Home / Kuliner / Adakah Kurma di Meja Makan Anda pada Ramadhan Hari Ini?

Adakah Kurma di Meja Makan Anda pada Ramadhan Hari Ini?

Buah kurma Ajwa. (FOTO: Safira Yasmin)

KINGDOMSRIWIJAYA – Matahari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan rona jingga di langit Palembang. Dari atas jembatan Ampera ufuk barat ada ke arah hulu Sungai Musi yang membelah ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Rabu, 18 Februari 2026, sebentar lagi azan Magrib dari menara Masjid Agung yang terletak di ujung jembatan akan bergema di langit.

Saatnya tiba untuk membatalkan puasa dengan berbuka puasa dengan takjil yang tersedia di meja makan mu. Dari yang terhampar di meja, ada pempek, ada pisang goreng, ada kolak dan es dengan warna yang menggoda, ada yang tak pernah absen menemani semua yang tersaji, ada kotak berisi buah cokelat lonjong yang manis. Itulah kurma.

Bagi umat Muslim, memakan kurma bukan sekadar urusan mengisi perut yang kosong, melainkan sebuah ritual spiritual—mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Ramadhan 1447 H telah tiba, dan kurma adalah buah yang selalu ada menemani umat Islam Indonesia berbuka puasa. Berbeda dengan di Saudi Arabia, Mesir dan negara di kawasan Timur Tengah, kurma selalu ada setiap waktu, dan di Indonesia kurma akan banyak dijual dijajakan, dari super market, mini market sampai pasar beduk pada bulan puasa.

Kini kurma bukan hanya soal spiritualitas. Buah ini adalah komoditas ekonomi global yang raksasa. Di negara asalnya, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Benua Afrika seperti Mesir dan sekitarnya, kurma termasuk salah satu makanan pokok yang dapat mengenyangkan bagi manusia. Namun, bagi negara seperti Indonesia yang tidak berada di sabuk kurma utama, ketersediaan buah ini bergantung pada rantai pasok internasional.

Menurut data yang ada, Indonesia adalah negara yang tingkat konsumsi kurmanya tinggi. Ini bisa dilihat dari data impor kurma Indonesia yang berasal dari beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor kurma ke Indonesia terus mengalami peningkatan.  Seperti data BPS tahun 2023 melansir kenaikan impor kurma menjelang puasa dan Idul Fitri 2023.


Jemaah Umrah mengunjungi kebun/ pasar kurma di Madinah. (FOTO: Safira Yasmin)

Pada bulan Januari 2023 impor kurma dengan kode HS 08041000 mencapai 13,23 juta kg atau naik 125,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 5,85 juta kg. Nilai impor kurma ke Indonesia menjelang puasa dan lebaran 2023 juga naik 187,31 persen mencapai US$22,5 juta ketimbang Desember 2022 yang hanya sebesar US$7,83 juta.

Ada tiga negara menjadi importir utama kurma ke Indonesia, yaitu Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Saudi Arabia. Tahun 2022 Mesir impor kurma ke Indonesia sebanyak 25,14 juta kg senilai US$30,50 juta, dari UEA 12,48 juta kg senilai US$14,39 juta, dan Saudi Arabia 10,53 juta kg mencapai US$11,67 juta. Pada tahun itu Indonesia mengimpor kurma sebanyak 61,35 juta kg dari berbagai negara dengan nilai mencapai US$86,25 juta.

Impor kurma dari tiga negara tersebut merupakan pemasok tradisional kurma ke Indonesia. Seperti 10 tahun lalu atau 2015 impor kurma ke Indonesia sebanyak 21 juta kg, tahun 2022 melonjak menjadi 61,35 juta kg. Lengkapnya impor kurma ke Indonesia, tahun 2015 (21,05 juta kg), 2016 (23,23 juta kg), 2017 (34,62 juta kg), 2018 (39,91 juta kg), 2019 (36,17 juta kg), 2020 (52,45 juta kg) dan tahun 2021 sempat turun, impor kurma 50,13 juta kg.

Tren ini menunjukkan bahwa permintaan kurma di Indonesia tidak stagnan, melainkan tumbuh signifikan. Faktor pendorongnya bukan hanya pertumbuhan populasi Muslim, tetapi juga meningkatnya kesadaran kesehatan dan daya beli masyarakat. Kurma kini tidak lagi dianggap sebagai makanan mewah yang hanya untuk oleh-oleh haji dan umrah, melainkan kebutuhan harian selama Ramadhan.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/207780/sejarah-pohon-kurma-dan-impor-kurma-yang-melonjak/

Peta Produksi Global: Raksasa Padang Pasir

Kurma bukan lagi sekadar tanaman konsumsi lokal. Ia adalah komoditas global dengan nilai ekonomi fantastis. Berdasarkan data organisasi pangan dunia (FAO) dan otoritas perdagangan, berikut adalah gambaran produksi kurma dari negara-negara produsen utama dalam dua tahun terakhir (estimasi 2024-2025):

PeringkatNegara ProdusenEstimasi Produksi (Juta Ton/Tahun)Varietas Unggulan
1Mesir1.7 – 1.8Hayany, Samany, Zaghloul
2Arab Saudi1.5 – 1.6Ajwa, Sukkari, Khalas
3Iran1.3 – 1.4Mazafati, Piarom
4Aljazair1.1 – 1.2Deglet Nour
5Irak0.6 – 0.7Zahidi

Memilih kurma di pasar kurma Madinah. (FOTO: Maspril Aries)

Mesir tetap memimpin sebagai produsen kurma terbesar di dunia, sementara Arab Saudi terus meningkatkan kapasitas teknologinya untuk menghasilkan kurma kualitas premium yang merajai pasar ekspor ke Indonesia.

Pohon Kehidupan dari Tanah Mesopotamia

Kurma ada tanaman yang dalam bahasa Latin disebut Phoenix dactylifera L. ini adalah anggota keluarga Arecaceae. Sebagai tumbuhan monokotil (berbiji tunggal), kurma telah menjadi identitas yang melekat erat dengan nafas Ramadhan di Indonesia. Namun, sejarahnya jauh lebih tua dari tradisi mana pun yang kita kenal hari ini.

Diduga kuat, kurma berasal dari dataran Mesopotamia, Palestina, atau wilayah Afrika Utara (Maroko) sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi. Sejak 3.000 SM, tanaman ini telah tersebar luas ke Mesir dan Asia Tengah. Ia menyandang gelar sebagai salah satu buah tertua yang masih dibudidayakan manusia hingga saat ini.

Dalam mitologi Yunani kuno, nama “Phoenix” dikaitkan dengan burung api perkasa. Fisik daun kurma yang menjuntai dianggap menyerupai sayap-sayap burung api yang legendaris. Sementara itu, di tanah Mesir Kuno, jauh sebelum dinasti Firaun berdiri, pohon kurma sudah menjadi tulang punggung kehidupan; batangnya untuk bangunan, daunnya dianyam untuk kerajinan, dan buahnya menjadi sumber energi utama.

Kisah kurma dimulai jauh sebelum Islam datang, jauh sebelum Yesus lahir, bahkan sebelum Firaun membangun piramida-piramida megahnya. Para ahli paleobotani menyebut Phoenix dactylifera L.—nama latin kurma—sebagai salah satu tanaman budidaya tertua di planet ini. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa kurma telah dibudidayakan di dataran Mesopotamia, wilayah yang kini kita kenal sebagai Irak, sejak 5000 tahun sebelum Masehi


Jemaah umrah berkunjung ke kebun kurma di Madinah. (FOTO: Maspril Aries)

Bayangkan: ketika peradaban manusia masih belajar menulis di atas lempengan tanah liat, kurma sudah menjadi mata pencaharian utama. Di lembah sungai Tigris dan Efrat, di antara reruntuhan kota-kota Sumeria yang kini tertimbun debu, kurma tumbuh subur sebagai pohon kehidupan yang sesungguhnya.

Namun, ada versi lain dari kisah ini. Sejarawan botani seperti Cheng T. Chao dan Robert R. Krueger dalam karya monumental mereka “The Date Palm” (2007) mencatat bahwa kurma juga diduga berasal dari dataran yang kini disebut Palestina, atau bahkan sekitar Maroko di Afrika Utara, sekitar 4000 tahun sebelum Masehi. Dari sana, kurma menyebar ke Mesir, Afrika, Asia Tengah, dan akhirnya mencapai puncak kejayaannya di Jazirah Arab.

Apa yang membuat kurma begitu istimewa sehingga peradaban-peradaban kuno rela membawa benihnya menyeberangi gurun dan lautan?

Jawabannya terletak pada sifat unik pohon kurma. Dalam dunia yang keras dan tidak bersahabat, di mana air adalah barang paling langka, kurma tumbuh dengan anggun. Akarnya yang dalam bisa menembus lapisan tanah kering untuk mencapai akuifer bawah tanah. Daunnya yang menjulang seperti mahkota raja memberikan naungan di tengah terik matahari gurun. Dan buahnya—buahnya adalah paket nutrisi sempurna yang bisa bertahan berbulan-bulan tanpa pengawet, sumber energi padat yang bisa disimpan untuk musim paceklik.

Tidak heran jika bangsa Mesir Kuno menjadikan kurma sebagai simbol keabadian. Di makam-makam Firaun, arkeolog menemukan biji kurma yang masih utuh, bukti bahwa kurma dianggap cukup penting untuk menemani perjalanan sang raja ke alam baka. Dalam hieroglif kuno, kurma digambarkan sebagai hadiah dari para dewa—buah yang diciptakan Thoth, dewa kebijaksanaan, untuk memberi kekuatan pada manusia.

Namun, ada kisah lain yang lebih romantis tentang asal nama kurma. Dalam mitologi Yunani kuno, nama latin Phoenix tidak dipilih sembarangan. Para filsuf Yunani yang menjelajahi Timur Tengah melihat pohon kurma dan teringat pada legenda burung Phoenix—makhluk mitologis yang abadi, terlahir kembali dari abunya sendiri, datang dari Timur Jauh dengan sayap-sayap berapi-api. Bentuk fisik pohon kurma, dengan daun-daunnya yang menjulang seperti sayap dan batangnya yang tegak seperti leher angsa, dianggap menyerupai burung api tersebut. Maka lahirlah nama Phoenix dactylifera—”kurma yang memiliki jari” (dactylifera merujuk pada bentuk buahnya yang seperti jari manusia).

Tetapi di balik semua mitologi dan legenda, ada satu kebenaran sederhana: kurma adalah buah yang menyelamatkan. Di tengah gurun yang membunuh, kurma memberikan kehidupan. Dan kehidupan ini, sejak ribuan tahun lalu, selalu terikat pada satu ritual yang paling manusiawi—berbuka puasa.


Membeli kurma di Madinah. (FOTO: Maspril Aries)

Kurma dalam Kalam Ilahi

Kesucian kurma tidak hanya tercatat dalam sejarah manusia, tetapi juga dalam kitab suci Al-Qur’an. Kata An-Nakhl, An-Nakhiil, An-Nakhlah, dan An-Nakhlan disebut sebanyak 20 kali dalam 16 surat yang berbeda. Mulai dari Surat Ar-Rahman, Maryam, hingga Al-Baqarah, Allah SWT menempatkan kurma berdampingan dengan buah-buah surga lainnya seperti tin, zaitun, delima, dan anggur.

Salah satu kisah paling menyentuh dalam Al-Qur’an adalah saat Maryam binti Imran akan melahirkan Nabi Isa AS. Dalam kesakitan dan kesendirian, Allah memerintahkannya untuk menggoyang pangkal pohon kurma:

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau.” (QS. Maryam: 25-26).

Jika kurma adalah ratu buah-buahan di dunia material, maka dalam dunia spiritual umat Islam, ia adalah putri mahkota yang tak tergantikan. Dari Surat Ar-Rahman yang memuji kebesaran Sang Pencipta, hingga Surat Maryam yang menceritakan kelahiran Nabi Isa AS, kurma hadir sebagai saksi dan pelaku dalam narasi-narasi paling sakral.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/116317/kurma-dan-ini-keistimewaannya/

Mari kita berhenti sejenak di Surat Maryam. Di sana, wahyu Allah SWT menceritakan momen paling genting dalam kehidupan Maryam Al-Azra’, saat rasa sakit melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam keadaan lemah dan kesepian, di tengah padang gurun yang sunyi, Maryam berdoa: “Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam: 23).

Tetapi kemudian datang mukjizat. Suara dari langit berkata: “Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau.” (QS. Maryam: 25-26).

Ayat-ayat ini bukan sekadar cerita. Bagi para ulama dan ahli kesehatan, ini adalah preskripsi medis ilahi. Abdul Basith Muhammad Sayyid dalam bukunya “Ketika Rasulullah Tidak Pernah Sakit” (2012) menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Maryam—yang dalam kondisi nifas setelah melahirkan—untuk memakan kurma. Mengapa? Karena kurma matang mengandung zat besi dan kalsium dalam kadar tinggi, dua mineral paling krusial untuk pembentukan susu ibu dan pemulihan energi pasca-melahirkan.


Panen kurma di Mesir. (FOTO: Maspril Aries)

Ini adalah kekuasaan Allah SWT yang disebutkan dalam Al-Quran: sebuah kitab yang diturunkan 1400 tahun lalu, di masa ketika ilmu gizi belum dikenal, tapi sudah merekomendasikan makanan yang secara ilmiah tepat untuk kondisi medis spesifik. Kurma bukan hanya makanan—ia adalah obat, penawar, dan sumber kehidupan yang diwahyukan.

Dan kurma tidak berhenti di situ. Di Surat Ar-Rahman, Allah berfirman: “Di dalamnya (surga) ada pohon-pohon kurma yang bertandan-tandan.” (QS. Ar-Rahman: 11 dan 68). Kurma menjadi simbol surga, janji akan kehidupan abadi yang manis dan subur. Di Surat Yasin, kurma disebut sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah: “Dan Kami jadikan di sana kebun-kebun kurma dan anggur.” (QS. Yasin: 34).

Tetapi mungkin yang paling menyentuh adalah bagaimana kurma menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Rasulullah SAW. Hadis-hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim menyimpan catatan-catatan intim tentang hubungan Nabi dengan buah ini.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqas RA, kita tahu bahwa Rasulullah SAW memberi nama Ibrahim kepada putranya dan mentahniknya dengan kurma—mengunyah kurma lalu memberikannya kepada bayi sebagai makanan pertamanya. Dari Jabir bin Abdullah RA, kita mendengar kisah mistis tentang batang kurma yang menangis ketika tidak lagi digunakan Nabi untuk khutbah, dan hanya diam ketika Nabi meletakkan tangan di atasnya. Dan yang paling familiar bagi kita: hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi yang menyatakan: “Apabila salah seorang di antara kamu ingin berbuka puasa, maka hendaklah memulainya dengan kurma, karena ia memiliki keberkahan. Jika tidak ada kurma, maka mulailah dengan air minum, karena ia menyucikan.”

Inilah yang membuat kurma melekat erat dengan Ramadhan. Bukan hanya karena manisnya, bukan hanya karena kandungan gizinya, tetapi karena setiap butir kurma yang kita makan saat berbuka adalah penghubung langsung dengan Sunnah Nabi. Kita tidak sekadar mengisi perut yang kosong—kita meniru sang kekasih Allah, mengikuti jejak langkahnya, dan merasakan sedikit dari apa yang dirasakan umat Islam pertama di Madinah.

Anatomi Buah Kurma

Pakar medis modern kini memahami mengapa perintah itu diberikan. Kurma kaya akan zat besi dan kalsium yang krusial bagi ibu yang baru melahirkan untuk memproduksi ASI dan memulihkan tenaga yang terkuras. Ada keajaiban biologis yang tersembunyi dalam setiap butir kurma.

Menurut data United States Department of Agriculture (USDA) Food Data Central, kurma adalah paket nutrisi yang sangat padat. Satu kilogram kurma mengandung sekitar 3.000 kalori—setara dengan kebutuhan energi harian seorang laki-laki dewasa dengan aktivitas sedang. Tetapi yang lebih penting dari jumlah kalori adalah jenis kalori tersebut.


Jemaah umrah berkunjung ke pasar kurma di Madinah. (FOTO: Safira Yasmin)

Kurma mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa—tiga jenis gula sederhana yang dapat langsung diserap tubuh tanpa proses pencernaan yang rumit. Inilah mengapa kurma adalah makanan berbuka puasa yang ideal: setelah 14 jam atau lebih tanpa makanan, sistem pencernaan kita membutuhkan sesuatu yang mudah diproses, yang bisa langsung masuk ke aliran darah dan memberikan energi instan ke otak dan otot.

Tetapi kurma bukan hanya gula. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition menunjukkan bahwa kurma kaya akan serat, vitamin B kompleks, magnesium, potassium, tembaga, mangan, dan zat besi. Satu butir kurma berukuran sedang (sekitar 24 gram) mengandung 66 kalori dan 16 gram gula, dengan indeks glikemik rendah (di bawah 55), yang berarti gula darah tidak akan melonjak drastis setelah memakannya.

Dr. Said Hammad dalam bukunya “Khasiat Kurma” (2011) menyebutkan bahwa kurma adalah “makanan paling istimewa” karena kandungan gizinya yang komprehensif. Tidak ada buah lain yang menawarkan kombinasi sempurna antara energi cepat, mineral esensial, dan serat pencernaan dalam satu paket yang begitu praktis. Dalam terminologi modern, kurma adalah superfood sebelum istilah itu diciptakan. Tetapi bagi para tabib Muslim abad pertengahan, kurma sudah lama dikenal sebagai “obat segala penyakit”—bukan dalam artian literal, tetapi karena spektrum khasiatnya yang begitu luas.

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, sarjana Islam terkemuka abad ke-14, dalam kitabnya “Pengobatan Cara Nabi” (1997) merinci khasiat kurma dengan detail yang menakjubkan. Menurutnya, kurma masak dapat memperkuat liver (hati), merelaksasi usus, menambah produksi sperma, dan menyembuhkan radang tenggorokan. Esensi kurma yang “panas dan basah” dalam klasifikasi pengobatan Yunani-Arab menjadikannya obat yang seimbang untuk berbagai kondisi tubuh.

Kurma telah menempuh perjalanan ribuan tahun, menyeberangi samudra dari tanah gersang Mesopotamia hingga sampai ke piring-piring porselen di hotel berbintang Jakarta. Ia adalah saksi bisu sejarah nabi, mukjizat medis yang tersembunyi dalam serat, dan jembatan spiritual bagi jutaan umat manusia.

Pepatah Arab kuno mengatakan: “Kegunaan pohon kurma adalah sebanyak jumlah hari dalam setahun.” Mungkin sudah saatnya kita tidak lagi memandang kurma hanya sebagai tamu tahunan di bulan Ramadhan. Ia adalah “pohon kehidupan” yang selayaknya tersedia kapan saja di meja makan kita—sebagai camilan sehat, penawar sakit, dan pengingat akan jejak-jejak keberkahan yang tak pernah putus.

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1447 H. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *