Home / Wisata / 6 Februari 1819 Raffles Mengubah Pulau Tandus Jadi Singapura

6 Februari 1819 Raffles Mengubah Pulau Tandus Jadi Singapura

Ilustrasi Rafles mendarat di pulau yang disebut Temasek dan sekarang menjadi Singapura. (FOTO: AI ChatGPT)

KINGDOMSRIWIJAYA – Negara Singapura mendeklarasikan kemerdekaannya pada 9 Agustus 1965 dan berpisah dari Federasi Malaya. Namun sebelum menjadi negara merdeka, Singapura adalah sebuah pulau terpencil di ujung selatan Semenanjung Melayu. Pulau itu kerap disebut Temasek (nama kuno Singapura, dari Jawa Kuno berarti “laut”).

Di tengah gemuruh ombak laut Selat Malaka, di sebuah pulau kecil tersebut hanya dihuni kumpulan kampung nelayan dan pedagang kecil. Menurut kisahnya, Temasek adalah sebuah pulau tandus yang masa itu dihuni sekitar 150 orang Melayu, China petani, dan bajak laut. Pulau ini di bawah Temenggung Johor yang subordinat Sultan Hussein Shah.

Namun, pada 1819, seorang pria Inggris bernama Thomas Stamford Raffles mengubah nasib pulai ini untuk selamanya. Pada 25 Januari 1819 Raffles menginjakkan kaki di pantai berlumpur sebuah pulau kecil setelah berlayar dari Bengkulu atau Bencoolen dengan kapal HMS Indiana.

Catatan lainnya menyebutkan, pulau ini, saat itu dihuni sekitar 1.000 orang, mayoritas Melayu, Cina, dan Bugis. Sultan Johor, Hussein Shah, mengklaim wilayah itu, tetapi Belanda mengancamnya melalui perjanjian lama. Kemudian Raffles, dengan otoritas dari EIC (East India Company) menegosiasikan perjanjian dengan Sultan Hussein dan Temenggong Abdul Rahman.

Pada 6 Februari 1819, perjanjian ditandatangani, Inggris mendapat hak untuk mendirikan pos dagang di Singapura, dengan bayaran tahunan 5.000 dolar Spanyol kepada Sultan dan 3.000 kepada Temenggong. Perjanjian ini kontroversial karena Raffles dianggap melanggar instruksi Gubernur Jenderal India, Lord Hastings, yang melarang ekspansi tanpa izin. Namun, Raffles membela tindakannya dengan argumen strategis, “Singapura bisa menjadi alternatif dari Batavia” (Jakarta) yang dikuasai Belanda.


Patung Merlion yang menjadi landmark Singapura. (FOTO: Aina RA)

Dalam suratnya kepada Hastings, ia menulis: “Singapura adalah posisi yang tak tertandingi, dengan pelabuhan alami yang dalam dan terlindung dari angin”. Raffles menyebut pulau itu dengan nama “Singapura” atau “Singapore”. Namun nama itu bukan nama ciptaan Raffles. Nama Singapura atau “Kota Singa” adalah nama yang berakar pada legenda abad ke-14, ketika Pangeran Sang Nila Utama dari Sriwijaya dikisahkan melihat hewan mirip singa di pulau itu dan menamakannya “Singapura”. Pada era itu, pulau yang sebelumnya disebut Temasek (“Kota Laut”) merupakan bagian dari jaringan maritim Kerajaan Sriwijaya dan kemudian Kesultanan Melaka. Pulau ini adalah pos dagang yang signifikan, sebelum ditinggalkan pada abad ke-17 akibat konflik regional.

Kisah lain menyebutkan nama “Singapura” berasal dari bahasa Sanskerta “Singha Pura”, yang berarti “Kota Singa”. Menurut legenda Melayu, nama ini berasal dari seorang pangeran Palembang yang melihat seekor binatang aneh (yang mungkin adalah harimau) di pulau itu dan menamakannya Singapura. Namun, secara historis, Singapura telah menjadi bagian dari berbagai kerajaan dan kekuatan lokal selama berabad-abad.

Namun, narasi populer yang berkembang, ada yang menyebut Thomas Stamford Raffles sebagai “Bapak Pendiri Singapura” yang menemukan pulau kosong hanyalah simplifikasi yang berbahaya.

Jauh sebelumnya, pada abad ke-14, Singapura adalah bagian dari Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15 dan ke-16, ketika Majapahit runtuh, Singapura menjadi bagian dari Kesultanan Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Singapura jatuh di bawah pengaruh Johor-Riau, sebuah kesultanan Melayu yang kuat. Pada abad ke-17 dan ke-18, Singapura menjadi medan pertempuran antara berbagai kekuatan regional, termasuk Belanda, Johor, dan Bugis.

Pada saat Raffles menginjakkan kakinya, Singapura adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Johor-Riau, yang sedang dilanda perebutan kekuasaan. Dengan kecerdikan politiknya, Raffles melihat celah di tengah konflik. Ia bukan datang ke tempat yang tidak dikenal, melainkan ke tempat yang sengaja diabaikan oleh kekuatan utama saat itu, Belanda dengan VOC-nya.


Marina Bay Sands Resort yang disebut resort termahal di dunia. (FOTO: Maspril Aries)

Di masa kekuasaan Raffles dan seterusnya, masa lalu Singapura menunjukkan transformasi cepat. Pada 1821, populasi mencapai 5.000 orang, naik dari 1.000 pada 1819. Perdagangan berkembang pesat, ada ekspor lada, gambir, dan kayu, dengan nilai perdagangan mencapai 1,2 juta dolar Spanyol pada 1822. Raffles juga datang dengan membawa sistem administrasi Inggris, termasuk pengadilan dan polisi. Ia juga mendorong imigrasi, pedagang Cina dari Malaka dan pedagang Arab dari Timur Tengah datang, membentuk masyarakat multi-etnis yang unik.

Dengan visi kolonial yang ambisius, Raffles mendirikan Singapura sebagai pangkalan perdagangan Inggris, memulai era baru yang membawa pulau itu dari kegelapan ke cahaya kemajuan.

Siapa Raffles?

Thomas Stamford Raffles lahir di laut atau Jamaika pada 5 Juli 1781, putra seorang kapten kapal pedagang yang bangkrut, memaksanya bekerja sebagai juru tulis di East India Company (EIC) sejak usia 14 tahun. Dengan belajar otodidak bahasa Melayu, sejarah Asia Tenggara, dan ilmu alam, ia naik pangkat cepat, menjadi asisten sekretaris di Penang pada 1805. Dari Penang menjadi titik balik karier Raffles yang kemudian ia diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa selama pendudukan Inggris (1811-1816) di bawah Lord Minto.

Dari sinilah hubungannya dengan Bengkulu (Bencoolen) terbentuk. Setelah Inggris harus mengembalikan Jawa kepada Belanda pasca-Perang Napoleon. Raffles kemudian dialihkan menjadi Letna Gubernur Bengkulu (1818-1824). Tempat ini masa itu anggap terpencil dan tidak strategis. Bengkulu, pos dagang Inggris yang miskin dan rawan penyakit. Bengkulu, atau Fort Marlborough, adalah jajahan Inggris di Sumatra yang diperoleh melalui Perjanjian Paris 1760 setelah Perang Tujuh Tahun dan menjadi basis Inggris untuk menyaingi Belanda di Nusantara.

Raffles sebagai seorang Letnan Gubernur bukan penjajah biasa, ia dikenal sebagao sosol humanis yang mengkritik monopoli dagang Belanda dan EIC. Di Jawa (1811-1816), Raffles mereformasi sistem tanam paksa Belanda, membebaskan ribuan budak, dan memetakan pulau itu. Dengan prestasi Lord Minto, Gubernur Jenderal Inggris di India, menjulukinya “Pria cerdas dan bijaksana”.


Transportasi umum di Singapura yang nyaman pada malam hari. (FOTO: Maspril Aries)

Namun dengan pengalamannya di Jawa dan Bengkulu, Raffles melihat Belanda atau VOC dengan monopolinya yang ketat di Selat Malaka (Melaka- Riau) adalah ancaman bagi kepentingan dagang Inggris. Raffles percaya, Inggris membutuhkan pelabuhan bebas yang strategis di selatan Selat Malaka untuk menyaingi Belanda, melindungi rute dagang Inggris ke Tiongkok, dan menjadi pangkalan angkatan laut.

Bengkulu, pos lada Inggris sejak 1685 di bawah EIC, menjadi panggung penting Raffles melawan VOC Belanda yang mendominasi perdagangan rempah via Selat Sunda-Malaka. VOC, dengan monopoli brutalnya, menguasai Batavia dan Riau. Ini yang membuat Raffles merancang “pelabuhan bebas” untuk membuka akses China-India. Dari Bengkulu Raffles mengusulkan ke Lord Hastings, Rebut pulau di timur Selat Malaka untuk “mengurung pintu China”.

Hubungan Raffles dengan VOC berlangsung tegang. Selama di Bengkulu ia pernah mengeksplorasi Sumatera bareng botanikus Joseph Arnold, menemukan Rafflesia Arnoldi—bunga bangkai raksasa yang simbol kekayaan alam Bengkulu tapi tak cukup membuat untung untuk EIC.

Di Singapura, Raffles bukan hanya administrator; ia juga arsitek perkotaan. Ia merancang Singapura sebagai kota modern, dengan jalan-jalan lurus dan bangunan publik. Salah satu bangunan pertama adalah Government House (Istana Gubernemen), dibangun pada 1823 di Bukit Larangan (sekarang Fort Canning). Bangunan ini berfungsi sebagai kediaman gubernur dan kantor administrasi, dengan gaya kolonial Inggris yang sederhana, menggunakan bahan lokal seperti kayu dan atap sirap.

St. Andrew’s Cathedral, yang dimulai pada 1836 (setelah Raffles pergi), terinspirasi dari visi Raffles untuk gereja utama. Ia juga mendirikan padang cricket pertama di Asia, di sebelah Government House, sebagai simbol budaya Inggris. Raffles Walk, sebuah promenade di tepi sungai, dibangun untuk memfasilitasi perdagangan. Bangunan lain termasuk gudang-gudang di tepi sungai Singapore River, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi.


Anderson Bridge adalah salah satu jembatan bersejarah di Singapura yang dibangun Inggris 12 Maret 1910. Berlokasi di Downtown Core dirancang Robert Peirce, dan namanya diambil dari Sir John Anderson, Gubernur Straits Settlements dan High Commissioner untuk Federated Malay States. Sejak 15 Oktober 2019 ditetapkan sebagai Monumen Nasional Singapura. (FOTO: Aina RA)

Arsitektur ini mencerminkan pendekatan Raffles: campuran antara fungsi dan estetika, dengan pengaruh lokal seperti atap Melayu. Sementara menurut kajian arkeologis oleh National Heritage Board Singapura (2020) menunjukkan bahwa bangunan-bangunan ini dibuat dari bahan ramah lingkungan, seperti kayu keras dari hutan setempat, untuk menahan iklim tropis. Namun, banyak yang hancur dalam kebakaran dan perang, tetapi rekonstruksi modern mempertahankan esensi asli.

Gempa Bumi Bengkulu

Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur Bengkulu mulai 22 Maret 1818, menggantikan Residen Siddens, saat kota Bengkulu porak-poranda akibat gempa bumi dan ditinggalkan warga. Bengkulu porak-poranda akibat gempa berkepanjangan (sejak 1811, tapi intens 1818) menjadi seperti kota “tanpa roh”, ditinggalkan warga dengan infrastruktur hancur.

Di Bengkulu Raffles melakukan reformasi ekonomi dan sosial. Ia menerapkan kebijakan liberal seperti di Java menghapus monopoli lada yang terapkan EIC, mendorong tanam padi, kopi, pala, cengkeh, tebu pada 1819-1820, dan Raffles juga membebaskan budak dengan sertifikat. Keputusan ini mendapat dukungan rakyat Bengkulu masa itu karena Raffles anti-perbudakan;

Salah satu peninggalan Raffles di Bengkulu membangun rumah kediaman Letnan Gubernur (yang kini rumah dinas Gubernur Bengkulu) di bukit depan Fort Marlborough, sebagai pusat pemerintahan pasca-gempa membuka pelabuhan bebas yang kemudian ia terapkan di Singapura.

Di antara puing-puing gempa Raffles pada Pada 1819, mendirikan sekolah pertama untuk anak pribumi, tahun 1822 berdiri percetakan koran pertama di Sumatera.

Pada masa kekuasaanya sebagai Letnan Gubernur, Bengkulu terserang wabah malaria yang mengakibatkan empat orang anaknya meninggal tragis di sana. Pada masa itu kemudian Raffles berlayar menuju Singapura.

Meninggalkan Singapura

Pada 1823, Raffles meninggalkan Singapura karena kesehatan yang memburuk Ia kembali ke Inggris dan meninggal pada 1826 akibat tumor otak. Namun, warisannya bertahan. Singapura menjadi bagian dari Straits Settlements pada 1826, yang mencakup Pulau Pinang, Malaka, dan Singapura. Pada 1867, Straits Settlements menjadi koloni mahkota Inggris langsung.


Ilustrasi Rafles meninggalkan di pulau yang disebut Temasek dan sekarang menjadi Singapura. (FOTO: AI Gemini)

Raffles hanya menghabiskan total kurang dari sembilan bulan di Singapura dalam beberapa kunjungannya (1819, 1822-1823). Namun, dalam waktu singkat itu, ia meninggalkan cetak biru fisik dan administratif Singapura yang mendasar seperti Rencana Kota Jackson (1822). Raffles ngeri melihat perkembangan kota yang semrawut, kemudian membentuk komite perencanaan kota.

Hasilnya adalah Rencana Kota Jackson (dinamai menurut Letnan Philip Jackson, surveyor pelaksana). Rencana ini membagi Singapura menjadi wilayah etnis dan fungsional yang berbeda: European Town di sekitar area Pemerintahan (sekitar Padang), Chinatown di selatan sungai, dan Kampong Gelam untuk komunitas Melayu, Bugis, dan Arab di timur.

Ada bangunan-Bangunan Inti seperti The Foundation Stone of Singapore: Sebuah batu peringatan diletakkan pada 1819, menandai awal permukiman. Bangunan-bangunan zaman Raffles seperti Empress Place (kini Asian Civilisations Museum) dan area Padang—masih berdiri, dikelilingi oleh hutan beton pencakar langit. Mereka adalah pengingat fisik akan titik nol Singapura.

Rencana kota Singapura yang dibuat pada 1822 menunjukkan pemikiran Raffles tentang bagaimana sebuah kota modern harus diatur. Kota ini dibagi menjadi beberapa zona. Ada Zona Komersial, Zona Administratif, Zona Residensial dan Zona Militer.

Pada 1826, Singapura bersama Penang dan Melaka membentuk Straits Settlements, yang awalnya di bawah administrasi Benggala (India), lalu menjadi Koloni Mahkota pada 1867. Status ini memberikannya otonomi lebih dan perhatian langsung dari London.

Setelah pembukaan Terusan Suez (1896) terjadi ledakan perdagangan serta berkembangnya industri karet dan timah di Malaya—membuat Singapura menjadi pelabuhan terpenting di wilayah ini. Imigrasi besar-besaran dari Tiongkok dan India mengubah demografi secara dramatis.


Tempat favorit wisatawan berfoto. (FOTO: Maspril Aries)

Pada 1860, populasi Singapura telah mencapai hampir 90.000, dengan etnis Tionghoa menjadi mayoritas. Kota ini menjadi pusat keuangan, komunikasi (dengan landing kabel telegraf), dan pertahanan Inggris (dengan pembangunan pangkalan angkatan laut besar-besaran di Sembawang dan Changi).

Semua kemakmuran itu dibangun di atas kerja keras dan penderitaan kuli imigran, serta dalam kerangka imperialisme yang eksploitatif. Singapura adalah simpul utama dalam jaringan global Imperium Inggris.

Raffles dalam Historiografi

Posisi Raffles dalam sejarah Singapura terus menjadi bahan kajian kritis. Di era pasca-kolonial, narasi heroik tentangnya sebagai pendiri tunggal telah dibongkar. Para sejarawan seperti C.M. Turnbull dan Syed Hussein Alatas melihat Raffles sebagai bagian dari mesin imperialis Inggris. Keputusannya didorong oleh kepentingan geo-strategis EIC untuk mengalahkan rival Belanda. Kebijakan “pelabuhan bebas”-nya adalah senjata ekonomi dalam perang dagang antar imperium.

Raffles bukan pencipta, tapi pemain cerdik dalam teater politik Melayu. Ia memanipulasi sengketa suksesi di Johor untuk mendapat pijakan legal. Kedaulatan Melayu, dalam hal ini, dikorbankan untuk kepentingan kolonial.

Raffles juga dikenal sebagai visioner yang pragmatis. Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa visi strategisnya tentang pelabuhan bebas dan tata kota yang tertib memberikan fondasi bagi kemakmuran masa depan Singapura. Minatnya yang otentik pada budaya Melayu dan ilmu pengetahuan juga diakui.

Kisah Singapura adalah kisah tentang bagaimana satu orang, dengan visi yang jelas dan determinasi yang kuat, dapat mengubah sejarah. Thomas Stamford Raffles, seorang pejabat kolonial Inggris, melihat potensi dalam sebuah pulau kecil yang hampir tidak dikenal dan mengubahnya menjadi salah satu kota paling penting di dunia.

Setelah Raffles meninggalkan Singapura pada 1823, warisan yang ia tinggalkan terus berkembang. Singapura terus tumbuh sebagai pusat perdagangan, Namun Singapura modern bukanlah ciptaan Raffles semata. Ia adalah hasil dari dinamika panjang, warisan maritim Temasek, kecerdikan politik Raffles, arus imigrasi besar-besaran, trauma pendudukan Jepang, perjuangan anti-kolonial, dan trauma perceraian dari Malaysia. Namun, benang merah membujur dari Raffles hingga para pendiri modern seperti Lee Kuan Yew. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *