Home / News / Alex Noerdin Naik Ojek Bukan untuk Diksi Merakyat  (Berkejaran dengan Arloji: Sepotong Pagi di Aspal Jakarta)

Alex Noerdin Naik Ojek Bukan untuk Diksi Merakyat  (Berkejaran dengan Arloji: Sepotong Pagi di Aspal Jakarta)

Gubernur Alex Noerdin turun dari ojek setiba di Hotel Sahid Jaya. (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kehilangan salah seorang putra terbaiknya yang membawa nama daerah ini menggema di dunia internasional. Rabu, 25 Februari 2026, Alex Noerdin Gubernur Sumsel periode 2008 – 2013 & 2013 – 2018 meninggal dunia, ia meninggal dalam usia 75 tahun setelah sebelumnya menjalani perawatan di RS Siloam Semanggi, Jakarta.

Dari perjalanan karirnya yang bermula sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingungan Pemerintah Kotamadya Palembang, kemudian menjadi Bupati Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Gubernur Sumsel ada banyak cerita menarik tentang dirinya.

Ini salah satu cerita tersebut. Jakarta, 30 April 2018. Matahari belum terlalu tinggi di atas langit ibu kota, namun suhu udara sudah mulai menyengat, bercampur dengan gas buang dari ribuan knalpot yang menderu statis. Di ruas tol Gatot Subroto menuju Semanggi, pemandangan nampak seperti galeri mesin yang membeku. Deretan mobil pribadi, bus kota, dan truk angkutan barang terjepit dalam kepadatan yang seolah tanpa ujung.

Di dalam sebuah mobil yang terjebak di tengah arus itu, Alex Noerdin, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan, berulang kali melirik jam tangannya. Ia punya jadwal krusial: Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2018 di Hotel Sahid Jaya. Masalahnya bukan sekadar hadir, namun namanya tercatat sebagai salah satu penerima penghargaan penting dari Presiden Joko Widodo.


Gubernur Alex Noerdin Naik Ojek melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

Labirin Semanggi

Kondisi lalu lintas Jakarta pada tahun 2018 memang sedang berada di titik nadir kenyamanan. Pembangunan infrastruktur besar-besaran, mulai dari flyover Pancoran hingga proyek MRT dan LRT yang sedang dikebut, mengubah jalan-jalan protokol menjadi labirin sempit yang penuh hambatan. Semanggi, yang biasanya menjadi jantung sirkulasi kendaraan, pagi itu justru menjadi titik sumbat yang mematikan gerak.

Satu jam berlalu, dan kendaraan yang ditumpangi Alex nyaris tak bergeser lebih dari beberapa meter. Di kursi penumpang, ketegangan meningkat. Telepon genggam stafnya tak berhenti berdering. Di ujung telepon, pihak protokol kepresidenan memberikan kabar yang memberikan tekanan lebih: Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah tiba di lokasi acara.

Secara protokoler, sebuah acara kenegaraan yang dihadiri Presiden biasanya berjalan dengan disiplin waktu yang sangat ketat. Namun, pagi itu ada instruksi yang tidak biasa. Presiden meminta acara sedikit ditunda demi menunggu kehadiran Gubernur Sumsel. Alasan di balik penundaan itu adalah prestasi; Sumatera Selatan dijadwalkan menerima Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) sebagai peringkat kedua terbaik nasional, tepat di bawah Jawa Timur.

Keputusan di Pinggir Tol

Menyadari bahwa menunggu kemacetan terurai adalah sebuah kesia-siaan, Alex mengambil keputusan praktis. Ia keluar dari kenyamanan kabin mobil ber-AC dan melangkah ke bahu jalan tol yang berdebu. Pilihan satu-satunya yang tersisa untuk menembus barisan kendaraan yang mengular itu hanyalah roda dua.


Gubernur Alex Noerdin menerima Tropi Penghargaan dari Presiden Joko Widodo. (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

“Dengan ojek akhirnya Pak Alex Noerdin menuju Hotel Sahid Jaya,” kenang Teddy Meilwansyah, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sumsel saat itu yang kini menjabat Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Di tengah hiruk-pikuk klakson dan kepulan asap hitam, sang gubernur naik ke atas motor ojek. Tidak ada iring-iringan sirene, tidak ada pengawalan ketat yang membuka jalan. Motor itu meliuk di antara celah sempit spion mobil dan trotoar, sebuah pemandangan yang jamak bagi warga Jakarta, namun tetap menjadi anomali bagi pejabat setingkat gubernur yang sedang memegang undangan VIP dari Istana.

Para pejabat Sumsel yang sudah berada di lokasi lebih dulu menanti harap-harap cemas di depan pintu masuk hotel yang terletak di Jalan Jendral Sudirman tersebut.  Akhirnya mereka melihat pimpinannya tiba dengan wajah tergesa-gesa, turun dari motor dengan sisa-sisa debu jalanan yang mungkin masih menempel, lalu langsung bergegas menuju ruang utama. Begitu Alex memasuki ruangan, rangkaian acara yang sempat tertahan itu pun segera dimulai.

Bukan Tentang Citra, Tapi Tentang Waktu

Kejadian ini kemudian dibagikan melalui akun media sosial pribadinya. Namun, ada nada yang berbeda dalam narasinya. Di tengah tren pejabat yang seringkali menggunakan momen “merakyat” untuk mendulang simpati publik, Alex justru menyematkan judul yang lugas: “Naik Ojek Bukan untuk Diksi Merakyat”.

Dalam tulisannya, ia mencoba menggeser paradigma kepemimpinan yang selama ini sering diukur dari gaya berpakaian atau cara berkomunikasi yang tampak sederhana. Baginya, esensi kepemimpinan adalah kerja nyata yang meningkatkan mutu peradaban warga. Dan dalam upaya mewujudkan program-program tersebut, musuh utamanya bukanlah lawan politik, melainkan keterbatasan waktu.

“Bagi saya untuk efisiensi waktu, bukan sekali dua saya harus naik ojek di Jakarta, menembus macet”, tulisnya.


Gubernur Alex Noerdin bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kiri) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan). (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

Alex mengakui bahwa aksi naik ojek ini bukanlah yang pertama kali ia lakukan di Jakarta. Hanya saja, biasanya ia memilih untuk tidak mempublikasikannya. Namun pagi itu, ia merasa perlu memberi tahu publik bukan untuk memamerkan kesederhanaan, melainkan untuk menunjukkan realitas bekerja di bawah tekanan waktu dan tanggung jawab formal.

Realitas Pembangunan dan Penghargaan

Ironi dari perjalanan naik ojek tersebut adalah tujuan akhir dari perjalanan itu sendiri: menerima penghargaan perencanaan pembangunan. Sumsel dinilai berhasil dalam merancang strategi pembangunan daerah yang komprehensif. Sebuah ironi yang menarik ketika seorang perencana pembangunan daerah yang sukses justru harus “dikalahkan” oleh macetnya tata ruang dan transportasi di ibu kota negara.

Penghargaan PPD yang diraih Sumsel merupakan pengakuan atas konsistensi daerah tersebut dalam menjalankan program-program strategis. Posisi kedua di bawah Jawa Timur merupakan pencapaian yang signifikan bagi provinsi di luar Pulau Jawa.

Pagi itu di Jakarta memberikan gambaran kontras. Di satu sisi, ada seremoni formal di dalam hotel mewah yang merayakan kemajuan dan perencanaan masa depan bangsa. Di sisi lain, ada realitas lapangan di aspal jalanan—kemacetan, debu, dan keterlambatan—yang harus dihadapi dengan cara-cara darurat seperti naik ojek.

Aksi Alex Noerdin hari itu pada akhirnya menjadi catatan kecil dalam dinamika politik dan birokrasi Indonesia. Ia menunjukkan bahwa di hadapan waktu yang terus berputar dan kehadiran kepala negara yang menanti, segala fasilitas jabatan bisa menjadi tidak relevan. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kebutuhan untuk sampai ke tujuan tepat waktu, meskipun harus berboncengan dengan tukang ojek di tengah kepungan polusi Jakarta.

“Selamat Jalan Mr. Governor. Nama mu akan selalu dikenang. Legasi mu untuk Sumatera Selatan menjadi ladang amal mu, untuk pahala yang terus mengalir. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *