Home / Gaya Hidup / Palembang ada “Car Free Night” atau “Night Market”

Palembang ada “Car Free Night” atau “Night Market”

Ilustrasi suasana pasar malam/ car free night di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – Kota Palembang sebentar lagi akan memberlakukan kawasan Car Free Night (CFN) yang akan mulai uji coba pada 11 April 2026, berlokasi di Jalan Kolonel Atmo, salah satu ruas jalan utama di ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Pemerintah Kota Palembang menghadirkan CFN sebagai konsep baru, sebagai daya tarik baru dari kota yang dibelah sungai Musi dan akan berlangsung pada akhir pekan.

CFN Jalan Kolonel Atmo yang memanfaatkan pedestarian tersebyt mengusung konsep hiburan malam dan dengan berbagai pertunjukan seni, serta kuliner dan aktivitas kreatif untuk menarik pengunjung. CFN akan berlangsung sejak pukul 18.30 – 23.00 selama itu semua akses jalan menuju Jalan Kolonel Atmo akan ditutup, pengemudi kendaraan bermotor harus melalui jalan lain.

Selain CFN, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang juga akan menerapkan Car Free Day (CFD) pada ruas Jalan Sudirman sampai jembatan layang atau Fly Over Jakabaring. CFD ini juga akan menutup akses kendaraan yang akan melintas di jembatan Ampera yang menjadi landmark Palembang juga sepanjang Jalan Jendral Sudirman sampai simpang Rumah Sakit Charitas. Uji coba akan dilakukan pada Ahad, 12 April 2026.

Mengutip penjelasan Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Palembang, Isnaini Madani, CFD menjadi ruang olahraga dan interaksi warga di pagi hari. Sementara CFN kami siapkan sebagai destinasi malam berbasis seni dan kuliner. Pemkot menargetkan dua agenda ini tidak sekadar menjadi ruang publik, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. “Pelaku UMKM dilibatkan untuk memanfaatkan lonjakan pengunjung. Targetnya jelas, mendongkrak kunjungan dan perputaran ekonomi masyarakat”, katanya.

CFN dan CFD di jalan Kolonel Atmo dan sepanjang jalan Jendral Sudirman merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan daya tarik wisata sekaligus menghidupkan kawasan pusat kota. CFN yang menggunakan konsep pedestrian tersebut akan mengutamakan kenyamanan pejalan kaki dengan penataan kawasan yang lebih rapi, aman dan menarik untuk dikunjungi masyarakat maupun wisatawan. Sekaligus kawasan Jalan Kolonel Atmo bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata malam karena lokasinya yang strategis dan mudah diakses.

Fenomena Urban

Car Free Night (CFN) di Palembang bukan merupakan konsep baru karena beberapa kota lain di dunia telah menerapkannya. CFN adalah fenomena urban seperti halnya Night Market (Pasar Malam) yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan kota modern. Keduanya menawarkan pengalaman sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda, namun sama-sama berfungsi sebagai ruang publik alternatif.

Car Free Night atau malam tanpa kendaraan adalah kebijakan penutupan jalan dari aktivitas kendaraan bermotor pada malam hari, sehingga masyarakat dapat menikmati ruang publik tanpa polusi dan kebisingan. Konsep ini merupakan adaptasi dari Car Free Day (CFD) yang biasanya digelar pada pagi hari.

Car Free Night adalah adaptasi malam hari dari konsep Car Free Day, yaitu kebijakan atau inisiatif yang menutup sementara jalan-jalan utama kota dari lalu lintas kendaraan bermotor selama beberapa jam pada malam hari, biasanya antara pukul 18.00 hingga 22.00 atau lebih. Tujuannya bukan hanya mengurangi emisi karbon dan polusi suara, tetapi juga menciptakan ruang publik yang inklusif bagi warga untuk berjalan kaki, bersepeda, berolahraga, menikmati seni jalanan, musik live, serta aktivitas sosial lainnya.


Ilustrasi suasana pasar malam/ car free night di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. (FOTO: AI)

Berbeda dengan CFD yang sering kali bersifat harian atau mingguan dan fokus pada kesehatan serta lingkungan, CFN lebih menekankan aspek rekreasi, ekonomi lokal, dan revitalisasi ruang kota. Dalam banyak kasus, CFN menjadi ajang promosi pariwisata dan budaya lokal. Konsep ini juga sering dikaitkan dengan prinsip “tactical urbanism”—pendekatan perencanaan kota yang menggunakan intervensi sementara, murah, dan partisipatif untuk menguji ide-ide desain perkotaan sebelum diimplementasikan secara permanen.

Menurut Gehl (2010), arsitek Denmark yang terkenal dengan teori “kota untuk manusia”, ruang publik yang baik harus memenuhi tiga kriteria: keamanan, kenyamanan, dan kesempatan untuk interaksi sosial. Car Free Night, dalam praktik idealnya, memenuhi ketiganya: jalan yang bebas mobil menjadi lebih aman; pencahayaan yang baik dan suhu malam yang sejuk meningkatkan kenyamanan; dan kehadiran kerumunan menciptakan peluang spontan untuk berinteraksi.

Bagi Palembang ini harus peringatan. Realitas di lapangan sering kali lebih kompleks. Di beberapa kota, CFN justru menjadi ajang komersialisasi massal, di mana ruang publik diisi oleh stan brand besar, influencer, dan acara berbayar—menggeser ruang bagi warga biasa. Ini menimbulkan pertanyaan kritis. “Apakah Car Free Night masih merupakan ruang demokratis, atau telah berubah menjadi komoditas pariwisata?

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/697716/palembang-kota-pusaka-kota-yang-menjaga-ingatan/

Di Indonesia, Car Free Day pertama kali digelar di Jakarta pada tahun 2001, mengadopsi konsep dari Belanda yang berawal dari gerakan protes terhadap budaya mobil sejak 1950-an. Setiap tanggal 22 September diperingati World Car Free Day. Car Free Night muncul sebagai variasi baru yang diterapkan pada beberapa kota di Indonesia, di Jakarta juga ada CFN.

Kota-kota modern di dunia tidak lagi sekadar pusat administrasi dan industri; ia telah berevolusi menjadi organisme yang hidup 24 jam. Dalam dekade terakhir, dua fenomena urban telah mendominasi diskursus pemanfaatan ruang publik adalah Car Free Night dan Night Market (Pasar Malam). Meskipun keduanya sering kali terjadi di ruang yang sama, secara ontologis dan fungsional keduanya memiliki akar sejarah dan tujuan kebijakan yang berbeda.

Sejarah CFD dan CFN

Mari kita bedah tentang Car Free Night yang merupakan kebijakan penutupan akses kendaraan bermotor pada ruas jalan tertentu pada malam hari untuk memberikan ruang bagi pejalan kaki dan aktivitas publik.

Agar tak sesat paham, tak sesat mengerti dan tidak tersesat berdebat tentang Car Free Night tentu harus tahu sejarahnya. Secara teoritis, CFN berakar dari gerakan Car-Free Movement yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada mobil dan menurunkan emisi karbon.

Sedangkan sejarahnya, gerakan bebas kendaraan bermotor secara global dimulai di Eropa pada tahun 1950-an (Belanda dan Belgia) sebagai respons terhadap krisis bahan bakar dan polusi. Namun, konsep khusus “Malam Hari” (Night) muncul sebagai inovasi untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi warga tanpa mengganggu arus ekonomi logistik yang biasanya terjadi pada siang hari.

Sejarah dan evolusi CFN merupakan gerakan akar rumput ke kebijakan urban. Akar sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari Car Free Day, yang merupakan kristalisasi dari kritik terhadap ketergantungan masyarakat modern terhadap mobil. Gerakan anti-mobil mulai mengemuka sejak krisis minyak 1970-an, tetapi momentum globalnya dimulai pada 1990-an.


Ilustrasi suasana pasar malam/ car free night di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. (FOTO: AI)

Tahun 1995-2000 Kota Reykjavik (Islandia) dan La Rochelle (Prancis) tercatat sebagai pelopor uji coba hari tanpa mobil pada 1995. Namun, tonggak sejarah paling penting adalah inisiatif “In Town, Without My Car!” yang dicanangkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Prancis, Dominique Voynet, pada 1998. Pada 22 September 1998, 35 kota di Prancis berpartisipasi. Kesuksesan ini mendorong Komisi Eropa mengadopsinya sebagai kampanye tahunan pada 2000, dengan partisipasi meluas ke ratusan kota di Eropa.

Sedangkan Car Free Night selain sebagai adaptasi kreatif, juga menjawab kebutuhan warga kota yang sering kali memiliki jadwal padat di pagi hari dan menginginkan ruang rekreasi pada malam yang lebih sejuk. CFN memanfaatkan pencahayaan kota dan suasana malam untuk menciptakan pengalaman urban yang berbeda.

Konsep Car Free Day pertama kali diperkenalkan secara formal oleh Komisi Eropa pada tahun 1997, meskipun ide-ide awal tentang “hari tanpa mobil” sudah muncul sejak 1950-an.  Kota Reykjavik, Islandia, diklaim sebagai kota pertama yang menerapkan Car Free Day pada tahun 1973, selama krisis minyak global. Namun, bentuk modern CFD mulai berkembang pesat di Eropa pada 1990-an, terutama di kota-kota seperti Paris, London, dan Brussels.

Adaptasi malam hari—Car Free Night—muncul belakangan, sekitar awal 2000-an, sebagai respons terhadap permintaan masyarakat akan ruang sosial yang aman dan menyenangkan di malam hari, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina, di mana siang hari terlalu panas untuk aktivitas luar ruangan.

Di Bogota, Kolombia, misalnya, program Ciclovía—yang menutup 120 km jalan untuk mobil setiap Minggu pagi—telah berlangsung sejak 1974. Meski bukan malam hari, model ini menginspirasi banyak kota untuk menciptakan versi malamnya. Di Meksiko City, Muévete en Bici (Geraklah dengan Sepeda) kini memiliki edisi malam selama musim panas, menarik ratusan ribu peserta.

Di Asia, Seoul, Korea Selatan, meluncurkan Seoullo 7017—sebuah taman elevated yang dibangun di atas bekas jalan layang—dan mengadakan acara malam bebas mobil setiap bulan. Sementara di Manila, Filipina, Baywalk Car-Free Night di Roxas Boulevard menjadi tempat favorit keluarga untuk jogging, bersepeda, dan menikmati pemandangan Teluk Manila.

Yang menarik, di Eropa, CFN kurang populer karena iklim malam yang dingin dan budaya malam yang lebih privat (pub, kafe tertutup). Namun, di Barcelona, Superblocks (superblok)—zona di mana lalu lintas mobil dibatasi—sering mengadakan acara malam bebas kendaraan sebagai bagian dari revitalisasi lingkungan.

Di Amerika Serikat, kawasan Times Square, New York, sejak 2009, bagian dari Broadway di Times Square ditutup untuk lalu lintas dan diubah menjadi “plaza” berisi kursi lipat. Meski bukan “malam” khusus, suasana malam hari di area bebas kendaraan ini menjadi magnet wisatawan. Mereka bisa duduk santai, menikmati cahaya neon spektakuler, tanpa risiko tertabrak mobil. Ini adalah contoh “reklamasi ruang” di jantung kapitalisme global.

Di Spanyol tepatnya di Barcelona ada La Rambla, pada saat even khusus didominasi pejalan kaki, pada even-even tertentu seperti “La Merce” festival, penutupan jalan diperluas dan diisi dengan pertunjukan malam hari, meneguhkan fungsi ruang sebagai living room kota. Di Jepang ada Streets of Kyoto, selama festival malam (matsuri) seperti Gion Matsuri, jalan-jalan di Kyoto ditutup. Pengunjung berjalan mengenakan yukata, menikmati makanan festival dari kios-kios, dalam suasana bebas kendaraan yang khusyuk dan tradisional.


Ilustrasi suasana pasar malam/ car free night di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. (FOTO: AI)

Kemudian di Indonesia, CFN mulai populer di awal 2010-an. Kota Solo (Surakarta) tahun 2011 tercatat sebagai salah satu pelopor yang menerapkan Car Free Night di Jalan Slamet Riyadi untuk merayakan pergantian tahun. Inisiatif ini kemudian diadaptasi oleh Jakarta pada malam tahun baru 2013 dan terus berkembang menjadi agenda rutin atau perayaan hari besar (seperti HUT Kota atau malam 1 Suro).

Dalam perspektif sosiologi urban (Ray Oldenburg), baik CFN maupun Pasar Malam berfungsi sebagai “Ruang Ketiga” (The Third Place)—ruang di luar rumah dan tempat kerja di mana interaksi sosial terjadi secara inklusif.

Secara perencanaan kota, CFN adalah bentuk Tactical Urbanism, yaitu intervensi skala kecil dan jangka pendek untuk mengetes efektivitas kebijakan jangka panjang sebelum diterapkan secara permanen.

Night Market (Pasar Malam)

Berbeda dengan CFN yang bersifat regulasi transportasi, night market atau Pasar Malam adalah sebuah institusi ekonomi dan budaya. Ini adalah pasar yang beroperasi setelah matahari terbenam, menawarkan kuliner, kerajinan, hingga hiburan rakyat. Secara global, pasar malam memiliki akar sejarah yang sangat tua di Tiongkok, tepatnya pada masa Dinasti Tang (618–907 M). Pada masa itu, pemerintah menerapkan aturan ketat terhadap pasar siang hari, namun kebutuhan ekonomi masyarakat mendorong munculnya pasar ilegal di malam hari yang akhirnya dilegalkan pada masa Dinasti Song (960–1279 M).

Di Indonesia, sejarah pasar malam modern dimulai pada era kolonial Belanda dengan munculnya Pasar Gambir di Batavia pada tahun 1898. Awalnya diadakan untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina, pasar ini kemudian berevolusi menjadi ajang pameran kebudayaan dan perdagangan yang kini kita kenal sebagai Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Saat ini di dunia ada banyak pasar malam atau night market. Night Market di beberapa negara kerap menjadi destinasi wisatawan. Wisatawan mancanegara sering kali menjadikan pasar malam sebagai destinasi utama untuk “mencicipi” jiwa sebuah kota, Berikut beberapa pasar malam yang ikonik di dunia. Ada Shilin Night Market (Taipei). Pasar malam yang ada di Taiwan ini paling terkenal di dunia dengan fokus pada inovasi kuliner ekstrim. Di Thailand ada Patpong & Jodd Fairs yang di kota Bangkok, terintegrasi dengan hiburan malam dan kuliner kaki lima. Kemudian ada Pasar Malam Jonker Street (Melaka) di Malaysia yang menampilkan perpaduan sejarah kolonial dan budaya Peranakan.

Bagaimana di Indonesia? Ada satu pasar malam yang sangat ikonik, yaitu Pasar Malam Semawis di Semarang yang merupakan representasi pasar malam pecinan yang kental dengan akulturasi budaya di Indonesia. Pasar Malam Semawis (Waroeng Semawis) di kawasan Pecinan Semarang adalah destinasi kuliner malam populer yang buka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Pasar ini menawarkan beragam jajanan legendaris, kuliner Tionghoa, seafood, serta menu halal dan non-halal dengan suasana lampion khas.

Perbedaan CFN vs Night Market

Pasar Malam yang ada Indonesia adalah bentuk informal economy yang menjadi katup penyelamat bagi UMKM. Peneliti Muhammad Iqbal (2018) dalam Pertanika Journal mencatat bahwa pasar malam berkontribusi signifikan terhadap keberlanjutan ruang urban dengan memanfaatkan area mati menjadi produktif secara ekonomi dan sosial. Night Market atau pasar malam adalah pasar yang beroperasi pada malam hari, menyediakan berbagai barang dagangan, makanan, hiburan, dan permainan rakyat.


Ilustrasi suasana pasar malam/ car free night di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. (FOTO: AI)

Di Indonesia, pasar malam berkembang sebagai hiburan murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di Yogyakarta ada Pasar Malam Sekaten sebagai bagian dari tradisi budaya Jawa. Di Jakarta ada Pasar Malam PRJ sebagai bagian dari Pekan Raya Jakarta (PRJ). Ada Pasar Malam Rawasari juga di Jakarta yang hadir sebagai pasar malam urban. Semua pasar malam tersebut hadir menjadi sarana hiburan rakyat, tempat perputaran ekonomi informal dan ajang interaksi sosial lintas kelas.

Dalam kajian akademis, perbedaan Car Free Night dan Night Market dapat dilihat pada tabel di bawah:

DimensiCar Free Night (CFN)Night Market (Pasar Malam)
Fokus UtamaMobilitas dan Lingkungan (Pedestrianisasi).Perdagangan dan Kuliner (Ekonomi Mikro).
PemicuKebijakan Pemerintah/Regulasi Jalan.Aktivitas Komunal/Kebutuhan Ekonomi.
DurasiBiasanya bersifat insidental atau terjadwal singkat.Biasanya rutin (setiap malam atau akhir pekan).
Elemen RuangPemanfaatan aspal jalan untuk ruang terbuka.Pemanfaatan ruang kosong untuk lapak/tenda.
DampakPenurunan emisi karbon lokal & polusi suara.Peningkatan perputaran uang & peluang kerja.

Car Free Night dan Night Market atau pasar malam adalah dua sisi dari satu mata uang yang bernama “Vitalitas Kota”. CFN memberikan napas bagi lingkungan dengan membebaskan jalan dari polusi, sementara Night Market memberikan denyut kehidupan melalui interaksi ekonomi dan budaya. Bagi wisatawan, keduanya menawarkan pengalaman otentik yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern yang sterill. Integrasi yang baik antara regulasi CFN dan manajemen Pasar Malam dapat menciptakan kota yang tidak hanya hijau, tetapi juga sejahtera.

Car Free Night dan Night Market, meskipun berbeda dalam genealogi dan niat awal, kini menjadi dua wajah dari transformasi ruang publik di abad ke-21. Keduanya menawarkan alternatif terhadap dominasi mobil, mal, dan ruang privat. Mereka adalah ruang di mana kota “bernafas”—tempat manusia kembali menjadi subjek, bukan objek dari sistem perkotaan.

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terfragmentasi, keberadaan ruang-ruang fisik yang inklusif, hidup, dan manusiawi menjadi semakin penting. Car Free Night dan Night Market, dalam segala kekurangannya, adalah bukti bahwa kota bukan hanya infrastruktur, tetapi juga panggung kehidupan kolektif.

Mengutip filsuf perkotaan Henri Lefebvre (1996): “Hak atas kota bukanlah hak untuk mengunjungi kota, tetapi hak untuk mengubahnya dan menciptakannya kembali”, Dalam semangat itulah, Car Free Night dan Night Market harus terus dijaga—bukan sebagai atraksi turis, tetapi sebagai ruang demokratis bagi semua. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *