Home / News / Cara PTBA Menakar Kesiapan Mental Calon Mekanik dan Operator Alat Berat dengan Psikotes

Cara PTBA Menakar Kesiapan Mental Calon Mekanik dan Operator Alat Berat dengan Psikotes

Siswa calon peserta pelatihan mekanik dan alat berat PTBA mengikuti psikotest. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Tanjung Enim – Ingat pesan berikut ini. “Jangan menganggap remeh pekerjaan mekanik dan operator alat”. Buktinya untuk bekerja sebagai mekanik dan operator alat berat di BUMN ini calon pekerja harus melewati test, salah satunya dalam bentuk psikotes.

Selama enam hari BUMN anggota MIND ID, PT Bukit Asam (PTBA) Tbk menyelenggarakan seleksi penerimaan calon peserta pelatihan mekanik dan operator alat berat yang diikuti ratusan lulusan SMA dan SMK. Proses seleksi yang digelar PTBA bekerja sama dengan UT School dari United Tractors pada 4 hingga 9 Februari 2026.

Sebanyak 151 peserta mengikuti seleksi batch pertama yang dilaksanakan pada Rabu, 4 Februari 2026 di SMK Bukit Asam, Tanjung Enim. Mereka berasal dari berbagai SMA dan SMK di sekitar wilayah operasional perusahaan. Seleksi kemudian berlanjut secara bertahap di SMK PGRI 2 Lahat (5 Februari 2026), SMKN 1 Merapi Timur (6 Februari 2026), SMKN 2 Muara Enim (7 Februari 2026), dan kembali di SMK Bukit Asam pada 9 Februari 2026

“Para peserta ini menjalani seleksi psikotes menjadi tahapan krusial untuk memastikan calon peserta memiliki kesiapan mental, karakter kerja, serta sikap profesional yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja di bidang mekanik dan operator alat berat”, kata Dedy Saptaria Rosa, Sustainability Division Head PTBA, Kamis (12/2).

Bagi sebagian peserta, ini adalah pintu awal menuju dunia industri pertambangan—sektor yang dikenal menuntut ketangguhan fisik sekaligus kematangan mental. Seleksi psikotes menjadi tahapan penting dalam proses rekrutmen program pelatihan dasar yang dirancang untuk menyiapkan sumber daya manusia lokal agar kompeten dan siap kerja sesuai standar industri.

Program ini merupakan bagian dari komitmen PTBA dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia lokal, khususnya bagi lulusan sekolah menengah di sekitar area operasional. Tujuannya jelas: meningkatkan kompetensi, memperkuat daya saing tenaga kerja, dan membuka peluang kerja berkelanjutan di sektor pertambangan serta jasa penunjangnya.


Siswa calon peserta pelatihan mekanik dan alat berat PTBA mengikuti psikotest. (FOTO: Humas PTBA)

Keterampilan Teknis

Di balik gemuruh mesin excavator, bulldozer, atau dump truck tambang, terdapat tanggung jawab besar yang melekat pada para operator dan mekanik. Profesi ini tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga konsentrasi tinggi, ketelitian, disiplin, serta kesadaran penuh terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Operator alat berat bekerja dengan mesin berukuran raksasa yang dapat menimbulkan risiko fatal jika terjadi kesalahan sekecil apa pun. Demikian pula mekanik yang bertugas memastikan setiap komponen mesin dalam kondisi prima. Kelalaian kecil dapat berujung pada kerusakan alat, kerugian material, bahkan kecelakaan kerja.

Karena itu, aspek psikologis menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi. Psikotes digunakan untuk mengukur berbagai dimensi, seperti kemampuan kognitif, stabilitas emosi, ketahanan terhadap stres, kemampuan bekerja dalam tim, hingga kepatuhan terhadap aturan.

Penelitian di bidang psikologi industri dan organisasi menunjukkan bahwa faktor manusia (human factor) merupakan salah satu penyebab dominan kecelakaan kerja di sektor berisiko tinggi, termasuk pertambangan dan konstruksi. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal keselamatan kerja internasional menyebutkan bahwa aspek seperti kelelahan mental, impulsivitas, rendahnya kontrol diri, dan kurangnya kesadaran risiko berkontribusi signifikan terhadap insiden kecelakaan.

Psikotes menjadi instrumen untuk memetakan potensi risiko tersebut sejak awal. Dengan demikian, perusahaan dapat memastikan bahwa peserta pelatihan yang diterima memiliki profil psikologis yang mendukung budaya keselamatan.

Regulasi dan Standar Industri

Di Indonesia, penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja diatur dalam berbagai regulasi, antara lain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (yang telah diperbarui melalui UU Cipta Kerja). Dalam sektor pertambangan, terdapat pula peraturan turunan yang mewajibkan perusahaan menerapkan sistem manajemen keselamatan pertambangan.


Tim Pengawas test dari PTBA Tbk dan UT School. (FOTO: Humas PTBA)

Meski tidak semua regulasi secara eksplisit menyebut “psikotes” sebagai kewajiban, prinsip “fit to work” atau kelayakan kerja menjadi bagian penting dalam sistem manajemen K3. Artinya, pekerja harus dinyatakan layak secara fisik dan mental sebelum menjalankan tugas yang berisiko tinggi. Dalam praktiknya, banyak perusahaan pertambangan dan kontraktor alat berat memasukkan tes psikologi sebagai bagian dari proses seleksi untuk memastikan kelayakan tersebut.

Standar internasional seperti ISO 45001 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya identifikasi bahaya dan pengendalian risiko, termasuk yang bersumber dari faktor manusia. Evaluasi psikologis menjadi salah satu pendekatan preventif untuk mengurangi risiko akibat kesalahan manusia (human error).

Praktik Global di Berbagai Negara

Praktik seleksi psikologis bagi operator alat berat dan mekanik tidak hanya diterapkan di Indonesia. Di sejumlah negara dengan sektor pertambangan dan konstruksi yang maju, evaluasi psikologis menjadi bagian dari prosedur rekrutmen dan pelatihan.

Di Australia, misalnya, industri pertambangan menerapkan standar ketat terkait kompetensi dan keselamatan. Beberapa perusahaan besar mensyaratkan penilaian psikologis untuk operator alat berat, terutama untuk mengukur kemampuan pengambilan keputusan dan respons terhadap situasi darurat.

Di Kanada dan Amerika Serikat, sektor pertambangan dan konstruksi juga menerapkan pre-employment assessment yang mencakup tes kognitif dan kepribadian. Hal ini dilakukan untuk memastikan kandidat mampu bekerja di lingkungan dengan risiko tinggi dan tekanan kerja besar.

Di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya, regulasi keselamatan kerja menekankan aspek kelayakan fisik dan mental bagi operator mesin berat. Penilaian psikologis kerap digunakan sebagai bagian dari proses sertifikasi atau pelatihan dasar, terutama untuk pekerjaan yang melibatkan pengoperasian peralatan berisiko tinggi.

Sektor lain yang menerapkan standar serupa adalah perkeretaapian, penerbangan, dan migas. Pada industri-industri tersebut, psikotes bahkan menjadi persyaratan wajib sebelum seseorang dapat mengikuti pelatihan teknis lanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa pada pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi, aspek psikologis dianggap sama pentingnya dengan kompetensi teknis.


Siswa calon peserta pelatihan mekanik dan alat berat PTBA mengikuti psikotest. (FOTO: Humas PTBA)

Investasi Jangka Panjang SDM Lokal

Bagi PTBA, penyelenggaraan seleksi psikotes bersama UT School bukan sekadar prosedur administratif. Ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun tenaga kerja lokal yang profesional dan berdaya saing.

UT School sendiri dikenal sebagai lembaga pelatihan yang berfokus pada pengembangan mekanik dan operator alat berat sesuai standar industri. Dengan kolaborasi ini, peserta yang lolos tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pembentukan karakter kerja dan budaya keselamatan.

“Peserta yang dinyatakan lolos seleksi psikotes akan mengikuti beberapa tahapan seleksi lanjutan sesuai dengan standar industri dan keselamatan kerja yang berlaku”, kata PIC (Person in Charge) Program, Muhammad Fatkhullah.

Bagi para lulusan SMA dan SMK di sekitar wilayah operasional, program ini membuka peluang nyata untuk memasuki dunia kerja formal dengan kompetensi terstandar. Di sisi lain, perusahaan juga mendapatkan calon tenaga kerja yang telah melalui proses seleksi menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun psikologis.

Menjawab Tantangan Industri Berisiko Tinggi

Di tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, industri pertambangan tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Data kecelakaan kerja secara global menunjukkan bahwa sebagian besar insiden dapat dicegah melalui pengelolaan risiko yang lebih baik, termasuk penguatan faktor manusia.

Psikotes bukanlah alat untuk “menghakimi” kemampuan seseorang, melainkan sarana untuk memastikan kecocokan antara individu dan jenis pekerjaan yang akan dijalani. Dengan pemetaan yang tepat, peserta yang memiliki potensi dapat diarahkan, dibina, dan dikembangkan secara optimal.

Langkah PTBA menggelar seleksi psikotes bagi calon peserta pelatihan dasar mekanik dan operator alat berat mencerminkan kesadaran bahwa kompetensi sejati tidak hanya dibangun dari keterampilan tangan, tetapi juga dari ketangguhan pikiran dan kedewasaan sikap.

Di balik suara mesin dan debu tambang, ada proses seleksi yang senyap namun menentukan. Sebab pada akhirnya, keselamatan dan profesionalisme di lapangan berawal dari kesiapan mental yang diuji sejak dini. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *