik tanpa mengalami relasi sosial dan kerentanan.

Perbedaan ini dapat dijelaskan melalui tiga unsur. Pertama, Pengalaman. Manusia mengalami dunia melalui tubuh, sejarah, relasi, dan lingkungan sosial. AI memproses data tanpa kehidupan biografis. Kedua, Intensionalitas. Manusia menulis dengan maksud tertentu, bahkan ketika maksud itu tidak sepenuhnya sadar. AI menghasilkan keluaran berdasarkan instruksi dan pola probabilistik. Ketiga, Pertanggungjawaban, Manusia dapat dimintai pertanggungjawaban moral dan sosial atas tema, stereotip, atau konsekuensi karya. AI tidak memiliki tanggung jawab moral independen.

Namun demikian, ketiadaan pengalaman tidak berarti AI tidak dapat menghasilkan teks yang menyentuh. Pembaca dapat menemukan makna dalam keluaran AI sebagaimana pembaca dapat menemukan makna dalam kebetulan, kesalahan, atau bahasa nonsens. Makna tidak selalu berasal dari niat pembuat; makna juga lahir dari aktivitas pembaca dan konteks sosial.

Sastra Manusia dan Sastra AI

Perdebatan “Sastra Manusia vs Sastra AI” bukanlah pertandingan yang akan dimenangkan salah satu pihak secara telak, melainkan sebuah proses negosiasi budaya yang panjang dan berlapis mengenai apa sebenarnya yang kita hargai dari sastra sebagai bentuk seni.

Perbandingan antara sastra manusia dan sastra AI perlu dilakukan secara hati-hati. “Sastra manusia” bukan kategori tunggal. Ada karya manusia yang dangkal, penuh klise, dan minim emosi. Sebaliknya, ada teks AI yang memunculkan metafora tak terduga atau struktur yang menarik. Karena itu, argumen bahwa semua karya manusia pasti lebih baik daripada semua keluaran AI tidak dapat dipertahankan.

Lantas siapa pemenangnya? Sastra manusia tidak akan dikalahkan oleh sastra AI, karena keduanya berdiri di tanah yang berbeda. Sastra AI mampu meniru bentuk, keindahan luar, kelancaran tutur, namun tidak mampu meniru akar yang menancap ke tanah kehidupan. AI adalah cermin yang menyusun bayangan dari ribuan cermin lain; ia tidak memiliki wajah sendiri.

Masa depan sastra bukanlah manusia melawan mesin, melainkan manusia yang semakin sadar akan apa yang tak dapat digantikan oleh mesin: pengalaman hidup yang sungguh-sungguh, pergulatan batin yang nyata, suara yang hanya dimiliki satu orang di dunia ini. Di era ketika kata-kata indah dapat dihasilkan dalam detik, yang paling berharga bukanlah keindahan itu sendiri, melainkan jejak kemanusiaan yang membawanya, luka, harapan, keraguan, dan cinta yang sungguh-sungguh dijalani, bukan sekadar disusun.

Seperti dikatakan oleh penyair Tiongkok, “Mesin dapat menulis puisi yang indah, tetapi ia tidak akan pernah rindu pada seseorang”. Dan rindu itulah yang menjadi asal mula segala sastra.

Sastra manusia dan sastra AI, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan yang bersifat struktural. Manusia unggul di makna, otentisitas, dan puncak karya.  AI unggul di kecepatan, skala, dan konsistensi rata-rata.

Kini di era digital, ruang sastra yang dihuni dua jenis penulis, yaitu yang menulis karena ia hidup, dan yang menulis karena ia dihitung. Masa depan sastra kemungkinan besar bukan milik salah satu, melainkan milik pembaca yang belajar membaca perbedaannya. Dan pada akhirnya, sastra manusia bertahan bukan karena ia lebih halus daripada mesin, tetapi karena ia adalah satu-satunya tulisan yang ditulis oleh makhluk yang tahu bahwa ia akan mati. Kesadaran akan batas itulah – memento mori setiap kalimat – yang tidak akan pernah dimiliki oleh mesin. (maspril aries)

#Memento mori adalah ungkapan bahasa Latin yang berarti “ingatlah bahwa kamu akan mati” atau “ingatlah kematian”.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *